My Ketos My Husband

My Ketos My Husband
Saksi



Rahma seolah-olah sedang terpojok sekarang, ia bingung harus apa lagi. Jika punya kesempatan, ia akan segera menelpon Surya dan meminta bantuannya.


Ara sudah tak sabar lagi, ia menyeret Rahma pergi. Ia membereskan tas Rahma lalu segera menyuruh Rahma pergi.


"Huh akhirnya beres juga!"


Flashback Off


***


Keesokannya


Surya masih tak melihat sedikitpun pergerakan dari Ara. Ia semakin tak sabar lagi, ia mencari Ara dan pergi memberinya peringatan.


Surya mencengkeram erat tangan Ara, "Lo masih keras kepala nggak mau ngakuin kesalahan lo?"


"Aw apa sih Ya, lepasin! Ya lepasin!" keluh Ara yang kesakitan.


Surya menghempaskan tangan Ara kasar, "Gue kemarin udah peringatin lo ya! Jangan salahin gue kalo gue bertindak kasar!"


"Apa sih Ya? Gue nggak paham maksud lo tau nggak!"


Tanpa menggubris perkataan Ara, Surya langsung pergi meninggalkan Ara sendirian.


"Hahahaha... Mau ngapain aja juga percuma, karena Rahma nggak ada dan Amel nggak bisa kasih kesaksian!" gumam Ara yang merasa menang.


***


Di Ruang BK


Tok... Tok... Tok...


Surya mengetuk pintu ruang BK. Sebuah suara menyuruh Surya segera masuk kedalam. Surya pun membuka pintu itu dan menyapa Bu Arum.


"Selamat pagi bu..."


"Loh Surya, pagi... Ada apa kesini pagi-pagi?" tanya Bu Arum santai.


"Bu saya mau jelasin! Sebenarnya yang buat Amel celaka itu bukan Raina, tapi Ara bu!" ujar Surya dengan tegas.


Bu Arum terkekeh kecil, "Hehe, kamu ini masih saja obsesi sama kasus itu? Tapi kasus itu sudah selesai Ya, dan nggak ada yang bisa disalahkan."


Surya tetap membantah, "Tidak bu! Ara yang salah, saya bisa buktikan dan saya punya buktinya!"


Bu Arum mengangkat salah satu alisnya, raut wajahnya mulai meragu. Surya mengeluarkan ponselnya dan membiarkan Bu Arum mendengarkan rekaman itu.


Bu Arum terkejut mendengar rekaman itu. Ia tak menyangka atas apa yang terjadi, Bu Arum menatap Surya penuh tanda tanya.


"Rekaman ini saya dapatkan saat saya berkunjung ke rumah sakit untuk menengok Amel bu. Rahma adalah saksi sebenarnya, tapi Ara sudah memindahkan dia ke sekolah lain."


Bu Arum masih menatap Surya tak percaya. Karena selama ini, Ara yang ia kenal adalah Ara, siswi cantik dan teladan dari sekolah.


"Lalu tunggu apa lagi bu? Mau sampai kapan menyalahkan orang lain atas kesalahannya Ara. Apa hanya karena kekuasaan orang tuanya? Tapi maaf bu, bukannya sombong, kekuasaan keluarga Ara nggak ada apa-apanya dibandingkan keluarga saya. Dari awal saya melarang keras keluarga saya terlalu ikut campur masalah ini karena janji saya pada Raina bahwa saya akan menemukan buktinya dengan tangan saya sendiri! Jadi sebelum keluarga saya ikut bertindak, tolong atasi masalah ini segera!" pinta Surya dengan sungguh-sungguh.


"Baik-baik! Kirimkan rekaman itu ke saya, jangan hapus di hp kamu ya! Ibu akan segera diskusikan masalah ini dengan para staf sekolah!" jawab Bu Arum tegas.


Surya mengangguk lega, "Iya bu, terima kasih karena sudah mau menangani perkara ini dengan sigap. Saya pergi dulu bu..."


"Iya, ibu juga makasih ke kamu karena kamu udah temuin bukti ini susah-susah. Tanpa kamu, mungkin ini akan jadi penyesalan terbesar ibu karena menuduh orang yang tidak bersalah," Bu Arum menepuk-nepuk pundak Surya bangga.


