My Ketos My Husband

My Ketos My Husband
Cari Om-om



Raina keheranan dengan tingkah Surya, seharusnya kan senang, terharu, memuji atau apalah, seperti bayangan Raina. Tapi malah di seret sampai mobil? Sungguh diluar ekspektasi.


"Lo kenapa sih? Kenapa kayak gini?" tanya Raina iseng


"Siapa yang nyuruh lo pake baju kayak gitu?"


"Ini? Kan kostum Cheerleader, ya wajar kalo gue pake ini!"


"Ya setidaknya pake legging lah, atau pake celana, itu pendek banget tau nggak!"


Raina mengerutkan keningnya, "Ya kali pake celana... Malah nggak kompak dong!"


"Ya itu terlalu pendek! Nggak enak dilihat tau nggak!"


"Ya udah iya, nanti gue ganti! Sekarang mau kemana?"


Surya tak menjawab pertanyaan Raina, ia hanya langsung menyalakan mesin mobil dan melaju begitu saja.


"Lo... Cemburu ya?" tanya Raina disela-sela perjalanan


"Dih... Buat apa gue cemburu, gak guna!"


Melihat wajah kesal Surya, Raina memiliki ide aneh untuk mengerjai Surya. Macet karena padatnya lalu lintas tak bisa dihindarkan, apalagi di kota besar seperti Jakarta. Di sela-sela perjalanan, Raina mulai menjahili Surya.


Raina melepaskan jaket Surya dari pinggangnya lalu menaruhnya di jok belakang, "Makasih jaketnya ya..."


"Hm...."


"Lo cemburu kan? Banyak cowok-cowok yang liatin dan sorakin gue, dan gue juga pake baju terbuka gini, lo pasti cemburu. Fiks, asli lo cemburu!"


Surya menengok dengan ekspresi anehnya, "Dih... Sape lu? Ke-pd an bener deh, halunya ketinggian!"


"No... Lo pasti cemburu, secara gue cantik, baik, lemah lembut, kalem, nggak banyak tingkah, cerdas, mempesona, dan apalagi gue sekarang kan sexy abis gitu..."


"Diem atau gue turunin di jalan!"


"Lah bagus dong! Gue kan seksi abis, nanti siapa tau di culik om-om, eh om-omnya ganteng abis, modelnya kayak Verrel Bramasta, trus bodynya kayak Joe Taslim. Otw KUA gue!"


Surya menahan rasa kesal di hatinya, "Siapa juga yang mau sama cewek bobrok kayak lo! Apa bagusnya punya perut kotak-kotak, muka ganteng, kaya tapi udah punya istri."


Raina langsung antusias menjawab pertanyaan Surya, Raina membenarkan posisi duduknya lalu menjawab pertanyaan Surya, "Ya bagus lah... Bayangin aja kalo cowok punya dada bidang, gue sebagai cewek pasti merasa terlindungi, trus lengannya yang berotot tiba-tiba meluk gue dari belakang, oh iya... Otot perutnya kotak-kotak, Allahuakbar... Gue bangun di samping orang kayak gitu mah, menolak bangun! Rasanya anj*r banget!"


Surya tak bisa menahan kekesalannya lagi, "Lengan berotot, badan bagus, perut kotak-kotak, pinter, ganteng, kaya? Matanya tolong dibuka, suami yang lagi di samping lo ini kayak gitu! Berani cari om-om diluar, pulang gue mutilasi lo!"


"Iya-iya, nggak nyari om-om. Tapi kalo om-om nyari gue, beda cerita ya!"


Surya semakin kesal dengan jawaban Raina, ia menengok ke arah Raina dengan tatapan membunuh. Sedangkan Raina hanya santai, dan perlahan-lahan sedikit menarik roknya ke atas sambil mengedipkan salah satu matanya.


"Astagfirullah... Untung bukan zina lagi!" gumam Surya


Raina tertawa dalam hati melihat Surya yang salah tingkah, sifat usilnya belum puas. Saat mobil mulai berjalan, Raina kembali usil. Tangannya mulai memasuki baju Surya dan sengaja menyentuh otot-otot Surya yang sudah terbentuk.


Ckiittt....


