My Ketos My Husband

My Ketos My Husband
Masalah



Ara jengkel namun juga tak ingin merusak reputasinya didepan Surya. "Ni orang caper banget sih!" batin Ara geram.


Surya mengusap rambut Raina lembut, "Iya-iya... Gini dong, rajin belajar, biar gue makin sayang."


Kata-kata Surya cukup membuat Ara kesal. Raina semakin memprovokasi Ara, "Sayang kan? Ayo ke resto, laper... Pengen makan, yang lain juga udah di sana nunggu kita."


"Oh ya? Ya udah yuk kesana!"


Raina dan Surya meninggalkan Ara sendirian untuk pergi ke restoran Kenan. Ingin sekali Ara memaki Raina, tapi ia sadar kalau ia tak boleh memiliki pencitraan buruk.


***


Di Mobil


Surya memasangkan sabuk pengaman Raina terlebih dahulu. "Gimana? Aku berhasil manas-manasin Ara kan?" tanya Surya.


"Berhasil sih... Tapi jangan deket-deket mulu napa sih? Males lihatnya tau nggak!" kesal Raina.


"Aku udah selalu berusaha jauhin dia, deket kalo emang ada urusan OSIS doang, itupun nggak terlalu dekat. Gue tetep profesional, dianya aja yang selalu deketin gue. Mungkin gue yang terlalu ganteng kali ya?" tanya Surya sambil bercanda.


Raina menatap Surya tajam, "Gak usah sok ganteng! Kemarin gue habis di SMS sama cowo!"


"Cowo? Siapa? Maxime? Atau jangan-jangan cowok lain yang mau deketin kamu ya?" tanya Surya yang mendadak posesif.


"Enggak, nawarin jasa pesugihan tanpa tumbal, santet dan uang ghaib. Jadi jangan macem-macem ya! Gue simpen WA-nya!" ancam Raina.


"Ya Allah na... Tega bener lo, mau jadi janda muda apa gimana?"


"Aku janda kembang..." Raina bersenandung.


"Nggak usah janda-jandaan! Gue gak ada rencana jadi duda!"


"Iya-iya, btw kemarin gue dapet hadiah tau nggak?" tanya Raina bersemangat.


Surya mengangkat salah satu alisnya, "Apaan? Dari siapa? Dapat apa? Kok bisa?"


"Gue dapet 200 juta tau nggak! Trus gue kepikiran pengen beli mobil, gue lihat dong mobil yang gue pengen, ternyata harganya 225 juta."


"Terus?"


"Ya nggak gue ambil lah, kan rugi! Masa kurangnya 25 juta? Dia kabarin gue pake SMS. Trus gue bales lah..."


"Bales apaan?"


"Gue bales gini, 'Mas/mbak, saya mau beli mobil tapi uangnya kurang. Jadi gak saya ambil ya hadiahnya, sumbangin aja ke Masjid atau Panti asuhan.' Eh tapi nggak di bales dong SMS gue!" Raina yang menjelaskan hal itu kesal sendiri.


Surya geleng-geleng kepala, "Na... Na... Bocah pun tau kalo itu penipuan! Masih aja lo bales."


"Eits, tunggu dulu! Setelah beberapa jam gue baru sadar kalo itu penipuan, soalnya dia SMS pake nomor 081, jadi gue bales lagi..."


"Gimana lagi?"


"Mas gak takut ya nipu-nipu? Uangnya emang nipu-nipu mas, tapi panasnya api neraka nggak tipu-tipu loh. Kalo udah sampe neraka jangan lupa telfon ya mas, kita VC. Saya penasaran sama suasana neraka kalo lagi nyiksa manusia sejenis mas."


Surya menahan tawanya, ia tak mengira istrinya bisa seperti itu. "Untung gue jadi pelajar Na, kalo jadi penipu trus ketemu lo mungkin udah bunuh diri aja deh gue."


"Jangan solimi ya kamu!"


"Kalo pengen mobil bilang gue aja, kalo ada duit nanti kita beli!"


