My Ketos My Husband

My Ketos My Husband
Siapa Lo



"Baik Diva... Saya tinggal dulu, kamu terserah mau duduk sama siapa. Saya mau sarapan dulu," ucap Pak Rudi tidak perduli


"Udah kelasnya mbuluk, dapet wali kelas gesrek pula," cibir Raina


"Na... Nggak kamu bantu? Kelihatannya dia bingung tuh," ujar Maxime


Dengan berat hati Raina berdiri menghampiri Diva. Raina mengulurkan tangan kanannya, sementara tangan kirinya memegang kipas elektrik.


"Diva kan? Gue Raina, ketua kelas ini," ujar Raina malas


"Oh... Gue duduk mana?" tanya Diva


"Ikut gue aja sini,"


Raina berjalan menuju tempat duduk Rizki, bangku yang ada di samping bangku Raina.


Cuit... Cuit...


Raina memberi kode agar Rizki pindah ke belakang.


"Kenapa gue yang pindah?" tanya Rizki


"Lo kan suka bulutangkis, kalo lo duduk di belakang kan tempatnya luas buat bulutangkis," jawab Raina malas


"Oh ok lo pinter!" jawab Rizki semangat


"Emang,"


Rizki pun pindah ke belakang, Diva duduk di bangku samping Raina. Raina kembali duduk dengan malasnya.


"Kalo ada apa-apa langsung panggil gue aja, jangan yang lain. Tingkat kewarasan anak-anak dikelas ini tu dipertanyakan," ujar Raina


"Ok,"


"Hai Diva... Kenalan dong," goda Dika


"Gue Faris,"


"Dika,"


"Arkan,"


"Maxime,"


"Gue Diva,"


"Kepada seluruh ketua kelas, dimohon segera menuju aula utama sekarang juga. Terima kasih"


"Ko... Lo aja deh yang pergi," ujar Raina malas


Riko tak menyahut, "...."


"Ko... Riko! Aelah, udah budeg deh kalo megang komik," cibir Raina


"Udah... Lo aja napa yang pergi," protes Arkan


"Kampret! Tu penghuni sekolah nggak tau apa kalo panasnya kayak gini? Masih sempet-sempetnya ya panggilan ketua. Udah gerah bodi, di buat gerah hati pula! Kurang azab tu orang!" cibir Raina


"Mau aku temani?" tanya Maxime


"Udah nggak usah,"


Raina berjalan dengan malasnya menuju aula utama, kipas elektrik pun tidak ditinggalkan.


***


Aula Utama


Semua ketua kelas tengah berkumpul, nampak Surya berdiri di tengah memberi pengumuman. Ketua kelas yang lain benar-benar rajin, mereka menulis setiap pengumuman yang di katakan Surya.


Pengecualian untuk Raina, karena merasa gerah, Raina lebih fokus untuk mendinginkan badannya dengan kipas. Ia hanya merekam suara Surya dengan ponselnya tanpa menulis pengumumannya.


"Baiklah... See you next time guys!" ujar Surya


Semua anak-anak kembali, Raina yang paling terakhir karena malas. Surya yang melihatnya pun menghampiri Raina.


"Ada niat hidup nggak?" tanya Surya


"Apaan sih Ay! Tau gerah nggak? Eh tadi pengumumannya apaan? Coba lo ngomong lagi," pinta Raina


"Buku lo mana? Tulisan pengumuman lo mana?" tanya Surya


"Nggak bawa,"


"Terus ngapain ke sini?"


"Panggilan ketua kelas,"


Surya geleng-geleng tak percaya, ia mengirimkan pesan pengumuman tadi lewat WA ke nomor Raina.


"Udah gue kirim WA," ujar Surya


"Ya udah, gue balik dulu," ujar Raina


"Iyaa...."


Raina menjawab asal sambil berjalan kembali menuju kelasnya.


***


Di Kelas


Raina kembali dengan wajah yang tidak layak pandang. Semua teman-temannya tidak heran, terlalu sering Raina berekspresi seperti alien.


"Eh.. Buku lo mana? Pengumuman?" tanya Arkan


"Nih di hp," ujar Raina


"Sungguh ketua kelas yang terlalu..." cibir Dika dan Faris sambil meniru gaya Abang Rhoma Irama


"Gue tidur dulu ya, kurang tidur gue semalem," ujar Raina sambil mendudukkan bokongnya


"Tidur jam berapa?"


"Bangun jam?"


"Tidur jam 9 malem, bangun jam 05.30 pagi," jawab Raina


"Kayak gitu kurang tidur?" tanya Maxime


"Raina emang nggak normal, makanya hati-hati Max, nanti ketularan nggak normal," gurau Dika


"Hahahaha...."


***


Di Kantin


Jam Istirahat


Raina lupa kalau ia mau makan bersama Surya, ia lebih dulu pergi ke kantin bersama Arkan, Dika, Faris, Maxime, Naya dan Diva. Mereka duduk satu meja.


"Gue mie ayam deh sama es kelapa muda 1," pesan Raina


"Ok ntar!"


Pesanan Raina dkk datang, mereka menyantap makanannya dengan nikmat sebelum gadis bernama Fira datang. Fira adalah teman dekat sekaligus teman se-geng Amel.


"Mana yang namanya Raina!" bentak Fira


"Apaan lagi? Mau narik uang belasungkawa?" tanya Raina malas


Byuurr...


Segelas es jeruk berhasil membuat wajah Raina semakin glowing, eh maksudnya membuat wajahnya basah.


"Eh maksud lo apa-apaan nih!" bentak Arkan


"Buta ya lo!" sentak Dika


"Mata lo taroh mana? Sini ayo baku hantam!" emosi Faris


"Eh, lo kenapa? Gila ya!" kesal Maxime


"Na... Lo nggak papa?" tanya Naya


"Gue nggak papa," jawab Raina


Diva keluar dari meja makannya, ia langsung berdiri menghadap Fira. Diva memberikan tatapan tajam.


"Maksud lo apa? Ada masalah ngomong coy, nggak gitu caranya! Jangan jadi pencundang dong!" tegas Diva


"Div... Udah!" panggil Raina


"Tapi Na..."


"Gue masih bisa adepin sendiri," jawab Raina


Diva sedikit mundur, Raina kini maju dengan bajunya yang basah kuyup. Semua mata di kantin memandangnya.


"Lo siapa berani siram gue? Lo siapa berani cari masalah sama gue? Seberapa kebal lo sampe berani nyari masalah ma gue? Kunci gue di kamar mandi nggak cukup kah?" tanya Raina dengan tatapan tajam mengintimidasi.


"HAH!! DIKUNCI DI KAMAR MANDI?"


"Gara-gara lo ya kita semua kena masalah! Bahkan Kak Amel di skors itu juga gara-gara lo!" sentak Fira


"Heuh... Kayaknya nyawanya dobel mau nyari masalah ma Raina," cibir Arkan


"Kita menepi ya Dik," ujar Faris


"Yoi man,"


"Gue heran... Ini sekolah terkenal bagus bahkan kelasnya internasional. Tapi kenapa mau nerima sampah-sampah kayak kalian!" ucap Raina dengan menekankan kata-katanya


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