My Ketos My Husband

My Ketos My Husband
Cowok Buaya



"Jelasin apa?" tanya Raina dengan wajah seolah tak terlibat apapun.


"Ya semuanya kampret!" kesal Arkan yang masih stay di bawah ketiak Surya.


"Dia lagi ambyar... Lepasin gih, mati ntar lama-lama..." ujar Raina cuek.


Surya melepaskan Arkan, Arkan kesal sendiri dan pergi meninggalkan mereka berdua. "Yang satu suka ketawain orang susah, yang satu suka nyiksa orang susah. Asli, laknat couple kalian tuh!" kata Arkan sambil pergi.


"Ya salah lo! Peluk-peluk bini orang, cari bini sendiri sono!" ketus Surya


Raina terkekeh melihat tingkah keduanya, Surya ikut duduk di samping Raina dan ingin mengatakan sesuatu dengan canggung.


"Kamu...." ucap Raina dan Surya bersamaan.


Mereka berdua saling memandang, "Lo dulu aja deh..." ujar Raina canggung.


"Lo duluan aja!"


"Mmm... Maaf, buat yang kemarin-kemarin." ucap Raina dengan sedikit lirih dan canggung. Merupakan momen langka untuk Raina mengucapkan maaf.


Surya terkejut, gadis yang terkenal anti kata 'Maaf' ini bisa merendah dan mengucapkan maaf padanya. "Lo serius?"


"Iya... Maaf kalo kemarin gue berpikiran sempit, harusnya gue nggak sampai ngomong masalah pisah cuma karena hal sepele kayak gini. Gue bakal belajar buat jadi lebih dewasa lagi, tapi tolong lo sabar ya. Karena, jadi dewasa itu nggak secepat matahari terbit gitu aja...."


Surya memegang kedua tangan Raina dengan lembut. "Gue maafin, gue juga minta maaf karena udah buat lo nangis juga. Gue juga bakalan berusaha buat jadi suami yang baik dan dewasa. Tapi tolong jangan tinggalin gue, please!"


Raina mengangguk dengan senyuman tipis diwajahnya. Hatinya benar-benar lega setelah mengucapkan kata-kata itu, seolah bebannya yang berton-ton hilang begitu saja.


Raina menghela nafas panjang, "Haaahh... Akhirnya selesai juga masalah salah paham ini. Jangan di ulangi lagi ya yang kayak gini, sekali aja cukup..."


"Never..."


Mereka berdua tertawa bersama seolah tak pernah terjadi sesuatu. Menikmati pemandangan tanpa harus mengatakan sesuatu yang menyakiti hati.


"Oh iya... Kok lo bisa di sini?" tanya Raina.


Surya menjelaskan dari awal sampai akhir tentang bagaimana ia bisa sampai ke sana. "Jadi gitu... Gue juga nggak ngira kenapa lo ada di sini, padahal awalnya gue ke sini mau istirahat sama cari tau keberadaan lo. Eh malah udah ketemu sekarang..."


"Lo kenal sama temennya Bang Kenan?"


"Iyalah... Dia anak teman dekat ayah, dulu ayah sama papanya Kak Rio itu temenan waktu SMA. Makanya kita juga lumayan deket gitu..."


"Oh... Anyway, kalo di pikir-pikir lucu juga ya. Kita berantem sampe berhari-hari, tapi baikannya gak perlu sampe 5 menit."


"Iya juga ya..."


Raina mencoba mengingat-ingat semuanya, "Awalnya karena salah paham, salah paham karena Ara, Ara jalan sama lo.... Nah, lo kenapa deket banget sama Ara? Jalan bareng? Bercanda bareng? Belain dia? Sampe bentak gue? Lo selingkuh sama dia?" tanya Raina seperti polisi yang sedang menginterogasi pelaku kasus pembunuhan.


"Eh enggak! Kita itu nyiapin hal-hal yang di perluin aja, soalnya bentar lagi kan sekolah mau adain Study Tour."


"Tapi ya tetep salah! Lo bentak gue demi dia? Cowok apaan lo? Suami siapa lo? Lupa sama istri?"


"Ya Allah, enggak Na! Demi apapun enggak!"


Raina yang semakin mengingatnya malah semakin kesal sendiri. "Ah entahlah, terserah lo aja deh!" kesal Raina sambil berjalan pergi.


"Na... Na... Raina!!! Tunggu gue Na!"


Baru saja mereka akur, sudah mulai lagi beradu mulut. Raina yang semakin sayang pada Surya, membuatnya mudah terbakar api cemburu begitu saja.


***


Di Dalam Vila


"Na Tunggu Na! Jalan cepet banget, mau maraton lo?" tanya Surya sambil menarik tangan Raina agar ia berhenti berjalan.


"Apasih? Narik-narik aja, lomba tarik tambang lo?" ejek Raina


"Makanya dengerin gue dulu! Gue sama dia nggak ada apa-apa! Fix, asli, fakta, realita, nyata, nggak hoax, nggak halu atau apapun itu! Gue nggak ada hubungan sama dia!" tegas Surya


"TERSERAH!!!"