"Beli mobil mah gampang, yang susah dapet SIM-nya. Kalo Tes SIM segampang makan seblak mah dari dulu aja gue minta mobil baru!" jawab Raina dengan polosnya.


"Hahahaha...."


"Jangan deketin Ara lagi! Jangan macem-macem ya lo, gue punya nomor tukang santet loh!" ancam Raina.


"Ampun mbak jago..."


***


Hari ini adalah jadwal gladi bersih untuk acara perpisahan kelas 12 sekolah Raina. Dan hanya ada beberapa anak tertentu, anggota OSIS dan juga beberapa guru yang ada di sekolah untuk mengatur persiapan acara.


Kebetulan Surya sengaja mengajak Raina ke sekolah agar Ara menjaga jarak darinya, "Lo nunggu di sini aja ya! Gue mau kerja dulu!" pesan Surya.


"Iya, semangat ya kerjanya!"


"Makasih sayang..."


Raina hanya melihat pekerjaan anak-anak lain dari lantai 2, dan tak sengaja ia melihat Amel yang tampak mendapat masalah dengan kakak kelas.


"Aduh! Lo tu jalan nggak lihat-lihat apa? Lihat nih, tinta yang gue bawa tumpah dan kena baju gue!" bentak Amel pada salah satu kakak kelas.


"Mel... Tapi kan yang salah kamu, aku juga kena tintanya. Kamu yang nabrak aku," bela kakak kelas itu.


"Ih dasar ya! Udah salah malah nyalahin orang lain!" sentak Amel.


Raina mendatangi Amel, "Mel kenapa lo teriak-teriak sih? Gila ya? Lagian kan yang salah itu lo, lo yang nabrak kakak ini. Dan baju dia kena tinta lebih banyak daripada baju lo!" jelas Raina.


Amel menatap kesal kearah Raina, "Lo itu suka banget sih ikut campur urusan orang lain?!"


"Bukan ikut campur, tapi ingetin lo! Lo itu salah, kenapa malah salahin kakak ini? Gimana sih pola pikir lo!" bentak Raina.


Kakak kelas itu tampak ingin melerai mereka berdua, "Udah dek nggak papa, lagian aku kan udah lulus. Bajunya pasti gak kepakai lagi kok."


"Bukan masalah kepakai atau nggak kak, tapi siapa yang benar dan siapa yang salah. Gue heran sama lo Mel, kenapa selalu lempar kesalahan lo sama orang lain? Mental lo gangguan ya?!" tanya Raina sinis.


Amel tersinggung dengan ucapan Raina, "Awas aja lo! Urusan kita belum selesai!" Amel pergi meninggalkan Raina.


"Gila ya tu anak!" geram Amel.


Kakak kelas itu tampak merasa bersalah pada Raina, "Maaf ya dek, gara-gara aku, kamu jadi berantem sama Amel."


"Kenapa sih kakak diem aja? Padahal dia itu salah!"


"Enggak papa, itu emang sama-sama salah kita berdua kok. Nggak usah diperpanjang ya."


"Huh, ya udah deh..."


Kakak kelas itu pergi sambil melihat atasannya yang ketumpahan tinta hitam, "Duh gimana nih? Padahal baju ini mau dipakai adik buat sekolah di sini biar biayanya nggak mahal," batinnya.


"Gila tu si Amel!" geram Raina.


.


.


.


.


Beberapa jam kemudian Ara melihat Raina yang ada dilantai 2, ia memikirkan sebuah rencana. Ara menyuruh seseorang untuk memberitahukan bahwa Raina dipanggil Surya untuk turun.


Dan sebelum itu, Ara menaruh pelicin lantai di tangga sekolah dengan tujuan agar Raina terjatuh.


Seorang siswi menghampiri Raina, "Na... Lo dipanggil Surya buat turun kebawah tuh..."


"Oh ya? Emang kerjaannya udah selesai?" tanya Raina.


"Kayaknya sih udah..."


"Oh ok."


Siswi itu pergi ke arah berlawanan dengan Raina, sedangkan Raina berjalan menuju tangga untuk segera turun ke lantai 1.


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