My Ketos My Husband

My Ketos My Husband
Bantu



Anak-anak bergunjing tentang Ara saat Ara sedang lewat. Ara masih positif thinking dan berpikir kalau belum ada yang tau masalah ini.


"Moga-moga mereka nggak tau masalah ini, harus gue rahasiain semuanya!" gumam Ara.


Ara berjalan tanpa memperdulikan lagi omongan orang-orang menuju ke ruang pertemuan. Ayahnya tanpa menunggu dengan wajah suram.


"Masuk Ara..."


Suara Bu Arum menginterupsi Ara agar masuk. Ara pun masuk dan mengikuti pertemuan itu dengan serius.


.


.


.


Awalnya Ara hampir tak terbukti, namun tiba-tiba muncul Rahma yang ikut menjadi saksi di pertemuan itu. Dengan kehadirannya Rahma disitu, menjadi bukti untuk kejahatan Ara.


Amel juga dihadirkan disitu, awalnya posisi Ara masih meragukan namun setelah datangnya Rahma, posisi Ara semakin terpojok hingga akhirnya semua terbukti. Semua sudah terbongkar, namun Ara masih saja kekeuh dan tidak mau mengakui kesalahannya.


Tetap saja, kebenaran lebih penting. Ara mendapatkan skors 4 minggu dan ancaman untuk dilaporkan kepada pihak yang berwajib, namun tiba-tiba Amel menghentikan hal itu.


"Maaf Ara, sengaja atau tidak, yang kamu lakukan itu sudah termasuk tindak pidana. Kami sebagai perwakilan pihak sekolah harus membawa kamu ke pihak yang berwajib."


Kata-kata Bu Arum membuat Ara gugup gemetar saat ini. Bayang-bayang menjadi tahanan dan ejekan banyak orang membuatnya takut sendiri. Tangan Bu Arum sudah memegangi Ara siap membawanya keluar.


"Tunggu!"


Suara itu membuat semua mata memandangnya. Amel berdiri dan melepaskan pegangan tangan Bu Arum dari Ara. "Bu, bukankah jika pihak korban memaafkan semuanya, maka masalah ini bisa diselesaikan baik-baik bu?" tanya Amel to the point.


Bu Arum terkejut dengan pertanyaan Amel yang seperti itu, "Maksudnya apa Mel? Kamu mau Ara nggak di hukum?" tanya Bu Arum spontan.


"Saya gak perduli pihak sekolah mau kasih dia hukuman apa, tapi jangan bawa dia ke kantor polisi. Cukup masalah ini kami selesaikan dengan cara kekeluargaan saja bu."


Ara ikut terkejut mendengar pernyataan Amel yang seperti itu, ayah Amel sempat ingin membantah, tapi posisinya benar-benar membuat orang bingung.


Satu sisi mereka masih keluarga dekat, satu sisi Ara memang salah. Ayah Amel masih mengikutinya alurnya, ia sebagai orang dengan profesi jaksa tak mau asal tuntut orang semaunya sendiri.


"Tapi ini hal yang fatal Mel, gak bisa diselesaikan cuma seperti ini. Ini berkaitan dengan nyawa orang!" bantah Bu Arum.


Ayah Surya ikut menyela menengahi, "Bu biarkan Amel berbicara, sebagai korban dia juga punya hak untuk bersuara. Semua yang disini tetap kalah sama yang merasakan semuanya, Mel... Kamu pikir baik-baik, hal seperti ini nggak sepele. Kamu yakin semua diselesaikan hanya dengan kekeluargaan saja?" tanya Ayah Surya.


Amel mengangguk dengan berat hati, "Iya om... Saya selesaikan semua dengan kekeluargaan saja, kalau sekolah bebas memberikan sanksi apa untuk Ara."


Semua orang didalam ruangan itu menghela nafas berat, kesal karena Amel membiarkan begitu saja perbuatan Ara. Tapi para pemegang saham yang lain tak terima, mereka takut kalau Ara juga berani mencelakai anak-anak yang lain. Hal itu pasti akan mencoreng nama baik sekolah.


Setelah mengambil keputusan bersama, Ara diharuskan pindah sekolah jika tidak berurusan dengan polisi. Ayah Ara benar-benar memohon agar Ara tidak dipaksa pindah, tapi suara yang setuju lebih banyak.


"Bapak-bapak tolong tenang! Dari semua suara saya menyimpulkan, bagaimana jika Ara akan pindah tapi setelah ujian semester nanti. Lagipula jika pindah sekarang tentu saja akan sulit untuk Ara," Ayah Surya mengusulkan sebuah saran.


