
"Cukup Rokib dan Atid yang nyatet perbuatan gue, mulut kotor lo nggak usah ikut campur! Cukup Tuhan yang menghakimi gue, akhlak lo nggak usah sok-sokan campur tangan! Otak doang plus, akhlaknya minus!"
Siswi itu merasa tersinggung lalu pergi meninggalkan Raina begitu saja. Raina hanya tersenyum sinis, "Gue peringatin kalian semua, mental masih lemah, jangan coba-coba adu mulut sama gue!"
Salah seorang siswa datang dan berkata dengan nada menyindir, "Belagu bener jadi cewek... Palingan juga nggak tajir-tajir banget lo, punya pacar 1 aja belagu."
Raina menatap anak itu dari atas sampai bawah, "Sultan itu diakui sayang, bukan mengakui. Untuk masalah pacar... Gue nggak di jual apalagi diobral, makanya cuma punya 1. Ya kali Ferrari pembelinya sebanyak Avanza? Tau ah, mau dijelasin kayak gimanapun otak lo nggak nyampe!"
Raina melenggang pergi dengan anggun meninggalkan anak itu, Raina sedang malas berurusan dengan orang-orang tidak berguna seperti mereka.
***
Di Kelas
Raina berjalan dengan anggun memasuki kelasnya, seisi kelas langsung heboh melihat Raina yang berubah 180°.
"Ini Raina kan?" tanya Arkan.
"Ini mata gue yang buta apa gimana? Kok Raina jadi cantik?"
"Hareudang-hareudang..."
Raina duduk dengan anggun dimeja nya, ia membuka tasnya dan membaca buku catatannya lagi untuk mengulang materi.
"Wow... So seksihhh..." gurau Dika.
"Impresif..."
Raina menaruh bukunya dimeja, "Apa sih apa? Kenapa?"
Arkan berputar melihat Raina dari samping, depan dan belakang. "Ini beneran Raina kan? Terakhir kali kita ketemu, lo kan masih kayak mas-mas. Kenapa sekarang jadi eonnie-eonnie?"
"Kenapa gue cantik ya?" tanya Raina dengan percaya diri. "Iya tau kok, udah ya jangan di puji lagi. Nanti gue ke-pd an."
Ketiga temannya seolah-olah menyesal telah memuji Raina. Maxime masih memperhatikan Raina, ia masih tak percaya kalau Raina tiba-tiba saja jadi seperti ini.
"Lo nggak kesambet kan Na?" tanya Maxime memastikan.
"Dih... Enggak lah, kenapa?"
Maxime menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Enggak... Heran aja, kok beda gitu. Biasanya kan lo cuek banget sama tanggapan orang. Dan tadi lo berani speak up."
Raina menghela nafas, "Huh..." ia menutup bukunya yang ada diatas meja. "Gue pernah denger, ada 2 tipe orang didunia ini. Yang satu, orangnya gak enakan, dan yang satunya seenaknya sendiri. Hatters nggak akan puas sebelum gue sejatuh-jatuhnya."
"...."
"Kalo gue nggak bertindak, mereka bakal lebih seenaknya sendiri. Sampai kapan gue mau hidup dibawah bayangan orang lain? Cepat atau lambat, gue harus bisa berdiri diatas kaki gue sendiri."
Prok... Prok... Prok...
Diva dan Naya yang baru datang pun langsung bertepuk tangan mendengar kata-kata Raina.
"Wow... So savage baby..." ujar Diva
"Raina udah berubah ya sekarang... Jadi makin cantik dan makin pinter, gimana? Paham nggak sama catetan yang kukirim kemarin?" tanya Naya.
Raina mengangguk, "Iya paham kok, makasih ya. Udah repotin lo kayak gitu."
"Nggak papa, kita kan temen."
Mereka duduk menunggu bel pelajaran dimulai. Setelah pelajaran dimulai, para guru-guru terkejut karena Raina bisa memahami semua materi padahal terlambat masuk 1 minggu.
Arkan hanya berbisik pada Naya, "Tuh kan... Itu anak kalo otaknya encer bisa jadi saingannya Albert Einstein!"
"Raina itu pintar, tapi kurang belajar aja. Kapan aku bisa sepintar itu..." ujar Naya lirih
Arkan tersenyum, "Kapan-kapan mau belajar bareng? Kita pelajari materi bareng-bareng."
"Boleh-boleh..."