"Iya bu, saya pergi dulu."


"Iya nak..."


Surya keluar dengan percaya diri dari ruang BK. Ia segera menemui Raina karena sudah tidak sabar.


***


Surya menarik Raina keluar untuk berbicara secara pribadi. Raina hanya menurut karena tak tau kemana arah pembicaraan ini.


"Ini mau ngapain? Ngomongin apa sampe keluar segala?" tanya Raina santai.


"Masalah selama ini bakalan selesai! Gue udah ada bukti kalo bukan lo yang nyelakain Amel! Dan masalah ini bakal diproses lagi!" kata Surya dengan semangat dan antusias.


Raina membelalakkan matanya tak percaya, retinanya seketika membesar dan bibirnya menyungging keatas membentuk lengkungan senyum yang manis dan alami.


"Ini beneran!"


"Ya beneran lah, masa gue prank sih?"


Raina langsung berdiri dan melompat-lompat seperti anak kecil yang mendapatkan permen. Surya hanya terkekeh melihatnya.


"Ye ye ye ye ye... Gue nggak salah, gue nggak salah!" ucap Raina dengan girang. Namun tiba-tiba Raina berhenti melompat, "Eh, btw emangnya siapa yang nyelakain Amel? Apa emang dia jatoh sendiri?"


"Ara."


"Ara?"


"Iya, dia yang celakai Amel."


Raina mengernyitkan keningnya, "Mana mungkin? Amel kan masih keluarga dekat dia, masa nyelakain saudara sendiri?"


"Hm, awalnya dia mau nyelakain lo. Tapi siapa sangka, jebakan itu malah kena ke Amel dan malah Amel yang celaka."


Raina terkejut mendengarnya, "Gue? Kenapa nyelakain gue? Oh pasti gara-gara lo nih, heran deh gue sama tu orang ya... Di bumi ini ada 2,1 miliar orang berjenis kelamin laki-laki. Kenapa masih aja ngejar lo sih? Heran gue..." geram Raina.


"Kok gue merasa jijik karena disukain sama Ara ya..." gumam Surya.


"Udahlah gak papa... Yang penting kan lo punya gue seorang."


"Iya deh iya..."


Meski Raina tak banyak berkata-kata, tapi dalam hatinya ia benar-benar mengutuk Ara sampai benar-benar puas. Ia tak ingin merusak reputasinya sebagai siswi baik yang sudah susah-susah ia bangun hanya karena sebuah umpatan tak berguna.


***


Besoknya


Para staf penting sekolah dikumpulkan kembali, beberapa pemegang saham juga hadir untuk membahas masalah Amel ini.


Ruang pertemuan tampak sunyi dengan suasana yang suram dan tegang. Para pemimpin didalam ruangan itu saling melempar pandangan satu sama lain.


Bu Arum mulai membuka pertemuan itu, saat masalah dijelaskan, ayah Ara langsung membantah karena tidak terima putrinya dituduh.


"Stop bu! Ibu nggak bisa asal tuduh putri saya gitu aja. Ibu nggak punya bukti, hati-hati bu! Saya bisa tuntut anda atas nama pencemaran nama baik!"


Bu Arum hanya tersenyum, ia mengambil ponselnya dan memutar rekaman yang diberikan oleh Surya. Semua orang didalam ruangan itu terkejut mendengarnya.


"Bagaimana pak? Bukti yang mana lagi? Saya tidak bertujuan menjadi orang paling bijak didalam ruangan ini, hanya saja saya tidak ingin menuduh orang yang tidak bersalah!" bantah Bu Arum dengan tegas.


"Mana mungkin! Saya tidak percaya, bisa saja itu editan kan? Jaman sekarang semua sudah canggih, hal seperti ini mudah saja dilakukan asal tau orang yang profesional untuk melakukannya!" bantah Ayah Ara.


Bu Arum terdiam sejenak karena merasa terpojok, saat ini tak ada bukti fisik langsung. Rahma, satu-satunya saksi pun tidak ada.


"Itu semua benar! Saya saksinya!"


Sebuah suara tiba-tiba muncul dari arah pintu. Semua mata menuju ke gadis yang baru membuka pintu ruangan itu.


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