My Ketos My Husband

My Ketos My Husband
Perlombaan



"Satu lagi! Gak usah sok bermuka dua, bingung gue mau nampar muka yang mana dulu. Lagian skincare lo nggak boros ya ngerawat 2 muka? Lu muka jelek aja jual omongan, lo cantik jual apa? Jual diri? Gak usah sok cantik, kita cuma beda merek skincare! Ay, yuk pulang... Males gue disini!" ketus Raina.


Ara seolah-olah mati langkah. Tak tau harus apa, harga dirinya benar-benar hancur didepan khalayak ramai.


"Liat aja! Gue bakal kalahin lo dan buat lo jatuh lagi!" Ara berteriak penuh kekesalan.


Raina menghentikan langkahnya, ia berkata tanpa berbalik. "Udah jangan halu aja, hidup lo udah susah, gak usah sok-sokan bergelimang kehaluan!"


Raina melanjutkan langkahnya dengan cuek meninggalkan Ara yang semakin marah. Ara malu karena dilihat oleh banyak orang, akhirnya ia pun pergi dari alun-alun.


***


Hari Perlombaan


Hari ini adalah hari dimana lomba cerdas cermat dilaksanakan. Raina sedang bersiap-siap didalam kelasnya, membaca buku sambil mendengarkan musik.


Ara dan Raina sama-sama mengambil kategori umum, sedangkan Surya mengambil kategori Sains. Hari ini anak-anak benar-benar heboh karena berita tentang Ara yang akan bertanding melawan Raina sudah tersebar luas.


Triinngg....


Bel sudah berbunyi, menandakan kalau lomba akan segera dimulai. Raina berjalan keluar kelas menuju tempat lomba diadakan, namun didepan pintu ia berpapasan dengan Ara.


Ara menunjukkan senyum sinisnya, "Heh... Lu bakal kalah hari ini! Gue bakal buat lo malu hari ini!"


Raina memutar bola matanya jengah dan berdecak, "Ck... Jan halu, walaupun gue kalah, gue nggak bakal semalu itu kok. Justru kalo lo yang kalah, berita tentang percobaan pembunuhan lo itu bakal semakin tersebar luas. Belum kalah aja lo udah malu, apalagi nanti kalo udah kalah."


Raina langsung to the point menyenggol luka Ara, hal itu membuat Ara sedikit tersinggung dan pergi dengan tatapan sinisnya.


Raina hanya terkekeh kecil melihat tingkah Ara, "Sok-sokan mau jatuhin gue, padahal gue ladenin dikit ae langsung ngambek. Lucu gan!" Raina menunjukkan senyum sinisnya.


Raina berjalan ke ruang perlombaan. Saat mengantri nomor undian, ia bertemu dengan Surya. Mereka berdua sengaja mengambil urutan paling terakhir setelah semua orang masuk ruang lomba.


"Hai sayang... Gimana? Udah siap buat hari ini?" tanya Surya dengan sedikit genit.


"Gak usah genit! Jelas udah siap lah, kan gue udah belajar. Lo sendiri gimana? Siap apa belum?" tanya Raina to the point.


"Kenapa aku tidak bisa uwu-uwu dengan istriku Ya Allah, kenapa ia berbeda," gumam Surya. "Udah ayangie, gak mau kasih ucapan gitu biar suaminya semangat?" tanya Surya sembari menunjukkan senyum termanisnya.


Raina mencium telapak tangannya lalu menempelkannya di pipi Surya. "Semangat ya mas husband! Awas sampe kalah! Kalo nggak juara 1, 1 bulan gak usah tidur sama gue! Tidur sendiri!" ancam Raina.


"Lah jangan... Gue gak bisa tidur kalo nggak peluk lo! Jangan ya... Jangan ya plis ya, kan sayang. Ya dek wife, jangan gitu! Jangan tidur sendiri! Gue harus peluk lu kalo mau tidur!" rengek Surya yang ketakutan seperti anak kecil.


Raina gemas melihat Surya yang merengek ketakutan seperti anak kecil ini. Ia mencubit gemas kedua pipi suaminya itu, "Iya-iya... Tapi beneran harus juara 1 ya! Awas kalo nggak juara 1!" ancam Raina.


Raina mengarahkan jari telunjuk dan jari tengahnya ke kedua matanya lalu diarahkan ke mata Surya.


"Iya juara 1, juara 1 deh! Lo juga harus juara 1 ya!" Surya mendekat ke telinga Raina lalu berbisik. "Kalo nggak juara 1, aku minta debay ya!" Surya terkekeh kecil.


Raina spontan memukul kepala Surya ringan dengan nomor undian yang ada ditangannya. "Jan ngadi-ngadi ye lu! Udahlah gue mo masuk, gila gue lama-lama sama lo!"


Raina berjalan masuk kedalam ruangannya. Lalu Surya sedikit berteriak meledek Raina, "Kalah aja ya biar hidup kita makin harmonis dan bahagia! Gak papa, kalah aja!"


Raina langsung menengok lalu melotot, hal itu membuat Surya semakin tertawa melihat Raina yang sedikit salah tingkah.


***


Didalam Ruangan


Raina melihat seisi ruangan. Ia mendapatkan nomor undian ke-13. Sedangkan Ara mendapatkan nomor 3. Begitu Raina masuk, ia sudah mendapatkan tatapan sinis dari Ara.