Maxime yang duduk di samping Raina terkejut, ia tak mengira kalau Raina sepintar itu. Maxime juga bingung bagaimana mengontrol detak jantungnya yang sejak tadi berdetak tak beraturan.
Melihat Maxime yang geleng-geleng kepala tak jelas, Raina menengok dan bertanya, "Lo kenapa? Sakit?"
"Oh enggak..."
"Ya udah..."
Sebuah senyuman tampak jelas diwajah Raina, hal itu membuat jantung Maxime semakin tak karuan.
"Jantung tolong kondisikan!" geram Maxime.
***
Istirahat
Raina langsung duduk dikantin memesan mie ayam kesukaannya, lalu Surya duduk menyusul disebelahnya.
"Lo nggak kenapa-napa kan? Di ganggu sama anak-anak nggak? Atau ada yang jelek-jelekin lo? Bilang sama gue, biar gue atasin!" kata Surya yang risau.
"Tenang aja... Gak perlu keluarin senjata pamungkas buat ngadepin manusia selevel mereka..."
Surya salah tingkah, "Se-senjata pamungkas?"
"Iya..." Raina mencubit kedua pipi Surya gemas, "Lo kan perantara Tuhan buat lindungin gue."
Surya langsung berbalik dan menahan diri agar tak semakin salah tingkah. "Ya Allah... Kenapa salah satu hambamu ini suka banget buat gue senam jantung!" batin Surya.
"Pamer ke-uwuan nih?" tanya Diva datar.
Arkan menatap Raina datar, "Gue juga bisa nih!" Arkan mengangkat tangannya yang bergandengan dengan Naya. Naya hanya tersenyum malu-malu.
Diva celingukan, "Karena gue deket Maxime, gue sama Maxime aja deh!" Diva merangkul pundak Maxime.
Dika dan Faris saling melempar pandang, "Tinggal kita berdua nih Ris..." ujar Dika.
"Jangan sentuh-sentuh gue! Gue masih lurus!" Faris langsung panik dan memeluk dirinya sendiri.'
"Hahahaha...."
Semua tertawa mendengar kata-kata Faris yang mengocok perut. Raina pergi menuju kamar mandi. Setelah kembali dari kamar mandi, Raina berpapasan dengan Ara.
"Eh ada Raina... Gimana? Enak nggak di hujat 1 sekolah?" tanya Ara dengan nada mengejek.
"Ya gimana ya... Biasa aja sih, gue bisa bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa Mandarin sedikit, tapi gue nggak bisa bahasa binatang," balas Raina untuk memprovokasi Ara.
Ara mengepalkan tangannya menahan emosi, "Terserah kata lo, jangan banyak gaya. Lo bukan nomor 1 disini!"
Raina terkekeh kecil, "Hehe... Saat ini belum, tapi sebentar lagi gue bakal jadi nomor 1. Raina Ashalina dilahirkan untuk jadi juara, Raina Ashalina ditakdirkan untuk jadi nomor 1, bukan jadi pembully lemah yang cuma bisa hasut orang biar ikutan benci."
"Hahahaha... Kalo cuma ngomong, siapapun juga bisa."
Raina melihat mading pengumuman didinding dan membaca beberapa pengumuman. "Ada lomba cerdas cermat, lomba. story telling juga. Kalo emang lo cerdas, lawan gue disitu! Jangan banyak omong doang..."
"Oke, siapa takut! Gue bakal jadi juara 1, dan lo bakal jadi tertawaan orang banyak."
"Iya-in dulu aja lah, kan kalo lo sedih trus bunuh diri dulu jadi nggak lucu dong. Siapa yang mau jadi lawakan 1 sekolah?" ledek Raina.
Ara benar-benar kesal saat ini, jika tak ada kata pencitraan publik, mungkin Ara sudah menampar Raina.
"Udahlah... Ngomong sama lo itu mubazir air liur tau nggak! I'll be waiting for you in that competition, baby. Tataaa..."
Raina melambaikan tangannya anggun lalu pergi meninggalkan Ara yang menghentakkan kakinya karena marah dan kesal.
"Lihat aja lo Na, gue bakal buktiin kalo lo itu bukan siapa-siapa dan lo bukan tandingan gue!" geram Ara.
Raina berjalan santai sambil tersenyum puas, "Surya aja kewalahan lawan gue, apalagi cuma lo. Heh, masih kalah jauh..."
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