
Raina benar-benar marah, ia mencekik Ara dengan keras. Ara berusaha keras melepaskan cekikan Raina yang tiap saat semakin menyiksanya.
"Ugh... Le pa sin gu-e! Ugh..."
"Mati aja lo mati!"
"Ugh, to-long..."
Surya berlari keluar mencari dimana Raina, kebetulan ia melihatnya. Surya secepatnya menghentikan Raina agar situasi tak memburuk.
"Raina stop!!!!"
Surya berlari dan menarik Raina hingga Raina melepaskan cekikannya, Ara jatuh terduduk lemas sambill memegangi lehernya yang sakit dan memerah.
Surya menahan Raina dan menatap mata Raina dalam-dalam, matanya begitu merah dan terlihat penuh amarah.
"Na sadar, lo cuma memeprburuk situasi dengan kayak gini! GU mohon tahan amarah lo!" Surya memohon dengan penuh kasih.
Raina semakin marah melihat Surya memegangi kedua pundaknya, ia langsung menghempaskan tangan Surya kasar. "Lepasin gue! Lo gak pantes sentuh-sentuh gue! Lo itu siapa gue sih! Kenapa nggak bohong aja biar semua selesai!"
"Na bukannay gitu, tapi situasinya nggak pas! Kalo gue bohong maka semua makin buruk! Tolong denger penjelasan gue dulu, gue pasti bisa buktiin kalo lo nggak salah!" Surya memegangi pundak Raina.
Raina menepisnya, "Jangan sentuh gue! Gue gak butuh penjelasanl lo sekarang!".
"Na..."
Raina mengangkat tangannya hendak menampar Surya, Surya tak menghindar dan hanya memejamkan matanya. Ara berteriak, "Raina!"
Raina menahan tangannya tepat didepan wajah Surya, ia mer*mas tangannya dan menahan emosinya yang hanya sesaat itu. Ia menarik kembali tangannya dengan menghempaskannya kebelakang.
"Hah udahlah, gak penting juga gue nampar lo! Gak ada gunanya" ucap Raina dengan sinis namun terdengar miris.
Raina berbalik dan pergi meninggalkan Surya begitu saja, Surya langsung ikut menyusul Raina, tapi Raina menghentikannya. "Berhenti dan tinggalin gue sekarang atau lo bakal nggak pernah ketemu gue lagi! Lucu ya, bertahun-tahun gue hidup, baru tau kalo dunia ini penuh kemunafikan! Termasuk lo berdua!" Raina langsung pergi dengan langkah cepatnya tanpa menengok lagi.
Seketika Surya menghentikan langkahnya, ia paham kalau Raina saat ini sedang butuh waktu untuk sendiri. Sesegera mungkin Surya menghubungi Kenan, Arkan, Dika, Faris, Diva dan Naya agar menghibur Raina jika Raina bersama mereka.
Surya mengacak-aak rambutnya kesal, Ara mendekatinya dan bersikap begitu lembut. "Sabar Ya, gue tau kok perasaan lo, gue lebih ngerti perasaan lo dibanding Raina," Ara berusaha menaruh tangannya dipundak Surya.
Surya menepisnya, "Lo kenapa bilang kalo Raina dorong Amel sih! Mau lo apa!!! Raina itu nggak mungkin dorong Amel, Amel itu jatuh sendiri!" Surya membentak Ara karena kesal.
Ara terkejut dengan bentakan Surya, ia belum pernah melihat Surya semarah ini. "Ya, tapi emang Raina dorong Amel. Itu kenyataannya, percayadeh sama gue!"
"GAK AKAN!!! Sampai kapanpun gue bakal tetep percaya sama Raina apapun yang terjadi! Dan gue bakal buktiin kalo dia nggak salah!" tegas Surya.
Ara lama-lama semakin kesal, "Apa sih yang lo lihat dari cewek kayak dia? Jelas-jelas gue lebih baik, gue lebih cantik, pinter, berkelas dan anak orang kaya! Dia mah apa? Anak gak jelas!" Ara tak bisa lagi memendam isi hatinya.
Surya terkejut mendengar kata-kata Ara, selama ini ia mengira Ara itu lemah lembut, "Gara-gara omongan lo gue jadi sadar, seburuk apapun Raina, gue tetep lebih milih Raina daripada lo. Kenapa? Walau dia gak se-sempurna lo, tapi hidupnya nggak ada kemunafikan! Gak ada kata bermuka dua dalam hidupnya!" Surya menjatuhkan mental Ara dengan kata-katanya yang terdengar mengejek.
Ara hanya terdiam mendengar jawaban Surya, ia benar-benar ingin memusnahkan Raina dari bumi ini, "Lo buta apa gimana!? Dia udah ninggalin lo, sedangkan gue selalu ada buat lo! Kenapa lo nggak pernah mandang gue sih!"
