
***
Hari Pertemuan
Hari ini telah tiba, Ibu Amel membuat semuanya semakin rumit, ia membuat pertemuan semua pemegang saham untuk memtusukan apakah Raina bersalah atau tidak.
Hari ini, para pemegang saham yang memiliki saham lebih dari 10% ikut menghadiri pertemuan ini. Ada setidaknya 5 orang yang hadir, termasuk ayah Ara, Amel dan ayah Surya.
Raina, Surya dan Ara menunggu diluar ruangan. Para orang besar itu sedang merundingkan perkara ini, tak lama kemudian Raina di panggil untuk masuk ke dalam.
Dengan jantung yang berdetak tak karuan, Raina memasuki ruangan hening itu, "Se-selamat pagi..." sapa Raina yang gugup.
"Masuk Raina..." suara Bu Arum menginterupsi Raina untuk masuk.
Raina berdiri dengan gugup didepan orang-orang berkuasa itu. Bu Arum mulai menanyakan satu-persatu pertanyaan pada Raina.
"Apa kamu ada di tempat kejadian, saat Amel jatuh?"
"Iya bu..."
"Kamu melihat dari awal hingga akhir saat Amel jatuh?"
"Iya bu..."
"Apa kamu mendorong Amel?"
"Apa?! Enggak bu, demi apapun saya nggak pernah dorong Amel! Dia jatuh sendiri bu!"
Beberapa orang tampak berunding tentang jawaban Raina, lalu dipanggillah Ara dan Surya agar masuk. Mereka berdua masuk untuk memberikan saksi, Ara ditanya terlebih dahulu.
"Ara... Apa benar kamu melihat semua kejadiannya?"
"Iya bu..."
"Tapi, apa yang kamu lakukan di sana? Kenapa sejak kemarin Raina selalu berkata kalau dia tidak melihat kamu?"
Ara terdiam sejenak, "Oh itu... Sa-saya, saya ambil barang di gudang buat acara perpisahan bu!"
Surya merasa aneh mendengarnya, "Ngapain lo ambil barang sendiri? Kan pembantu umum bisa ambilin buat lo? Dan itu juga bukan tugas wakil ketua OSIS kan?" Surya berkata tanpa menjaga tata krama lagi karena jengkel dengan kesaksian Ara sejak kemarin.
Ara tergelagap mendengar kata-kata Surya yang membuatnya sedikit panik, "Itu... Kan aku lewat gitu. trus lihat anak-anak yang mau ambil tapi kesulitan, ya udah aku bantuin sekalian."
"Siapa yang ambil?"
"Rahma..."
Semua tampak berunding, Bu Arum kembali bertanya pada Ara, "Apa kamu melihat kalau Raina mendorong Amel?"
Semua semakin tegang menunggu jawaban Ara, "Iya bu."
Seketika Raina terkejut mendengarnya, "Jaga mulut lo ya! Jangan fitnah lo, gue nggak pernah dorong Amel ya! Dasar tukang fitnah!" Raina marah dan hampir memukul Ara, tapi Surya menahannya.
Semua terkejut melihat tingkah Raina yang tampak emosional, beberapa orang juga memiliki keyakinan kalau Raina memang mendorong Amel karena marah, dilihat dari sikapnya yang emosional ini.
Surya semakin bingung sekarang, "Gimana nih? Nggak mungkin gue bohong sekarang, sikap Raina yang emosional ini udah dilihat semua orang. Dan orang-orang bakal mikir kalo Raina emang dorong Amel!" Surya semakin bingung dengan situasi yang semakin rumit ini.
Bu Arum mencoba menenangkan Raina, "Na udah Na! Jangan seperti ini nak... Sudah, kita rundingkan semuanya ya!"
Raina sedikit tenang mendengar kata-kata Bu Arum, sekarang Ibu Amel justru ikut bersuara, "Bagaimana? Pasti Raina yang dorong Amel, kalau bukan, siapa lagi?"
Ayah Surya yang sejak tadi diam akhirnya juga bersuara, "Tolong jangan nilai satu pihak bu! Ada Surya di sini juga untuk saksi, bukan pajangan!"
Akhirnya semua setuju untuk mendengarkan penjelasan Surya, Surya sempat bengong karena berpikir apa yang harus ia katakan. Apakah ia harus berbohong atau tidak.
