My Ketos My Husband

My Ketos My Husband
Bersalah Atau Tidak



Rahma melempar tatapan penuh keraguan pada Ara. Ara melotot seolah menyuruh Rahma meng-iyakan semua kata-katanya. Tapi dalam hati, Rahma takut ikut campur urusan ini.


"Sa-saya...."


"Cepat jelaskan apa yang kamu lihat Rahma! Ini demi Amel," Ara berbicara dengan nada yang cukup memaksakan.


"Sa-saya cuma melihat kalau Raina dan Amel bertengkar bu, enggak yang lain. Saya nggak tau masalah ini, jangan interogasi saya!" Rahma memiliih tak memihak siapapun saat ini.


Bu Arum mengangguk paham, "Baiklah kamu boleh keluar sekarang. Maaf ya kalau merepotkan kamu."


"I-iya bu," Rahma secepatnya keluar dan pergi agar tak semakin ikut campur masalah ini.


Memang pernyataan Rahma tak memihak siapapun, tapi juga bisa membuat seolah-olah Raina memiliki dendam pada Amel.


Sidang diruang BK itu berlangsung lama, Surya sudah tak sabar menunggu lagi. Surya langsung membuka pintu ruang BK dan ikut andil dalam permasalahan ini.


"Bu, saya nggak setuju kalau Raina yang dituduh! Semua harus dibuktikan untuk menentukan kebenarannya! Nggak bisa asal tuduh begitu saja," Surya membantah semua tuduhan ibu Amel.


Karena pendapat Surya, situasi disitu semakin genting dan membuat emosi Ibu Amel juga meluap hingga terjadi adu mulut.


"Jangan mentang-mentang kamu dekat dengan Raina, kamu bisa buat dia bebas dari kesalahan ya! Kalau memang salah ya salah!" bentak Ibu Amel.


Surya ikut terpancng emosi, "Sekarang saya meminta hak saya! Saya juga bisa jadi saksi karena saya ada ditempat kejadian saat itu. Jika Ara bisa jad saksi, kenapa saya tidak?"


Ibu Amel terkekeh sinis, "Heh... Kamu kan dekat dengan Raina, pasti kamu bela dia! Dan kesaksian kamu pasti tidak jujur!"


"Bu jangan asal menuduh, jika dilhat dari jarak hubungan, bukankah Ara masih keponakan ibu juga? Saya bisa berjanji untuk beraksi secara jujur! Saya akan bersaksi sebagai Putra Pemegang Saham terbesar, Siswa teladan sekolah, Putra Sekola, dan juga sebagai Ketua OSIS. Saya saat ini tidak sombong, tapi hanya menunjukkan siapa diri saya! Jadi ibu jangan semena-mena!" Surya menegaskan kata-katanya.


Semua akhirnya sepakat untuk mendengarkan pendapat Surya juga. Surya menunjukkan lantai tempat Amel jatuh.


"Saya telah menyimpulkan dengan penjelasan ilmiah, Amel itu jatuh sendiri, bukan di dorong!"


Surya menyimpulkan semua pemikiranya, awalnya mereka sedikit percaya, tapi setelah melihat lantai yang kosong dantidak ada bedanya dengan lantai lain, mulai muncul keraguan.


"Bu beri saya waktu, saya akan menemukan buktinya!"


Surya berusaha mengulur waktu untuk menemukan buktinya hingga akhirnya disepakati, Surya diberi waktu 24 jam untuk menemukan bukinya, hal ini akan kembali dibahas besok.


Raina pulang bersama Surya dengan keadaan lemas dan sulit berpikir. Ia bengong didalam mobil memikirkan semuanya, ia takut Kenan tau dan khawatir, takut tidak lulus atau lebih parahnya dikeluarkan.


Surya melihat Raina yang terdiam didalam mobil hanya bisa diam dan bingung harus apa, "Na... Kamu pengen makan nggak? Pengen apa, aku beliin deh. Bakso, mie ayam, soto, rendang, sate, nasi padang, nasi goreng atauapa?"


Raina hanya menggeleng tanpa tenaga, "Pulang aja deh. Aku capek."


Surya tak bisa memaksa Raina, ia menyetir mobilnya untuk pulang. Otaknya bena-benar berpikir keras, ia harus mencari bukti dan tak bisa mengajukan foto lantai yang kemarin. Ibu Amel menolak bukti itu dengan alasan bisa saja diedit pencahayaannya sehingga terlihat seperti lantai licin.


Bu Arum juga sedikit meragukan bukti Surya, jadi mau tak mau ia harus kembali mencari bukt yang lain. Tak ada CCTV dan seseorang yang melihat kejadian itu membuat Surya sedikit kesulitan, tapi Surya yakin kalau pasti ada petunjuk.