Saran itu diterima cukup baik oleh yang lain, akhirnya mereka sepakat untuk memindahkan Ara setelah ujian dilakukan. Wajah Ara benar-benar pucat pasi saat ini, ia bingung bagaimana nanti harus menghadapi orang-orang juga ayahnya.


Setelah pertemuan itu selesai, Ara keluar dengan lemas. Ia berjalan seperti orang yang pikirannya kosong dan tidak fokus, saat ia melihat Amel, ia langsung mengejarnya dan berterima kasih.


***


Di Koridor


"Mel! Amel..."


Panggilan itu membuat Amel berhenti berjalan dan diam tanpa menengok karena sudah hafal suara siapa.


"Stop!"


Amel memotong ucapan Ara dengan tegas sebelum melebar kemana-mana, "Cukup Ra! Gak usah jadiin orang lain buat kambing hitam, ini semua kesalahan lo sendiri. Yang ngelakuin semua ini lo, ini ide lo juga. Dan juga ini terakhir kalinya gue bantu lo, dan anggep ae semua impas. Setelah ini kita gak ada hubungan lagi, lo gak usah ngomong atau sekedar nyapa gue karena kita udah jadi orang lain."


Amel pergi dengan begitu dingin, ia tak perduli lagi pada Ara. Ia benar-benar marah, tapi bagi Amel ini adalah cara balas dendam paling kejam untuk Ara. Jadikan pengalaman ini sebagai kenangannya seumur hidup.


.


.


.


Ara berjalan dengan tatapan kosong, ia sudah tak bisa berpikir lagi. Gunjingan demi gunjingan ia dengarkan dari setiap sudut sekolah, semua orang sedang membicarakannya. Ia benar-benar stress sekarang, ia tak sanggup melawan opini publik.


Raina melompat-lompat sambil bersenandung untuk mencari Surya, namun tiba-tiba bertemu Ara. Sikap usil Raina keluar lagi.


Raina menghampiri Ara dengan wajah yang benar-benar memelas, "Ara... Kamu nggak papa kan? Kamu kelihatan nggak baik-baik aja," ucap Raina dengan 1000 dramanya.


Ara menatap Raina penuh kebencian yang tak bisa terungkapkan sekarang. Ia hanya bisa diam, rasa takut pada opini publik selalu membayangi Ara.


"Kalo ada masalah, kamu bisa kok cerita sama aku," tambah Raina. Raina menunjukkan puppy eyesnya, "Kalo kamu cerita, nanti aku ketawain. Hahahaha..."


Raina tertawa terbahak-bahak, Ara tampak semakin emosi melihatnya. Ara hanya bisa diam melihat semua tingkah Raina.


"Jadi gini, awalnya gue mau bantu lo sih. Tapi dipikir-pikir lo julid banget loh sama gue dulu, jadi daripada bantuin lo, lebih asik kalo ketawain penderitaan lo aja. Kenapa? Gue kejam? Jangan sok, ini juga yang lo lakuin waktu gue jadi korban kan? Ok gue ada kepentingan, byee...."


Raina melambaikan tangannya anggun, tapi baru beberapa langkah ia menengok, "Oh iya... Kuat-kuatin ya hatinya, jangan bunuh diri loh. Satu lagi, sampai jumpa di podium pemenang cerdas cermat."


Raina melenggang pergi meninggalkan Ara, tak terbayang seperti apa kemarahan Ara. Tapi Ara hanya bisa diam, banyak anak yang sedang memperhatikannya.


***


Malam Hari


Di Rumah Keluarga Pradipta


Raina sedang sibuk bermain game online di ponselnya, tiba-tiba Surya menyusul berbaring disebelah Raina.


"Lagi ngapain?"


Raina hanya melirik sekilas, "Game nih... Udah belajar lo? Awas kalo jadi saingan gue lagi loh.'


Surya memegang Raina manja, "Gak papa... Lagian saingan sama istri sendiri kok, di suruh ngalah pun gue juga mau."


Raina langsung menengok dengan tatapan tajam, "Jangan berani-beraninya lu nyoba ngalah! Persaingan kita harus tetap sehat, lu harus lawan gue secara adil!" tegas Raina.


"Ya udah deh, iya-iya..."


"Lo jadi juara 1 IPA, gue juara 1 IPS. Anj*r keren banget, nah gitu ae lah!"


"Masalah Ara, gue bantu banyak loh... Masa gak mau kasih hadiah?" tanya Surya penuh harap.


"Emang mau apa?"


"Cium boleh?"


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