
Siswi itu pergi ke arah berlawanan dengan Raina, sedangkan Raina berjalan menuju tangga untuk segera turun ke lantai 1.
Ara sudah bersiap-siap sembunyi di tempat yang aman agar tak terlihat. Raina senang-senang saja karena ia merasa sudah bosan di sekolah ini sendirian.
"Hmm... Bagus deh segera pulang! Ngantuk estetik gue disini lama-lama," pikir Raina sambil perlahan menuruni satu-persatu tangga.
Ditengah-tengah tangga, Ara mulai menyunggingkan senyumnya karena merasa kalau ini akan berhasil. Namun semua tak berjalan sesuai rencana, Amel juga kebetulan lewat dan berpapasan dengan Raina.
Raina awalnya cuek-cuek saja melihat Amel, tapi Amel merespon Raina. "Heh... Bisa nggak sih lo nggak usah ikut campur urusan gue?!" tanyanya.
Raina memutar bola matanya jengah, "Bukannya gue ikut campur... Tapi gue nggak suka aja lo salah gunain kekuasaan orang tua lo itu! Dan kenapa lo selalu ganggu orang yang lebih lemah daripada lo sih? Nggak ada kerjaan apa gabut sih!?"
"Ya terserah gue lah... Ini hidup gue dan lo nggak berhak atur-atur gue!"
"Ya terserah lo aja deh... Emang ini hidup lo kok, gue juga nggak maksa."
Raina hendak melangkah turun, tapi Amel menahan tangannya, "Kok lo nyolot banget sih jadi orang?!"
Raina menghela nafas, "Huh.... Bukan gue yang nyolot, tapi lo yang baperan! Ini 2020 ya, off baperan sayang!"
Amel semakin kesal, ia menarik kerah baju Raina namun Raina menghempaskan tangan Amel, dan...
"Ahhhh...."
"Amel!"
Bug... Bug... Bug...
Bruakkk...
Amel terpeleset dan jatuh ke bawah, Raina baru saja ingin menarik tangan Amel agar tak jatuh, naas, gaya gravitasi lebih dulu menarik tubuh Amel ke bawah.
"Raina!?"
Tiba-tiba Surya ada di bawah dan terkejut karena tiba-tiba Amel berhenti dikakinya. Surya langsung membalik badan Amel, Raina masih bengong dan terkejut atas kejadian ini.
"Na tolong Na! Buruan turun!" teriak Surya yang panik.
"Hah iya?!"
Raina berniat segera turun, namun kakinya juga tergelincir. Untuk tangannya segera menyahut pegangan tangga hingga tubuhnya tertahan, namun kakinya sepertinya terkilir.
Surya hendak berlari menolong Raina, namun Ara lebih dulu berlari untuk menolong Raina yang terjatuh, "Na! Kamu nggak papa? Ayo aku bantu!" kata Ara sambil mencoba membantu Raina turun kebawah.
Surya segera menelfon ambulans. Amel segera dibawa ke rumah sakit untuk ditangani, Surya takut kalau ada benturan di kepala Amel. Tentu keluarga Amel tak akan diam.
***
Di Rumah Sakit
Raina baru saja diperiksa oleh dokter, tangannya terkilir dan kakinya mengalami sedikit keretakan. Ia masih duduk di kursi tunggu dengan keadaan yang syok.
"Na... Raina, lo bisa denger gue nggak?" tanya Surya yang saat ini duduk disebelah Raina.
Mata Raina berkaca-kaca, "Ay... Gue nggak ngapa-ngapain. Gue nggak ngapa-ngapain, Amel gimana? Apa dia baik-baik aja?"
Surya merangkul Raina yang masih begitu syok dengan keadaan ini, "Shhh... Sudahlah, semua pasti akan baik-baik saja!" Surya berusaha menenangkan Raina.
.
.
.
.
Ara sedang berdiri melihat pemandangan dari lantai 3 rumah sakit itu, tangan kanannya memegangi ponselnya di telinganya.
"Bagaimana? Kau sudah membersihkan itu?"
"Udah Ra... Gak bakal ada yang tau kalo sebelumnya ada pelicin lantai disitu."
