
Ibu Amel menyela, "Kamu dorong Amel kan?! Dasar anak nggak tau diri, gara-gara kamu sekarang Amel gegar otak! Hiks..."
Raina seolah terpukul dengan kata-kata ibu Amel yang menyalahkan dirinya atas semua situasi ini.Ayah Amel yang melihatnya mencoba melerai,"Ma sudahlah! Semua nggak akan selesai kalo cuma berantem!"
"Tapi dia celakain anak kita pa!Dia yang buat Amel celaka tau nggak!"cetus mama Amel.
Ayah Amel berusaha meredam amarah mama Amel, dan mulai menanyakan satu persatu pada Raina yang masih bengong dengan tatapan kosong.
"Raina...Lebih baik kamu jujur nak,berbohong tak akan menyelesaikan semuanya.Kenapa kamu dorong Amel sampai jatuh?" Ayah Amel berusaha membujuk Raina agar jujur.
Tapi dipaksa seperti apapun tak akan ada hasilnya karena memang Raina tak melakukan hal tersebut.Hatinya terlalu kacau saat ini untuk menjawab semua pertanyaan yang menyerbunya.
"Na...Kamu kenapa?Coba jelaskan."
Raina menjelaskan semuanya dengan nafas tersengal-sengal karena tangisannya yang tak kunjung berhenti. Namun tetap saja tidak ada yang mempercayainya,tak lama kemudian, Ayah dan Bunda Surya datang menghampiri Raina.
Ayah berjalan dengan gagah dan menyela semua pembicaraan,"Maaf bukannya saya tak sopan. Tapi pembicaraan ini tak baik jika diteruskan, situasinya begitu tak mendukung. Mari kita bicarakan lagi dengan baik-baik dan setelah Raina benar-benar tenang. Jika masih seperti ini, masalah juga tidak akan selesai."
Setelah berdiskusi beberapa saat dengan Ayah Amel, akhirnya Raina dibawa pergi dulu untuk menenangkan diri terlebih dahulu.Bunda langsung merangkul Raina pergi dan mengajaknya menjauh terlebih dulu dari keramaian.
***
Raina duduk di bangku panjang dengan sebotol air mineral ditangannya, tatapannya kosong, wajahnya pucat dan tanpa ekspresi membuat orang-orang khawatir.
Bunda mengelus punggung Raina dan bertanya dengan lembut,"Raina...Raina gimana?Udah baikan?" tanya bunda yang dibalas anggukan Raina."Apa sih yang sebenarnya terjadi?Kok bisa sampai seperti ini?"
Raina menjelaskan beberapa inti permasalahannya pada Bunda,bunda paham dan percaya kalau Raina tak bersalah.Tapi orang lain perlu bukti,bukan omongan belaka.
Hari itu Raina diberi jeda 1 hari untuk menenangkan diri, sedangkan Amel yang terkena gegar otak ringan masih belum sadar. Sungguh keajaiban jika Amel hanya terkena gegar otak ringan.
***
Keesokan Harinya
Perkara semakin rumit, hari ini Raina harus datang sekolah mau tak mau.Ia harus kembali menghadap guru BK untuk mengurus masalahnya. Panggilan ini benar-benar pribadi. Surya pun tak bisa menemaninya sampai dalam.
Raina berhenti sejenak didepan pintu ruang BK, "Ya Allah...Kenapa ada aja cobaannya, kenapa malah jadi kayak gini?!"
Cklek...
Pintu terbuka,Raina masuk dan melihat beberapa wajah yang tampak tegang sedang menunggunya. Ada Bu Arum, orang tua Amel,dan Ara.
"Wait... Ara?"
Raina kembali melihat sekali lagi untuk memastikan,matanya tak salah, itu memang Ara. Tapi apa yang Ara lakukan di sini?
"Masuk Raina...Duduk..."
Suara Bu Arum mempersilahkan Raina untuk duduk. Raina duduk dengan sopan, suasana semakin mencekam saat semua membahas masalah jatuhnya Amel.
"Saya nggak mau tau ya bu, apapun yang terjadi pokoknya pelaku yang mencelakakan anak saya harus di hukum, kalo perlu di keluarkan dari sekolah saja!Saya nggak rela anak saya 1 sekolah dengan pembunuh!" ketus ibu Amel dengan ekor mata yang mengarah ke Raina.
