My Ketos My Husband

My Ketos My Husband
Kangen Mama Papa



"Ya sesibuk-sibuknya gue, kalo istirahat pasti gue ngecek hp lah Na! Dan lo juga perlu jelasin kejadian tadi siang!"


"Apa yang harus dijelasin? Penjelasan bakal kalah sama yang dilihat langsung kan?"


"Maksud lo apa sih?"


Raina menjawab tanpa menatap mata Surya, "Ya kan lo udah tau semuanya! Lo udah liat semua, apa yang harus di jelasin? Udah lah, gak usah lebay!" jawab Raina sinis.


"Lebay? Lebay kayak gimana, gue juga mau minta penjelasan tentang lo! Kemana lo tadi, keluar sama Maxime?"


"Gue keluar sama Maxime, Diva dan Naya."


"Kenapa keluar sama cowok lain? Kalian ngapain aja?"


"Kita jalan-jalan, have fun, menikmati usia muda, dan yang jelas... Kita nggak selingkuh!" jawab Raina dengan nada menyindir.


"Ya lo bisa kan ajak yang lain juga, Arkan, Dika, Faris... Kenapa malah jalan bareng Max?" tanya Surya dengan nada yang semakin meninggi.


Raina berbalik dan menghadapi Surya langsung, "Ya terserah gue... Itu hak gue, lagian gue keluar biasa bukan selingkuh atau berbuat yang nggak-nggak kan?" balas Raina dengan nada yang ikut meninggi.


"Ya kan lo udah punya suami, harusnya ijin dulu! Dosa lo jalan cowok nggak ijin suami!"


"Dosa lo nyakitin hati istri!"


"Maksudnya?"


"Nggak usah sok suci ngomongin dosa segala, lihat dulu kenyataannya. Lo yang lebih dulu nyakitin gue tau nggak? Secuek-cueknya gue, pasti sakit hati kalo lo jalan sama cewek lain, lo jalan di depan gue dan berlagak kayak gak kenal, dan satu lagi... Lo bentak gue di depan cewek lain! Maksud lo apa kayak gitu? Mau udahan sama gue? Bosen? Suka cewek lain? Bilang Ay, bilang aja! Nggak usah nyakitin bolak-balik cuma buat hal kayak gini!" jelas Raina panjang lebar dengan mata yang berkaca-kaca.


Surya langsung memegangi kedua pundak Raina, "Apa? Kenapa lo nggak ngomong, gue nggak pernah suka sama cewek lain apalagi pengen udahan sama lo! Gue sayang sama lo, gue cinta sama lo!"


"Bullsh*t!"


"Gue sama Ara nggak ada hubungan apa-apa! Kita cuma sebatas kerja bareng karena anggota OSIS!"


Raina membanting tasnya di lantai, ia menghempaskan kedua tangan Surya dan masuk ke dalam kamar mandi. Surya mengikutinya bahkan menggedor-gedor pintu kamar mandi.


"Na... Raina, dengerin gue Na! Gue minta maaf kalo ada salah, sumpah gue gak ada apa-apa sama Ara! Kita cuma sebatas temen aja! Na, dengerin penjelasan gue Na!" Surya berteriak dari luar, namun Raina tak merespon sama sekali.


Raina diam-diam menangis di dalam kamar mandi, ada rasa tenang saat Surya berkata kalau dia dan Ara hanya teman. Tapi hatinya masih sakit ketika mengingat bentakan Surya.


"Kenapa? Kenapa harus gue terus yang ngertiin dia, kapan dia yang ngertiin gue?" gumam Raina


Surya menunggu lama di luar kamar mandi, Raina yang merasa pusing pun memilih untuk mencuci rambutnya. Setelah keramas, Raina merasa lebih segar, Raina memilih keluar karena hawa di dalam kamar mandi semakin dingin.


Cklek....


Pinta kamar mandi terbuka, Surya langsung berdiri antusias dan berusaha menjelaskan semuanya pada Raina.


"Na... Dengerin penjelasan gue Na! Gue nggak pengen kita udahan Na, hubungan kita nggak main-main Na! Plis, inget pesen mama kamu! Gue di kasih tanggung jawab buat jagain kamu seumur hidup. Tolong jangan tinggalin gue Na!" bujuk Surya, Raina duduk di depan meja riasnya dengan handuk di kepalanya.


"Gue nggak main-main, tapi lo duluan yang main-main sama hubungan ini. Dan jangan pernah lo berani bawa-bawa nama mama gue cuma buat bujuk gue atas kesalahan yang lo buat!" jawab Raina dengan lugas dan tegas.


Ngiinggg...


