
"Heh anj*ng! Jaga kelakuan lo sama cewek gue! Balik sana ke habitat lo, ya tipe-tipe hewan kayak lo ini yang hampir punah! Dan harusnya emang dimusnahkan!" tegas Surya dengan tajam dan menusuk.
"Sialan! Woy bantuin!"
Dalam sekejap para pria yang lain datang untuk membantu dan mulai mengeroyok, awalnya Surya bisa mengatasinya karena ia memiliki ilmu bela diri, namun kalah jumlah membuat Surya perlahan-lahan kewalahan.
"Na... Surya gimana Na?" tanya Diva panik.
"Lo berdiri agak jauh, lemparin mereka pake batu sekenceng mungkin ok! Ketika gue teriak lari, lo lari ikutin gue secepat mungkin ok!"
"Ok Na, tapi lo mau ngapain?"
"Sekarang Div! Cepetan!"
Raina tak menjawab pertanyaan Diva, ia hanya menyuruh Diva untuk pergi membantunya. Raina langsung berlari dan membantu Surya menghajar beberapa pria itu. Tentu saja tetap tidak bisa di lawan, 5 banding 2? Terlalu kecil peluang mereka untuk menang.
"Aww... Aww...."
Para pria itu mengeluh karena dilempari Diva dengan batu secara terus-menerus, saat mereka lengah, Raina menarik Surya dan langsung menyeretnya untuk lari.
"Lari Div!" teriak Raina.
Mereka bertiga berlari secepat mungkin meninggalkan beberapa pria itu, ada yang mengejarnya namun tidak bisa menangkap mereka.
"Woy tunggu lo!"
Diva, Raina dan Surya masih terus berlari, "Div cepet sembunyi di belakang semak-semak itu!"
"Ok!"
Mereka bertiga diam di balik semak-semak untuk bersembunyi dari kejaran para berandal tadi. Setelah situasi cukup aman, mereka perlahan-lahan kembali ke vila.
***
Di Villa
Kebetulan vila sedang sepi karena semua orang sedang berjalan-jalan pagi, Raina memapah Surya menuju balkon lantai 2.
Wajah Surya lebam-lebam karena beberapa pukulan, tangannya pun juga luka karena memukuli berandal tadi. Wajah Raina memerah dan sedikit membengkak akibat tamparan tadi.
"Div buruan ambilin es, handuk kecil atau apalah sama kotak P3K ya..." pinta Raina.
"Ok tunggu bentar!"
Diva langsung berlari mencari barang-barang yang diinginkan Raina, sedangkan Raina terkejut saat melihat keadaan wajah Surya.
"Astagfirullah! Muka kamu..."
Surya mengusap pipinya pelan, "Nggak papa kok! Paling bengkak dikit doang!"
"Lo kenapa sih kayak gitu!!!" bentak Raina kesal.
Surya terkejut melihat respon Raina, "Udah di tolongin kok malah kayak gitu sih sikap lo?"
"Ya gue marah, gue kesel, gue benci! Maksud lo apa kayak gitu tadi? Mau sok jagoan? Udah bagus gitu? Udah merasa keren gitu?"
"Lo kenapa sih?"
"Ya lo nggak lihat berapa jumlah mereka? Seneng banget ya di pukulin? Lo tau nggak, lo bisa aja terluka parah gara-gara hal tadi!"
"Gue kan mau nyelametin lo! Of course gue nggak terima kalo istri gue di tampar orang, suami apaan gue kalo diem waktu liat istri di tampar anj*ng tadi?"
"Ya gue nggak suka! Gue benci khawatir sama lo! Gue benci lo di pukulin! Dan gue paling benci kalo lo kenapa-napa tau nggak!" bentak Raina dengan mata berkaca-kaca, "Lo bisa aja masuk rumah sakit kalo gue nggak bawa lo pergi secepatnya! Plis jangan bikin gue khawatir, gue nggak mau lagi ngerasain kehilangan orang yang gue sayang tau nggak!" ucap Raina dengan air mata yang sudah mengalir.
Raina terduduk lemas sambil menangis melihat keadaan Surya, ia benar-benar takut kehilangan. Bayang-bayang kepergian mama papanya tiba-tiba terlintas di benaknya, Diva yang sejak tadi melihatnya hanya diam di dekat pintu dan membiarkan mereka berdua damai lebih dulu.
"Gue nggak mau kehilangan lo! Karena gue tau rasanya kehilangan, rasanya sakit Ay! Sakit... Apalagi kalo lo pergi cuma karena belain gue! Itu bisa jadi luka seumur hidup gue Ay!" jelas Raina dengan air mata yang tak berhenti mengalir.
