
"Surya nggak di ajak?" tanya Maxime yang ikut nimbrung.
Raina terdiam mendengar pertanyaan Maxime, di satu sisi ia ingin mengajak suaminya berlibur, tapi di sisi lain ia ingin menenangkan dirinya sejenak.
Menyadari adiknya yang sedang bingung, Kenan menarik Raina agak menjauh dari yang lain. Ia berbicara dengan lirih agar yang lain tidak dengar.
"Kamu nggak ngajak Surya?" bisik Kenan
"Pengen ajak sih... Tapi Nana juga pengen tenangin diri dulu bang, setelah liburan nanti Nana berencana untuk perbaiki hubungan kita. Tapi bukan sekarang waktunya, Nana pengen refreshing dulu..." jelas Raina pada Kenan dengan lirih.
Kenan hanya mengangguk saja menyetujui ucapan adiknya. "Boleh kamu Self Time dulu, tapi harus tetep bilang sama Surya. Mau gimanapun, dia tetep suami kamu loh!" tutur Kenan.
Raina hanya mengangguk, ia segera mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Surya.
To: Oppa tersayang
Ay, gue pergi liburan dulu sama bang Kenan. Jangan khawatir, gue bareng bang Kenan kok. Kira-kira 3 hari.
Raina semakin tenang setelah mengirim pesan pada Surya, ia tersenyum tulus melihat Kenan. Ia bangga memiliki kakak yang selalu bisa di andalkan.
"Makasih bang... Selalu di samping gue apapun yang terjadi..."
"Iya, apapun yang terjadi, gue bakalan selalu di samping adik gue tersayang dong... Btw, temen lo cantik juga ya!"
Raina mengernyitkan dahinya, ia menatap Diva dan Naya yang sedang bercanda. "Yang mana? Temen gue kan dua ceweknya."
"Yang itu loh, yang pake baju merah..."
Raina langsung melihat temannya, ada 2 anak yang memakai baju merah, yaitu Diva dan Faris. "Bang... Lo suka sama Faris?" tanya Raina menerka-nerka.
"Anj*r! Gue masih lurus ya! Maksud gue yang cewek sayang..."
Raina tertawa renyah mendengar pengakuan sang kakak yang masih lurus. "Hahahaha... Gue kira ada masalah sama perasaan lo bang. Itu Diva, lo cek deh ig-nya. Dia itu influencer loh, followersnya banyak."
"Dih, lo pikir gue pengen pansos? Gue cuma mau kenalan aja kali..."
Raina terkekeh, "Ya udah iya... Boleh kok, anaknya baik. Tapi gue ingetin ya, itu anak omongannya pedesnya ngalah-ngalahin cabe, lebih tajem dari pisau dan ceplas-ceplos tanpa filter."
"Gak papa! Gue terima ada apanya!" ucapan Kenan dibalas dengan tatapan menohok dari Raina. "Eh maksudnya apa adanya..." ralat Kenan.
Raina memberikan lirikan tajam lalu pergi untuk bergabung dengan yang lain lagi. Selesai mengangkut semuanya, mereka berangkat menuju Bogor. Panas dan macet tidak menggugurkan semangat mereka untuk liburan.
Kenan menyetir, Maxime menemani Kenan di depan. Ada Arkan, Dika dan Faris di tengah. Raina, Diva dan Naya berada di belakang. Suasana mobil tampak aneh karena tiba-tiba Arkan menjadi pendiam dan tidak banyak bicara.
"Ar... Lo kenapa sih? Tumben diem, sariawan lo?" ejek Dika untuk mencairkan suasana.
"Iya tuh... Mingkem mulu, tumben deh. Ambyar lo?" imbuh Faris.
"Kaga papa, cuma mau belajar jadi cool boy yang kalem gitu aja." jawab Arkan sambil tersenyum namun terpaksa.
"Jangan jadi cowok kalem bro! Sia-sia lo belajar jadi fucek boy selama ini..." ejek Raina
"Menohok sekali ucapan anda..." gurau Arkan dengan senyum yang dipaksakan.
"Terima kasih... Ilmu ini saya dapatkan dari sang ahli. Bapak Kenan sang rapper ahli dan Ibu Diva, pelopor lambe turah Indonesia!" gurau Raina sambil tertawa renyah.
"Anj*r! Gue cewek kalem gini kok, dari mananya gue banyak b*cot?" bantah Diva yang tidak mau kalah.
Naya ikut bersuara, "Kamu nggak banyak b*cot kok Div, cuma kalo ngomong bar-bar dan nggak pake filter..." jawab Naya dengan senyum manisnya.
