
"Itu semua benar! Saya saksinya!"
Sebuah suara tiba-tiba muncul dari arah pintu. Semua mata menuju ke gadis yang baru membuka pintu ruangan itu.
Gadis itu berjalan menghampiri Bu Arum, "Saya bisa membuktikannya bu! Saya tau kebenarannya, dan saya yakin kalian semua pasti akan mempercayai saya kan? Karena tidak ada yang bisa mengubah pendapat saya!"
"A-Amel... Kamu ngapain ke sini? Kamu masih sakit nak!" ayah Amel tampak risau melihat putrinya datang dengan baju pasien rumah sakit.
Ayah Amel langsung berdiri dan membawa Amel duduk karena khawatir. "Kamu kenapa ke sini? Kamu kan belum pulih Mel..."
"Pa... Aku mau buktikan semuanya, aku korbannya dan yang mengalami semuanya. Siapapun yang celakai aku, bakal ku balas!" ucap Amel geram.
Ayah Ara tampak sedikit risau karena takut kalau tuduhan yang diberikan oleh Bu Arum itu benar-benar nyata.
Setelah suasana ruangan sedikit tenang, Amel duduk didepan Bu Arum untuk melakukan tanya jawab.
"Amel, ibu akan menanyakan beberapa hal. Kamu harus jawab dengan jujur dan jangan berbohong! Siapa yang sebenarnya menyelakai kamu?" tanya Bu Arum dengan serius.
Amel menatap ke arah Ayah Ara, sebenarnya ia tak ingin membuat masalah dengan keluarga Ara karena mereka masih keluarga dekat. Tapi mengingat kelakuan Ara yang membuatnya celaka hanya membuat Amel semakin sakit hati.
"Ara bu!" jawab Amel dengan tegas.
Semua orang didalam ruangan itu membelalakkan matanya tak percaya. Ayah Ara spontan langsung berdiri.
"Amel, kamu jangan mengada-ada. Ara itu masih sepupu dekat kamu, mana mungkin dia celakain kamu!" bantah Ayah Ara spontan.
Amel menatap Ayah Ara dengan ragu, "T-tapi Ara emang yang celakai Amel, om. Amel gak bohong."
Para anggota pemegang saham pun langsung berbisik dan merundingkan ucapan Amel yang tiba-tiba ini.
"Tapi kan Ara ada di atas saat kejadian, mana mungkin dia dorong kamu. Ara lihat kejadiannya aja setelah kamu jatuh!"
Brak... Brak... Brak...
Ayah Surya menggebrak meja pertemuan hingga semua langsung terdiam. "Pak, tolong dengarkan penjelasan Amel juga! Kita di sini untuk musyawarah, bukan saling fitnah! Tolong perilakunya di jaga!" tegas Ayah Surya.
Semua terdiam seribu bahasa begitu melihat Ayah Surya berkata dengan tegas. Selama ini Ayah Surya selalu diam untuk urusan apapun, ia tak akan ikut campur jika masalah tak benar-benar serius. Karena Ayah Surya hanya bekerja dari belakang, tidak terlalu memperlihatkan diri.
Orang-orang menjadi sedikit gemetar melihat Ayah Surya yang tiba-tiba tegas dan raut wajahnya tampak tak bersahabat.
"Mel, teruskan penjelasanmu. Kami tak akan menyela lagi, katakan semuanya dengan jelas!" pinta Ayah Surya.
Bu Arum meneruskan pertanyaannya, "Mel... Saat itu Ara ada dilantai 2, dan di gudang. Bagaimana dia bisa mencelakai kamu?" tanya Bu Arum.
Tangan Amel sedikit gemetar saat ini, "K-karena Ara tidak mencelakai saya secara langsung bu. Dia menaruh pelicin di lantai secara sengaja, hingga saya jatuh seperti itu."
"Untuk apa Ara melakukan itu Mel? Kamu kan dekat sama dia, dan apa untungnya buat Ara?"
"S-saya gak tau bu, Ara nyuruh Rahma buat pel lantainya biar nggak ada bukti. Saat Rahma mau ngaku, Ara menggunakan kekuasaannya untuk mindahin Rahma ke sekolah lain. Rahma sangat merasa bersalah karena hal ini, tiap hari dia datang ke rumah sakit jenguk saya sambil minta maaf...."
