My Ketos My Husband

My Ketos My Husband
Cowok Yang Ngalah



"Iya lah! Eh, btw kok lo serius banget sih? Emang kenapa tanya-tanya masalah hal gini?" tanya Diva dengan nada penuh selidik.


"Mana ada? Ya kali gue di cium cowok, gue tendang itu cowok yang ada!" bantah Raina dengan mengalihkan pandangannya.


"Ya udah deh... Lanjut nonton film!"


.


.


.


Di Kamar Surya


Surya sedang sibuk mengotak-atik angka-angka dan simbol-simbol matematika di buku yang sedang ia pelajari. Dari kali, bagi, tambah, kurang, kubik, kuadrat, akar, phytagoras, trigonometri, bahkan SPLDV dan SPLTV.


"Kok bisa gini sih? Ini jawaban gue yang salah, soalnya salah atau rumusnya yang salah?" bingung Surya karena jawabannya tidak sesuai dengan jawaban pilihan ganda.


Surya mengusap kedua wajahnya gusar, pikirannya semakin tidak bisa fokus. Bahkan sekedar 10+9 pun ia perlu kalkulator untuk menghitungnya.


"Gini caranya, bisa turun nilai gue lama-lama. Gak mau gue dapet nilai 8, paling jelek harus 9! Rugi buku gue mahal-mahal belinya..."


Surya memilih untuk tidur karena otaknya semakin lama semakin kacau, namun baru berbaring dan memejamkan mata, ia teringat sesuatu dan itu membuatnya langsung terduduk seketika.


"Ini semua gara-gara si Maxime, kalo bukan gara-gara dia, ini semua nggak bakal terjadi. Pokoknya besok gue harus ngomong kalo Maxime harus tau status kita biar dia tau diri! Ya gue pinter, pokoknya besok harus ngomong!"


Surya langsung otw tidur setelah bersemangat untuk besok. Sekitar pukul 2 pagi Raina baru kembali ke kamarnya dan langsung tidur begitu saja karena mengantuk.


***


Pagi Hari


Surya sudah bersiap dan selesai sarapan, ia hendak membangunkan Raina namun takut tiba-tiba suasana menjadi canggung. Ia memilih meletakkan nampan berisi sarapan Raina di meja kamarnya.


Raina terbangun karena merasa kalau langit sudah terang, ia terduduk dengan wajah yang acak-acakan dan mata panda yang muncul di bawah matanya.


"Hmm..... Ini jam berapa sih? Masa udah siang?" ucap Raina dengan suara seraknya karena bangun tidur.


Ia menengok ke meja di sampingnya dan ada nampan yang berisi sarapannya. Ia menggaruk kepalanya dan mencoba mengumpulkan nyawanya.


"Bangun Na... Bangun ayo, ini waktunya bangun!" ucap Raina menyemangati dirinya sendiri.


Raina bangun dan menuju kamar mandi untuk menyalakan shower air panas agar bisa mandi air hangat. Sembari menunggu, ia mencari-cari handuk dan baju ganti.


.


.


.


.


Raina mandi lalu sarapan, ia turun dan melihat Surya yang duduk santai di ruang santai. Raina mencoba santai dan seolah-olah tidak terjadi apapun kemarin, ia mengikuti saran Diva dari film semalam.


"Pagi Ay..." sapa Raina ramah.


"Hah? Iya..."


Surya terkejut melihat reaksi Raina saat pagi hari, tapi hal tersebut juga membuat Surya semakin semangat untuk mengutarakan isi hatinya.


"Na... Gue perlu ngomong!" panggil Surya.


Raina berhenti berjalan dan menengok, "Iya kenapa? Ada apa?"


Surya berdiri dan mendatangi Raina, ia menatap Raina serius. Sedangkan jantung Raina sudah bersiap untuk melompat.


Surya mengambil nafas agar tidak gugup, "Gue pengen Maxime tau status kita yang sebenarnya! Bukan sebagai pacar, tapi sebagai suami istri..."


"APA!?"


Raina terkejut pastinya mendengar kata-kata Surya, namun Surya berusaha menjelaskan. "Gue gak pengen ada salah paham lagi diantara kita cuma gara-gara orang ketiga, makanya dia perlu tau!"


"Ya tapi kita masih sekolah dan dia itu orang lain, bukan orang terdekat kita! Lo sendiri juga pernah janji buat ngerahasiain pernikahan kita sebelum kita ngadain resepsi!"


"Ya tapi dengan gini caranya, bakal banyak yang mau ngerusak hubungan kita! Dan gue nggak mau kita berantem cuma gara-gara orang lain!" jelas Surya.