Raina menyalakan Hair Dryer untuk mengeringkan rambutnya yang basah. Surya masih kembali mencoba membujuk Raina.


"Na... Tolong Na, maafin gue Na! Plis... Gue bakal berubah dan nggak bakal kayak gini lagi Na..."


Nggiiiinggg....


Raina menaikkan kecepatan Hair Dryer sehingga mengeluarkan suara yang semakin keras. Kerasnya suara Hair Dryer menyamarkan suara Surya.


"Naa...."


Selesai mengeringkan rambutnya, Raina beranjak menuju kasur dan manarik selimutnya. Bersiap menuju pulau mimpinya yang tenang tanpa masalah.


***


Pagi Hari


Raina mulai mengerjapkan matanya, semalam memang ia belum benar-benar tertidur saat Surya memeluknya. Tapi Raina memilih menikmati pelukan pria yang telah sah menjadi suaminya itu.


"Gue sayang sama lo... Tapi kenapa lo malah sakitin hati gue? Apa karena hubungan ini berawal dari perjodohan, hubungan yang diawali paksaan. Apa gue dan lo bisa menjadi kita?" batin Raina yang masih memejamkan mata.


Raina perlahan melepaskan pelukan Surya dari tubuhnya dan bersandar di balkon sambil melihat matahari terbit dari lantai 2.


"Pengen banget punya hubungan kayak mama papa... Walau sering berantem, tapi selalu saling menyadari dan minta maaf. Bahkan sampai maut memisahkan, mereka masih setia dengan cinta masing-masing..." gumam Raina sambil menatap indahnya Sun Rise.


.


.


.


Hampir seharian Raina mendiamkan Surya, ayah dan bunda sudah menyadari kalau putra-putrinya ini sedang tidak akur. Surya merasa kalah dan tidak bisa mengetahui isi hati Raina, dengan berat hati ia meminta bantuan pada Bunda.


"Bunda..."


Bunda yang sedang memegang gelas pun menengok mencari arah suara, "Iya? Kenapa boy?"


"Aya mau minta tolong..."


"Iya apa? Sini bilang bunda..."


Surya bercerita perlahan dengan raut wajah yang lelah dan terlihat benar-benar stress. Bunda sedikit terkejut mendengar kedua anaknya hampir menyebutkan kata 'Cerai'. Bunda memutar otak untuk membuat hal tersebut tak terjadi.


"Aya harus gimana dong bun? Aya nggak paham sama isi hati Raina, selama ini Aya cuma belajar dan belajar, nggak pernah tau masalah perempuan. Aya bingung harus apa, Aya udah minta maaf, tapi Raina terlanjur kecewa," curhat Surya pada sang Bunda tercinta.


"Gini ya boy... Sepenting apapun itu urusannya, istri itu berhak tau setiap kegiatan suami. Ya nggak harus semuanya, tapi kalau suami kasih kabar ke istri, istri nggak bakal khawatir dan berpikiran aneh-aneh. Itu emang udah naluri cewek, apalagi kamu jalan sama cewek yang suka sama kamu, istri pasti mikirnya kemana-mana bahkan sampai merasa Insecure. Makanya, udah gede, udah nikah, harus hati-hati sama sikap! Nanti bunda bantuin kamu, tapi jangan di ulangi lagi ya..." tutur bunda dengan bijak.


"Iya bun makasih... Tolong jangan bilang ke ayah, Aya takut kecewain ayah..."


"Siap! Tapi kamu jangan ulangi lagi ya! Raina biar jadi urusan Bunda!"


"Iya bun..." jawan Surya sambil memeluk erat bunda tercintanya itu.


Bunda pun mencari-cari Raina di seluruh rumah, Bunda menemukan Raina yang sedang duduk di taman belakang rumah sambil melihat bintang-bintang yang bertaburan di langit.


"Nana..."


Raina berbalik dan melihat siapa yang memanggilnya, "Eh bunda..."


"Boleh ikut duduk?"


"Boleh bunda, di kursi aja bun..."


"Nggak usah, lebih enak duduk di rumput gini. Lebih santai."


"Iya bun..."


Mereka berdua saling diam sejenak sebelum bunda memulai pembicaraan, "Nana lagi apa di sini?"


"Bun... Bunda percaya nggak, kalau orang yang udah meninggal itu bisa jadi bintang dan selalu lihat kita dari jauh?"


"Kenapa tanya gitu? Di penelitian ilmiah nggak ada penjelasannya kan? Dalam agama juga nggak ada..."


"Nggak papa... Nana cuma tiba-tiba kangen aja sama papa mama..." ujar Raina sambil meneteskan air mata tanpa sadar.


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