
Surya menuntun Raina agar duduk, Raina pun terkejut karena Surya ingin keluar meninggalkannya dengan dokter cantik ini.
"Ay mau kemana? Kok gue sendiri yang di sini? Lo gimana?" tanya Raina dengan lirih.
Surya tersenyum seolah mengatakan semua akan baik-baik saja.
"Ok... Masnya bisa keluar ya..."
"Iya dok..."
Surya meninggalkan Raina bersama dokter cantik tadi di dalam ruangan. Raina masih celingak-celinguk tidak paham dengan situasi.
"Dok.... Saya ke sini ngapain ya?" tanya Raina polos.
Dokter cantik itu tersenyum, "Tidak apa-apa... Kamu bisa bercerita tentang semuanya, saya sebagai dokter tidak akan membeberkan informasi apapun tentang kamu."
"Cerita apa?"
Dokter itu mengambil clipboard, ia mengisi beberapa data Raina. "Semuanya... Boleh semuanya, kamu boleh cerita tentang hidup kamu, pacar kamu, sekolah kamu, pokoknya boleh semuanya..."
"Kenapa saya harus cerita ke dokter?"
"Ya karena... Semua akan lebih baik saat kamu bisa mencurahkan semuanya kan?"
"Kalau saya tidak percaya pada dokter?"
Dokter itu tersenyum dan dengan sabar meladeni Raina yang keras kepala, "Kamu bisa percaya ke saya... Kamu bisa anggap saya teman, saya sudah bersumpah dan harus melakukan hal-hal yang sesuai kode etik dokter. Dan saya tidak akan melanggar sumpah itu..."
"Benarkah? Siapa yang menjamin? Mulut manusia bisa berubah-ubah kapanpun kan? Dan saya juga tidak ada alasan untuk percaya pada dokter. Untuk apa saya ke sini pun, saya tidak tau!"
Raina duduk bersandar santai seolah sama sekali tidak mau membuka mulutnya untuk bercerita. Sikap keras kepala Raina membuatnya semakin sulit untuk mempercayai orang.
Dokter cantik itu tak kehabisan cara, ia memutar sebuah instrumen yang menenangkan namun terkesan menyedihkan.
"Kamu nggak papa?" tanya dokter itu.
"Nggak papa..."
"Yakin?"
"Yakin!"
"Kalo gitu... Coba ulangi kata-kata ku ya, 'Aku baik-baik saja, aku tidak punya masalah dan aku bahagia'. Coba ulangi..."
"Ck... Aku baik-baik saja, aku tidak punya masalah dan aku... Aku...." ucapan Raina terhenti tiba-tiba, "Aku ba... Aku..."
Raina seolah tak sanggup melanjutkan kata-katanya, tubuhnya lemas dan tiba-tiba air matanya bercucuran secara tidak sadar.
"Kamu baik-baik saja?" tanya si dokter pada Raina yang mulai menangis.
Raina ingin sekali menjawab pertanyaan itu, namun mulutnya kelu seolah tak mampu menjawab pertanyaan itu.
"It's okay... Wajar bagi seorang manusia untuk menangis. Coba cerita, kamu bisa anggap aku sebagai temanmu saja kalau kau risih. Ceritakan semuanya, dengan senyaman-nyamannya..."
Raina menangis terisak tanpa sebab, ia merasa jantungnya begitu sakit. Dadanya begitu sesak hingga sulit bernapas, mulutnya memanggil nama mama dan papanya.
.
.
.
.
Surya mondar-mandir khawatir menunggu di luar ruangan. Ia berharap kalau Raina bisa bercerita dan melegakan semuanya.
"Semoga Raina baik-baik aja... Kenapa gue nggak peka banget sih! Cewek kayak Raina udah depresi berapa kali coba? Melewati semua cobaan ini, penyakit memang berbahaya, tapi bagi Raina, Mental Health itu lebih berbahaya dan mematikan...." gumam Surya yang khawatir dengan kondisi Raina.
Cklek....
Setelah 1 jam lebih, Raina keluar dengan mata bengkak dan merah. Surya langsung mendekati Raina dan merangkul pundaknya.
"Na...."
"Udah nggak papa... Tebus dulu obatnya di apotek ya!" pesan dokter cantik tadi yang mengantar sampai luar.
"Makasih dok...."
"Iya, hati-hati ya!"
Surya pergi bersama Raina menuju apotek untuk menebus resep obat dokter tadi.
"Lo sengaja kan bawa gue ke sini?" tanya Raina tiba-tiba.
"Iya kenapa?"
"Kenapa tiba-tiba sih? Gue kan perlu persiapan mental juga buat semuanya! Lo pikir cerita masalah pribadi itu segampang itu?" protes Raina tak terima.
"Iya deh lain kali gue ngomong dulu kalo mau ngapa-ngapain!"
"Ck... Nyebelin banget sih!"
"Udahlah... Ayo tebus obatnya dulu! Protesnya ntaran aja, lo pikir gue ini wakil rakyat yang terus-terusan lo protes?" tanya Surya dengan santai.
"Ih! Ngeselin!"
Mereka berdua menebus obatnya, setelah itu Surya menyetir mobilnya menuju ke mall besar di Jakarta.
***
Di Mall
"Ngapain ke mall?" tanya Raina
"Nyari kegiatan biar nggak bosen aja gitu..."
"Gabut lo?"
"Ya gitu deh...."
Surya menarik tangan Raina menuju salah satu make up counter. Ia memborong berbagai kosmetik yang sekiranya terlihat menarik di matanya.
