My Ketos My Husband

My Ketos My Husband
Tuntutan



Raina membelalak, ia pun punya ide konyol. Ia memeluk Surya dari belakang dan menghembuskan nafasnya di leher Surya lalu berbisik.


"Astagfirullah kamu ini berdosa banget..."


Raina langsung lari setelah mengucapkan kata-kata itu. Surya yang kesal pun ikut berlari mengejar Raina. Hingga mereka kejar-kejaran didepan anak-anak.


***


Di Rumah Sakit


Rahma sedang duduk disamping Amel yang masih tertidur. Rahma sering dihantui rasa bersalah sejak berbohong atas kejadian Amel yang sebenarnya.


"Hai Mel... Apa kabar? Gue nggak baik-baik aja, sekarang gue lagi bingung banget. Kalo gue ngaku, bokap gue pasti dipecat, gue dikeluarin dari sekolah dan keluarga gue bakal dapat banyak masalah. Tapi kalo gue diem, gue juga merasa bersalah banget sama lo dan Raina. Kenapa gue harus ditempatin di situasi kayak gini sih!" kata Rahma tanpa sadar.


Rahma menyelesaikan kata-katanya lalu pergi meninggalkan Amel yang masih tertidur. Amel sebenarnya mulai bangun saat mendengar kata-kata Rahma, namun karena Rahma terdengar risau, Amel hanya diam mendengarkan.


Amel perlahan duduk dan melihat Rahma pergi, "Maksud dia apa? Merasa bersalah? Kenapa? Kenapa dia curhat ke gue? Emangnya dia dulu temen gue?" bingung Amel.


Karena gegar otak yang dialami Amel, ia sedikit kesulitan mengingat masa lalunya. Tapi kata dokter, seiring waktu pasti akan pulih dengan sendirinya.


Sekilas bayangan tentang Amel yang jatuh dari tangga muncul tiba-tiba di otak Amel. Itu membuat Amel sedikit kesakitan, terutama di bagian kepala.


"Aww.... Aww..." keluh Amel sambil memegangi kepalanya. "Ingatan apa itu tadi? Kenapa gue jatuh? Apa itu kejadian waktu gue jatuh? Tapi kata dokter, gue mungkin aja berhalusinasi karena cedera di kepala... Trus itu tadi apa?" tanya Amel.


***


2 Hari Kemudian


Rahma kembali kerumah sakit untuk menjenguk Amel. Karena kejadian kemarin, Amel benar-benar berusaha mengingat kejadian saat ia jatuh.


Begitu mendengar Rahma yang mendekat, Amel langsung berpura-pura tidur. Rahma duduk dan menaruh parcel buah diatas meja, "Hai Mel... Gimana kabar lo hari ini? Kemarin lo lagi tidur, sekarang tidur lagi? Huh... Mungkin ini cara Tuhan buat ngurangi rasa bersalah gue," pikir Rahma saat melihat Amel yang tertidur.


Rahma duduk dengan tatapan sendu, "Gimana Mel? Gue masih sama aja, gue bener-bener pengen jujur ke semua orang. Sebenci-bencinya gue ke Raina, gue nggak berani main-main sama nyawa."


.


.


.


.


Tak terasa, hampir 10 hari Rahma terus datang dan menceritakan serpihan-serpihan kejadian jatuhnya Amel. Tapi Amel benar-benar tak yakin, ia tak ingin kondisinya yang lupa ingatan dimanfaatkan oleh orang lain, ia akan berbicara saat ia benar-benar mengingat semuanya.


Kini ingatan Amel sudah pulih 70%, namun ingatan tentang jatuhnya ia masih remang-remang. Tiap kali ia ingin mengingatnya, kepalanya langsung terasa sakit.


***


Di Sisi Lain


Raina telah menjalani masa skorsing nya, ini hari pertamanya masuk sekolah sebagai kelas 12. Dan entah kenapa, berita tentang jatuhnya Amel, menyebar dengan begitu cepat.


