
"Akhirnya lo balik Na! Gue khawatir banget sama lo, gue kangen sama lo dan gue pengen banget lindungin lo saat ini!" kata Surya yang masih memeluk Raina.
Raina sontak terdiam, ia tak tau harus merespon dengan apa. Surya memejamkan matanya dan memeluk Raina dengan sepenuh hati.
"Jangan tinggalin gue lagi! Gue bakal turutin semua kemauan lo, tapi jangan tinggalin gue lagi! Gue pasti bongkar semua kebusukan Ara, lo jangan takut. Ada gue di sini," kata Surya.
Raina terkejut mendengarnya, "Lo udah tau kalo ini semua rencana Ara?" tanya Raina.
Surya melepaskan pelukannya dan mengangguk, "Setelah lo pergi, Ara terus kejar gue cuma biar gue lupain lo dan jadian sama dia. Pasti gue nolak lah! Gue ajak nggak tau kalo sebenarnya dia itu kayak gitu."
Raina tertegun mendengar pengakuan Surya, ia kagum sekaligus terkejut dengan kata-kata Surya. "Itu anak suka banget sih ambil job setan, suka banget goda manusia!" geram Raina.
"Udah biarin! Kita bongkar semua kelakuan dia abis itu kita ruqyah bareng-bareng!"
"Hahahaha..."
Surya berdiri dan memandangi Raina dari atas sampai bawah, "Lo kok berubah ya... Tapi apa yang berubah," Surya memegangi dagunya sambil berpikir. "Kok lo jadi cantikan sekarang?"
Raina menunjukkan puppy eyes-nya, "Jadi dulu gue nggak cantik gitu?" kata Raina dengan imut.
Surya kebingungan, "Eh enggak... Enggak gitu! Maksudnya, kok lo jadi lebih cantik sekarang. Kelihatan lebih terawat aja gitu."
Raina mengalihkan wajahnya, "Efek salon memang tak bisa dibohongi." Raina kembali memandang Surya, "Kenapa? Nggak boleh ya jadi lebih cantik?"
"Bo-boleh... Kata siapa nggak boleh? Malah lebih enak dipandang gitu, tapi jangan terlalu cantik didepan cowok lain ya!" pesan Surya.
"Bodo amat... Gue kan cantik buat diri sendiri sama suami, kalo orang lain lihat mah gue gak perduli. Karena apa? Karena mereka punya mata, jadi wajar kalo lihat. Yang nggak wajar itu kalo gue tebar pesona biar mereka naksir gitu. Btw, gue emang mempesona sih..." kata Raina dengan percaya diri.
Surya menatap sinis Raina, "Tumben lo wangi... Emang udah mandi?"
"Ketika ada parfum, kenapa kita harus mandi pagi?" tanya Raina dengan percaya dirinya.
Surya menatap Raina datar, ia kira Raina sudah berubah saat menjadi cantik. Ternyata sama saja, ia masih malas mandi pagi.
"Eh lo tau nggak panti asuhan deket sini?" tanya Raina.
"Buat apa?"
Raina menunjukkan keranjang yang penuh dengan baju-baju lamanya, "Ini baju pada jarang gue pake dan masih bagus-bagus. Bahkan ada beberapa yang masih baru, daripada gue buang, mending kasih ke yang membutuhkan aja. Sama beberapa komik lama gue nganggur, gue kasih ke mereka aja."
"Baiknya istriku..." Surya gemas dan mencubit pipi Raina, "Ya udah buruan mandi... Gue anter ke sana!"
"Kan ada parfum... Ngapain mandi?"
"Ya Allah Na..."
Surya langsung mengangkat Raina ke pundaknya lalu membawanya kedalam kamar mandi.
"Mandi sekarang!"
"Padahal gue udah pake parfum!" gerutu Raina dengan lirih.
"MANDI!!!"
"Iya-iya..."
Raina pun menurut dan mandi sesuai keinginan Surya. Saat selesai mandi, Surya sudah turun untuk menunggu dibawah.
Raina duduk dengan baju feminimnya didepan cermin, "Saatnya tunjukkan bakat kefeminiman ku!"
Dengan lihai Raina memoleskan tiap alat make up kewajahnya, menggunakan alat-alat kecantikan seperti eyelash curler, hair curler, dan lainnya. Memakai anting dan kalung yang sesuai dengan outfitnya.
"Ok gue cantik sekarang!" ucap Raina dengan begitu percaya diri didepan cermin. "Kenapa gue baru sadar kalo gue cantik ya? Pantes aja banyak yang naksir gue..."
Raina mengambil tasnya dan turun kebawah untuk menemui Surya. "Ay, yuk berangkat!" ujar Raina.
Surya berdiri dengan mata yang masih tertuju ke ponselnya, "Oh ok yuk! Gue udah masukin baju-bajunya kedalam mobil!"
"Ok makasih..."
Begitu Surya mengangkat pandangannya, ia kagum dengan penampilan Raina yang begitu feminim tapi sangat cantik dan imut.
