
Suara itu membuat bulu kuduk Ara berdiri. Dengan terpaksa Ara memberanikan diri masuk kedalam rumahnya.
"H-hai ayah..." sapa Ara gugup.
Plakkk....
Tamparan keras mendarat di pipi mulus Ara dengan tiba-tiba. Spontan Ara memegangi pipinya yang terasa panas dan mulai memerah.
"A-ayah kenapa tampar Ara?" tanya Ara dengan air mata yang ia tahan.
Ayahnya membuang nafas kasar, "Kamu tau nggak? Gara-gara kelakuan kamu tadi nama baik ayah jadi tercoreng, kenapa sih kamu rusak nama baik ayah? Ayah susah-susah bangun reputasi ini dan kamu hancurin gitu aja?" bentak Ayah Ara dengan keras.
Ara hanya menunduk diam tak berani melawan ayahnya. "Tapi Ara beneran nggak ngelakuin apa-apa yah, itu semua cuma salah paham doang." Ara tetap membela dirinya tanpa merasa bersalah.
"Ya kamu ngelakuin atau enggak sekarang gak penting, semua udah tau dan bakal anggep ayah gagal didik anak. Kamu itu anak satu-satunya, kenapa malah malu-maluin keluarga sih?" bentak Ayah Ara.
Ayah Ara melayangkan tangannya ke atas, Ara reflek menunduk. Sebelum tangan ayahnya kembali menamparnya, ibu Ara lebih dulu meraih tangan ayah Ara.
"Ayah... Ayah kenapa? Anak kita kenapa di pukul sih yah?" tanya Ibu Ara yang ketakutan. Ibunya langsung merangkul Ara yang mulai meneteskan air mata.
"Kamu tau? Anak kamu ini sudah buat reputasi ku hancur didepan orang-orang termasuk Pak Pradipta. Sekarang aku gak harus apa gara-gara anak kamu ini! Punya anak satu gak berguna banget sih!" bentak Ayah Ara.
"Pah! Cukup, jangan marahi anak kita lagi! Lagian kita belum tau Ara salah apa enggak."
Ara menunduk dengan wajah yang muram, "Cukup! CUKUP!!!"
Bentakan Ara membuat kedua orang tuanya terkejut dan memandanginya. "Ayah selalu nuntut Ara jadi sempurna, minta Ara buat ini itu tapi apa pernah Ara dikasih kesempatan milih? Ara harus selalu sempurna sesuai ekspektasi mama atau papa, tapi gimana dengan ekspektasi Ara?" tanya Ara dengan nada yang kian meninggi.
"Ara..."
"Tapi kan itu sesuai dengan apa yang kamu dapat. Kamu dapat uang jajan lebih, baju kamu bagus-bagus, kamu punya mobil, bisa main sesuka kamu dan kamu punya segalanya! Apa yang salah kalo ayah punya harapan sama kamu? Kamu anak ayah satu-satunya!" ayah Ara membela dirinya.
"Gak salah, tapi yang salah itu ayah yang terlalu memaksakan Ara buat jadi sempurna! Ayah pernah tanya apa keinginan Ara? Pernah gak?"
Pertanyaan Ara membuat kedua orang tuanya terdiam seribu bahasa. Ara mengeluarkan segala uneg-unegnya yang terpendam selama bertahun-tahun.
"Gak kan? Pernah tanya Ara sebenarnya pengen apa, trus bakatnya apa, dan cita-cita Ara apa? Kalo gitu gak usah terlalu nuntut Ara buat jadi anak yang sempurna, lagian kalian berdua bukan orang tua yang sempurna buat Ara, itu menurut Ara. Maaf kalo kasar, tapi itu kenyataannya!"
Ara berbalik dengan kasar pergi meninggalkan kedua orang tuanya. Ia keluar rumah dengan kunci mobil ditangannya, dengan tatapan dingin ia pergi begitu saja.
Ara menyalakan mesin mobilnya dan pergi begitu saja dengan seragam sekolahnya yang masih melekat ditubuhnya. Ia teringat awal kenapa semuanya bisa jadi seperti ini di jalan.
"Hiks... Gak ada yang bisa ngertiin gue, hiks. Surya, kenapa sih lo harus datang ke hidup gue? Kenapa waktu itu lo kasih gue minuman dan tenangin gue sih anj*r, kalo ga ada lo mungkin gue udah jadi nomor 1 dan selalu sempurna dimanapun." Ara kesal dan memukul-mukul setir mobilnya karena kesal.
Flashback On...