Para pemegang saham itu tampak berbisik dan bingung harus percaya atau tidak, karena Ara yang diceritakan Amel berbanding terbalik dengan Ara yang mereka lihat.
"Awalnya saya tidak percaya, tapi setelah beberapa lama ini, semua ingatan saya kembali bu. Saya bahkan bisa ingat setiap detail kejadian itu, Raina saat itu juga ingin menolong saya tapi ikut terpeleset karena pelicin lantai itu," tambah Amel.
Ayah Ara terduduk lemas mendengar kata-kata Amel. Ia tak mengira putrinya akan melakukan hal itu.
"Bu saya boleh pergi? S-saya pusing bu..."
"Iya-iya boleh... Ayo ibu antar keluar!"
Bu Arum mengantarkan Amel keluar, didepan pintu, sopirnya sudah menunggu. "Sudah bu makasih, saya pergi dulu. Sopir saya sudah menunggu."
Amel hanya mengangguk dengan senyum palsunya lalu pergi dengan sopirnya. Dalam hati ia menangis, ia tak mengira Ara setega itu padanya, padahal ia sudah menganggap Ara seperti kakaknya sendiri.
Saat berjalan di koridor, Raina berteriak memanggil Amel. "Mel, tunggu gue!" teriak Raina. Raina berlari menyusul Amel.
"Kenapa lo?" tanya Amel sinis.
"Huh... Gue udah tau semuanya, lo tadi jadi saksi kan. Makasih banget, lo keren sumpah!” ucap Raina yang sedikit ngos-ngosan karena berlari.
Amel masih menatap sinis Raina, "Jangan ke-pd an! Gue lakuin semua itu karena mau hukum orang yang nyelakain gue, bukan karena bantuin lo!" jawab Amel sinis.
"Hehehehe..." Raina tertawa lalu memeluk Amel dengan lembut. "Makasih udah mau jadi saksi tadi. Mau lo jadi saksi karena gue ataupun karena diri lo sendiri itu gak masalah. Apapun alasannya, gue tetep terbantu dengan kesaksian lo."
Amel hanya terdiam, ini pertama kalinya ia dipeluk oleh seorang teman. Selama ini ia berteman tapi menghindari kontak fisik, ada rasa senang dan gembira di hati Amel. Seolah sakit hatinya karena pengkhianatan Ara berangsur pulih.
"Ehm... Apa-apaan sih peluk-peluk, lepasin! Gue mau balik ke rumah sakit, gue pusing!" keluh Amel.
"Hehe sorry, mau gue anterin ke rumah sakit?"
"Kaga usah! Lo gak punya ijin keluar sekolah!"
"Kan bisa bolos."
"Udah b*go, sering bolos juga, parah banget sih lo..."
Raina hanya tersenyum konyol menanggapi Amel, "Kata siapa? Bentar lagi gue juara 1 di sekolah ya!"
"Hahahaha... Lo lagi mimpi apa gimana nih?"
"Eh liat aja ya, gue bakal jadi juara 1 sekolah ini pokoknya!"
"Hm iya, serah lo..."
Amel pergi dan tak menghiraukan Raina sama sekali. Ia meninggalkan Raina dengan muka juteknya, tapu diam-diam ia tersenyum tipis karena pelukan Raina tadi.
***
Di Ruang Pertemuan
Semua tampak bersitegang didalam ruangan itu. "Bu, panggil saja Ara sekarang agar semuanya lebih jelas. Dan kalau bisa, cari keberadaan Rahma!" pinta Ayah Surya.
"Ba-baik pak..."
Bu Arum langsung pergi mencari Ara. Bu Arum menyuruh anak lain untuk memanggil Ara lalu menunggunya didepan ruangan.
"Selamat pagi bu... Ada apa bu?" tanya Ara yang baru datang.
"Pagi Ara, ayo masuk kedalam!" ajak Bu Arum.
Dengan tenangnya Ara masuk kedalam ruangan itu. Ia tersenyum penuh kemenangan seolah-olah ia saat ini di posisi yang menguntungkan.
"Ada apa ya bu, kenapa saya dipanggil ke sini?" tanya Ara dengan santainya.
"Ara, apa benar kamu mencelakai Amel dengan menaruh pelicin lantai secara sengaja agar Amel jatuh?" tanya Bu Arum.
Ara membelalakkan matanya terkejut mendengar pertanyaan Bu Arum. Tiba-tiba saja ia sedikit gugup untuk menjawab pertanyaan itu.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