***


Keesokannya


Surya hampirfrustasi karena tak menemukan bukti atau petunjuk sama sekali, Raina diam-diam tau bagaimana keadaan Surya saat ini, ia juga tau kalau pertemuan selanjutnya akan lebih rumit karena para pemegang saham yang lain juga hadir untuk ikut ambil keputusan.


"Ay..."


Surya menengok melihat Raina yang tampak kacau, "Iya kenapa Na?"


"Lo belum nemuin bukti yang menyatakan kalo gue nggak salah ya?"


Surya terdiam sejenak, "Untuk saat ini belum, tapi tenang aja nanti pasti ketemu kok! Gue kurang teliti aja nyarinya."


"Gue boleh minta tolong nggak?"


"Nanti dipertemuan, bilang aja kalo Amel jatuh karena kakinya keseleo lalu jatuh sendiri. Kalo perlu, bilang aja dia yang awalnya mau nyelakain gue sampe gue hampir ikut jatuh gini."


"Apa? Maksud lo, gue harus bohong gitu biar lo nggak dianggep nyelakain Amel lagi?"


Raina mengangguk, "Iya, tolong! Gue nggak mau dikeluarin dari sekolah. Atau bongkar semua tingkah pembullyan Amel. Buat kebohongan apapun itu asalkan gue nggak salah lagi! Sekuat apapun saksi Ara, orang lain pasti lebih percaya sama lo karena lo anak pemegang saham terbesar."


"Gue nggak mau! Gue mau buktiin kalo lo bener-bener nggak salah tapi nggak harus dengan bohong caranya!" Surya tak mau menerima saran Raina.


Raina sontak terkejut dengan jawaban Surya, "Oh, jadi lo lebih suka gue dikeluarin dari sekolah? Suka nama gue jadi jelek dan suka Ara nindas gue gitu? Tega lo Ay..." mata Raina berkaca-kaca. Mental Raina yang sedang down membuatnya lebih sensitif.


"Na bukannya gitu, tapi gue janji akan bersaksi sebagai Ketua OSIS, bukan suami lo. Dan hal yang diawali dengan kebohongan pasti nggak akan baik!"


Raina meneteskan air matanya, "Langgar semua janji lo! Buat kebohongan apapun itu, terserah lakuin apapun! Gue yakin udah nggak ada petunjuk apa-apa Ay, pilihannya sekarang cuma lo yang bohong atau gue dikeluarin dari sekolah! Hiks..."


Surya memeluk Raina lembut, "Nggak gitu Na, tenang aja... Pasti semua akan baik-baik aja."


Raina memukul-mukul dada Surya karena sudah putus asa, "Lepasin Lepasin gue, hiks... Nggak ada yang baik-baik aja Ay, semua lagi nggak baik-baik aja! Hiks... "


"Nggak Na, pasti ada jalan keluar lain, gue yakin! Lo tenang aja..."


"Hiks... Kalo lo nggak mau bohong, gue pergi aja dari rumah ini! Cuma Bang Kenan yang bener-bener ngelindungin gue! Hiks..."


"Na!!!", Raina hendak berdiri, Surya menariknya dan memeluknya erat, "Oke-oke gue bakal bohong, asalkan jangan tinggalin gue! Gue juga bisa ngelindungin lo!"


Raina menangis lega, ia benar-benartak ingin mengecewakan siapa-siapa saat ni, tapi ia juga butuh dukungan.


"Gue nggak peduli dosa atau enggak, bener atau salah, yang gue butuhin saat ini hanyalah status nggak salah! Gue nggak salah dan gue nggak nyelakain siapapun! Kalaupun dosa gue bakal tanggung, apapun resikonya, asal gue nggak ngecewain siapapun terutama mama papa!" batin Raina.


Sury masih perang dengan hatinya sendiri, "Di satu sisi gue pengen ngelindungi Raina, tapi di sisi lain gue juga udah janji bakal jujur. Ya Allah, tolong petunjukmu!" pikir Surya yang tengah kalut.


***


Hari Pertemuan


Hari ini telah tiba, Ibu Amel membuat semuanya semakin rumit, Ibu Amel membuat pertemuan semua pemegang saham untuk memtusukan apakah Raina bersalah atau tidak.


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏


Ayo ikut PO buku Its About Love yuk...


Keuntungan ikut PO:



Dapat harga diskon


Free TTD


Free merchandise


Bayar buku setelah buku ready


Bisa nabung dulu sebelum bayar



Hari ini terakhir ya😇