My Ketos My Husband

My Ketos My Husband
Berputar-Putar



Surya mengerutkan dahinya dan mencoba berpikir apa arti kata-kata Kenan yang sebenarnya.


"Astagfirullah bang... Bukan yang itu maksudnya!"


Surya mencoba menjelaskan semuanya, namun Kenan tak perduli lagi. Surya hanya mencoba bersabar dengan sikap kakak iparnya yang satu ini.


"Adeknya galak, kakaknya suka mikir hal-hal aneh. Gini banget hidup gue ya Allah..."


***


Sore Hari


Naya sedang jalan-jalan di kebun bersama Arkan. Arkan mencoba bercerita pada Naya, karena Arkan pikir Naya itu pendiam dan tidak akan membuatnya semakin terpuruk.


"Gue cerita ke Naya aja deh... Karena definisi pendengar yang baik adalah anak introvert! Ya gue pinter banget, harusnya gue jadi dokter kalo tau otak gue segini pinter!" batin Arkan sambil senyam-senyum.


"Kok senyam-senyum Ar?" tanya Naya


Arkan langsung tersadar dari lamunannya, "Oh enggak kok! Menurut lo... Gue ini cowok yang kayak gimana?"


Naya berpikir sejenak, "Baik, ganteng, nggak jahat, nggak jelek, baik banget, ganteng banget, baik, ganteng..."


"Nay jangan di ulang-ulang ya... Kita nggak ngapalin rumus loh ini..."


"Hehe iya deh... Hm, kelihatan cowok asli, cowok normal, cowok sehat... Ya pokoknya gitu deh..."


Arkan cukup mendengar pendapat Naya. Maksudnya hanya baik, tampan dan laki-laki normal. Hanya saja di jelaskan satu-persatu dengan bahasa yang berbeda.


Arkan bergumam, "Harusnya ini anak masuk kelas bahasa!" Arkan mulai kembali fokus pada Naya. "Jadi... Kenapa gue masih di tolak cewek ya? Apa gue sejelek itu? Semiskin itu? Alasannya nolak gue bener-bener kena di hati, cuma karena gue jelek, miskin, nggak punya apa-apa, nggak famous. Gue yang jeleknya nggak ketulungan apa ceweknya yang standarnya ketinggian ya?"


"Bukan semuanya... Cuma kamu kurang bersyukur aja, ada yang nunggu tapi malah ngejar orang yang makin lama makin nyakitin diri kamu..."


Arkan berhenti berjalan dan menengok ke arah Naya. "Maksudnya?"


"Ya ada orang yang bener-bener nunggu kamu, dan kamu malah milih orang yang nungguin orang lain. Dan tanpa sadar kamu juga di tunggu si dia sampai kapanpun..."


"Ya elah Nay... Siapa juga yang naksir gue? Orang gue aja kayak gini orangnya."


"Aku..."


Arkan tertegun dan seolah suaranya tercekat di tenggorokan, "M-maksudnya?"


"Aku suka kamu Ar..."


Arkan kesulitan menelan salivanya sendiri, ia tak menyangka gadis pemalu didepannya ini sedang mengutarakan perasaannya.


"Lo ini bercanda mulu... Nggak lucu kali Nay..." bantah Arkan dengan tatapan yang dialihkan.


"Aku nggak bercanda! Aku serius..."


"Mana mungkin? Lo pasti main Truth or Dare kan? Nggak mungkin deh..."


"Aku serius! Aku suka sama kamu! Kamu gimana?" tanya Naya dengan mata berbinar.


Mata Naya yang terlihat berbinar dan polos membuat Arkan tak mampu berkutik, ia hanya diam dan hendak pergi karena terlalu gugup.


"Ehm... Gue pikirin dulu ya, gue.... Gue pergi dulu daahh!" Arkan berbalik dan berjalan cepat meninggalkan Naya tanpa jawaban karena gugup.


"Arkan!" teriak Naya. Teriakan Naya berhasil membuat Arkan berhenti berjalan dan menengok.


"Iya?"


"Kalo mau nangis ngomong!"


Arkan mengerutkan dahinya bingung, "Nangis? Buat apa dan kenapa?"


"Nanti aku beliin tisu, aku kasih tisu gratis aku!" teriak Naya dengan lantang tanpa ragu.


Hal tersebut pastinya membuat Arkan semakin salah tingkah. Ia langsung pergi begitu saja tanpa pikir panjang. Sedangkan Naya sudah panik dan merasa b*doh harus mengatakan semuanya.


"Aahh... Aku b*go banget sih! Berani banget aku ngomong kayak gitu? Kalo di tolak gimana? Pertemanan kami malah semakin jauh... Kalo dia ilfeel gimana? Ah b*go aku b*go! Semua ini gara-gara film semalem pokoknya! Aku nggak salah..."


Naya merogoh sakunya dan mengeluarkan hp brandednya, ia mengklik nama 'Mama' di layar ponselnya.


