
"Gue tau mungkin ini terlalu tiba-tiba buat lo, tapi gue... Gue sayang sama lo Ra, gue cinta sama lo. Lo mau nggak jadi pacar gue?" tanya Arkan
Ara maju selangkah, moodnya masih rusak karena Raina. Di tambah ditembak oleh sahabat Raina membuatnya semakin muak, "Emang lo siapa? Lo punya apa? Dan lo itu dari keluarga mana sampe mau jadi pacar gue? Lo pernah ngaca nggak, emangnya lo pantes buat gue?" tanya Ara dengan nada sinis.
Ara pergi begitu saja setelah mengucapkan kata-kata pedas itu. Seketika Arkan langsung terduduk lemas di lantai atas penolakan dari Ara.
Ditolak dan dijatuhkan harga dirinya, mental Arkan langsung down seketika. Hatinya hancur begitu saja, 1 tahun perjuangannya mendekati Ara hanya berbuah penolakan sadis dari sang pujaan hati.
"Punya apa? Gue punya apa buat berharap lebih sama Ara?" gumam Arkan
***
Di Rumah Raina
Kenan sedang sibuk mengurus keperluan restoran peninggalan mamanya. Tiba-tiba Raina masuk begitu saja dan memeluk Kenan dari belakang.
"Bang... Gue kangen sama lo bang..." ucap Raina yang masih memeluk Kenan.
"Mimpi apa lo inget ke sini? Trus kok masih pake seragam? Emang dari sekolah langsung ke sini? Trus ke sini sama siapa? Surya?" tanya Kenan beruntun.
"Dari sekolah dan ke sini sendiri."
"Hah? Sendiri? Lo berantem sama Surya?"
Raina diam tak menjawab, Kenan melepaskan pelukan Raina dan berbalik badan menghadap Raina.
"Dek... Kenapa? Bilang sama abang!"
Raina terdiam tak mampu menatap Kenan, diam-diam air mata Raina mengalir. Bagaimanapun, ini pengalaman pertama Raina untuk jatuh cinta pada pria selain keluarganya. Tentu menyakitkan, apalagi biasanya Raina selalu dimanja oleh pria-pria disekitarnya. Entah papa, kakak ataupun teman-temannya.
Kenan menyadari kesedihan adiknya, ia mengajak Raina duduk di sofa dan melepaskan tas dari punggung Raina.
"Kenapa? Ada apa sama Surya? Cerita sama abang!" pinta Kenan dengan lembut.
"Surya tadi jalan sama cewek lain bang..."
"APA!?"
"Dia lebih milih belain cewek itu dan bentak aku didepan cewek itu bang..."
Kenan terkejut mendengar kalau Surya berani membentak adik kesayangannya. Kenan tau kalau Raina itu anti dari kata bentakan. Meski banyak tingkah, Raina memiliki hati yang sensitif.
"Coba jelasin semuanya... Abang pengen denger semuanya."
Raina menjelaskan titik masalahnya secara mendetail. Kenan dapat menyimpulkan kalau Raina juga salah karena bertindak gegabah dan tidak sopan, tapi Surya lebih salah karena berani membentak istrinya dan pergi dengan wanita lain padahal tau kalau dia sudah punya istri.
"Dek... Dengerin abang ya! Abang tau kamu sakit hati, tapi lain kali dengerin dulu ya apa alasan Surya buat jalan sama cewek lain. Tapi tenang aja, abang gak bakal biarin cowok manapun sakitin kamu, sekalipun itu suami kamu! Abang gak takut, siapapun itu yang berani nyakitin kamu, hadapannya sama abang!"
Raina memeluk Kenan erat, ia memang membutuhkan seseorang untuk sandaran saat ini, dan kehadiran Kenan membuatnya tidak merasa sendiri.
"Makasih bang... Abang baik banget!"
"Iya... Tapi kamu tetep haru pulang, bicarain semua baik-baik sama Surya. Nanti abang telfon Surya untuk peringatin Surya ok!"
"Iya bang... Tapi minta duit dulu ya, Nana pengen main sama temen-temen!"
"Ini anak udah nangis masih aja inget duit sama main!"
"Yah bang... Nana butuh hiburan juga, nangis berjam-jam juga butuh asupan!"
"Ya udah... Ambil sendiri di dompet, tapi jangan ambil semua! Abang juga butuh makan buat hidup!"
"Eh salah bang... Manusia butuh oksigen buat bernafas dan tetap hidup! Kalo makan itu untuk kita bertahan hidup!"
"Dih... Anak IPS sok ngIPA."