Raina menegaskan kembali kata-katanya, "Pokoknya nggak! Sekali nggak ya nggak! Lo gak boleh bantah kata-kata gue! Ngerti?!" Raina pergi setelah mengatakan penolakan atas pendapat Surya.


"Ya tapi kan Na... Na! Na! Raina..." panggil Surya yang tak digubris Raina sama sekali.


Surya kesal sendiri karena pendapatnya ditolak mentah-mentah oleh Raina. Ia menegaskan kalau ia harus berani karena posisinya sebagai suami.


"Pokoknya gue harus tegas! Gue kan suami, dan dia harusnya nyadar. Pokoknya dia harus minta maaf karena emang dia yang salah, untuk masalah ini dan semuanya. Enak aja cewek yang salah, malah cowok yang minta maaf. Nggak bisa, pokoknya dia yang harus minta maaf!"


.


.


.


.


"Minggir!" pinta Raina


Surya berpikir ini situasi yang pas untuk membuat Raina meminta maaf, "Kenapa harus gue yang minggir? Lo aja yang minggir!"


"Kok lo nyolot sih, minggir sana! Gue mau keluar!" ketus Raina yang tak mau mengalah.


"Enak aja, lo yang minggir! Gini nih kebiasaan cewek banget, nggak mau ngalah!"


"Heh... Kalo cewek ngalah, apa gunanya kata-kata Ladies First? Minggir!"


"Nggak mau ngalah, salah juga nggak mau ngaku... Dasar cewek!"


Raina melotot seketika mendengar kata-kata Surya, "Lo bilang apa tadi? Di mana-mana itu cowok yang ngalah buat ceweknya! Lo pikir gue nggak bisa galak hah?!" tegas Raina dengan nada mendominasi.


Mendengar kata-kata Raina yang begitu galak membuat nyali Surya tiba-tiba sedikit berkurang, karena akan sangat merepotkan saat istrinya ini marah.


"Ya.. Ya udah..." kata Surya pasrah.


"Ya udah apa?!"


"Ya udah... Gitu..."


"Gitu apa? Siapa yang salah!?"


"Gue..."


"Siapa yang harus minta maaf?!"


"Gue..."


"Masih mau maksa cewek minta maaf?!"


"Nggak..."


"Di ulangin lagi?"


"Nggak lagi..."


"Nggak usah macem-macem sama istri kalo nyawa lo masih 1, yang nyawa dobel aja mikir dua kali kok. Lo nyawa cuma 1 belagu bener... Awas gue mau keluar!" tegas Raina dengan suara seperti seorang ibu yang memarahi anak nakal.


"Ya udah... Lo keluar duluan aja deh, gue masuknya ntaran aja..." ucap Surya mengalah. Surya menjawab setiap pertanyaan Raina dengan suaranya yang lembut.


Raina keluar dengan wajah sinisnya, setelah Raina pergi Surya baru sadar kalau justru dirinya yang mengalah, bukan Raina.


"Lah... Kenapa gue yang ngalah? Harusnya kan Raina, kenapa cowok lagi yang ngalah sih anj*r!" kesal Surya.


Surya turun karena terlalu kesal, Surya masuk kamar mengambil hpnya lalu ia mengambil sesuatu di kulkas lantai 1. Namun di dapur ia bertemu Kenan yang senyam-senyum.


"Kenapa bang?" tanya Surya yang sejak tadi di lihati oleh Kenan sambil senyam-senyum.


"Udah keluar masuknya?" tanya Kenan penuh arti.


"Keluar masuk?"


"Nggak usah malu... Tadi gue denger kalo kalian lagi keluar masuk. Jadi gimana Raina?"


"Oh tadi... Biasa bang, cewek ya nggak mau ngalah. Dia duluan lah yang ngotot keluar..."


Kenan semakin senyam-senyum sendiri, "Gilaaa... Udah semangat aja kalian berdua mentang-mentang di puncak dingin."


"Semangat? Buat apa? Kan cuma lewat pintu doang..."


"Lain kali malem aja ya... Takutnya kalo yang lain denger trus ada yang pengen juga..."


Surya mengerutkan dahinya dan mencoba berpikir apa arti kata-kata Kenan yang sebenarnya.


"Astagfirullah bang... Bukan yang itu maksudnya!"


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏


Baca karya lain saya:


My Beautiful Pshyco


💖


Choose one:


A. Nana galak


B. Nana imut


C. Nana cool


D. Nana bobrok