Semua yang ada di dalam mobil tertawa bersama, selama perjalanan, Kenan, Arkan dan Diva selalu jadi bahan lelucon dan bahan bullyan. Mereka bertiga heran, sudah di jadikan lelucon bukannya marah tapi malah ikut tertawa. Apakah ini menandakan kalau selera humor mereka receh?
***
Di Rumah Keluarga Pradipta
From: Istri Tersayang
Ay, gue pergi liburan dulu sama bang Kenan. Jangan khawatir, gue bareng bang Kenan kok. Kira-kira 3 hari.
Surya langsung membalas pesan Raina secepat kilat.
To: Istri Tersayang
Kemana? Di mana? Sama siapa aja? Trus kapan pulang? Boleh nyusul? Kamu nggak papa kan? Udah pasti 3 hari pulang? Apa nggak bisa di percepat pulangnya?
Surya masuk ke kamar dan menaruh ponselnya di atas meja. Hampir 30 menit ia hanya duduk memandangi ponselnya sambil menunggu balasan Raina.
"Ini anak ketiduran apa ngapain sih? Susah banget di suruh bales aja, bales WA kan paling beberapa detik doang!" gumam Surya kesal.
Surya akhirnya pergi untuk melakukan hal lain agar tidak terlalu fokus pada ponselnya. Malam hari ia kembali mengecek ponselnya, namun tetap belum ada balasan dari sang istri tercinta.
Surya mulai memikirkan hal yang aneh-aneh, "Ya Allah... Tolong berikan hidayah pada istriku agar segera membalas pesanku! Apa dia tersesat? Bannya bocor? Atau diganggu cowok lain? Apa jangan-jangan....” pikir Surya yang mulai kemana-mana.
Surya menggelengkan kepalanya agar segera sadar dari lamunannya. "Nggak boleh, jangan mikir aneh-aneh Surya! Mending tanya bang Kenan. Allahuakbar, iya juga ya... Dia kan sama bang Kenan. Kenapa nggak tanya bang Kenan aja sih? Dasar, ni otak kadang loading mulu!" gumam Surya kesal sendiri.
Surya langsung mengirimkan pesan pada kakak iparnya itu karena tidak sabar menunggu kabar dari Raina.
To: Bang Kenan
Bang, Raina sama kamu nggak? Kalian liburan bareng kan? Di mana? Kapan pulang?
Tak perlu waktu lama, Kenan langsung membalas pesan Surya barusan.
From: Bang Kenan
Iya, kenapa? 3 hari lagi baru pulang.
Tidak sabar, Surya langsung menelfon Kenan untuk meminta kejelasan atas semuanya.
"Halo bang..."
"Iya Ya, kenapa?"
"Raina di mana? Dia baik-baik aja kan? Kapan pulang? Trus kalian liburan di mana?"
"Raina lagi tidur di kamarnya sendiri sama Diva Naya. Kita lagi liburan di Bogor, emangnya Raina nggak pamit kamu? Nggak WA?"
"WA sih bang... Tapi WA nya nggak jelas. Makanya aku tanya abang aja..."
"Oh gitu, ya udah gue mau ke kamar mandi dulu ya! Kebelet!"
"Iya bang, makasih infonya..."
Surya sedikit tenang mendengar penjelasan Kenan. Surya memikirkan cara untuk minta maaf pada Raina, kemarin bundanya sudah berbicara pada Raina, tapi sikap Raina tak ada perubahan.
"Menurut hukum fisika, perubahan sama dengan usaha di bagi gaya. Semakin besar usaha, maka semakin besar juga perubahannya. Namun jika gaya lebih besar dari usaha, maka perubahan bisa menjadi minus. Berarti, menurut hukum fisika, gue harus banyak usaha biar Raina juga berubah..."
"Semakin besar usaha yang gue buat, maka semakin besar juga perubahan Raina. Jadi, gue nggak boleh banyak gaya dan harus banyak usaha. Jangan sampai perubahan Raina malah minus, emang ya pencetus hukum fisika jenius. Apa jangan-jangan pencetus hukum fisika itu pakar cinta ya?" gumam Surya tak jelas.
Surya benar-benar berpikir harus apa agar Raina tidak marah padanya. Apapun harus dilakukannya. Menurutnya, semakin besar usaha, maka semakin besar pula perubahannya.
"Apa gue susulin aja ke Bogor ya?" gumam Surya sambil berpikir.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏
Menurut kalian, Surya harus apa nih? Komen di bawah ya...😇