My Ketos My Husband

My Ketos My Husband
Gosip



^^^Raina^^^


^^^Emang bokapnya Ara kenapa?^^^


^^^Ada berita apa emangnya?^^^


Arkan


https//berita.hari.ini.seputar.bisnis.com


Lo liat sendiri deh


Diva


Eh gila! Baru ae itu berita muncul, udah rame banget di forum sekolah!


Langsung jadi trending topik!!!


Raina pun langsung membuka situs yang diberikan oleh Arkan, Raina terkejut ketika melihat berita tentang ayahnya Ara yang selingkuh dengan sekretaris pribadinya.


"Astaga!" spontan Raina terkejut.


Surya yang ada disampingnya pun mendengarnya, ia menengok sekilas untuk melihat keadaan Raina. "Lo kenapa Na? Ada yang salah?" tanya Surya.


Raina menggeleng, "Nggak! Tapi barusan aku dapet kabar kalo berita tentang ayahnya Ara udah kesebar di sekolah. Sekarang jadi trending topik di forum sekolah!" jelas Raina.


"Hah? Kok bisa?"


"Beritanya masuk ke artikel online, trus ada yang nyebar ke forum sekolah. Sekarang, anak satu sekolah pada bahas masalah ini."


Surya terkejut mendengarnya, ia tak menyangka kalau berita ini akan tersebar begitu cepatnya. "Apa sudah secepat itu beritanya tersebar? Apa benar-benar sudah banyak yang tau?" tanya Surya.


Raina mengangguk, "Iya, sudah banyak yang tau. Bahkan ketika link artikel itu dihapus, sudah terlanjur banyak yang melihatnya." jelas Raina.


Surya susah payah merogoh sakunya dan mengambil ponselnya. Ia memberikan ponselnya pada Raina, "Coba lo cek hp gue, cari nama Pak Arif. Dia ahli informatika di sekolah kita." Surya masih fokus menyetir.


Raina mengerutkan keningnya, "Hah? Buat apa? Chat dia?" tanya Raina.


"Iya, lo chat dia trus bilang minta tolong hapus link artikel itu dari forum sekolah. Setidaknya itu lebih baik daripada tetap membiarkan beritanya tetap ada!" pinta Surya.


Raina mengangguk, "Iya udah bentar aku chat ya!" Raina mengirim pesan pada Pak Arif, salah satu ahli informatika di sekolah mereka. Raina meminta agar Pak Arif menghapus link artikel itu, supaya tidak terjadi keributan. Tak lama kemudian, Pak Arif langsung menghapus link artikel itu.


...***...


Besoknya


Dengan mata sembab dan wajah pucat serta tangan yang masih diperban, Ara berjalan melewati koridor sekolah. Ia bingung kenapa semua anak menatapnya sambil berbisik-bisik seolah-olah Ara melakukan kesalahan besar yang memalukan.


Ara menatap ke segala arah dengan penuh kebingungan, "Ini anak-anak pada kenapa sih? Tau sih kalo gue kalah taruhan cerdas cermat kemarin, tapi masa ngeliatin sampe segitunya sih?" Ara membatin bingung.


Ara berusaha tetap cuek dan masuk ke kelasnya, ia masuk ke kelasnya namun semua teman-temannya dikelas seolah-olah menjauhinya. Ara semakin bingung, dengan iseng ia menyapa Lyra, teman yang duduk dibelakangnya.


"Pagi Ra, lo udah kerjain tugas Bahas Indonesia belum? Yang tugas di kertas folio," tanya Ara.


Lyra tampak sedikit sinis pada Ara, "Udah." Lyra hanya menjawab singkat dengan nada yang tak enak di dengar.


Ara sedikit kesal karenanya, "Ra lo tu kenapa sih? Gue kan tanya baik-baik tapi jawaban lo malah kayak gitu. Bisa nggak jawabnya biasa aja!" kesal Ara.


Lyra terkekeh sinis, "Hahahaha, jangan sok akrab deh Ra. Gue gamau ikutan kena gosip dan pencitraan jelek gara-gara lo!" ketus Lyra.


Ara merasa sedikit bingung, "Maksud lo apaan sih? Emang gue kenapa? Gue salah apa? Gara-gara cerdas cermat kemarin?" tanya Ara.


Lyra terkekeh, "Hah, lo ketinggalan berita apa gimana? Padahal lo kan tokoh utamanya, kok bisa nggak tau ceritanya? Seisi sekolah ini juga udah tau kali tentang berita bokap lo!" Lyra langsung menjelaskan semuanya.


Ara terkejut mendengar kata-kata Lyra, ia langsung lemas diatas kursinya. "M-maksud lo apaan ya? Gue nggak ngerti," Ara masih berusaha berbohong.


Salah seorang siswi menyahut, "Jangan sok bego deh Ra, lo nggak liat forum sekolah apa? Semua pada ngomongin lo tau nggak!"


