My Ketos My Husband

My Ketos My Husband
Pagi



Brakk...


Raina membanting pintu tepat didepan Surya, Surya terkejut dengan sikap Raina. Raina langsung pergi menuju kamar tamu dan mengunci dirinya didalam sana.


Surya berlari mengejar Raina, Surya menggedor-gedor pintu kamar tamu agar Raina membukanya, tapi tetap saja pintu tertutup.


Surya berteriak dari luar dengan harapan Raina akan membukakan pintu untuknya, "Na... Raina! Buka dulu Na, gue minta maaf... Tadi nggak sengaja. Gue nggak niat gitu, tapi tolong ngertiin gue Na! Buka Na... Jangan kayak gini Na..."


Mendengar suara keributan, ayah Surya turun untuk mengecek keadaan. Ayah Surya kebingungan melihat Surya yang menggedor-gedor pintu.


"Boy... Kamu ngapain di situ? Gedor-gedor pintu buat apaan? Tinggal masuk aja lah..." ujar Ayah Surya


Surya berjalan menghampiri ayahnya, merasa kalau Surya sedang terkena masalah, ayahnya mengajak Surya duduk di sofa.


"Sini duduk dulu sama ayah..." ucap Ayah Surya sambil menepuk-nepuk sofa.


Surya duduk di samping ayahnya dengan ekspresi kacau, "Yah... Ayah pernah berantem sama bunda?" tanya Surya


"Kamu ini tanya apaan sih? Ya jelas pernah lah, sering juga, tapi selalu berakhir baik. Kenapa tanya gitu? Kamu berantem sama Raina?" tanya Ayah Surya dengan senyumnya yang mengembang.


Surya menjawab pertanyaan ayahnya dengan anggukan. Ayahnya mengelus kepala Surya lembut, "Emang berantem karena apa? Kok Raina sampe marah gitu? Raina kan bukan tipikal anak emosian..."


"Masalah nilai yah..."


Ayahnya mengerutkan dahi, "Nilai? Emang nilainya kenapa? Ada apa?"


"Jadi hari ini kan pembagian rapor, tadi Surya lihat rapor Raina. Banyak nilai Raina yang jauh di bawah KKM. Surya sih niatnya mau kasih masukan aja, tapi karena terlalu capek dan emosi, Surya malah nggak sengaja bentak Raina. Sekarang Raina tersinggung, marah dan lagi hindarin Surya. Sekarang Surya harus apa dong yah?" tanya Surya meminta masukan.


"Gini ya... Cewek itu emang kadang kalem tapi kadang juga pecicilan. Kamu lihat bunda kamu, orangnya emang banyak tingkah, tapi sebenarnya hatinya sensitif. Dikit-dikit tersinggung, dikit-dikit marah, ayah sering berantem dan jengkel sama sifat bunda kamu. Tapi mau gimana lagi? Ayah nikah sama bunda itu pilihan ayah, mau nggak mau ayah harus terima bunda apa adanya, bukan ada apanya... Dan ingat juga pepatah lama ini ya, orang nikah itu bukan semata-mata karena menjalankan ibadah, tapi harus bisa mengimbangi semuanya. Contohnya, kalau yang satu api, yang satu harus air. Yang satu panas, yang satu harus dingin!"


Surya berpikir sejenak, "Maksud ayah... Kalo ada masalah, yang satu marah, yang satu harus bisa tenang dan ademin suasana?"


"Nah itu kamu paham! Kita sebagai suami harus bisa tegas sama istri, tapi tegas bukan berarti keras atau memukul kan? Kita harus bisa tegas tapi jangan sampai menyakiti perasaan istri dengan sengaja. Ingat boy, bunda kamu itu perempuan, tante kamu perempuan, sepupu kamu banyak yang perempuan, jadi jangan sekali-kali kamu menyakiti hati perempuan. Kalo kamu berani menyakiti hati perempuan dengan sengaja, sama saja kamu menyakiti hati bunda kamu, orang yang melahirkan kamu. Meski ayah ini orang tua kamu, bukan berarti ayah bisa selalu ikut campur sama urusan kamu, soalnya kamu udah punya rumah tangga. Ayah yakin kamu udah dewasa dan bisa menyelesaikan semuanya! Semangat ya boy!"


