
"Iya, diem ye lo! Jangan bawel dulu, gue sumpel pake perban mau lo?" ancam Surya yang kesal.
"Ye jangan! Ntar nyium lo gimana?"
"Lah iya, ah dahlah! Gue mo obatin dulu!"
Ara menatap wajah Raina yang tampak lebih khawatir dan takut daripada dirinya yang sedang terluka. "Apa bener mereka cuma pacaran biasa? Kenapa bisa mesra-mesraan seleluasa ini? Dan gue nggak cemburu lagi liat mereka?" pikir Ara yang membuatnya sedikit bingung.
Perlahan-lahan Surya membersihkan seluruh darah dari telapak tangan Ara, membersihkan lukanya dengan alkohol, mengoleskan obat merah lalu membalut tangan Ara dengan perban.
"Oke, selesai!" ucap Surya yang lega setelah membalut luka Ara dengan baik.
"Hah akhirnya! Ada yang salah nggak tadi? Jangan-jangan ada yang salah, atau kapasnya ketinggalan didalam luka? Atau yang lain?" tanya Raina khawatir.
Surya menatap Raina datar, "Na, ini cuma luka biasa, gue cuma bersihin trus kasih obat. Bukan gue bedah trus gue jahit."
"Oh...." jawab Raina santai. "Lah, lukanya dalem apa nggak? Kalo dalem, ayo bawa ke dokter! Siapa tau perlu di jahit kan!" Raina tiba-tiba berpikiran jauh dan panik sendiri.
"Gak mau! Gak usah lebay! Gue nggak kenapa-napa!" bantah Ara dengan tegas.
"Tapi kalo tiba-tiba infeksi, trus sakit, trus..."
"Hais sudahlah! Kan udah gue obatin lukanya, sayang. Gak bakal kenapa-napa, nanti juga sembuh sendiri seiring berjalannya waktu." Surya menyelah kata-kata Raina agar Raina tidak semakin khawatir.
"Beneran nggak papa?" tanya Raina dengan puppy eyes. Surya mengangguk menanggapi kata-kata Raina.
Raina mengelus dada lega, ia mengambil ponsel disakunya lalu pergi sedikit menjauh. "Lo berdua tunggu di sini dulu, gue balik bentar lagi!" pinta Raina sambil berjalan menjauh.
Selagi Raina menjauh, Ara iseng bertanya pada Surya. "Lo nggak dimarahin apa sama bokap nyokap lo gara-gara sedekat itu sama Raina? Ya gue tau dia pacar lo, tapi menurut gue, kalian terlalu dekat dan terlalu mesra. Kalo diluar negeri sih udah biasa pacaran kayak gitu, tapi ini kan di Indo." Ara mengutarakan opininya.
Surya mengangkat salah satu alisnya, "Lo kenapa tanya gitu? Lo cemburu?" tanya Surya to the point.
"Bukan gitu... Menurut gue, lo terlalu mesra aja gitu sama dia."
Surya menghela nafasnya panjang, "Huh... Dengerin kata-kata gue, gue nggak bakal ulang ataupun jelasin. Tapi kalo lo berani nyebar apa yang gue omongin kali ini, urusan lo panjang sama gue! Gue nggak main-main kali ini!" tegas Surya dengan nada mengancam.
Ara sedikit kikuk melihat tatapan Surya yang benar-benar tajam dan mengintimidasi, "I-iya deh, apaan?" tanyanya.
"Raina itu istri gue!"
Ara membelalakkan matanya tak percaya, "M-maksud lo? K-kalian kan masih sekolah, mana mungkin udah nikah? Bercanda lo gak lucu sumpah!" Ara menggeleng tak percaya.
"Gue nggak bercanda dan gue serius! Menurut lo, apakah dengan kepribadian gue yang kayak begini, gue berani main peluk sama cewek yang bukan muhrim gue? Apa gue berani minta cium sama cewek yang cuma punya status pacar gue?" tanya Surya dengan serius.
Ara masih menggeleng tak percaya dengan apa yang ia dengar. Hatinya terasa kacau namun tak sakit, ia merasa biasa saja mendengar kata-kata Surya.
***
Di Sisi Lain
Raina menelfon Max untuk datang mendampingi Ara disini. Tak mungkin ia terus menemani Ara.
"Halo, lo dimana?"
"Lagi nongkrong Na, kenapa?"
"Buruan kerumah sakit A, sepupu lo lagi drop noh! Gatau ke rumah sakit bawa siapa."
"Siapa? Ara?"
"Iyalah, siapa lagi?"
"Oke, tunggu bentar! Gue ada di deket rumah sakit!"
"Hmm... Buruan! Gue tunggu di kantin rumah sakit!"
"Ok..."
Raina mematikan ponselnya dan kembali menghampiri Surya dan Ara. "Eh udah, tunggu bentar ya! Ada yang mau dateng!" pinta Raina.