Ara langsung mengecek ponselnya dan membaca macam-macam komentar di forum sekolah. Isinya hanya menjelek-jelekkan ayah Ara dan mencari-cari kesalahan Ara. Seketika, mental Ara langsung down begitu saja. Rasa sakit hati, kesal serta malu campur aduk menjadi satu.


Dengan susah payah ia berdiri dan berlari ke kamar mandi, ia tak sengaja berpapasan dengan Raina di depan kelasnya. Ara tetap berjalan begitu saja melewati Raina.


"Ra! Ara, tunggu!" panggilan Raina tak digubris sama sekali oleh Ara. Raina pun ikut berlari menyusul Ara ke kamar mandi.


...***...


Ara langsung masuk begitu saja dan mengunci dirinya didalam salah satu toilet. Raina masuk dan melihat toilet masih kosong karena masih pagi, ia membuka satu persatu pintu toilet hingga tersisa satu yang terkunci.


Tok... Tok... Tok...


Raina mengetuk pintu kamar mandi itu, "Ra! Ara, gue tau lo di dalam kan! Ra dengerin gue dulu, lo jangan overthinking dulu Ra! Keluar Ra, jangan kayak gini. Kita cari solusinya bareng-bareng?" teriak Raina dari luar.


"Tinggalin gue sendiri!" balas Ara dari dalam kamar mandi.


"Ra jangan kayak gini Ra, lo jangan merasa sendiri ya ampun. Gue selalu temenin lo kok, tolong keluar dulu Ra!" Raina masih tetap membujuk Ara dari luar.


"Tinggalin gue sendiri!" nada Ara semakin meninggi karena marah dan juga kesal. Ia menangis di dalam kamar mandi.


"Nggak akan! Gue nggak bakalan pergi sebelum lo keluar! Gue bakalan nunggu di sini sampai lo keluar!" Raina juga keras kepala tak mau meninggalkan Ara.


Raina menunggu sampai Ara sedikit membaik di dalam kamar mandi. Sementara di luar, Maxime kebingungan karena takut untuk masuk kedalam kamar mandi wanita.


"Ini gimana duh! Masa gue masuk gitu aja? Ini kan kamar mandi cewek, tapi kalo gue nggak masuk, Ara gimana? Masa gue diem aja sih!" bingung Maxime. "Halah bodo amat, trobos aja lah!"


Maxime berlari masuk dan langsung menuju kesatu-satunya pintu toilet yang tertutup. "Ra keluar sekarang atau gue dobrak ini pintu!" teriak Maxime.


"Tinggalin gue sendiri!"


"1..."


"2..."


Cklek...


Pintu terbuka, mata Ara terlihat merah karena menangis. "Kenapa sih? Pada bawel banget! Ga bisa apa biarin gue tenang!" keluh Ara kesal.


Maxime langsung memeluk Ara, "Lo nggak papa kan? Lo baik-baik aja kan? Lo nggak kenapa-napa kan? Lo jangan dengerin kata-kata orang Ra, gue tetep temenin lo kok! Sekarang ikut gue aja ya, lo pindah sekolah aja!" bujuk Maxime.


"Mana bisa?"


"Bisa! Mama lo udah gue pindahin rumah sakit, mama lo udah sadar dan udah mulai proses cerai sama papa lo. Lo mending pindah aja, lo ikut gue. Kalo takut, ntar gue ikutan pindah deh sama lo!" jelas Maxime.


Raina ikut mendekat, "Iya Ra, mending lo pindah aja Ra. Kasian mental lo, gue yakin lo kuat kok, gue yakin lo bisa! Ayo semangat!" Raina menyemangati.


Ara mengangguk, Maxime pun memberikan jaketnya pada Ara dan menuntun Ara menuju kantor. Raina keluar dengan lega setelah melihat Ara bersama Maxime.


...***...


Istirahat


Di Roof Top


Raina memilih beristirahat di roof top bersama Surya. Hanya sekedar duduk diatap sambil melihat pemandangan.


"Hah! Akhirnya masalah si Ara selesai. Kasihan juga si Ara ya." Raina menatap jauh kedepan sambil meminum susu coklat ditangannya.


Surya menghela nafas, "Hah... Ya gimana lagi? Itu udah jalannya dia juga. Kita nggak bisa ngapa-ngapain juga kan."


"Iya juga sih..."


"Eh, kok lo jadi aneh sih?" tanya Surya.


"Hah? Aneh gimana?"


"Kok lo jadi manis banget, ini susu coklat yang manis apa emang lo yang manisnya bisa bikin diabetes?" gurau Surya.


"Ahahaha, aduh mas, saya terbang..." balas Raina.


"Eh jangan terbang neng, bahaya! Jatuh nanti sakit, tapi beda lagi kalo jatuh ke pelukan saya," Surya tak mau kalah.


"Aduh-aduh, si ganteng ini belajar nge-gombal dari mana sih hm?"


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