"Biar bwleee....." ledek Raina sambil menjulurkan lidahnya.
"Dah sana-sana ambil duit, buruan main! Jangan abisin oksigen didalam rumah!"
"Abang baik! Nana doain cepet dapet jodoh!"
"Emang siap abang nikah sekarang trus abang hidup sama anak istri?"
Raina berpikir tentang kata-kata Kenan, "Eh jangan bang! Jangan nikah sekarang dong, nanti Nana masuk BK siapa yang dateng?"
Kenan memasang wajah datarnya, "Sekali lagi masuk BK, gue pindahin sekolah lo!"
"Bagus dong... Nana cari cogan baru!"
"Udah-udah sana buruan makan dulu!"
"Ashiap bangke..."
"APA!?"
"Bang Ken..."
Kenan hanya geleng-geleng dengan kelakuan adiknya, di balik tingkahnya yang konyol, Raina berusaha menutupi luka di hatinya yang masih membekas.
Setelah makan, Raina masuk ke kamar lamanya dan merebahkan diri di atas kasur kesayangannya. Ia membuka ponselnya untuk mengusir rasa bosan.
Maxime
Hai Na... Gimana? Jadi nonton bareng?
Raina
Maxime
Jam 18.15 ya! Gue jemput deh!
Raina
Siap!
Raina bersedia menerima ajakan Maxime untuk mengalihkan rasa sakit di hatinya. Raina memainkan Play Station di kamarnya hingga hari semakin gelap.
***
Pukul 18.15
Tepat jam 6 lebih 15 menit, Maxime datang dengan mobil Mercedes Benz yang telah dimodifikasi menyerupai mobil balap.
Maxime turun dari mobil dan masuk untuk berpamitan pada Kenan. Kenan merasa aneh melihat Maxime, seolah pernah melihatnya.
"Hai Kak... Aku temennya Raina, izin mau jalan bareng Raina ya..." ucap Maxime dengan ramah.
Kenan melihat Maxime dari atas sampai bawah, "Hmm... Kenapa rasanya kayak pernah lihat ya... Tapi dimana?"
Raina langsung menyela dengan begitu bersemangat, "Masa abang gak tau? Ini Maxime, musisi Rock muda idola Nana itu loh!"
"Nah iya! Pantesan mukanya nggak asing, anj*r beruntung banget lo dek bisa temenan sama Max! Hai Max, gue juga salah satu penggemar berat lo!"
Maxime tersenyum ramah, "Salam kenal juga kak..."
"Nggak usah sungkan-sungkan! Aslinya lebih ganteng daripada di TV ya, gantengnya 11 12 lah sama gue!" ucap Kenan dengan percaya diri.
"Dih... Ganteng lo?"
Maxime langsung berusaha mengakrabi Kenan, "Ganteng kok! Lihat, kita juga mirip kan? Sama-sama ganteng dan sama-sama idaman cewek-cewek!" gurau Maxime
"Nah... Yang ganteng aja mengakui kok, iri bilang boss!"
"Idih..."
"Max... Foto bareng yuk! Gue mau pamer ke temen-temen!"
Maxime meng-iyakan saja. Kapan lagi bisa mengakrabi keluarga terdekat Raina. Mereka berfoto bersama sampai banyak.
"Udahlah, gue berangkat dulu ya bang! Pamit dulu, assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam... Jangan lupa balik!"
"Siap bang..."
Maxime ikut berpamitan dengan ramah pada Kenan, "Max pamit dulu ya kak... Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..."
***
Di Mall
Raina senang berjalan dengan Maxime, menurutnya Maxime itu asik dan tidak membosankan. Apalagi mereka satu frekuensi, sama-sama menyukai musik. Membahas apapun pasti sama-sama paham.
"Na... Kamu tunggu di sini dulu ya, aku beli soda sama Popcorn dulu!"
"Iya..."
Sementara Maxime pergi membeli makanan, Raina mengecek ponselnya agar tidak bosan. Sebuah pesan masuk ke ponsel Raina.
From: Oppa tersayang
Di mana? Kenapa nggak pulang
Udah jam berapa ini?
Inget pulang nggak sih!
Raina! Pulang sekarang!
5 Panggilan tak terjawab
Raina Ashalina, lo dimana sih!
Kasih kabar kenapa sih!
Lo dimana? Buruan pulang!
Surya mengirimkan pesan spam ke nomor Raina, Raina hanya memutar bola matanya jengah membaca pesan dari Surya.
"Bales nggak yaa..."
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏
Baca karya lain saya: CEO LICIKKU