Surya merespon ucapan ayahnya dengan senyuman dan anggukan. Surya sedikit tenang dan membaik setelah bercerita dengan ayahnya.


"Makasih yah udah mau dengerin Surya cerita dan mau kasih masukan..."


"Iya... Ya sudah, ayah mau nonton TV dulu ya! Kamu baik-baik sama Raina, masa depan kamu masih panjang!" ucap Ayah Surya sambil beranjak pergi.


"Siap yah..."


Surya memilih membiarkan Raina sejenak agar lebih tenang, ia tak mau masalah semakin memanas karena dibahas dengan perasaan yang kacau.


***


Di Dalam Kamar Tamu


Raina diam-diam meneteskan air matanya sambil memeluk guling disampingnya. Tanpa menyiapkan apa yang ia perlukan besok, Raina tertidur di kamar tamu.


***


Pagi Hari


Pukul 04.30


Entah kenapa Raina terbangun lebih awal hari ini, ia keluar diam-diam dan melihat jam didinding. Raina diam-diam masuk ke kamar Surya untuk mengambil kostum Cheerleader, dompet, ponsel dan kunci motor.


Ia diam-diam menulis pesan di Sticky Note lalu menempelkannya di pintu kulkas dapur.


"Bi... Nanti kalo orang-orang nyariin Nana, bilangin aja Raina ke rumah Diva buat main. Love you bi..."


"Moga aja tu anak udah bangun... Belum bangun, gue tabrak pintu rumahnya!" gumam Raina di jalan.


***


Di Rumah Diva


Nampak rumah Diva sedikit gelap dan minim penerangan, mungkin karena adzan belum berkumandang dan matahari juga belum menampakkan dirinya. Raina menelfon Diva agar keluar rumah.


"Angkat dong woy... Ni anak ngapain sih!"


"Halo... Maaf, nomor yang anda tuju sedang sibuk, orangnya masih tidur. Silahkan hubungi setelah Diva bangun!"


"Heh... Ini gue! Bangun nak..."


"Siapa? Pak Rudi ya?"


"Pak Rudi palalu peang! Raina, sayang..."


"Hah? Raina? Ngapain jam segini telfon sih? Mau jemput matahari lo?"


"Turun gih... Gue di bawah..."


"Nggak usah nge-prank! Nggak lucu, ngapain pagi-pagi kesini! Udah gue tutup ya, gue masih ngantuk!"


"Lo nggak turun sekarang, gue tabrak pintu rumah lo!"


"Coba aja kalo berani!"


Diva mematikan ponselnya sebelum Raina berkata-kata, Raina kesal sendiri. Ia menyalakan motor Ninja Kawasaki 4 tak milik Surya itu, lalu mulai memblayer dengan suara sedikit keras.


Bruummm.... Bruumm...


Diva terkejut mendengar suara mesin motor, ia langsung berlari turun untuk membuka pintu. Alangkah terkejutnya ia saat melihat Raina dengan muka bantalnya.


"Raina? Lo beneran di sini? Ini gue nggak mimpi kan?" tanya Diva tak percaya


"Perlu gue tabrak biar bangun? Yuk ikut gue!" ajak Raina


"Kemana?"


"Udah ikut aja napa!"


"Kemana dulu?"


"Dahlah ayo naik!"


Dengan nyawa yang belum terkumpul, dan baju piyamanya Diva naik motor bersama Raina. Raina memutar balikkan motornya lalu pergi begitu saja tanpa aba-aba.


"Na... Yang bener aja deh, ini mau kemana? Gue masih ngantuk, rambut berantakan, baju gini doang, gimana kalo fans gue lihat?" tanya Diva khawatir


"Santai... Gue tinggal bilang kalo lo orang gila, pasti mereka pikir kalo salah orang..."


"Lo yang gila! Adzan aja belum, ini mau kemana?"


"Menurut lo kita kemana?"


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