My Ketos My Husband

My Ketos My Husband
Mematahkan Rekor



"Justru gue yang harus nanya ke lo! Gue emang temen deket Maxime, wajah kalo di sini sama yang lain. Lo sendiri, siapanya Maxime! Ngapain ke sini?" tanya Raina balik.


"Gue... Ya terserah gue! Bukan urusan lo juga! Lo pikir gue kesini cuma mau ke apartemen Maxime? Lo pikir, seluruh apartemen disini cuma punya Maxime? Cih..." Ara mendecih sinis.


Raina memutar bola matanya jengah, "Ya udah... Pergi sana, males gue liat muka lo!"


Ara menunjukkan smirk-nya, "Kenapa? Sebel ya sama gue? Hahahaha... Emang lo itu s*mpah, dan selamanya tetep s*mpah! Lo nggak akan bisa nyaingin gue! Lo selalu di bawah gue!"


Raina mengepalkan tangannya, "Terserah lo mau bac*t apa. Mulut kan biasanya cuma dipake ngomong."


"Gue heran sama Surya, bisa-bisanya dia suka sama cewek kayak lo. Lo b*go, nakal, dan nggak punya prestasi sama sekali. Gak guna banget hidup lo... Ciri-ciri orang dengan masa depan suram itu ya lo..." Ara mengejek Raina.


Raina benar-benar marah dan ingin menampar Ara, namun ia menahannya lalu berbalik meninggalkan Ara. Raina membanting pintunya tepat didepan wajah Ara.


Ara terkekeh, "Heh... Cuma malu itu nggak bikin gue puas. Mental lo harus down, dipermalukan dan gue bakal buktiin kalo lo itu selamanya masih dibawah gue!" Ara tersenyum sinis lalu pergi.


***


Di dalam apartemen, Raina mengatur untuk meredam emosinya. Diva dan Naya yang sejak tadi menguping pun menghampiri Raina.


"Ngapain tu penghuni neraka di sini? Mau minta tolong apa gimana?" tanya Diva sinis.


Naya pun memegang tangan Raina lembut, "Ara kok jahat banget kata-katanya. Dia kasar banget sih, perasaan... Biasanya kan dia lemah lembut."


Diva pun memutar bola matanya jengah, "Ya biasa lah... Masa lo baru nyadar kalo itu orang punya 2 muka? Gue aja bingung mau nampar muka yang mana dulu..."


"Raina yang kuat ya... Pasti kamu bisa lewati semua ini!" kata Naya menyemangati Raina.


Diva langsung berdiri didepan Raina dan memegang kedua pundak Raina erat, "Na! Lo jangan diem aja, lo harus berubah! Gue tau aslinya lo itu cantik dan pintar, cuma lo nggak mau ngasah. Maka dari itu, ayo sekarang berubah! Kita bungkam tu anak setan pake kenyataan!"


"Iya Na, ayo berubah! Kamu pasti bisa, kamu harus lebih baik daripada dia biar dia nggak bisa rendahin kamu lagi! Kamu harus bisa!" Naya menyemangati Raina.


Raina berpikir, memang kata-kata kedua sahabatnya ini ada benarnya. "Anj*ng kan biasanya cuma menggonggong. Kalo gue nggak galak, gimana tu anj*ng bisa diem! Yang ada malah di gigit guenya!" pikir Raina.


"Ayo semangat! Kalahin tu anak, buktiin kalo lo bisa!"


"Semangat Na!"


Raina memantapkan hatinya, ia benar-benar ingin berubah saat ini. Ia lebih suka kalau Ara bungkam karena kenyataan. Orang-orang pasti tak akan meragukan Raina lagi jika Raina berubah.


"Ok, gue bakal berubah! Kalian harus bantuin gue ya!" pinta Raina dengan semangat.


"Ok, masalah fashion and make up, serahin semua sama gue! Pasti beres!" kata Diva bersemangat.


Naya tersenyum, "Kalo pengen banyak buku buat belajar... Main aja kerumahku, aku punya perpustakaan pribadi di rumah."


Raina memeluk kedua sahabatnya dengan penuh kasih. "Makasih banget... Kalian selalu ada buat gue, padahal gue bener-bener down saat ini!"


Diva dan Naya membalas pelukan Raina, "Sama-sama... Gue paling nggak suka ada orang semena-mena! Itu anak disekolahkan buat di bina, tapi kalo nggak bisa di bina... Lebih baik di binasakan!" tegas Diva.


"Apapun pilihan kamu... Kita berdua pasti dukung kok Na! Semangat ya..."


"Thanks guys..."


Dugg... Dugg... Dugg...


Suara dentuman musik terdengar di ruangan itu, mereka bertiga menengok dan pergi untuk melihat suara apa ini.


"Apaan itu tadi?" tanya Diva.


"Iya ngagetin aja!" kesal Raina.


