My Ketos My Husband

My Ketos My Husband
Rapor



Diva langsung menarik tangan Faris dan menggandengnya erat, Faris hanya berekspresi datar sambil minum boba, "Awalnya gue nggak boleh keluar sama nyokap, gue suruh lah Faris jemput. Langsung otw kita!"


"Kok lo mau jemput Diva sih Ris? Lo ada apa-apa ya sama Diva?" tanya Surya penuh selidik.


Yang lain pun ikut menguping dengan jawaban Faris.


Faris kebingungan dengan tingkah teman-temannya, "Kenapa sih lu pada? Mo ngapain?"


"Lo ada hubungan apa-apa kan sama Diva?"


"Mana ada? Dia bilang mau traktir gue makan, ya udah gue langsung otw lah! Kapan lagi bisa makan gratis!" jawab Faris sambil meminum kembali boba tea di tangannya.


"Allahuakbar... Gue pikir beneran ada hubungan!" kesal Raina


Diva menyela, "Ya kali Na... Gue kan selebgram, belum mau pacaran dulu. Nanti para fans cowok gue kabur semua lagi... Stay single aja dulu!"


"Dih... Yuk buruan nanti keburu malem!" ajak Raina


"Kuy... Ni para kaum adam mau ikut belanja?" tanya Diva


Surya melirik salah satu restoran dibelakangnya, "Nggak.. Gue tunggu di sana aja ya! Mau sekalian mabar!"


"Aku join!" sahut Dika bersemangat


"Gue juga lah... Mau pesen makan sekalian, bayarin ya Div!" pinta Faris tanpa beban.


"Sip... Pesen aja sana..."


Para cowok langsung otw duduk manis di restoran, sedangkan para cewek langsung otw ke skincare stan.


***


2 Jam Kemudian


"Ya Allah... Itu anak-anak pada ngapain sih? Dari tadi belanja kagak kelar-kelar deh! Kita udah main berapa ronde nih? 1 jam lagi ni mall tutup!" kesal Surya karena kelamaan menunggu. "Tau gini tadi gue bawa buku! 1 minggu lagi kan ulangan!"


"Tau nih... Abis makan banyak, jadi kenyang gue! Pengen buruan balik trus tidur!" keluh Faris sambil memegangi perutnya.


Dika menyangga kepalanya dengan tangan diatas meja, "Tau gini gue nggak ikut! Mending makan mie ayam depan rumah!"


Surya mengirimkan pesan pada Raina agar segera kembali, tak lama kemudian Raina, Naya dan Diva kembali dengan tangan penuh paper bag.


"Astagfirullah... Pantesan lama, borong seisi mall ternyata?" tanya Surya


"Maaf ya Ay... Nggak papa kan boros sesekali, jangan marah ya..." bujuk Raina dengan puppy eyes-nya.


Surya hanya memejamkan matanya dan menghela nafas panjang. Surya mengusap seluruh wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Udahlah... Nggak usah marah kali, cewek pengen dandan itu wajar. Lagian ya, jaman sekarang yang Good Attitude kalah sama yang Good Looking. Jadi nggak usah lebay deh..." ujar Diva


Surya mengusap rambutnya kebelakang, "Iya udah-udah yuk balik! Udah malem ini tuh!"


"Gue balik dulu ya... Byee..."


"Ati-ati ya! Awas kena godaan setan!"


Surya mendekati Raina dan berbisik, "Di goda setan nggak papa... Soalnya udah sah boleh-boleh aja kok!"


"Apa-apaan sih! Jangan mikir aneh-aneh! Masih sekolah woy..." kesal Raina


Surya mengerutkan keningnya, "Mikir apa? Maksudnya boleh gandengan... Emang lo mikir apaan sih?" tanya Surya sambil menggandeng tangan Raina.


"Astagfirullah... Itu kata-kata juga menjebak banget!" Raina bergumam kesal


"Mikir apa hayo..."


"Mikir masa depan! Dah yuk balik!"


"Mikir aneh-aneh ya..."


"Kaga!"


"Masa..."


"Udah-udah! Pulang-pulang, malem nih! Keburu pagi!"


Surya kembali berbisik pada Raina, "Its okay baby... Malam itu panjang..."


Ingin rasanya Raina memukul Surya dengan paper bag ditangannya. Raina memilih meninggalkan Surya dan berjalan lebih dulu.


"Na... Tunggu Na! Raina..." panggilan Surya yang tak digubris Raina


***


1 Hari Sebelum Pertandingan


Raina sedang kebingungan menyembunyikan lembar hasil MID semesternya dari Surya. Ia tak mau Surya marah-marah hanya karena nilai jelek.