"Oke, kerja bagus!"
"Tapi Amel gimana Ra? Gimana kalo dia kenapa-napa?"
"Diam! Lo cuma perlu diem aja, kalo ada sepatah katapun yang keluar dari mulut lo, siap-siap lo dikeluarkan secara tidak hormat dari sekolah. Dan bokap lo bakal dipecat dari perusahaan papa gue!"
"I-iya Ra, jangan keluarin gue Ra, gue masih mau sekolah. Dan jangan pecat bokap gue!"
"Ok, itu semua tergantung mulut lo!"
Ara mematikan telfonnya, ia senang melihat Raina seperti ini. Ia memikirkan situasi yang saat ini ada diluar bayangannya.
"Siapa yang tau? Awalnya gue mau celakain Raina, malah kena Amel juga. Tapi kalo dipikir-pikir, ini menguntungkan juga. Raina bisa dikeluarkan dari sekolah tanpa harus mengotor-ngotori tangan gue. Dan Surya pasti jadi milik gue sepenuhnya!" pikir Ara.
Ara memutar otaknya untuk memanfaatkan situasi ini, saat ini pikiran Ara kacau karena buta cinta, atau lebih tepatnya obsesi untuk memiliki Surya.
"Oh iya, aku bisa berpura-pura menjadi saksi. Siapa yang tidak mempercayaiku? Bahkan guru-guru disekolah pasti lebih mempercayai ku 100%. Aku bisa bertingkah seolah-olah aku melihat semua kejadiannya. Lagipula saat itu listrik sedang mati, tak ada CCTV yang hidup."
Ara benar-benar menikmati situasi ini, seolah-olah tiap detik memang diciptakan untuk kemenangan Ara atas Surya. Ia kembali menemui Surya dengan wajah polosnya.
Ara mendekati Surya, "Gimana keadaan Amel Ya?" tanyanya.
"Masih nunggu hasil Rontgen dulu."
Ara mengeluarkan air mata palsunya agar terlihat sedih, "Na... Lo kenapa kayak gitu sih? Gue tau lo selama ini nggak suka sama Amel, tapi kenapa harus nyelakain dia kayak gini sih?"
Raina terlihat tertekan dengan kata-kata Ara, "Enggak-enggak! Gue nggak nyelakain dia! Amel jatuh sendiri, gue nggak salah... Gue..." Raina terbata-bata karena takut dan syok.
Tak lama Kenan dan beberapa guru datang menemui mereka bertiga, Kenan tampak ngos-ngosan dan khawatir pada Raina.
"Gimana keadaan lo dek? Lo nggak kenapa-napa kan? Ya, Raina kenapa?" tanya Kenan risau.
Para guru datang bertanya pada Surya, "Surya... Tolong kamu jelaskan semuanya! Apa yang sedang terjadi sebenarnya?!"
Surya masih menenangkan Raina, "Saya juga nggak tau pak, waktu saya datang, Amel udah jatuh."
"Ara, apa kamu juga ada ditempat kejadian?"
"Iya pak, saya saksinya..."
Raina terkejut mendengarnya, dari awal ia sama sekali tak melihat Ara. "Bagaimana Ara bisa jadi saksi?" pikir Raina.
"Besok, kalian semua harus ke sekolah! Ini bukan masalah yang sepele, ini menyangkut nyawa orang. Dan Amel itu juga bukan orang sembarangan!"
Surya geram sendiri karena melihat Raina yang semakin ketakutan, "Pak tolong jangan bahas itu saat ini! Yang penting itu keadaan para korban, bukan apa yang terjadi!"
Tiba-tiba orang tua Amel datang, ibu Amel langsung menjambak rambut Raina kuat-kuat karena emosi. Sedangkan ayahnya terlihat mencoba tetap tenang.
"Dasar kamu gadis jahat! Kamu ibl*s! Kenapa kamu celakai anak saya? Apa salah anak saya ke kamu?!" bentak ibu Amel.
"Ahhh... Bukan aku, bukan aku!" bela Raina yang rambutnya masih dijambak ibu Amel.
Semua orang berusaha melerai keduanya agar tak terjadi keributan di rumah sakit itu.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