Dika mengangkat pandangannya, "Ini nih... Ada DJ set, gue mau nyoba aja!" jawab Dika cengengesan.


"Mana bisa lo main gituan? Udah jangan sentuh, nanti malah musiknya jadi parah setelah lo mainin!" gurau Diva.


Dika menatap Diva datar, lalu ia memainkan alat-alat yang terpasangi banyak kabel diatas meja itu. Terbentuk alunan musik penuh bas yang enak didengar. Semuanya tercengang mendengarnya.


"Kok lo bisa main?" tanya Arkan.


"Lo les DJ?" tanya Faris.


Dika cengengesan, "Kaga hehe... Waktu gue main ke Bali, gue ada saudara di sana yang seorang DJ. Selama 2 minggu di sana, gue diajari main alat-alat ini. Sampai di rumah, gue minta lah dibeliin... Setelah kebeli, eh malah makin pro guenya... Kalian mau dengerin musik gue?" Dika menawarkan.


"Boleh..."


"Ntar dulu!" Diva menghentikan, "Kurang pas kalo nggak ada minuman sama camilan, iya kan? Gue keluar bentar beli soda sama camilan ok!"


Diva, Naya dan Raina pergi ke supermarket terdekat dan kembali dengan sekantung soda kaleng juga beberapa camilan.


"Ok Dik... Gas..."


Dika mulai memainkan jari-jarinya diatas rangkaian alat-alat DJ itu dengan lihai. Musik full bass pun tercipta, tanpa sadar, semua menikmatinya dan menari.


"Anj*r, jantung gue ikut jedag-jedug!" ujar Arkan.


"Tau gini, gue beliin lo alat-alat ginian di rumah. Lo temenin gue sambil mainin ini Dik!" celetuk Faris.


Raina ikut santai dan menari saat mendengar alunan musik buatan Dika. Diva pun tak kalah antusias, "Ini mah namanya dugem halal bro... Kaga usah ke bar!"


"Nah betul..."


"Hahahaha...."


***


Beberapa Hari Kemudian


Karena kurangnya bukti dan belum jelas siapa yang mendorong Amel, Raina tidak di hukum, namun tetap di skors selama 1 minggu pertama masuk.


Surya masih tak menyerah, hampir setiap hari ia datang kerumah sakit untuk melihat Amel sekaligus menanyakan kebenarannya. Namun karena gegar otak yang dialami Amel, Amel masih melupakan beberapa kejadian dihidupnya.


"Udah berhari-hari gue cuma awasin Raina dari jauh, kira-kira dia masih marah sama gue nggak ya?" gumam Surya.


Surya pergi ke rumah Raina untuk menemuinya. Ia benar-benar tak sabar ingin segera menanyakan keadaan Raina dan melihatnya secara langsung. Berhari-hari Surya hanya mendengar kabarnya dari Kenan.


.


.


.


Raina sedang menelepon seseorang sambil berjalan keluar dari rumahnya, Surya pun langsung menghampirinya.


"Hai Na..." sapa Surya.


"Ngapain di sini?"


"Gimana keadaan lo?" tanya Surya dengan basa-basi.


"Baik."


Surya menarik nafasnya agar tak gugup, "Kapan lo balik ke rumah? Ayah dan Bunda udah nanyain lo, bunda kangen sama lo..."


"Terus?"


"Ayo balik Na... Gue minta maaf buat semuanya, gue bakal tetep selidiki masalah ini! Walau kasus ini udah selesai, tapi gue bakal tetep cari kebenarannya! Mau sampai kapan sih lo marah gue? Surya memegang tangan Raina dengan tulus.


Raina melepaskan genggaman Surya, "Tolong... Gue masih belum terbiasa sama keadaan ini. Dan juga, saat ini gue perlu benci sama seseorang agar gue nggak benci diri gue sendiri!"


"Na..."


"Awas, gue mau pergi!" Raina pergi melalui Surya dengan cueknya.


"Raina..."


Raina menghentikan langkahnya, ia berbicara tanpa menatap Surya. "Lo inget? Bunda dan mama gue kasih nama Surya dan Raina tujuannya apa? Matahari kalo ketemu hujan itu jadi pelangi, tapi mereka nggak sadar... Pelangi emang indah, tapi cuma datang sebentar lalu pergi."


Raina naik taksi yang telah ia pesan dan meninggalkan Surya yang masih terdiam. Surya ingin sekali membawa Raina pulang, namun tak ingin memaksa kehendaknya.


.


.


.


Raina yang duduk ditaksi pun terdiam, ia ingin sekali segera pulang. Namun entah kenapa, rasanya ini belum saatnya.


Raina menghela nafas panjang, "Haahh... Ara, tunggu gue berubah! Maka bakal gue patahin semua rekor lo! Jangan harap lo bisa menang lawan gue, gak ada pesaing yang bisa ngalahin gue ketika gue udah mutusin buat berjuang!" ucap Raina pada dirinya sendiri.


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