
"Ahhh... Bukan aku, bukan aku!" bela Raina yang rambutnya masih dijambak ibu Amel.
Semua orang berusaha melerai keduanya agar tak terjadi keributan di rumah sakit itu. Surya berusaha melepaskan jambakan ibu Amel hingga terlepas.
"Bu tolong tenang dulu!" para guru menenangkan ibu Amel yang menjadi-jadi.
Surya memeluk Raina erat yang menangis kesakitan karena rambutnya terjambak keras. Ara hanya menahan senyumnya sejak tadi dan memasang wajah sedihnya yang palsu.
Ayah Amel pun ikut bersuara, "Mah! Tolong jangan buat keributan di rumah sakit! Malu sama orang-orang, sekarang yang penting itu gimana keadaan Amel! Jangan malah ribut kayak orang nggak berpendidikan!" tegas Ayah Amel.
"Hiks... Tapi semua ini gara-gara dia pa, gara-gara dia Amel jadi seperti ini! Pokoknya mama bakal tuntut dia, mama bakal penjarain dia. Mama minta hukuman seberat-beratnya!" kata mama Amel yang masih kacau.
Raina ketakutan mendengar ancaman ibu Amel, ia memeluk erat Surya. Surya mengelus kepala Raina lembut, "Bu tolong jangan nilai satu pihak! Kita belum tau bagaimana kebenarannya. Jadi jangan asal tuduh bu!" tegas Surya.
"Siapa yang asal tuduh? Jelas-jelas dia ada ditempat kejadian saat Amel jatuh kan? Siapa lagi kalo bukan dia? Nggak mungkin Amel jatuh sendiri, dia itu anaknya enggak sembrono!" mama Amel membantah dengan keras.
Ara memegangi tangan ibu Amel dengan ekspresi memelasnya, "Tante... Tante yang kuat ya Tan. Ara yakin Amel pasti bakal segera sadar dan nggak kenapa-kenapa kok Tan..." Ara meyakinkan ibu Amel.
Ibu Amel memeluk Ara erat, ia menangis karena khawatir dengan kondisi Amel. "Ara... Gimana kondisi Amel sekarang? Hiks... Kenapa semua jadi seperti ini?!"
Surya membawa Raina pergi untuk menjauh dari keributan dan lebih mudah untuk menenangkan diri.
***
Di Kantin Rumah Sakit
Surya memesan segelas air putih untuk Raina minum, "Nih diminum dulu biar nggak panik lagi. Tenang aja, semua pasti baik-baik aja. Gue yakin lo enggak salah..." Surya meyakinkan Raina yang masih kacau.
Mendengar kata-kata Surya, membuat Raina sedikit bersemangat. Ia meminum segelas air didepannya, ia menatap Surya sendu, "Bukan gue... Bukan gue yang dorong Amel, dia jatuh sendiri."
"Iya gue percaya... Sebenci-bencinya lo sama orang, pasti nggak bakal ngelakuin tindakan kayak gitu. Sekarang lo tenangin diri lo dan jelasin semua yang terjadi pelan-pelan ok!" pinta Surya.
Raina mengangguk. Surya berharap semua segera selesai, ia takut kalau mental Raina akan bermasalah lagi. Karena anak yang pernah memiliki penyakit mental akan lebih rentan kembali mengalami over thingking dan down.
Raina menjelaskan satu-persatu apa yang ia alami dan ia lihat, Surya mengangguk memahami tiap kata-kata Raina. "Jadi maksudnya, lo enggak dorong dia? Tapi tiba-tiba dia jatuh kebelakang?" tanya Surya yang dibalas anggukan Raina.
Surya berpikir dan membayangkan semua kejadian, "Gue yakin Amel itu enggak ceroboh, dia pasti hati-hati. Sepatunya yang mahal enggak mungkin juga licin, jadi intinya dia bisa jatuh karena kehilangan keseimbangan lalu tertarik kebawah oleh gaya gravitasi bumi yang menyebabkan dirinya jatuh kebawah." pikir Surya.
Surya berpikir keras tentang hal ini, "Jika memang dia didorong, maka kecepatan jatuhnya dari ketinggian itu sekitar 0,1 hingga 2x lipat kecepatan jatuhnya saat itu. Tapi jatuhnya begitu tak beraturan, berarti merupakan GLBB (Gerak Lurus Berubah Beraturan) dengan pertambahan percepatan jatuh yang konstan dari atas hingga bawah. Kecepatan jatuhnya pun relatif sesuai dengan gaya gravitasi yang ada, tidak terlalu beda jauh. Maka dia tidak mungkin di dorong."
Raina yang menangis sesenggukan masih saja sempat protes, "Jangan ribet-ribet napa sih!"
