My Ketos My Husband

My Ketos My Husband
Terlelap Dalam Pelukannya



Raina pun diam, dengan pelan-pelan dan lembut Surya mengompres pipi Raina yang merah dan membengkak akibat tamparan tadi. Diva sudah pergi untuk mencari teman-temannya yang lain.


"Lain kali kalo mau kemana-mana itu ajak gue dulu! Lo tau kan, spesies jantan 2020 banyak yang nggak bener kayak tadi! Lo itu cewek, harus ngejaga diri! Lagian kalo ajak gue banyak keuntungannya, misalnya... Lebih aman, gak di gangguin, pengen jajan gue yang bayar, pengen beli ini itu gue beliin... Ya setidaknya ajak cowok gitu, Bang Kenan atau siapa gitu! Jangan sendiri..." jelas Surya sambil mengompres pipi Raina.


Raina hanya diam dan mendengarkan ceramah Surya, "Iya... Tadi kan gue nggak liat lo, makanya gue jalan sendiri sama Diva..."


"Ya telfon atau WA kan bisa Nanaaaaa...."


"Mana mungkin! Bisa ilang kepala gue kalo ngajak lo buat liat cogan Sunda!" batin Raina yang tidak berani ia ungkapkan pada Surya.


"Nanti gimana?"


Surya masih sibuk mengompres Raina, "Gimana apanya?"


"Ya kalo ayah bunda tau? Gue nggak enak..."


"Gak enak kenapa?"


"Ya berangkat sehat, pulang kok babak belur... Gue bingung jelasinnya..."


Surya tersenyum, "Nggak usah khawatir... Ayah sama bunda itu orangnya pengertian, mereka pasti ngerti! Lagian biasa kali kalo cowok luka gini..."


Plaakk....


Raina memukul pundak Surya ringan karena kesal, "Biasa-biasa... Biasa apanya? Gak baik tau nggak!"


"Duh sakit Na..."


"Ya kan nggak sengaja! Makanya jangan bikin kesel!"


"Nggak bisa ya, bilang maaf aja? Jangan ceramah, ini bukan sesi Khutbah..."


"Gak usah... Maaf-maafannya nunggu lebaran aja ya..."


Surya hanya memutar bola matanya jengah, "Susah banget suruh minta maaf! Gengsinya segede langit!"


"Emang lo tau seberapa gedenya langit?"


"Ya mana gue tau... Itu kan perumpamaan aja!"


"Katanya Anak IPA..." sindir Raina.


Surya kesal saat Raina menyindirnya, "Ya lo pikir gue bakal ukur langit pake meteran gitu? Pake penggaris? Pake jangka sorong?"


"Nggak sih... Gue bayanginya lo ngukur langit pake mikrometer sekrup aja kok."


"Ya terus anak IPS kenapa nggak ngitung keuntungan ekonomi negara pake kalkulator?"


"Bukan haknya lah... Ya lo pikir gue mau kalkulasi kehidupan ekonomi 268 juta penduduk Indonesia?"


"Ya udah nggak usah berantem. IPA dan IPS itu ada untuk saling melengkapi, bukan mendominasi. IPS mempelajari hal-hal di masa lalu, IPA mempelajari hal-hal untuk masa depan!"


Raina mengerutkan keningnya karena berpikir, "IPS masa lalu, IPA masa depan, trus yang mempelajari masa sekarang siapa ya?"


"Eh iya juga!"


Mereka berdua sama-sama saling berpikir keras karena celetukan konyol dari mulut Raina.


"Nanaaaaa....."


"Raina...."


"Deeekkkk...."


Teriak demi teriakan mulai terdengar, dapat dikenali kalau itu suara Dika, Faris dan Kenan. Mereka bertiga berlari untuk melihat keadaan Surya dan Raina.


"Na lo nggak papa? Ya, lo nggak papa?" tanya Kenan dengan panik.


Raina berbalik, "Ya dilihat lah... Kita kenapa, masih aja nanya. Perasaan punya mata deh..."


"Ya biar kayak di sinetron-sinetron gitu! Nggak peka banget sih lo!" kesal Kenan.


"Kok bisa kayak gini sih? Siapa yang ngelakuin itu? Ris, ambil golok! Siap-siap tawuran kita!" ucap Dika dengan amarah yang berapi-api.


"Berapa golok, berapa pisau?" tanya Faris yang tak kalah emosi.


Surya melihat teman-temannya yang siap tempur langsung berusaha menenangkan mereka, "Lah kalian mau ngapain? Udah biarin aja napa! Mereka jumlahnya banyak, mending kita packing segera trus pulang..."


"Gak takut gue sama mereka yang banyak... Kalah jumlah, tapi menang nyali men!" bantah Dika.


"Mereka berani ngijak, kita berani nampar!" tambah Faris.


Raina hanya memegangi keningnya, "Udah biarin! Tawurannya next time aja, gue lagi nggak fit... Kalo gue udah sehat, otw bareng kita!"


Surya terkejut mendengar reaksi Raina, "Maksudnya apa? Jangan bilang lo pernah ikut tawuran?!"


