
Raina menghela nafas panjang, "Haahh... Ara, tunggu gue berubah! Maka bakal gue patahin semua rekor lo! Jangan harap lo bisa menang lawan gue, gak ada pesaing yang bisa ngalahin gue ketika gue udah mutusin buat berjuang!" ucap Raina pada dirinya sendiri.
***
Di Mall
Raina sudah janjian untuk bertemu Diva dan Naya disebuah cafe. Ia menemui kedua temannya itu langsung bergegas menuju salon langganan Diva.
"Nggak lama kan di sini?" tanya Raina.
Diva menatap datar Raina, "Lama sih enggak... Tapi nggak secepet kita order Go-Food. Udah lo diem, kita manjain diri kita hari ini ok!"
"Ok..."
Diva, Naya dan Raina benar-benar memanjakan dirinya hari ini. Mereka melakukan body spa, hairstyling, manicure pedicure selama berjam-jam.
Setelah selesai, mereka keluar dari salon sambil meregangkan punggungnya yang pegal karena terlalu lama duduk.
"Ya Allah... Dulu aja nggak suka ke salon, sekarang sekali ke salon sampe mau tidur di salon rasanya!" keluh Raina sambil memegangi punggungnya.
"Iya... Aku juga jarang nyalon, paling cuma temenin mama aja sih..." sela Naya.
Diva merangkul pundak kedua sahabatnya, "Its okay guys... Cantik itu emang nggak gampang! Perlu banyak perjuangan, dan cantiknya cewek itu bisa diukur dari tebalnya dompet. Bukannya gue matre, tapi gue realistis!"
"Iya sih... Uang gak bisa beli kebahagiaan, tapi kalo pengen bahagia juga perlu uang kan?" tanya Naya.
"That's right!"
"Ya udah... Habis ini kemana?" tanya Raina.
Diva melihat sekelilingnya, "Beli baju, parfum, sepatu, tas, sama make up!"
"Ok, gas..."
Mereka bertiga pergi memborong pakaian bagus, parfum mahal, sepatu branded, tas mewah, alat-alat kecantikan dan make up yang mereka suka.
Begitu banyak paper bag yang ada ditangan Raina, ia tak lagi ragu untuk membeli sesuatu. Ia benar-benar bertekad mengalahkan Ara dari segi manapun. Ia tak ragu untuk menggunakan kartu ATM pemberian Surya.
"Kalian laper nggak sih?" tanya Raina.
Naya mengangguk, Diva melihat sekelilingnya. "Makan di sana yuk!" ajak Diva.
"Kuy..."
***
Di Tempat Makan
Mereka bertiga memesan makanan dan mengobrol santai melepaskan penat setelah lama berbelanja.
"Lo sama Surya gimana Na?" tanya Diva tiba-tiba.
Raina menghentikan acara makannya, ia menatap Diva dengan ragu. "Ng-nggak tau..."
"Ini sih pandangan pribadi gue, gue nggak maksa lo ikutin sih. Tapi menurut gue, lebih baik lo baikan deh sama Surya. Waktu itu kan dia juga punya pertimbangan sendiri buat lakuin itu semua..." ujar Diva.
Naya mengangguk setuju, "Iya Na... Kak Surya itu baik dan pintar kok, pasti tau jalan keluarnya. Jangan lama-lama diemin dia Na, dia pasti rindu banget sama kamu."
Raina menghela nafas, "Hah... Sebenarnya gue pengen banget segera balik sama dia. Tapi entah kenapa gue masih ragu, gak jelas alasannya apa, gue merasa kalau ini bukan waktu yang tepat buat balik ke rumah."
Diva memegangi pundak Raina, "Na... Menurut gue, lo bakal lebih aman dan terlindungi kalo lo bareng Surya lagi. Dan semuanya bakal jadi lebih mudah, nggak akan terlalu sulit lagi."
"Iya Na... Di rumah Kak Surya kan ada perpustakaan pribadi yang gede, fasilitas apapun juga ada, dan semua pasti lebih gampang buat dilakuin. Dan kamu lebih cepet kalahin Ara!" ujar Naya menyemangati Raina.
Raina diam sejenak memikirkan kata-kata kedua sahabatnya, "Iya deh, nanti gue pikirin lagi."
"Semangat Na!"