"Udah intinya ada, duduk dulu aja tunggu." Raina duduk disalah satu kursi di kantin itu. "By the way, lo ngapain kerumah sakit dengan keadaan sekacau ini Ra?" tanya Raina.
"Mama gue sakit..." jawab Ara singkat.
Surya terkejut mendengarnya, "Hah? Sakit apa? Bukannya selama ini nyokap lo baik-baik aja?" tanya Surya.
Ara hanya tertunduk diam ketika mendengar pertanyaan Surya, perlahan-lahan air matanya jatuh dengan sendirinya tanpa ia sadari.
Raina terkejut melihat Ara menangis, "Ra? Lo kenapa Ra? Kok nangis? Ada masalah ya? Cerita aja..." pinta Raina dengan suara lembutnya.
Ara tak mampu bersuara lagi, ia hanya menangis dan sesekali mengusap air matanya dengan tangannya yang masih sakit dan terluka itu.
Raina memeluk Ara, ia bersyukur karena Ara masih sanggup menangis. Ia tak ingin Ara menjadi seperti dirinya yang dulu, menangis pun tak sanggup. Raina sadar kalau sekecil apapun masalahnya, jika sudah menyangkut orang tua, maka itu akan menjadi berat untuk seorang anak.
"Udah, nangis aja sepuas lo. Jangan ditahan, gak baik suka nahan-nahan masalah sendirian. Lo nggak sendiri, gue dan Surya selalu dukung lo kok!" Raina mengusap rambut Ara lembut.
Surya terkagum-kagum melihat Raina yang tampak begitu tulus pada Ara padahal Ara dulu benar-benar jahat padanya. "Lo manusia apa bidadari sih Na? Bisa-bisanya lo berhati malaikat sama orang yang pernah berkelakuan kayak setan ke lo." Surya hanya membatin sambil melihat kedua gadis yang sedang berbagi kesedihan itu.
Maxime berlari dari kejauhan mencari-cari Raina, ia melihat Raina yang sedang memeluk Ara. Maxime kebetulan melihat Surya juga, ia langsung berlari dan menarik Surya menjauh.
"Heh apa-apaan sih lo! Lepasin!" pinta Surya yang tiba-tiba diseret menjauh.
Maxime menghentikan langkahnya saat sudah agak jauh, ia berbalik dan menatap Surya serius. "Sejak kapan Ara disini?" tanyanya.
"Dari tadi, kenapa?"
"Dia kesini bawa siapa?"
"Kata dia, nyokapnya sakit."
Maxime mengusap wajahnya gusar, "Gue bener-bener khawatir sama dia!"
"Emang kenapa?"
Maxime menjelaskan apa yang sedang terjadi pada keluarga Ara, Surya terkejut mendengarnya. "Hah? Gimana bisa? Bukannya, bokap Ara itu pria baik-baik?" tanya Surya tak percaya.
"Ya setelah ada bukti kayak gitu, lo masih yakin kalo bokap Ara itu pria baik-baik? Sekarang gue harus apa? Barusan nyokap gue minta buat bawa Ara pergi, tapi kalo Ara pergi, siapa yang jaga nyokap dia di sini?" tanya Maxime.
Surya ikut bingung dengan situasi ini, "Gini deh, lo tahan dulu kemauan itu. Tunggu sampe nyokap Ara sedikit membaik. Kalo emang penyakitnya parah, lo bisa pindahin rumah sakit aja. Tapi kalo bisa membaik, lo cepet-cepet bawa Ara pergi, kalo perlu Ara pindah sekolah aja!" Surya memberi saran.
"Hmm oke deh, gitu aja! Kalo lo mau balik, balik aja sama Raina, Ara biar gue yang urusin!" ujar Maxime.
"Oke."
Surya dan Maxime kembali menemui Ara dan Raina. Ara sudah sedikit tenang setelah menangis di pelukan Raina.
"Ara... Tenang Ra, gue ada di sini!" ujar Maxime. Maxime menarik badan Ara dan memeluknya erat, "Lo yang kuat ya, lo harus kuat. Lo pasti bisa lewatin ini semua. Lo nggak sendirian Ra, gue di sini sama lo!" Maxime mengusap punggung Ara.
Ara hanya mengangguk pelan, Maxime melepas pelukannya dan menatap Ara dalam. "Udah jangan nangis ya, kita semua ada buat lo kok!" Maxime mengusap air mata Ara.
Ara kian membaik, kemudian Maxime iseng-iseng tanya pada Raina dan Surya. "By the way, kalian ngapain di rumah sakit?" tanya Maxime.
"Buat program kehamilan..." sahut Surya yang usil.
Plakk...
Pukulan ringan mendarat di pundak Surya, "Aw sakit Na!" keluh Surya.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏
Jangan lupa follow Ig ku:
@diagaa11
Follow akun ku juga ya😇