Raina langsung sok b*doh dan sok sibuk, seolah-olah tidak ditanyai oleh Surya, "Eh hm... Langitnya bagus ya, liat deh... Wah pemandangannya juga bagus, jadi nggak pengen pulang. Ya kan Dik, Ris..."


"Oh iya! Wah ada burung..." ucap Dika mengalihkan perhatian.


"Burung apa tuh..." gurau Faris


"Burung terbang... Liat, ada mobil terbang. Eh maksudnya pesawat terbang..."


"Jangan alihin perhatian! Lo pernah ikut tawuran?!" tanya Surya dengan tegas.


"Nggak pernah... Cuma sekali, eh maksudnya enggak pernah gitu!"


Surya menatap Raina dengan mata berapi-api, seperti singa yang siap menerkam mangsanya.


"Aww... Pipi aku sakit banget, guys pipi aku merah ya? Ya ampun sakit banget..." ucap Raina dengan sikap imutnya.


.


.


.


***


Di Perjalanan Pulang


Semua packing barang masing-masing dan pergi pulang setelah siap, di jalan mereka bersenang-senang sambil bernyanyi dengan musik dari mobil.


Mobil lebih longgar karena Maxime tidak ada. Raina, Surya dan Faris berada di mobil Surya. Faris mengemudikan mobil menggantikan Surya. Raina dan Surya memilih duduk di belakang.


"Ay... Seumpama nanti kita tidur di rumah gue dulu gimana? Buat beberapa hari aja sampe luka ini sembuh dulu, gue bener-bener nggak enak sama ayah bunda..." pinta Raina dengan wajah memelas.


Surya tersenyum dan mengelus rambut Raina lembut, "Ya udah terserah... Gue ngikut aja deh."


"Makasih..." ucap Raina sambil memeluk Surya.


"Ehem.... Di mohon kepada bapak ibu agar tidak menyebar ke-uwuan dalam mobil, di karenakan jiwa kejombloan saya meronta-ronta melihatnya. Bapak ibu bisa melanjutkannya saat saya sudah punya istri saja..." ucap Faris dengan menirukan ucapan khas pramugari.


"Hahahaha.... Jomblo ya? Sini aku temenin..." gurau Surya


"Aku bisa membuatmu... Jatuh cinta kepadaku..."


"Stop! Ga boleh! Lo cuma boleh cinta sama gue, gak boleh sama Faris!" larang Surya dengan sikap posesifnya.


"Iya-iya! Gue milik lo doang... Udah bungkus nih bungkus..."


Faris semakin kesal dengan tingkah keduanya, "Hotspot coba... Gue mau unduh Tan-Tan!"


"Hahaha...."


***


Di Rumah Raina


Raina dan Surya memutuskan untuk tinggal di rumah Raina dulu hingga luka-luka mereka sembuh.


"Buruan mandi gih biar seger... Gue tunggu, sholat Maghrib bareng ya..." ujar Raina tiba-tiba.


"Astagfirullah... Mimpi apa gue semalam kok tiba-tiba lo ngajak sholat duluan? Habis ruqyah dimana?" tanya Surya panik.


Raina menatap Surya datar, "Ya lo pikir gue harus di ruqyah dulu biar inget sama yang di atas? Sadar atau enggak, selalu ada yang nungguin gue. Dia selalu care dan selalu ngawasin gue!"


"Siapa!?"


"Malaikat Izrail contohnya..."


"Udah tau di tungguin, malah sering buat maksiat. Nyia-nyiain waktu, nggak mau belajar, ngomong kasar, suka bolos, malah kadang pake baju haram pula..."


"Makanya... Jadi suami harus ingetin istri juga!"


"Kalo gitu, jadi istri kalo di ingetin suami jangan ngeyel mulu! Gue lelang di pasar organ juga lama-lama!"


"Udah sana buruan! Keburu adzan!"


"Hmm..."


Surya mandi dan menunaikan ibadah kewajibannya sebagai seorang umat. Mereka beristirahat setelah sholat Isya, badan yang luka membuat mereka lebih cepat mengantuk.


"Ayo tidur! Nggak ngantuk?" tanya Raina.


"Iya bentar..."


Surya langsung naik ke ranjang dan memposisikan tubuhnya di samping Raina untuk segera tidur.


Namun ketika matanya mulai terpejam, "Ay..." panggil Raina.


"Apa?"


"Boleh peluk?"


Surya yang terkejut langsung membuka matanya, "Hah apa? Coba di ulang!"


"Gue takut nanti lo pergi... Boleh peluk?"


Surya tersenyum melihat istrinya yang bertingkah layaknya wanita normal yang membutuhkan kasih sayang. Surya langsung memeluk Raina tanpa aba-aba, tangan kekarnya mengelus rambut Raina lembut.


"Jangan pergi ya... Di sisi gue terus..." bisik Raina.


Surya tersenyum girang mendengarnya, "Iya... Jangan khawatir..."


Raina membalas pelukan Surya, dan perlahan-lahan Raina terlelap dalam tidurnya di pelukan Surya.


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏


Kayaknya ada yang nggak lihat eps 1 dengan teliti ya, Nih yang minta visual si couple gesrek fav. kalian....


Raina



Surya