Ia melepaskan kacamatanya dengan anggun. Memakai sedikit make up tipis, baju yang rapi, tercium aroma wangi serta penampilan yang sempurna membuat Raina sedikit tidak dikenali anak lain.


"Mau gue temenin masuk kelas?" tanya Surya.


Raina tersenyum, "Nggak usah... Gue udah nggak selemah dulu! Gue masuk kelas dulu ya..." Raina melambai dengan anggun.


Surya hanya memperhatikan Raina dari jauh dengan cemas. Ia takut opini anak-anak lain mempengaruhinya lagi.


Maxime terkejut kagum melihat Raina yang begitu cantik hari ini. Rambutnya tergerai dan terlihat lembut mengkilap. Padahal sebelumnya, Raina benar-benar jarang menggerai rambutnya.



Maxime pun menghampiri Raina, "Hai... Ini Raina kan?" tanya Maxime memastikan.


Raina menatap Maxime lalu tersenyum miring, "Iyalah... Emang siapa lagi? Dewi Fortuna?"


"Gila... Lo cantik banget Na! Lo berubah banget ya sekarang!"


"Udah di cibir, kalo nggak berubah ya rugi!"


"Sip deh! Gue dukung..."


Sepanjang koridor, anak-anak memperhatikan Raina dan Maxime yang berjalan sejajar. Ada yang kagum, ada yang iri dan juga ada yang menjelek-jelekkan Raina dari belakang karena sudah mengenalinya.


"Emang ya... Orang-orang cuma berani ngomong di belakang doang, giliran berhadapan langsung, nyalinya ciut! Pec*ndang!" ejek Raina dengan terus terang.


Salah satu siswi yang menjelek-jelekkan Raina tersinggung, ia menjelek-jelekkan Raina secara langsung karena terprovokasi.


"Heh, belagu banget lo! Pembunuh aja bangga!"


Raina tersenyum miring, tikus masuk jebakan. Raina berhenti melangkah dan menghadapi langsung siswi itu dengan santai, "Kata siapa gue pembunuh?"


"Kata orang-orang! Semua orang disekolah ini juga tau kalo lo itu pembunuh!"


"Heh..." Raina terkekeh sinis, "Lucu ya... Pertama, gue nggak bisa disebut pembunuh hanya karena gosip, kedua, gue nggak bunuh siapapun, dan ketiga, jika emang gue bunuh orang, nyatanya nggak ada bukti fisik tuh!"


"Halah jangan ngeles lo, sok pinter banget!"


Raina menunjukkan smirk-nya, "Jangan asal ngomong, umur lo udah diatas 17 tahun, karena kata-kata lo, gue bisa tuntut lo dengan tuntutan pencemaran nama baik. Menurut Pasal 310 ayat (1) KUHP, menurut R. Soesilo , kuis dapat dilakukan maka pencemaran nama baik itu harus dilakukan dengan cara menuduh seseorang telah melakukan perbuatan yang tertentu dengan maksud tuduhan itu akan tersiar atau diketahui orang banyak. Oleh karena itu, tidak ada ketentuan yang menyebutkan bahwa barang bukti berbentuk surat diperlukan dalam membuktikan pencemaran nama baik secara lisan. Yang terpenting adalah bahwa tuduhan tersebut dilakukan di depan orang banyak."


Siswi itu terlihat gelagapan mendengar kata-kata Raina yang begitu tepat sasaran.


Raina hanya tersenyum miring, "CCTV ada, saksi sebanyak ini juga ada, kurang apa lagi? Minta surat keterangan sekolah itu gampang bagi gue."


"Lo!!!" siswi itu hendak menunjuk Raina namun kembali menggenggam tangannya karena merasa diposisi yang tidak menguntungkan.


"Cukup Rokib dan Atid yang nyatet perbuatan gue, mulut kotor lo nggak usah ikut campur! Cukup Tuhan yang menghakimi gue, akhlak lo nggak usah sok-sokan campur tangan! Otak doang plus, akhlaknya minus!"


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