"Hahahaha... Jangan berpikir seolah-olah lo itu cewek paling sempurna, kenapa? Sekali Rana melangkah maju, lo nggak ada apa-apanya bagi dia! Dan gue berdoa, semoga setelah Raina mau mau, lo nggak terlalu jatuh kebawah!"
Surya berbalik dan hendak pergi, Ara masih terdiam tak percaya dengan semua penghinaan ini. "Surya! Gue bakal buktiin kalo Raina nggak ada apa-apanya dibanding gue! Dan lo bakal nyesel nolak gue!" teriak Ara.
Surya menghentikan langkahnyatanpa berbalik, "Terserah lo ngomong apa, dan juga sorry kalo tadi Raina cekik lo. Bersyukur aja karena lo masih hidup! Dan juga jangan terlalu pancing Raina, dia bisa lebih kejam dari siapapun saat udah mutusin bakal musuhin lo!" peringat Surya.
"Surya... Ya... Surya"
Surya tak lagi menggubris panggilan Ara, ia hanya pergi dengan wajah dinginnya meninggalkan Ara. Ia benar-benar paling malas saat meladeni gadis bermuka dua seperti Ara.
Surya menghentakkan kakinya kesal, "Lihat aja, gue bakal buat Raina jadi siswa dengan reputasi paling jelek di sekolah ini!" batin Ara.
***
Raina berlari sekencang-kencangnya untuk meluapkan rasa amarahnya yang bergumul didada. Ia memesan taksi dan pergi ke makam kedua orang tuanya. Ia menangis sejadi-jadinya disana tanpa takut diketahui siapapun.
Kenan yang mendengar kabar seperti itu pastinya terkejut, ia langsung membawa mobilnya pergi kesemua tempat yang sering dikunjungi Raina saat tau Raina telah pergi dari sekolah. Tempat terakhir yang ia kunjungi adalah makam kedua orang tuanya.
Benar saja, ia melihat Raina menangis diatas makam ibunya. Kenan merasa sesak seketika, ia merasa gagal menjalankan amanah kedua orang tuanya untuk menjaga Raina.
Kenan berjalan menedekat dan merangkul pundak Raina dari samping, "Ngapain nangis di sini? Lo anggep gue apa? Gue juga bisa jaga lo, dek."
Raina menatap Kenan dengan mata merahnya setelah menangis lama, "Bang Kenan..." rengeknya. Ia langsung menangis keras sambil memeluk Kenan.
Kenan mengusap punggung adiknya lembut, "Udah jangan nangis lagi ya, kita pergi dari sini sekarang! Kita makan ok, gue nggak mau adik gue mati kelaparan! Nanti banyak tersebar cerita konyol, adik Kenan meninggal karena lupa makan. Setelah kepergian sang adik, Kenan semakin kaya dan tampan!" gurau Kenan.
"Abang...." Raina memukul dada Kenan ringan karena kesal.
Kenan mengusap air mata Raina, "Udah yok makan! Kaga makan, gue ambil semua warisan lo kalo lo udah mati!"
Raina cemberut tapi membaik, "Gue hantuin lo tiap hari ya!"
"La kan udah mati, mau ngapain? Lo ambil buat dugem di alam kubur apa gimana?" gurau Kenan.
"ABANG!!!"
"Hahahaha... Ok-ok yuk pergi, mau gue gendong gak nih?" Kenan berjongkok dan menyiapkan punggungnya untuk menggendong Raina.
Karena Raina sedang malas berjalan, ia naik ke punggung Kenan, "Awas jatoh!" ucap Raina sambil mengusap air matanya.
"Sudah siap menuju istana, tuan putri?"
"Siap pangeran!"
Kenan berdiri dan menjaga keseimbangan agar Raina tak jatuh, "Berat bener deh, ini pasti karena lo banyak dosa kan? Makanya berat!"
Raina memukul ringan pundak Kenan, "Duh sakit! Ok siap ya? Brum-brum... Bruuuuummmmm...."
Kena berlari sambil menggedong Raina keluar dari area pemakaman. Raina mengingat masa kecilnya dulu, saat ia jatuh dari sepeda, Kenan juga pernah menggendongnya seperti ini dan berlari agar Raina tak sedih lagi.
Raina tertawa lepas dan memeluk erat leher Kenan agar tak jatuh, "Woy jangan kenceng-kenceng meluknya! Gak lucu kalo gue mati gara-gara gendong lo!"
"Hahahaha....."
Raina tertawa mendengar lelucon Kenan yang terdengar receh namun menghiburnya. Kenan paham kalau Raina itu mudah down, tapi juga mudah tertawa lagi saat dihibur.
"Nuju warteg apa alam baka neng?" tanya Kenan sambil bergurau.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏
Ada yang bengek nggak sih sama tingkah Kenan? Berlarian kesana-kemari dan tertawa tapi di TPU. Romantis apa miris?
Ada yang mau daftar jadi kakak ipar Raina?
PUNTEN, MANTAN FAKBOI GAGAL LEWAT 😂