Mendengar ada yang sedang adu mulut, Maxime keluar dari kamarnya dan melihat mereka berdua yang sudah seperti Tom And Jerry.


"Na... Lo kenapa? Eh Surya, sejak kapan di sini? Kok gue nggak tau?" sapa Maxime.


"Ini Maxime kenapa ada di sini?" tanya Surya dengan nada menginterogasi.


"Itu... Dia ikut liburan juga, kan temen." jawab Raina dengan nada merasa bersalah.


"Temen? Oh TEMEN ya? Iya TEMEN ya... Dia temen, dan gue pacar lo! Lo marah sama gue dan main sama dia? Yang bener aja, trus kenapa cemburuin gue?"


"Lah emangnya kenapa? Salah? Gue kan cuma temen, kok kesannya lo nuduh gue selingkuh gitu ya... Lagian banyak yang ikut juga kan? Arkan, Dika, Faris, Bang Kenan, Kak Rio juga. Apa salahnya? Sedangkan lo, jalan berduaan ketawa-ketiwi nggak ada dosa."


Surya masih menatap Maxime tajam, Maxime hanya menyimak kedua perkelahian ini layaknya bioskop. "Tapi kan gue ada kepentingan sama Ara! Lo kepentingannya apa sampe liburan ajak dia segala?"


"Ya karena pengen! Nggak usah di besar-besarin deh, lagian gue kan nggak tidur sekamar sama dia! Kalo lo masih nyalahin gue mulu, keluar dari vila ini!" tegas Raina tanpa ragu.


"APA!?"


"Kamar di Vila ini udah penuh, lo keluar dan cari penginapan lain! Tidur sendiri pelukan sama guling tepos sana!" geram Raina


Mendengar kata 'Tidur sendiri' membuat Surya menjadi jinak seketika. "Sayang... Jangan salah paham dong ya, anggep aja nggak ada apa-apa ya. Boleh kok kamu liburan sama siapapun, aku percaya pasti kamu nggak bakalan selingkuh..." ucap Surya lembut.


"Gak usah aku-akuan, biasanya juga gue lo! Ngapain masih di sini? Keluar sana..."


Surya memegang tangan Raina dengan lembut, "Kamu kan baik... Boleh ya tidur sini ya, kan kamu baik. Pengen apa? Ayo beli sekarang, make up? Baju? Skincare? Makanan? Sepatu? Buku? Atau apa, ayo beli!"


"Nggak usah ngerayu!" jawab Raina dengan ketus. Raina dengan wajah juteknya Raina pergi ke atas dan masuk kamarnya, lantas Surya mengekor begitu saja.


"Inget ya! Ini semua gara-gara lo!" ketus Surya sambil menunjuk Maxime.


Maxime mengerutkan dahinya dan menunjuk dirinya sendiri sambil keheranan, "Gue? Kenapa gue? Gue kan penonton doang..."


"Na... Tunggu Na! Sayang... Baby... Honey... Pandaku..."


***


Malam Hari


Sejak pagi Surya masih berusaha untuk meminta maaf pada Raina, tapi justru wajah jutek Raina yang muncul. Maxime pulang lebih awal karena ada jadwal pemotretan.


Kenan meminta Surya agar tidur bersama Raina saja, Kenan takut kasurnya menjadi terbagi dua. Tentu saja menakutkan untuk Kenan yang suka menguasai kasur.


"Na... Jangan ngambek lah, aku minta maaf! Ga bakal nuduh kamu lagi, kamu boleh temenan sama siapa aja, aku juga nggak bakal deketin cewek lain deh..."


Raina geram sendiri mendengar ucapan Surya sejak pagi hari. "Sumpah ya! Kalo mau minta maaf nggak usah pake oka-aku, kayak cowok buaya tau nggak! Biasanya pake lo gue padahal..." cibir Raina


Jam menunjukkan pukul 9 malam, Raina berbaring di kasur sambil memainkan hpnya. Surya pun menyusul untuk berbaring, melihat Surya berbaring di sebelahnya, Raina langsung memunggungi Surya.


"Na... Jangan marah lagi ke gue Na!" bujuk Surya sambil mencolek pipi Raina.


"Na... Na... Na... Gak jawab gue cium!"


Tak ada jawaban dari Raina, Surya bolak-balik mencium pipi Raina agar Raina merespon.


"Cepet maafin gue! Cepet maafin gue!" bujuk Surya


Semakin kesal karena Surya menciumi pipinya berkali-kali, Raina berbalik dengan kesal.


Cup...


Berniat memarahi Surya, justru tak sengaja Surya mencium bibir Raina karena Raina tiba-tiba berbalik.


Mata keduanya terpaku begitu saja, tak berani mengatakan sepatah katapun. Waktu seolah terhenti untuk keduanya, entah harus panik atau senang.


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏


Pilih mana hayo?


A. Tim Aya Nana mesra-mesraan


B. Tim Aya Nana bobrok bareng


C. Tim Aya Nana debat IPA IPS


Komen di bawah, yang rame dapet pahala 😂