Surya perlahan-lahan berdiri lalu berjongkok di depan Raina, ia merangkul istrinya yang tengah menangis karena terlalu khawatir.
"Jangan khawatir... Gue nggak bakal tinggalin lo, karena Tuhan nyiptain gue buat jagain lo. Gue ngelakuin ini semua juga ada prediksi, gue yakin istri gue kuat, istri gue pinter dan bisa bantuin gue... Jangan nangis lagi ya..." ucap Surya sambil memeluk Raina.
"Gue takut banget lo pergi kayak mama papa! Gue nggak mau kehilangan lo... Hiks..."
Surya mengangkat wajah Raina lembut lalu mengusap air matanya, "Udah jangan nangis lagi... Mending buruan obatin gue gih, gue lebih suka diobati istri daripada mbak-mbak perawat..."
Raina mengusap air matanya, ia membantu Surya duduk kembali. Melihat keduanya sudah sedikit tenang, Diva menghampiri mereka berdua.
"Ini yang lo butuhin... Tapi esnya gak ada..." ujar Diva memberikan kotak P3K.
"Gak papa, ntar aja es nya..."
"Ya... Na... Gue minta maaf ya, kalo bukan karena gue mungkin kalian nggak bakal kayak gini..." ucap Diva sambil menunduk.
"Gak papa... Kalo yang lain udah balik, suruh siap-siap aja! Hari ini kita pulang!" tegas Raina.
"Iya..."
"Oh iya nggak papa kok Div, tolong beliin gue makanan khas daerah sini ya buat ganti ruginya!" gurau Surya agar Diva tidak tegang dan canggung.
"Ok..."
"Div... Lo buruan beli Paracetamol atau anti nyeri deh biar kepala lo nggak sakit, sama nanti lo kompres pake air dingin kalo masih sakit... Atau waktu perjalanan pulang kita mampir rumah sakit aja?" tanya Raina dengan mata yang masih merah karena habis menangis.
"Iya deh Na... Makasih sarannya, gue nyari es batu dulu ya. Buat lo sama Surya juga..."
"Hm..."
"Eh Div tunggu! Ajak Dika, Faris ataupun Bang Kenan aja! Jangan pergi sendiri, keluar juga pake masker ya biar nggak di kenali orang-orang tadi!" pesan Surya
"Ok!"
Diva pun pergi, Raina sibuk mengobati luka-luka dan beberapa lebam di badan ataupun wajah Surya. ”Sebelum pulang nanti mampir dulu ke rumah sakit pokoknya!" tegas Raina.
"Nggak usah... Buat apa sih? Luka gini doang, gak usah lebay lah..."
"Ini luka, dan lo manusia! Lo bisa berdarah, jadi jangan belagu! Pokoknya mampir dulu ke rumah sakit!" tegas Raina yang menandakan tak ingin di bantah.
"Terserah deh..."
Dengan telaten Raina membersihkan luka Surya satu-persatu, mengoleskan alkohol dan memberikan obat. Tak lama kemudian Diva berlari sambil membawa plastik yang berisi es batu.
"Na... Ini gue dapet es batu," ucap Diva sambil memberikan es batunya pada Raina.
"Tolong ambilin wadah dan handuk atau apalah..."
"Ok bentar!"
Diva mengambil barang-barang yang diinginkan Raina, "Ini Na..."
"Thanks..."
Braakk.... Braakk....
Tanpa perlu uleg-uleg, palu ataupun batu, Raina memecahkan es batu itu dengan membenturkannya sekeras mungkin ke dinding. Surya masih melihat semburat kemarahan di mata Raina.
Raina menaruh es batu itu ke dalam handuk lalu mengompres luka-luka Surya, setelah beberapa saat Surya mencekal tangan Raina.
"Ay lepasin! Gue mau ngompres luka lo dulu!"
"Lo sadar nggak pipi lo juga bengkak! Sini gue kompres dulu!" ujar Surya sambil menunjuk pipi Raina.
"Gampang! Lo duluan aja!" ucap Raina remeh.
"Lo juga luka! Gue bisa tahan luka gue, pokoknya lo harus lebih dulu di kompres!" tegas Surya sambil merebut handuk kompres di tangan Raina.
"Udah nggak perlu... Gue bisa sendiri kok!" ucap Raina sambil menangkis kompresan Surya.
"Diem atau gue tampol pipi lo lama-lama! Di obatin susah banget sih!" kesal Surya.
Raina pun diam, dengan pelan-pelan dan lembut Surya mengompres pipi Raina yang merah dan membengkak akibat tamparan tadi.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