Cklek...


Pintu terbuka, Surya baru selesai brief**ing dengan teman-temannya untuk pertandingan besok. Raina terkejut dan terpaksa menyembunyikan lembaran tadi di laci meja riasnya.


"Eh Aya... Udah pulang? Gimana? Lancar kan?" tanya Raina basa-basi


"Alhamdulillah lancar... Oh iya, tadi gue tanya ke anak-anak lain, anak IPS semua udah terima rapor sisipan kan? Mana liat punya lo!" pinta Surya


"Ntar aja dulu... Lo mandi dulu gih, gue siapin baju gantinya! Abis itu makan, baru liat..." hindar Raina


"Oh ok..."


Surya pergi mandi dan Raina berhasil mengalihkan perhatian Surya sejenak. Raina sedikit lega, ia cepat-cepat mencari rapor milik Surya untuk melihat hasilnya.


"Anj*r! Nilai terjelek 97? Wah asli, ni guru ngantuk waktu nulis nilai! Mana bisa ada banyak nilai 100, salah tulis nih kayaknya! Kalo gue kasih tau rapor gue, pasti di marahin abis-abisan..."


Raina mengunci laci meja riasnya dan pergi turun untuk mengambilkan makanan untuk Surya. Ia terpaksa menunggu agar ART di rumah Surya memanaskan makanannya.


"Duh... Laci udah gue kunci, tapi masih aja nggak tenang ni hati!" gumam Raina


"Ini non makanannya..."


"Makasih bi..."


Raina bergegas menuju kamarnya sesegera mungkin, namun saat membuka pintu, Surya sedang berdiri dengan rapor ditangannya. Hati Raina berdoa semoga itu bukan rapornya.


"Ay... Nih makanannya, cepet banget mandinya?" tanya Raina basa-basi dan meletakkan nampan makanan diatas meja.


Brakk....


Surya membanting rapor ditangannya keatas meja hingga bersuara keras dan membuat Raina terkejut.


"Ay... Lo kenapa sih?" tanya Raina lembut


"Lo di sekolah ngapain aja?" tanya Surya dengan tatapan datar dan tangan terlipat didada.


"Ya... Belajar lah, ngapain lagi?"


"Gimana bisa, berbulan-bulan lo belajar tapi hasilnya kayak gini?"


"Maksudnya apaan sih? Gue nggak paham!"


Surya menghela nafas panjang, "Geografi 25, Sejarah 30, Matematika 40, Ekonomi 45, dan entah apalagi yang nilainya di bawah KKM! Gimana bisa lo naik kelas selama ini..." ucap Surya sambil memegangi keningnya.


"Itu..."


"Lo ngapain aja sih? Apa sih susahnya belajar? Nggak perlu lama Na! Sehari lo baca buku di rumah 1 jam aja cukup! Main terus, game terus, keluar terus, apa yang lo dapetin dari itu semua? Apa gunanya main game? Belajar Na, belajar! Susah banget sih disuruh belajar. Kalo udah gini mau gimana hah? Kalo nilai lo kayak gini terus, gimana mau lulus? Gimana mau cari kerjaan? Negara butuh orang yang pinter Na!" bentak Surya dengan nada meninggi.


Bentakan Surya membuat Raina terdiam, belum pernah ada yang membentaknya seperti itu sebelumnya. Mata Raina berkaca-kaca.


"Lo bentak gue cuma gara-gara nilai?" tanya Raina dengan mata berkaca-kaca.


"Na nggak gitu... Sorry, gue nggak sengaja... Gue cuma mau kasih tau kalo..."


"Kalo apa? Kalo lo pinter dan gue beg* gitu? Ya gue tau, Raina itu manusia terbod*h dan Surya yang paling pintar! Tapi nggak usah bentak-bentak gue kayak gitu cuma karena nilai! Mama gue aja nggak pernah kayak gitu Ay!" tegas Raina


Surya berusaha meminta maaf kepada Raina, "Na bukannya gitu... Gue minta maaf ya, please maafin gue...”


"Gue akui nilai gue jelek, tapi asal lo tau ya, negara nggak butuh orang pintar, tapi negara butuh orang cerdas dan berpengalaman!"


Raina berbalik dan pergi keluar dengan langkah kasarnya meninggalkan Surya. Surya berusaha mengejar Raina.


Brakk...


Raina membanting pintu tepat didepan Surya, Surya terkejut dengan sikap Raina. Raina langsung pergi menuju kamar tamu dan mengunci dirinya didalam sana.


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏


Salam dari Surya💖