"Surya... Apakah kamu melihat kejadiannya?"
"Kamu melihat Amel dan Raina di sana?"
"Iya."
"Raina ada di dekat Amel saat kejadian itu?"
"Iya."
"Lalu Amel jatuh ke bawah?"
"Iya."
Raina terkejut mendengar semua jawaban Surya yang hanya meng-iyakan semua pertanyaan Bu Arum. Ia mulai berada di posisi yang tidak menguntungkan saat ini.
"Apakah kamu melihat Raina mendorong Amel?"
"Tidak..."
"Tapi kamu melihat Amel jatuh?"
"Iya."
Ibu Amel langsung berpendapat, "Lihat kan? Mana mungkin Amel jatuh sendiri? Pasti Raina dorong Amel karena baru selesai bertengkar, dia pasti benci Amel! Lihat saja dia tadi hampir memukul Ara kan? Ayah ibunya sudah meninggal, makanya tingkahnya seperti anak tidak berpendidikan!"
"BU!!!!"
Ayah Surya dan Surya membentak bersamaan karena penghinaan Ibu Amel, Raina hanya terdiam, dadanya terasa sesak mendengar hinaan Ibu Amel.
"Bu, meski saya tidak melihat apakah Raina mendorong Amel atau tidak, tapi saya tau kalau Raina tidak mendorong dia! Amel itu terjatuh sendiri, dia tidak di dorong Raina! Ia jatuh karena lantai yang licin!" jelas Surya.
Raina semakin terkejut dengan penjelasan Surya, ia berharap kalau Surya akan berbohong dan semua akan selesai. Dari pandangan Raina, Surya hanya memperburuk keadaan dengan menceritakan kebenaran.
Semua ribut dan berusaha menyatakan pendapat masing-masing, dada Raina semakin sesak mendengar keributan di ruangan itu. Raina mundur selangkah demi selangkah, ia diam-diam membuka pintu dan pergi keluar tanpa menghiraukan situasi.
"Raina... Raina..." Bu Arum memanggil Raina, namun tak dihiraukan.
Raina berlari keluar dan duduk di bawah pohon dengan mata berkaca-kaca, awalnya ia mencoba baik-baik saja, tapi setelah Ibu Amel menyeret kedua orang tuanya, ia menjadi lemas seketika.
Ia duduk meringkuk memeluk kedua kakinya dan menangis, "Hiks... Mama... Papa... Kenapa jadi kayak gini? Hiks, Nana nggak dorong Amel! Nana nggak salah! Hiks..."
Raina bingung harus apa, saat ini pandangan Raina dan Surya benar-benar berbeda, dan ini memicu kesalahpahaman antara mereka.
"Kenapa Surya nggak ngertiin gue sih! Hiks... Argh! Kenapa semua jadi kayak gini, hiks!" Raina marah dan memukul-mukul pohon dibelakangnya hingga tangannya berdarah.
Ara datang dengan santainya dan tersenyum menyapa Raina yang menangis, "Hai Raina... Gimana! Masih hidup kan?"
Raina menghentikan tangisannya dan mengangkat kepalanya keatas, "Hiks... Maksud lo apa sih ngomong kalo gue yang dorong Amel! Mata lo buta apa gimana? Gue nggak dorong Amel!"
Ara memanyunkan bibirnya dengan wajah meledek, "Ututu... Nggak salah ya? Ya udah, off baperan sayang."
Raina semakin kesal mendengar kata-kata Ara, ia berdiri dan mengusap air matanya. "Mau lo apa sekarang? Kalo lo punya masalah sama gue, sini selesaiin disini! Gue nggak takut cewek sialan!"
"Enggak mau ah, aku nggak mau punya urusan sama kriminal. Siap-siap dikeluarin dari sekolah ya, kalo nggak dikeluarin, berarti nama lo bakal rusak di sekolah ini, kriminal!" ejek Ara.
Raina sudah tak bisa menahan emosinya lagi, ia menjambak rambut Ara keras, menariknya menuju pohon dan membuat Ara terpojok dipohon. Raina langsung mengarahkan kedua tangannya ke leher Ara.
Raina benar-benar marah, ia mencekik Ara dengan keras. Ara berusaha keras melepaskan cekikan Raina yang tiap saat semakin menyiksanya.
"Ugh... Le pa sin gu-e! Ugh..."
"Mati aja lo mati!"
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