"Mbak... Bisa make up-in pacar saya ini nggak? Biar nggak keliatan kayak gembel gini, nanti saya kasih tip deh... Pake produk yang tadi saya beli ya mbak..."
"Eh mulutnya! Gembel-gembel pala lo peang!" kesal Raina
"Bisa mas...."
Salah satu penjaga make up Counter yang sedang tidak berjaga itu mulai memoleskan tiap make up ke wajah Raina. Setelah terlihat cantik dan segar, Surya membawa Raina ke toko baju.
"Pilih... Lo suka yang mana!" pinta Surya sambil melihat-lihat baju di depannya.
"Ni anak emang ya!" geram Surya, "Mbak bungkus ini ya!"
"Iya mas..."
Surya memaksa Raina untuk memakai baju dan beberapa aksesoris yang dibelinya. Setelah Raina tampak cantik dengan make up dan baju yang stylish, Surya mengajak Raina ke zona game.
"Mau main?"
Raina menatap semua game arcade yang ada di depannya, "Dih apaan sih... Kayak bocah aja, mending main Mobile Legend di rumah lebih asik!"
"Coba dulu!"
"Ck, males..."
Surya menarik tangan Raina menuju sebuah game basket. Raina hanya memutar bola matanya jengah.
"Ngapain ke sini? Enak tidur di rumah, gue butuh tenaga setelah nangis-nangis tau nggak?" tanya Raina dengan tak bersemangat.
"Kita battle, kalo lo yang menang... Abis ini kita pulang!"
"Ck, ya udah deh serah lo aja..."
Setelah mengisi game card, mereka mulai battle. Siapa yang lebih banyak memasukkan bola ke dalam ring, dia yang menang.
You Win...
You Lose...
"Ah... Dikit lagi!" kesal Raina saat melihat skornya dengan Surya yang beda tipis.
"Berani main lagi?" tantang Surya.
"Oke! Siapa takut! Gue bakal kalahin lo, setelah itu kita pulang!"
"Oke..."
Entah berapa ronde mereka sudah bermain, namun Raina belum juga memenangkan taruhan ini.
"Gimana? Udah nyerah?" tanya Surya untuk memprovokasi Raina.
"Jangan harap! Kita main sekali lagi!"
"Oke..."
Sekali lagi mereka bermain, dan pada akhirnya Surya kalah dan Raina unggul satu poin dari Surya.
"Yuhuu... Gue memang! Lo kalah! Lo kalah bweee... Gue pemenangnya! Lo kalah lo kalah..." ejek Raina yang kegirangan karena menang.
"Gak papa, ini cuma satu game. Ada puluhan game di sini, dan lo cuma ngalahin satu dari semuanya..."
"Nantang ya lo? Ayo battle, kita mainin semua yang ada di sini! Kita lihat siapa pemenang sebenarnya!"
"Siapa takut..."
Surya sudah menduga kalau Raina akan bersemangat berkali-kali lipat jika jiwa kompetisinya sudah ada. Ia tak akan menyerah sampai pihak lawan mengakui kekalahan.
"Jangan harap lo bisa menang dari gue!" ancam Raina dengan semangat membara.
"It's okay man, ini kompetisi. Siapapun bisa jadi pemenangnya, jangan sombong dulu..."
"Tidak sombong, tapi mendahului takdir saja..."
"Dih..."
Mereka bermain di sana sampai benar-benar puas. Surya memilih mengalah agar Raina senang, walau sesekali Surya menang karena bosan kalah, dan pada akhirnya mereka berdua berdebat sampai puas.
"Udah yuk... Udah lama kita di sini, sekalian tuker tiketnya. Udah banyak banget nih..." ajak Surya yang mulai lelah dan bosan.
"Nggak bisa! Gue harus buktiin kalo gue pemenangnya!"
"Iya lo yang menang..."
"Lo ngaku?"
"Iya... Gue kalah dan lo menang..." jawab Surya pasrah.
"Oke yuk tukerin tiketnya!" ajak Raina dengan santai setelah mendengar pengakuan kekalahan dari Surya.
Surya hanya geleng-geleng kepala dengan jiwa kompetitif yang kuat dari istrinya ini. Entah dari mana dia mendapatkan sifat ini.
***
Di Counter Game
"Kak... Tukerin tiket ini!"
"Iya kak, tunggu sebentar. Kami hitung dulu ya tiketnya..."
Mereka berdua menukarkan tiket hadiah dari game yang mereka mainkan, entah berapa yang mereka habiskan untuk isi ulang saldo kartu. Tapi bagi Surya itu sepadan jika bisa membuat Raina tersenyum.
"Sudah kak... Mau ditukarkan dengan hadiah yang mana?"
Surya melihat boneka We Bare Bears yang terpajang di rak atas. "Coba boneka itu kak!"
"Kok boneka sih Ay!" bisik Raina lirih.
"Yang mana kak? Warna apa?"
"Yang putih, yang Ice Bear...."
Sebuah boneka lembut We Bare Bears dengan ukuran sedang sudah ada di tangan Surya.
"Makasih ya kak..." ujar Surya.
"Iya, silahkan berkunjung kembali..."
Raina masih kesal karena tiketnya di tukarkan dengan hadiah yang tak dia inginkan, "Kenapa boneka sih? Kan robot banyak, mobil-mobilan juga banyak!"
"Nih buat kamu..." kata Surya sambil memberikan boneka itu pada Raina.
"Hah?"
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