Bu Arum mencoba meredam suasana,"Tenang bu...Semua bisa dibicarakan baik-baik,jangan terlalu terburu-buru.Lagipula kita belum punya bukti kalau Amel memang di dorong."
"Ma jangan terlalu emosional!" bisik Ayah Amel pada Ibu Amel .
"Saya punya bukti!Ara lihat kejadiannya yang sebenarnya.Ara saksinya,tak mungkin Ara akan berbohong. Lagipula dia kan anak pemegang saham sekolah ini,tak ada untungnya berbohong!" bantah ibu Amel.
Raina reflek langsung berdiri,"Bohong bu! Saya sejak awal nggak melihat Ara sama sekali. Bagaimana dia bisa jadi saksi?Itu bohong bu!" Raina membantah.
"Diam kamu!Kamu yang mau berbohong kan? Kamu nggak mau tingkah busuk kamu kebongkar, makanya banyak alasan!" ketus mama Amel.
Ayah Amel berusaha menengahi,"Apa tidak ada rekaman CCTV bu untuk melihat kejadiannya?"
"Tidak pak...Saat itu sedang ada perbaikan beberapa CCTV. Makanya ada beberapa titik buta saat itu."
Raina yakin kalau Ara pasti sekuat tenaga mencoba menjatuhkan Raina karena tak suka padanya.Di tambah lagi sikap Raina selama ini pada Ara cukup menguras emosi.
Ara menceritakan semua skenario kebohongannya dengan begitu sempurna tanpa cela. Membuat semua orang selain Raina langsung percaya dengan kata-kata Ara.
"Saat itu saya sedang ambil alat di atas bu, tiba-tiba saya lihat Raina sedang bertengkar dengan Amel hanya karena tinta tumpah. Awalnya saya mengira semua baik-baik saja hingga akhirnya Raina kembali berpapasan dengan Amel di tangga lalu mereka bertengkar dan Raina mendorong Amel hingga jatuh..."
Raina terkejut mendengar cerita yang berbanding terbalik dengan kenyataannya, Raina langsung membantah seketika."Bohong bu! Saya nggak dorong Amel, tapi Amel jatuh sendiri. Jika saya dorong Amel, untuk apa saya tolong lagi hingga kaki tangan saya sendiri terluka!?"
Bu Arum tengah bingung, di satu sisi ada perkataan Raina yang masuk akal dan di sisi lain pernyataan Ara yang satu-satunya bukti saat ini.
Melihat keraguan di wajah Bu Arum, Ara mulai menguasai situasi lagi."Saya nggak bohong bu, ibu bisa panggil Rahma XI MIPA 1 bu, dia juga lihat bagaimana Raina bertengkar dengan Amel."
Raina semakin terkejut, ia ingat kalau yang menyuruhnya turun adalah Rahma,ia masih ingat kalau itu Rahma,siswi yang cukup dekat dengan Amel dan Ara.
Mendengar ucapan Ara,Bu Arum langsung menghubungi Rahma untuk segera datang ke sekolah.Sekitar 10 menit kemudian, Rahma datang ke sekolah dengan raut wajah yang cemberut dan terlihat tak semangat.
"Akhirnya kamu datang juga,Rahma...Ibu minta tolong kamu bisa jelasin apa yang kamu lihat waktu Amel dan Raina bertengkar?Kata Ara, kamu juga melihat mereka berdua bertengkar?" tanya Bu Arum.
Rahma melempar tatapan penuh keraguan pada Ara. Ara melotot seolah menyuruh Rahma meng-iyakan semua kata-katanya. Tapi dalam hati, Rahma takut ikut campur urusan ini.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏
Pengumuman:
Buku author ada yang udah terbit loh. Yuk ikutan PO biar dapat harga murah😇
Keuntungan ikut PO:
Dapat diskon
Free TTD dan merchandise
Pembayaran dilakukan saat buku sudah ready. Jadi kalian masih bisa nabung sekarang.
Dapat harga yang lebih murah dibandingkan yang tidak ikut PO.
Terakhir PO tanggal 8 November 2020 pukul 20.00 WIB ya❤️
Mau tanya-tanya? DM ke @diagaa11