My Ketos My Husband

My Ketos My Husband
Luka



Semua anak-anak langsung mencibir Raina, apalagi saat tau kalau Raina tidak menangis sama sekali saat kepergian mamanya. Tapi Raina tak tinggal diam, kemarahannya tidak bisa ditahan lagi saat mendengar kata-kata Amel.


Raina berdiri, ia menguncir rambutnya dengan benar. Menatap Amel dengan penuh kebencian, Arkan bahkan tidak bisa membaca apa langkah Raina selanjutnya.


Buagg....


Pukulan keras melayang ke pipi mulus Amel. Raina sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi. Tidak hanya sekali Amel mencari masalah dengannya, dan kata-katanya kali ini tidak bisa di toleransi lagi oleh Raina.


"Raina...!!!" Diva dan Naya berteriak


Bukannya melerai, anak-anak lain justru mem-video perkelahian ini. Arkan dan lainnya kesulitan melerai Raina, pasalnya, Raina belum pernah terlihat semarah ini sebelumnya.


"Na udah Na!" teriak Arkan


Buag...


Raina kembali melayangkannya pukulannya ke wajah Amel. Ilmu bela diri yang diajarkan Kenan pada Raina kini akhirnya berguna juga.


Arkan, Dika dan Faris berusaha keras melerai Raina. Amel berusaha melawan, Amel menjambak Raina. Raina tidak diam, ia menendang Amel sampai Amel terpental.


"Sialan lo! Maju sini lo anj*ng!" bentak Raina penuh emosi


"Dasar cabe!"


Kata-kata Amel menambah kemarahan Raina, tak ada kata ampun lagi. Raina menarik kerah baju Amel sampai sobek, ia menjambak rambut Amel ke belakang.


"Dasar anj*ng! Lo nggak punya hak buat ngehakimi hidup gue!" bentak Raina


"Aahh... Ah lepasin! Aahh... Siapa aja tolong! Raina gila!" teriak Amel meminta tolong


Tidak ada toleransi lagi, Raina menjambak rambut Amel sekuat tenaga. Amel semakin kesakitan, ia mencubit tangan Raina dengan kuku panjangnya hingga tangan Raina berdarah.


"Aahhh...." teriak Raina kesakitan


Raina melepaskan jambakannya, Amel hendak lari, Raina hanya bisa menarik baju Amel sampai sobek. Saat Raina hendak mengejar Amel, ia di hentikan oleh teman-temannya.


"Na... Na udah Na! Biarin aja Na!" cegah Naya


"Dasar cewek sialan! Lepasin gue!" bentak Raina yang masih penuh amarah


"Na.. Jangan gegabah Na! Ini masih di sekolah!" peringat Diva yang menarik lengan Raina agar Raina tidak mengejar Amel.


"Lepasin gue!" bentak Raina


"Na udah! Lo mau apa lagi sih! Biarin aja udah," ujar Arkan


"Gak rugi gue kalo dikeluarin dari sekolah ini! Lepasin!" bentak Raina


"Na udah Na! Lo mau apa lagi sih? Hah? Sok jagoan, mau berantem kayak gitu? Lo cewek terhormat, bukan berandal mur*han!" bentak Surya yang baru datang


"Sialan... Lepasin gue!" bentak Raina yang masih lepas kendali


Surya langsung menarik badan Raina, membuat Raina berhadapan dengannya. Membuat Raina menatap matanya.


"Tatap mata gue!" pinta Surya


Raina memberontak, "Lepasin!"


"Tatap mata gue Raina!" bentak Surya


Raina menatap mata Surya dengan nafas memburu. Matanya memerah dan hampir meneteskan air mata.


"Udah... Udah, semua ini nggak ada gunanya! Berhenti Na! Gue mohon," pinta Surya


"Gue nggak terima di katain kayak gitu Ya!" bentak Raina


"Iya gue tau! Terus lo mau apa? Berantem sampe puas, masuk penjara, di keluarin dari sekolah? Inget, apa tujuan mama lo nyekolahin lo di sini!" tegas Surya


Raina semakin tenang, tapi teman-temannya menyoraki tidak suka. Apalagi saat Surya datang untuk menenangkan Raina.


"Huuu...."


"Ngapain sih suka sama cewek kayak dia?"