Mobil berhenti mendadak, untung saja di jalanan yang sedikit lebih sepi. Surya menghempaskan tangan Raina dari perutnya.


"Lo apa-apaan sih Na! Jangan kayak gitu, bahaya tau nggak?" kesal Surya


Raina hanya tersenyum manis, "Ya gue kepo gimana rasanya nyentuh perut berotot. Rasanya pengen raba-raba..."


Surya melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, Raina ingin tertawa sepuasnya setelah mengusili Surya. Ingin rasanya ia balas dendam atas bentakan Surya semalam.


***


Mobil Surya memasuki garasi, Surya langsung menggendong Raina dan menaruhnya di pundak seperti penculik.


"Woy apa-apaan sih! Lepasin, turunin gue!" berontak Raina


"Ini namanya baru diculik mas-mas!"


Surya tetap menggendong Raina yang memberontak, ia membawa Raina menuju kamarnya. Bunda Surya yang baru pulang dari GOR melihatnya langsung bingung sekaligus girang saat tau ada peluang untuk memiliki cucu.


***


Di Kamar Surya


"Ay lepasin gue, turunin nggak!"


Bruukk...


Surya menjatuhkan Raina diatas kasur, Surya pun berada di atas badan Raina. Surya mencengkram kuat kedua tangan Raina ke atas.


"Ay apa-apaan sih! Turun nggak, turun!" bentak Raina


"Ini dada bidang diciptain buat ngelindungin lo, ini perut kotak-kotak gue latih buat lo milikin, dan semua badan gue itu punya lo! Jangan pernah mikir mau cari cowok lain! Sekarang sentuh aja sentuh, gue nggak takut! Ni elus perut gue, sekalian gue peluk sampe shubuh!" tantang Surya


"Ay... Lo apa-apaan sih, gue kan anu, itu... Cuma bercanda, nggak serius, udah lah turun dulu!" ucap Raina sambil memalingkan wajahnya yang memerah.


"Kenapa? Tadi di mobil inisiatif duluan kan? Ayo sekarang lanjut lagi, lo istri gue, lo boleh sentuh semuanya, nggak dosa, daripada gue disentuh cewek lain, mending lo yang sentuh, lo yang pegang dan lo yang milikin semuanya!"


Raina memalingkan wajahnya, detak jantungnya berpacu kencang tak beraturan, wajahnya sudah semerah tomat, ingin segera lari tapi cengkraman tangan Surya terlalu kuat.


"Kenapa diem? Perlu gue mulai?" tanya Surya memecah keheningan


"A-apaan sih, apanya yang dimulai, jangan konyol deh..."


Cklek...


Pintu terbuka lebar, bunda Surya baru saja ingin masuk ke kamar dan membawakan kotak kado untuk Surya, tapi justru adegan yang tak semestinya dilihat, diperhatikan secara seksama oleh sang Bunda.


"Maaf... Bunda nggak lihat, kalian lanjut aja lanjut! Bunda nggak di sini!" teriak Bunda sambil secepatnya menutup pintunya.


Raina dan Surya gugup seketika, Surya langsung melompat ke samping kasur dan segera melihat ponselnya, Raina langsung pura-pura memainkan bantal di tangannya.


Bunda yang ada diluar kamar langsung girang, hati dan otaknya langsung berfantasi ria.


"Ya ampun... Nggak ngira Aya udah gede, Aya juga macho banget, nggak ngira itu anak gagah bener," gumam Bunda sambil menelangkupkan kedua tangannya, "Ayah... Bentar lagi kita punya cucu!" teriak Bunda sambil berlari turun.


***


Di Dalam Kamar


"Ehm itu... Anu, gue mau ke sekolah dulu! Lupa tadi harus ke sekolah..." ucap Surya basa-basi.


"Hm? Iya, jangan lupa bernapas, eh maksudnya jangan lupa tetep hidup, Astagfirullah... Maksudnya jangan lupa hati-hati!" ucap Raina yang selalu salah karena terlalu gugup.


"Iya... Lo, juga jangan cari om-om! Gue pergi dulu!"


Surya langsung berlari keluar tanpa memperhatikan situasi, secepat kilat Surya berlari turun menghindari Raina.


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