My Ketos My Husband

My Ketos My Husband
Just Be Your Self



"Astagfirullah... Ini jantung kenapa kayak gini tingkahnya? Naya juga ngapain sih ini? Pengen gue lepas, tapi nggak mau dilepasin Naya. Trus gue harus apa sekarang?" ucap Arkan dalam hati.


Naya sedikit mendekati Arkan dan membisikkan sesuatu.


"Di sini itu liburan... Jangan melamun mulu, di nikmati aja. Sorry, tadi nggak sengaja megang tangan kamu..." bisik Naya


Arkan tersenyum, ia tak mengira gadis polos dan kalem di sampingnya ini bisa menyemangatinya. Naya melepaskan pegangan tangannya karena merasa canggung.


Sekarang giliran Arkan yang mendekati Naya dan berbisik, "Makasih udah semangatin. Besok mau keliling bareng? Gue pengen cerita sesuatu," bisik Arkan


Jantung Naya berdebar tidak karuan. Untuk menutupi rasa gugupnya, ia hanya mengangguk sambil tersenyum. Diam-diam tangan Arkan menarik tangan Naya dan menggenggamnya erat lalu lanjut bernyanyi seolah tidak ada yang terjadi.


"Besok mau ngomong? Ngomong apa ya? Jangan-jangan mau nembak aku? Astaga... Ini halu tinggi banget sih! Tapi ngomong apa sih? Sumpah penasaran akunya!" batin Naya yang semakin kesal sendiri.


Naya berdoa dalam hati dan berharap kalau waktu ini tidak cepat berlalu. Gadis mana yang tidak girang saat tangannya digenggam erat oleh pria yang ia cintai.


Arkan sesekali curi pandang kepada Naya, "Yang megang tangan dia kan gue, tapi kenapa gue yang deg-degan? Apa jangan-jangan jantung gue bermasalah? Umur gue gimana Ya Allah? Jangan cabut nyawaku sekarang Ya Allah, aku belum puas bersenang-senang dengan teman-temanku. Aku juga belum taubat!" batin Arkan yang khawatir dengan kondisinya sendiri.


Semuanya bersenang-senang menikmati liburan yang sebenarnya. Teman Kenan yang bernama Rio itu diam-diam mencuri pandang ke arah Diva. Kenan yang menyadarinya langsung bertanya.


"Kenapa liatin dia mulu bro? Naksir lo?" tanya Kenan


Rion menggeleng dan tetap memandangi Diva, "Enggak Ken... Tapi mukanya enggak asing, kayak pernah liat gitu. Tapi di mana?"


"Tanya ajalah... Jangan liatin doang, lo pikir dia pemandangan alam? Di liatin doang nggak di sapa?"


"Iya nanti aja..."


Selesai bernyanyi, Rio mencoba menyapa Diva karena penasaran. "Hai... Kita pernah ketemu nggak sebelumnya? Kok kayaknya wajah lo nggak asing ya?"


Diva mencoba mengingat-ingat kembali, "Masa sih? Kok gue nggak inget ya Kak? Apa mungkin kakak liat postingan aku di IG?"


"IG?"


"Iya, nama Instagram kakak apa?"


"Rio1234."


Diva mencoba untuk mencari akun Instagram milik Rio, "Nah ketemu! Oh... Pantes aja, akun kakak follow akunku. Mungkin pernah lihat di IG."


"Oh iya inget! Lo yang selebgram itu kan?"


"Nggak kok, biasa aja!"


Rio hanya tersenyum ramah, "Jangan merendah... Fotbar yuk!"


"Kuyy.."


Rio berfoto bersama Diva, Dika dan Faris yang melihatnya hanya bengong saja. "Kenapa saingan kita glow up semua ya? Kentang bisa apa?" ujar Dika


"Udah cakep, tajir, pinter, dewasa pula... Kita apaan coba?" ujar Faris


Dika hanya menghela nafas, impiannya untuk menggoda Diva pupus seketika saat melihat ada mahasiswa tampan yang selangkah lebih dekat dengan Diva.


"Eh tunggu! Itu gue kali! Gue cakep, gue tajir, gue dewasa dan pinter banget! Nah kan, gue banget..." ujar Faris tiba-tiba.


Dika menatap Faris aneh, "Pinter apa bro? Bidang apa?"


"Pinter di bidang ngibulin orang. Hahahaha..."


Dika dan Faris tertawa sendiri oleh candaan mereka yang begitu receh. Sedangkan Rio tiba-tiba mendapat pesan masuk.


From: Surya Pradipta


Kak, kakak punya vila di puncak kan? Boleh nginep beberapa hari di sana?


Rio pun membalas pesan dari anak teman dekat ayahnya itu.


To: Surya Pradipta


Boleh, sini aja mumpung gue juga di sini bareng temen-temen gue. Gabung aja, kita lagi liburan juga di sini.


From: Surya Pradipta


Ok kak, thanks!


.


.


.


.


Acara sudah berlalu, semua sudah kembali ke dalam vila. Hanya Raina yang masih ada di balkon, Maxime yang melihatnya pun mengambil 2 botol soda dan menyusul Raina.


"Nih..." kata Maxime sambil memberikan sebotol soda.


Raina yang sedikit terkejut menengok ke arah Maxime, "Oh... Makasih, kok nggak masuk?"


"Belum ngantuk juga sih... Kamu juga ngapain jam segini belum masuk? Nggak takut masuk angin?"


Raina hanya menggeleng tanpa melihat Maxime, "Lagi nikmatin udara puncak aja, tenang rasanya ngelihat pemandangan yang damai gini. Jakarta kan nggak ada pemandangan kayak gini, yang gue lihat tiap hari cuma motor mobil yang balapan untuk berangkat kerja ataupun ke sekolah."