"Raina itu nggak penting!"


"Diem lo pada!" bentak Maxime


Surya buka suara, "Kenapa? Emangnya kenapa? Kalian nggak terima? Raina emang pacar gue, kalian mau apa? Nggak terima? Sini maju!" Surya menantang.


Semua mata membelalak, tak percaya dengan kata-kata Surya barusan. Raina sudah tidak fokus, luka di tangannya terus-menerus mengeluarkan darah.


"Kalau kalian berani buat masalah sama Raina, berarti kalian juga buat masalah sama gue!" tegas Surya


Raina menepis kedua tangan Surya di pundaknya, ia berbalik dan berjalan menuju kelas dengan langkah cepat.


"Na... Mau kemana Na?" tanya Arkan dengan sedikit berteriak


"Iya deh Ya... Emosinya juga nggak stabil itu!" ucap Diva


"Ya udah gue susul dulu!" jawab Surya


Surya berlari menyusul Raina yang sudah berjalan lebih dulu.


"Na... Raina! Na tunggu Na!" panggil Surya


Raina tidak menggubris panggilan Surya, terpaksa Surya mempercepat langkahnya untuk mengejar Raina.


"Na tunggu Na! Mau kemana sih?" tanya Surya


"Balik," ketus Raina


"Kok balik? Ini masih jam sekolah, mending ayo ke UKS!" ajak Surya


"Terus kenapa kalo ini masih jam sekolah? Nggak terima? Sini bilang," tantang Raina dengan emosi yang naik turun


"Bukannya gitu... Ya udah ayo balik, gue anter ya!" tawar Surya


"Gak perlu! Gue bawa sepeda," ketus Raina


Raina berjalan lebih cepat, Surya berusaha keras mengikuti Raina, tapi tidak bisa mengejar Raina. Surya hanya bisa mengikuti Raina sampai parkiran.


***


Parkiran


"Na... Jangan gini lah, gue anter pulang ya!" pinta Surya dengan suara halus


"Ay plis! Kasih gue waktu, gue juga manusia. Gue perlu waktu buat marah," pinta Raina sambil memegang setir sepedanya


"Tapi Na... Ya udah lah, tapi kalo ada apa-apa segera telfon gue! Gue bakal segera dateng," pesan Surya


"Hm..."


Karena rumor yang tersebar di sekolah, membuat Raina harus berangkat ke sekolah sendirian agar tidak ada yang curiga lebih dalam terhadap hubungan Raina dan Surya.


Raina mengayuh sepedanya, ia menyetir dengan tangan satu karena tangan kirinya terluka akibat kuku Amel.


"Sialan! Perih banget sih ni luka!" kesal Raina


Raina mengumpat sepanjang perjalanan, ia berencana pergi ke warung langganannya. Warung tempatnya nongkrong bersama Arkan, Dika dan Faris saat bolos pelajaran. Namun di tengah perjalanan...


Tiinn...


"Ck, siapa sih? Berhenti di tengah jalan!" kesal Raina


Seorang pemuda turun dari motor dan menghampiri Raina yang masih duduk di sepedanya.


"Hai Na... Mau kemana?" sapa pemuda itu


"Max... Lo ngapain di sini? Kok nggak di sekolah sih?" tanya Raina terkejut


"Emang kenapa? Nggak boleh ya? Ketua kelas itu contoh, kalo yang jadi contoh aja bolos, berarti anggotanya juga boleh bolos dong. Lagian aku nggak paham sama pelajaran matematika," jelas Maxime


Raina mengerutkan keningnya, "Iya tau... Tapi kenapa di sini?"


"Nyusul kamu."


"Aku?"


"Yuk pergi..." ajak Maxime


"Kemana?"


"Nanti juga tau."


"Tapi sepeda gimana?"


"Titipin sini aja dulu."


Raina menitipkan sepedanya ke warung langganannya, karena memang sudah dekat. Lalu ia pergi bersama Maxime ke sebuah rumah makan.


***


Di Rumah Makan


"Tadi belum makan kan gara-gara Amel? Ya udah pesen gih," ujar Maxime


Raina diam tak menjawab. Ia hanya bingung dengan sikap Maxime.


"Udah pesen aja... Aku yang bayar kok, pesen sepuas kamu!" ucap Maxime


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