"Wow..." kata itu lolos begitu saja dari mulut Surya tanpa ia sadari.
"Ok yuk berangkat!"
***
Di Mobil
Raina ingin minta maaf pada Surya, tapi ia bingung bagaimana cara memulai pembicaraannya. Antara gengsi dan bingung.
Surya yang menyadari gerak-gerik Raina yang aneh pun, memulai pembicaraan. "Lo kenapa? Mau ngomong apa?"
"So-sorry..."
Surya mengangkat salah satu alisnya, "Sorry? Buat apa?" tanya Surya.
"Buat semuanya... Gue salahin lo, gue diemin lo, bahkan gue jauhin lo tanpa mau dengerin penjelasan dari lo sama sekali."
Surya mengurangi gas mobilnya, ia menengok dan mengelus kepala Raina. "Nggak papa... Lo marah itu wajar, dan tugas gue cuma nunggu dan usaha biar semua masalah kelar."
Raina tersenyum manis, ia senang Surya begitu dewasa. Bahkan tak sekali Raina mengucapkan kata-kata yang menyakitkan hati, tapi Surya masih memaafkannya.
"Lain kali... Kalo ada masalah apa-apa jangan dipendem sendiri. Kan ada gue, jadi lo bisa cerita semuanya. Gue nggak bakal buat lo berhenti nangis..."
Raina heran dengan jawaban Surya, "Kenapa emangnya?"
"Karena, yang seharusnya gue lakuin itu diem, dengerin semua cerita dan keluh kesah lo, setelah itu semangatin dan selalu support pilihan lo. Gue nggak berhak buat bikin lo berhenti nangis, karena sekuat apapun manusia, mereka pasti pernah merasakan titik terendahnya."
Raina tersenyum puas. Kali ini ia benar-benar yakin kalau Surya adalah pria yang selama ini ia nantikan. Sebenarnya dulu Raina sering iri saat melihat teman-temannya berpacaran dan menebar keromantisan.
Tapi Raina menetapkan 1 prinsip kuat dalam hatinya. Ia begitu menginginkan pria yang baik dan bisa menjadi sandarannya seumur hidup. Jadi Raina lebih fokus memantaskan dirinya untuk jodoh yang dikirim Tuhan daripada sibuk berpacaran. Walaupun sesekali, Raina masih sering bandel.
***
Di Panti Asuhan
Raina dan Surya menurunkan sekitar 3 kardus besar dari mobil. Mereka membawanya kedalam rumah pengasuh panti asuhan, dan berbincang santai.
"Apa kalian mau bertemu anak-anak juga?" tanya sang pengasuh panti asuhan.
Raina mengangguk setuju dengan senang hati. Mereka berdua pun pergi mengikuti sang pengasuh panti asuhan untuk menemui anak-anak.
Raina senang melihat anak-anak yang bermain dengan bebas. Pengasuh panti asuhan memperkenalkan Raina dan Surya pada anak-anak, dan dengan cepat mereka dekat serta akrab.
"Hai semua... Namaku Raina, kalian bisa panggil aku Kak Raina ya..." sapa Raina dengan manis.
"Halo Kak Raina..."
"Yang ini namanya Kak Surya..."
"Halo Kak Surya..."
"Halo juga anak-anak..."
Surya pergi menemani anak laki-laki bermain bola, Raina bermain boneka dengan anak-anak perempuan. Raina dan Surya istirahat saat ibu pengasuh membuatkan minuman untuk mereka.
Surya mengusap keringatnya karena baru saja selesai bermain sepak bola. Raina pun mengeluarkan tisu dari tasnya dan mengelap keringat Surya.
"Capek ya?" tanya Raina.
Surya menggeleng, "Enggak sih... Cuma seru aja gitu main sama anak-anak. Jadi aku bisa menang terus walau nggak serius," gurau Surya.
Raina memukul pundak Surya ringan, "Dih... Senengnya bisa menang tanpa berjuang."
"Kok lo bisa kepikiran ke sini sih?"
Raina menghela nafas panjang dan bersandar santai, "Gue suka lihat anak-anak. Mereka begitu polos dan berteman tanpa memandang harta, fisik ataupun jabatan orang tua. Mereka begitu tulus untuk menjalani apapun, dan mereka tidak mengenal apa itu munafik."
Surya menatap Raina kagum. Tapi tatapan Raina justru menunjukkan kesedihan yang mendalam.
"Andai gue punya permintaan yang bisa dikabulin sama Tuhan, gue mau balik ke masa kecil gue dan nggak pernah dewasa. Mama papa masih ada, dan nggak ada kemunafikan dalam hidup."
Surya menyingkap rambut Raina kebelakang telinganya, "Jangan kesepian lagi. Kan ada gue di sini, kalo masih kesepian, mending kita bikin anak biar rame..." gurau Surya.
Raina membelalak, ia pun punya ide konyol. Ia memeluk Surya dari belakang dan menghembuskan nafasnya di leher Surya lalu berbisik.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