"Halo sayang... Gimana liburannya? Asik kan?"


"Mama... Nanti pulang liburan langsung urus dokumen Naya ya ma... Naya mau pindah sekolah!"


"Hah kenapa? Kamu ada masalah apa? Ada yang bully? Ada yang nyakitin kamu? Bilang mama! Nyawanya dobel apa?"


"Nggak gitu... Dahlah, pokoknya kalo pulang liburan Naya masih murung, berarti Naya minta pindah sekolah ya ma! Udah dulu ya ma, byeee...."


Ucapan mamanya terpotong karena Naya lebih dulu mematikan telfonnya. Ia sudah menyiapkan mentalnya, saat di tolak nanti, Naya lebih memilih pindah sekolah saja lah.


"Ya Allah... Berapa banyak dosaku hingga mulut ini berbicara sembarangan seperti itu! Apa aku ta'aruf aja ya biar nggak nambah-nambah dosa?" pikir Naya


"Ta'aruf apanya? Aku kan masih SMA, gak pernah deket cowok, bahkan nembak cowok aja malah di cuekin... Ya Allah, begitu berat ujianmu!"


***


Malam Hari


Semua berkumpul di balkon lantai 2 untuk makan bersama sambil melihat pemandangan dari lantai 2.


"Hai semua..." sapa Naya yang baru datang.


"Muncul juga ni anak! Di tunggu loh dari tadi..."


"Maaf, masih nyari hp dulu. Tadi lupa taroh hp dimana..."


Bruaak...


Arkan yang hendak duduk terjatuh karena terlalu gugup melihat Naya. Hal itu membuat Arkan belum sempat di posisi yang pas, ia sudah duduk duluan.


"Eh Ya Allah... Lo kenapa Ar?" kaget Raina


Diva hanya geleng-geleng kepala, "Mabok lo?"


Dika dan Faris hanya numpang ngakak saja, tidak berniat membantu ataupun bertanya kepada Arkan.


"Duh... Pantat gue Ya Allah!" keluh Arkan sambil memegangi pinggangnya.


Naya yang sedikit khawatir pun ikut bertanya, "Kamu nggak papa Ar? Kamu baik-baik aja kan?"


Arkan langsung spontan berdiri dan melompat-lompat seolah tak terjadi apapun, "Nggak... Nggak papa kok, biasa ini mah! Namanya juga cowok..."


"Masaa...." ledek Dika dan Faris


"Syukur deh... Eh Na, Div... Kalian udah lihat kebun bagian timur apa belum? Pemandangan sunset nya bagus banget loh..." ucap Naya untuk menutupi rasa gugupnya.


"Hah masa? Kok lo tau? Lo udah kesana?"


"Udah tadi..."


"Kok nggak sama kita? Sama siapa lo perginya?"


"Sama Arkan..."


Byurrr....


Arkan menyemburkan minuman di mulutnya, Dika dan Faris langsung memukul ringan pundak Arkan karena kesal.


"Anj*r! Jorok banget dah lo..."


"Ni anak ngapa sih?"


Raina menengok dan memiliki ide untuk menjahili Arkan, "Lo kenapa? Harusnya biasa aja kan? Apa jangan-jangan gugup gara-gara jalan sama Naya ya?"


"Hah? Enggak? Kata siapa? Kita cuma jalan-jalan biasa kok, ya kan Nay..." kata Arkan untuk meyakinkan teman-temannya.


"Iya... Jalan-jalan biasa kok..."


Diva pun ikut ambil alih, "Jangan-jangan kalian ada sesuatu yang nggak kita tau ya? Cerita napa... Kalian saling suka? Atau bahkan kalian udah jadian?"


Naya langsung melotot mendengarnya, "Hah? Enggak kok... Cuma temen!" bantah Naya.


"Iya... Kita cuma temen, gue suka dia. Astagfirullah, maksudnya suka karena temen. Kan dia temen deket gue, duh maksudnya temen yang deket tapi nggak deket banget, nah... Temen sebangku, kan kita jadi temen deket. Cuma temen deket, makanya gue suka dia! Jadi kita temen gitu, temen kan Nay?" jelas Arkan yang tidak dapat dipahami karena terlalu berputar-putar.


Teman-teman yang lain hanya tersenyum penuh arti, mereka semua menatap fokus ke arah Arkan. Hal itu membuat Arkan semakin gugup.


"Iya cuma temen yang saling suka gitu... Maksudnya temen suka, eh, suka temen, Ya Allah.... Suka karena temen, gitu deh..." jelas Naya yang semakin berputar-putar.


"Jadi kalian berdua sama-sama saling suka? Gitu?" tanya Surya to the point.


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏


Nana itu cantik, baik, kalem, feminim, nggak banyak tingkah, kata-katanya lemah lembut, pinter banget dan sering juara 1, tapi... Tapi apa hayo 😂