Raina hanya cuek dan masa bodoh, ia melihat tempat duduk yang kosong lalu duduk. Awalnya ada 30 peserta yang mendaftar, tapi setelah diseleksi tinggal 5 peserta. Untuk urutan nomor, tidak berubah dari awal. Jadi Raina tetap nomor 13 meski pesertanya tinggal 5.


5 orang itu duduk dengan tatapan ambisius kedepan. Tiap pertanyaan dengan jawaban yang benar akan mendapatkan 5 poin, dan telah disediakan sekitar 50 pertanyaan.


Seorang guru memasuki ruangan itu dengan berkas ditangannya, "Selamat pagi anak-anak. Sudah siapkah kalian mengikuti lomba hari ini?" tanyanya.


"Siap bu!" jawab seisi ruangan dengan serempak.


Guru itu duduk di meja yang telah tersedia mikrofon diatasnya. "Aturan masih sama, siapa yang bisa menjawab dengan benar maka akan mendapatkan poin! Tidak semua dapat kesempatan menjawab, tapi siapa yang tercepat memencet bel, dia dapat kesempatan menjawab. Tiap pertanyaan yang benar akan diberi poin 5, siswa dengan poin tertinggi akan jadi pemenangnya!" jelasnya.


"Bisa atau nggak gue jawab pertanyaannya, itu urusan belakangan. Yang penting gue harus pencet bel biar punya kesempatan jawab!" batin Raina.


Ara melirik sekilas kearah Raina, "Liat aja, gue bakal kalahin lo dan buat lo malu!" pikir Ara.


Guru tadi kembali menjelaskan, "Kategori umum mungkin akan sedikit rumit karena 50% dari IPA dan 50% lagi dari IPS. Jadi tak ada jaminan untuk siapa pemenangnya, 10 pertanyaan Biologi, 10 pertanyaan sejarah, 10 pertanyaan matematika, 10 pertanyaan geografi, 5 pertanyaan Bahasa Indonesia dan 5 pertanyaan Bahasa Inggris. Bel telah diuji coba, begitu ada salah satu yang menyala maka yang lain tidak bisa menyalakan. So welcome to this competition and good luck!"


Perlombaan dimulai, guru itu memunculkan power point untuk menunjukkan pertanyaannya, sembari pertanyaan dibacakan, Raina benar-benar menyimak dengan serius pertanyaannya.


"Pertanyaan pertama! Today is Monday, what day was four days ago?"


Teeettt....


Bel langsung berbunyi, guru langsung mempersilahkan siswa yang memencet bel untuk menjawab pertanyaannya. "Teruntuk nomer urut 3, dipersilahkan menjawab."


Raina menggenggam kesal karena ternyata Ara lah yang mendapatkan kesempatan menjawab pertanyaan pertama ini.


"It was Thursday!" jawab Ara dengan percaya diri.


"5 poin untuk nomor urut 3!"


Poin Ara bertambah. Ara menunjukkan senyum yang nampak meremehkan, Raina hanya diam dan kembali fokus ke pertanyaan selanjutnya.


"Ok berarti ini cuma masalah cepat lambatnya gue nekan bel! Selama gue bisa cepat nekan bel, kesempatan menang gue pasti besar! Semangat Raina!" Raina menyemangati dirinya sendiri.


Perlombaan kembali dilanjutkan sesuai aturan, Raina tak main-main lagi setelah melihat ia melepaskan 1 pertanyaan untuk Ara.


.


.


.


.


Hampir 1 jam 30 menit perlombaan ini diadakan. Raina mengeluarkan keringat yang bercucuran karena lelah berpikir keras, hasil akan diumumkan hari senin saat upacara.


Raina dan Ara sudah tak bisa menebak siapa pemenangnya karena mereka terlalu fokus dengan pertanyaan dan selalu bersaing kecepatan untuk menjawab.


Raina dan Ara belum keluar, namun salah satu peserta sudah keluar dan menemui temannya. Tak sengaja Surya mendengar percakapan peserta itu.


"Eh gila, gue di dalem tiba-tiba kikuk tau! Di dalam itu auranya bener-bener suram, seolah-olah lomba ini diciptakan buat Ara sama Raina doang. Gue aja gak bisa jawab sampe 5 pertanyaan gara-gara Raina sama Ara, gue gak ngira Raina ternyata sepintar itu..."


"Oh ya? Trus kelihatannya siapa yang menang?"


"Ya mana gue tau, di dalam sana kita cuma mikir tentang pertanyaan, gak sempet ngitung berapa pertanyaan yang bisa kita jawab. Tapi sumpah serem banget di dalam sana tadi! Gue aja yang tahun lalu juara 2, ngeri ngeliat persaingan Raina sama Ara!"


Surya tiba-tiba ikut deg-degan mendengar cerita salah satu peserta itu. Ia sudah lupa bagaimana rasanya bersaing dengan Raina, tapi yang jelas, Raina benar-benar bisa menjadi monster yang mengerikan saat sudah memutuskan untuk menjadi nomer 1.


Raina keluar dengan keringat yang begitu banyak, ia tampak santai namun juga lelah. Surya langsung menghampirinya dan memberinya sebotol minuman.


"Na ayo duduk dulu! Minum dulu ini!"


Surya menarik Raina agar duduk lalu membiarkannya minum air yang ada di botol. "Jadi gimana?" tanya Surya.


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏


Yang mau join GC, kasih kode ya biar bisa langsung masuk!


KODE: RAINASURYA11


____________________________________________


Follow dan DM ig aku untuk masuk GC WA ya!


Ig: @diagaa11