"Bentar!" Surya mengode Raina agar diam sejenak, "Jika ia jatuh karena terdorong maka kecepatan jatuhnya juga konstan dari awal hingga akhir, tidak bertambah atau berkurang karena gaya yang diberikan dari dorongan itu. Tapi kecepatan jatuhnya bertambah sedikit demi sedikit karena besarnya gaya gravitasi dari ketinggian tertentu. Ok, fiks ini bukan di dorong tapi jatuh sendiri!" Surya yakin kalau Amel jatuh sendiri.
"Gue nggak dorong dia, dia jatuh sendiri kan? Gue nggak salah..."
"Kalo gini gue yakin lo nggak salah, tapi masalahnya, apa penyebab dia jatuh? Orang lain butuh bukti, bukan penjelasan ilmiah. Entah kenapa firasat gue, ini semua terjadi secara enggak sengaja," pikir Surya.
Surya berpikir keras hingga akhirnya matanya terkunci ke kaki Raina yang di pasangi gip karena retak, "Lo juga jatuh kan? Kok bisa?"
Raina mengusap air matanya, "Gue awalnya panik mau nolong Amel, tapi tiba-tiba gue ngerasa kalau lantainya licin banget dan gue juga kepleset. Untungnya tangan gue masih bisa pegangan ke salah satu pembatas tangga."
Surya kembali berpikir keras, "Licin? Lantai? Jatuh? Oh iya, mungkin jika kesalahan bukan di manusianya, maka ada di tempatnya!"
"Tempatnya?"
Surya langsung menelpon Arkan secepatnya untuk memastikan sesuatu.
"Halo Ya kenapa?"
"Warung deket sekolah, kenapa?"
"Yes, tolong lo cek ke lantai 2 dan hati-hati! Lihat tangganya satu-persatu, coba lo sentuh semua. Apa ada yang licin, buruan!"
"Emang kenapa? Gabut banget liatin tangga."
"Udah nanti gue jelasin! Buruan cek, ini tentang nyawa orang!"
"Hah? Nyawa? Nyawa siapa woy?"
"Udah buruan! kalo ada segera kabarin gue ok"
"Ok-ok!"
Arkan yang ada di warung dekat sekolah pun langsung pergi ke sekolah untuk mengecek tangga lantai 2. Ia melihat dengan seksama tiap anak tangga disekolah.
Surya hanya pasrah, semua ini tergantung pekerjaan Arkan saja. Tak lama, Arkan kembali menelfon.
"Halo Ya!"
"Iya gimana?"
"Jadi gue cek, ada salah satu tangga yang agak beda. Rasanya lebih licin daripada yang lain, kayak habis di pel gitu loh!"
"Iya? Coba lo video pake flash lampu belakang, bandingin tangga yang licin sama yang enggak!"
"Ok!"
Beberapa menit kemudian, Arkan mengirim video perbedaan lantai yang licin dan yang tidak. Surya semakin yakin kalau Amel terjatuh karena lantai yang licin, bukan didorong.
Surya memeluk Raina senang, "Ok lo sekarang nggak usah khawatir. Gue punya bukti sekarang, kita sekarang bisa jelasin semuanya. Ayo kembali ke sana!"
"Ok..."
Raina dan Surya kembali untuk memberitahukan semuanya, namun para guru lebih dulu menarik Raina untuk diajak berbicara.
"Pak, Raina mau diapain?" tanya Surya.
"Tenang aja, kamu nggak boleh ikut campur dulu! Kamu diem dulu Ya, ini pribadi antara Raina dan orang tua Amel!"
Para guru itu membuat Surya semakin khawatir, apalagi melihat ibu Amel yang emosional.
Raina diajak agak menjauh untuk berbicara dengan kedua orang tua Amel secara pribadi. "Raina, tolong jujur apa yang sebenarnya terjadi!" tegas salah satu guru.
Ibu Amel menyela, "Kamu dorong Amel kan?! Dasar anak nggak tau diri, gara-gara kamu sekarang Amel gegar otak! Hiks..."
Raina seolah terpukul dengan kata-kata ibu Amel yang menyalahkan dirinya atas semua situasi ini.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE ๐
Hai all, maaf baru up.
Menyikapi untuk komentar yang bilang part ini sama dengan novel lain.
Maaf seribu maaf, tapi demi apapun saya tidak pernah yang namanya plagiat. Selama memakai apk mangatoon pun saya hanya untuk membaca komik dan update novel, saya pribadi juga tak terlalu suka dengan membaca novel secara online. Jadi mohon toleransinya, saya jujur tidak pernah plagiat dengan novel yang lain๐ Untuk percaya atau tidak, itu terserah kalian karena itu hak kalian. Saya hanya memberi tahu saja.