Hari ini pengumuman juara untuk rapor kelas X. Ara santai karena merasa yakin kalau ia mendapat juara 1 dikelas juga juara 1 paralel lagi.
Tapi sayang, mata Ara membelalak saat melintas ia mendapat posisi nomor 2, yang mendapat juara 1 adalah Surya. Setelah pengambilan rapor, diam-diam Ara menangis dibelakang bangku taman karena dimarahi ayahnya.
"Hiks... Kenapa si, kenapa harus nomer 2. Gue jadi dimarahin papa. Hiks,kenapa harus juara 2?!"
Tiba-tiba Surya menyusulnya duduk disamping Ara. "Lo ngapain di sini? Nih minum..." Surya memberikan sebotol minuman ke Ara.
Ara menerimanya lalu mengusap air matanya, ia berusaha tak akrab karena kesal mendapat juara 2. Akhirnya Surya mengawali percakapan, "Lo kesel sama gue? Kesel karena dapet juara 2?"
Ara tetap diam dan meminum air yang dibawa Surya hingga ia tersedak, "Uhuk... Uhuk... Uhuk-uhuk!"
Surya terkejut dan menepuk-nepuk punggung Ara, "Gimana sih? Lo minum apa ngapain sih? Pelan-pelan napa."
Mereka berbincang sebentar sampai Ara mau sedikit membuka pembicaraan pada Surya. "Lo kenapa sih harus juara 1, gue dimarahin ayah gara-gara juara 2."
"Tapi ayah minta gue jadi juara 1."
"Mau lo juara 1 atau 2, lo pinter akademik atau enggak, itu semua tergantung lo sendiri. Itu pilihan lo, dan lo bebas jadi apapun yang lo mau tanpa paksaan orang lain."
Saran Surya didengar oleh Ara, Ara tersenyum sambil mengusap air matanya. "Berarti gue bebas ngelakuin apa yang gue mau?"
"Asal itu bener, lo bebas ngelakuin apapun kemauan hati lo kok."
Flashback Off
Ingatan itu masih membekas dalam hati Ara. Sejak saat itu ia memutuskan untuk melakukan apapun yang ia mau, termasuk mengejar Surya.
"Haaahhh.... Kenapa sih, kenapa? Semua gak berjalan sesuai ekspektasi gue sama sekali! Hidup ini gak adil tau nggak, sedangkan Raina bisa dapat semua hal yang ia mau!"
Ara berteriak dalam mobilnya memukul-mukul setir mobilnya untuk melampiaskan kemarahannya saat ini.
Tiba-tiba ada orang menyebrang yang tidak Ara lihat. Spontan Ara membanting mobilnya ke kiri hingga mobilnya menabrak sebuah pembatas jalan dan pohon.
"Ahhhh..."
Bruuakk....
Hantaman itu cukup keras, kepala Ara terbentur dan terluka. Ara berusaha keras untuk keluar dari mobilnya, para warga sekitar pun langsung menolong Ara untuk segera dibawa ke rumah sakit.
***
Di Rumah Sakit
Untung saja luka Ara tidak parah, kakinya hanya sedikit keseleo, keningnya yang terluka dan tangannya yang lebam-lebam. Tapi Ara merasakan kaku dan sakit di sekujur tubuhnya.
"Aww... "
Ara membuka matanya dan badannya benar-benar kaku, bergerak sedikit saja sakit. Mamanya terlihat menangis disampingnya.
"Mama..."
Mamanya sigap berdiri dan melihat keadaan Ara. "Kamu kenapa sih? Kok bisa kecelakaan gini, kamu mikir apa sih Ra? Mama khawatir tau nggak!"
"Kecelakaan?"
Ara mengingat kembali kejadian sebelumnya, ia ingat kalau ia menghindari seseorang yang menyeberang lalu tak ingat apa lagi.
"Ayah mana ma?"
Mamanya mengusap air mata, "Ayahmu kerja, katanya ada hal mendesak di kantor jadi belum bisa lihat keadaan kamu."
Ara terkekeh kesal, "Heh... Pekerjaan lebih penting dari keadaan anak ya? Memang uang adalah segalanya."
***
Hari Sidang
Ara datang ke sekolah dengan beberapa tangan yang masih lebam dan kening yang di plaster. Tatapan mematikan ia dapatkan dari anak-anak sepanjang koridor.
Anak-anak bergunjing tentang Ara saat Ara sedang lewat. Ara masih positif thinking dan berpikir kalau belum ada yang tau masalah ini.
"Moga-moga mereka nggak tau masalah ini, harus gue rahasiain semuanya!" gumam Ara.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