Selesai makan, mereka berjalan untuk kelantai bawah. Raina berhenti didepan Gramedia dan melihat tumpukan buku-buku didalam.
Diva ikut menghentikan langkahnya, "Kenapa Na? Mau beli buku?" tanya Diva.
Raina berpikir sejenak, "Iya deh... Yuk temenin gue beli buku dulu! Belanjaannya dititipin dulu aja!"
"Ok..."
Mereka bertiga menitipkan belanjaannya lalu berkeliling mencari buku-buku. Diva membeli buku tentang tips diet, tips merawat wajah dan tips make up. Naya membeli beberapa novel dan kamus bahasa Mandarin.
Raina sedang bingung melihat buku-buku berjudul 'Tips Lulus SNMPTN dan SBMPTN'. Ia benar-benar ingin belajar sekarang, karena bingung, Raina langsung membeli semua buku yang ia inginkan.
Bahkan ia tak ragu membeli buku matematika dasar. Diva yang melihatnya pun heran, "Kok lo beli buku matematika dasar? Kenapa nggak beli matematika yang itu?" tanya Diva sambil menunjuk sebuah buku.
Raina menunjukkan smirk-nya, "Tenang aja Div! Otak gue nggak sebodoh itu, selama ini gue nggak bisa karena nggak belajar dasarnya. Setelah gue kuasai semua dasar matematika, ilmu matematika serumit apapun pasti gampang!"
"Oh... Semangat Na! Gue pengen belajar matematika, tapi gue mau lanjutin sekolah model aja hehe..." gurau Diva.
"Kuliah jurusan apapun itu, bukan prioritas gue saat ini. Yang jadi prioritas gue sekarang itu untuk jadi nomer 1. Dan gue bakal buat Ara bertekuk lutut di bawah gue!" Raina berkata-kata dengan tegas.
***
Keesokannya
Raina sudah memantapkan hatinya, ia ingin kembali ke rumah Surya. Jika belum bisa berbaikan dengan Surya, setidaknya ia bisa meminjam kisi-kisi beberapa mata pelajaran ujian dari Surya.
Cklek....
Raina membuka pintu rumah Surya, ia membawa koper sendiri yang berisi baju-baju baru, make up, alat-alat kecantikan dan buku-buku barunya.
Bunda yang kebetulan sedang didapur pun mendengar ada seseorang yang masuk. Ia melihatnya dan langsung memeluk Raina erat.
"Ya Allah Na... Akhirnya kamu pulang juga nak! Bunda kangen banget sama kamu, bunda khawatir sama kamu! Gimana keadaan kamu sekarang? Baik-baik aja kan? Tenang aja ya, Surya dan ayah pasti bakal selesaikan semuanya!" kata Bunda.
Raina hanya mengangguk sambil tersenyum, "Bun... Raina mau keatas dulu ya, Raina capek."
"Iya..."
Bunda tak terlalu memaksa Raina karena tidak ingin melukai hati Raina dulu. Raina mau kembali ke rumah saja merupakan keajaiban.
Raina menaiki satu persatu tangga dengan ragu, akan canggung jika saat masuk kamar ternyata ada Surya. Raina bingung harus menyapanya dengan apa.
***
Di Kamar Surya
Dengan penuh keraguan, Raina membuka pintu. Berharap Surya sedang tidak ada di kamar.
Cklek...
Raina menengok ke kanan dan ke kiri, sepi dan tidak ada orang. Raina bernafas lega, ia masuk dan langsung menata alat-alat barunya. Memasukkan baju-baju barunya kedalam lemari dan mengeluarkan baju yang sepertinya tidak akan terpakai lagi.
"Ini baju masih bagus... Tapi nggak tau mau di pake kapan lagi, sayang sih... Tapi gapapa deh, kumpulin aja dulu!" gumam Raina.
Surya tiba-tiba keluar dari ruang shalat dilamarnya, ia masih mengenakan peci, baju koko dan sarungnya. Surya berdiri terdiam melihat Raina dihadapannya.
"Ha-hai..." sapa Raina basa-basi.
Surya melangkahkan kakinya cepat, lalu memeluk Raina erat. Seperti mimpi untuknya, baru saja ia berdoa agar Raina kembali.
"Akhirnya lo balik Na! Gue khawatir banget sama lo, gue kangen sama lo dan gue pengen banget lindungin lo saat ini!" kata Surya yang masih memeluk Raina.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