"Iya sih... Ngelihat pemandangan yang sunyi plus damai gini rasanya nyaman ya..."


"Hmm..."


Maxime melepaskan jaketnya dan memakaikannya di pundak Raina. "Harusnya pake baju tebel, ini dingin loh..."


Raina hendak melepaskan jaket Maxime, namun tangan Maxime mencegahnya. "Nggak usah, kamu pake aja! Aku nggak kedinginan kok..."


"Santai aja kali... Cuma karena udara dingin aku nggak akan beku kayak di Antartika."


"Hahahaha... Kamu bisa aja deh..." tawa Raina renyah


Maxime tersenyum manis melihatnya, "Kamu ketawa terus aja ya. Soalnya kalo kamu ketawa makin cantik, jangan nangis..."


Deg... Deg... Deg...


Jantung Raina berdebar-debar, bukan karena cinta atau apa, tapi tiba-tiba merasa canggung karena kata-kata Maxime.


"Mau gitaran lagi nggak? Coba lagu lama yuk, pasti pernah denger lagu ini deh..." ajak Maxime agar suasana tak canggung.


"Boleh..."


***


Suara


Di sini aku masih sendiri


Merenungi hari-hari sepi


Aku tanpamu masih tanpamu


Bila esok hari datang lagi


Ku coba hadapi semua ini


Meski tanpamu oh meski tanpamu


Bila aku dapat bintang yang berpijar


Mentari yang tenang bersamaku disini


Ku dapat tertawa menangis merenung


Di tempat ini aku bertahan


Suara dengarkanlah aku


Apa kabarnya pujaan hatiku


Aku di sini menunggunya


Masih berharap di dalam hatinya


Suara dengarkanlah aku


Apakah aku slalu dihatinya


Aku di sini menunggunya


Masih berharap di dalam hatinya


Kalau ku masih tetap disini


Ku lewati semua yang terjadi


Aku menunggumu oh aku menunggu


Suara dengarkanlah aku


Apa kabarnya pujaan hatiku


Aku di sini menunggunya


Masih berharap di dalam hatinya


Suara dengarkanlah aku


Apakah aku ada dihatinya


Aku di sini menunggunya


Masih berharap di dalam hatinya


Suara dengarkanlah aku


Apa kabarnya pujaan hatiku


Aku di sini menunggunya


Masih berharap di dalam hatinya oh


Suara dengarkanlah aku


***


Awalnya Raina hanya menyimak dan menikmatinya, namun petikan jari Maxime seolah menyihir Raina. Perlahan, Raina mengikuti alur lagu dan bernyanyi saling melengkapi suara berat Maxime.


"Asik juga ya ternyata main gitar..." ujar Raina tanpa sadar.


Maxime mengerutkan keningnya, "Loh... Kenapa baru nyadar? Emangnya lo bikin band buat apa? Karena lo suka musik kan?"


Raina terdiam sejenak, ia bertanya pada dirinya apa alasannya membuat band. Belum sempat menjawab pertanyaan, Maxime lebih dulu menyahut.


"Bukan karena rasa suka dari hati lo kan? Pasti ada alasan lain, coba bilang apa alasan lo bikin band? Jawaban yang berasal dari hati, bukan paksaan diri..."


Raina berpikir dan tiba-tiba menjawabnya, "Karena gue ngefans sama lo... Papa gue suka musik rock, jadi karena papa suka, gue harus suka kan? Lagian ada lo juga, jadi ya gue buat aja gitu..."


Maxime menggeleng dengan senyumnya, "Itu bukan alasan... Tapi fakta yang lo buat untuk memaksakan kehendak lo sendiri tanpa sadar. Main musik itu bukan sekedar karena pengen atau karena orang lain pengen, tapi asli niat dari hati."


Raina terdiam mendengar ucapan Maxime, ia juga bingung kapan terakhir kali bertanya pada pilihan hatinya, bukan otaknya.


"Gue main musik karena suka, dan rasa suka itu yang buat gue semakin enjoy buat ngejalanin semuanya. Gue nggak memaksa, tapi menurut gue... Alasan lo itu nggak tepat, ini hidup lo, pilihan lo dan masa depan lo. Lo yang paling berhak buat tentuin semuanya, pastinya dengan hati, bukan otak. Jangan cuma karena orang lain, lo rela ubah diri sendiri."


"Tapi gue nggak berubah..." bantah Raina


"Sadar atau enggak, perlahan-lahan lo merubah diri lo sendiri tau nggak? Dan hal itu bakal buat inner beauty lo ilang, sifat asli dari diri lo hilang. Baik buruknya lo, kalau memang keluarga, pasti bakal support dan nggak akan menjatuhkan."


"Jadi?" tanya Raina


Maxime menyibakkan rambut Raina ke belakang telinganya, "Just be your self. Jadilah diri sendiri, untuk diri kamu sendiri, bukan untuk orang lain. Karena gimanapun kamu nantinya, kamu tetep cantik di mata siapapun..."


Raina sedikit tersipu dengan kata-kata Maxime barusan, apalagi Maxime yang menuturkan kata-kata dengan bahasa yang tidak formal seperti biasanya. Mimpi apa dia, kata-kata ini terakhir ia dengar saat mendiang papanya masih hidup.


Raina tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca, "Maaf gue baperan ya? Gue cuma terharu aja, papa gue juga pernah ngomong hal yang sama..."


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏


Ada yang nunggu visual Maxime?



Hayo, Surya apa Maxime nih? Ga boleh dua-duanya ya 😂