My Ketos My Husband

My Ketos My Husband
Mendadak



"Kenapa? Gue wangi ya? Gue ganti parfum nih..."


Raina berpikir sejenak, "Kok bau badan lo kayak bau tepung sih?" tanya Raina.


Surya sedikit tersentak, ia berpura-pura mencium bajunya. "Enggak tuh... Ngaco deh!"


"Beneran! Walau gue b*go kalo masalah masak, gue masih bisa kenalin bahan-bahan dapur! Ini beneran bau tepung loh!" bantah Raina yang tak mau kalah.


"Tadi itu... Waktu buat adonan baju gue ketumpahan tepung dikit gitu," Surya melemparkan alasan apapun agar Raina tak curiga.


Raina menatap Surya dengan mata menyipit dan merasa tidak percaya, "Masaa.... Ya udah deh bodo amat, gue mau makan martabak! Lo ga boleh minta, beli sendiri!"


"Ya Allah Na... Pelit amat, bagi napa sih 1 aja! Gue udah berjuang loh ini!" celetuk Surya.


"Ga bisa! Beli sendiri, ini cuma punya gue!"


"Ya mana habis lo segitu banyak?"


"Habis! Nanti pasti habis! Pokoknya ini punya gue!"


"Ya udah serah lo aja deh Na!"


Surya beranjak pergi untuk mengganti bajunya yang berbau tepung itu. Raina sibuk memakan martabaknya sambil menonton TV.


.


.


.


Beberapa Saat Kemudian


Raina duduk bersandar santai karena kekenyangan martabak, sedangkan masih ada beberapa potong martabak yang tersisa.


"Masih sisa tuh... Nggak di habisin? Tadi aja rengek-rengek kayak bayi mintanya! Abisin lah," ujar Surya.


"Hehe gak habis... Kalo mau ambil aja gak papa."


Surya memutar bola matanya, "Tadi ada mau minta ga boleh, sekarang ga habis kan!"


"Iya-iya maaf."


Surya pun menghabiskan martabak yang masih tersisa, ia heran pada selera Raina. Baginya martabak ini sangat manis dan membuatnya sedikit eneg, lalu kenapa Raina begitu suka martabak dan tidak ada bosan-bosannya makan martabak.


Tiba-tiba mata Surya terpaku pada Raina yang fokus belajar namun tampak begitu imut sekali. Diam-diam ia memotret Raina.



Surya senyam-senyum memandangi foto Raina di ponselnya. Ia mengeditnya lalu menjadikannya wallpaper di ponselnya.


***


Keesokannya


Di Sekolah


Surya berniat untuk menemui Ara, bertanya apa maksud semua ini. Ia tak percaya Ara bisa sejahat ini.


Baru berjalan beberapa langkah, tampak ada beberapa kerumunan didepan salah satu kelas. Surya pun bertanya, "Ini kenapa rame-rame?"


"Oh itu, si Rahma pindah sekolah tiba-tiba aja. Padahal tadi pagi masih masuk, tapi tiba-tiba aja udah nggak ada."


Surya tertegun mendengar kabar ini. Ia langsung berlari menuju ruang Wakasek untuk bertanya tentang kebenaran hal ini.


***


Ruang Wakasek


"Selamat siang pak..."


"Siang, loh Surya... Kenapa di sini? Ada perlu apa?"


Surya mengatur nafasnya terlebih dahulu, "Apa benar kalau Rahma anak IPA 2 pindah tiba-tiba pak?"


"Iya kenapa, hari ini dia pindah kan."


"Katanya mau disekolahkan ke Luar Negeri, apa nggak sayang ya. Padahal di sini tinggal 1 tahun lagi aja..."


"Oh ya sudah pak terima kasih..."


"Iya-iya...”


Surya keluar dari ruang Wakasek untuk mengatur nafasnya. Ia mengambil ponselnya untuk menghubungi Rahma, tapi nihil, ponselnya diluar jangkauan.


Surya memutar otaknya keras, "Kenapa tiba-tiba kayak gini? Ini pasti ada hubungannya sama Ara!"


Surya langsung pergi untuk menemui Ara. Kebetulan mereka berpapasan di koridor yang cukup sepi.


"Ara!"


Ara menengok dan menunjukkan senyum palsunya, "Oh Surya... Kenapa Ya? Ada apa nyari gue?"


"Lo yang mindahin Rahma kan?"


Ara mengangkat salah satu alisnya, "Hah? Maksudnya... Gue nggak paham sama omongan lo, jangan aneh-aneh deh..."


"Jangan berlagak b*go, gue udah tau semuanya. Lo kan penyebab utama semua masalah ini! Lo kenapa lakuin semua ini sih Ra? Buat apa? Lo sadar nggak kalo lo itu ngerugiin banyak orang!" Surya memancing Ara.


"Maksudnya? Lo ngomong apa sih Ya? Gue nggak ngerti, jangan omong kosong deh..."


"Ra tolong jangan pancing amarah gue! Sekarang gue nggak mau basa-basi, gue tunggu lo sampai besok di ruang BK buat jujur atau gue bakal seret Rahma buat kasih kesaksian!" tegas Surya.


"Terserah deh lo ngomong apa, gue nggak paham. Gue pergi dulu!" Ara melenggang pergi dengan santai.


Surya menarik tangan Ara dengan kasar, "Gue peringatin lo ya, segara jujur atau gue gak kasih toleransi lagi. Kalo lo mau jujur, gue nggak bakal gede-gedein masalah ini, tapi kalo lo masih banyak drama, gue nggak ragu-ragu lagi buat ngelakuin apapun!" ancam Surya dengan tegas.


Ara menghempaskan tangan Surya, "TERSERAH!!!" Ara melenggang pergi tanpa rasa bersalah.


Surya hanya menahan emosinya saat ini untuk menghadapi salah satu mahkluk Tuhan yang menguras emosi ini.


"Gue harap lo besok mau jujur Ra! Kalo sampe lo nggak jujur, gue nggak bisa jamin lagi reputasi keluarga lo. Kalo Rahma nggak bisa ngomong, biar bukti yang keluarin kekuatannya!" batin Surya.


Flashback On


Ara berniat untuk melihat bagaimana keadaan Amel di rumah sakit. Namun dari kejauhan Ara melihat ada Rahma dan Surya.


Ara mulai curiga, ia mendekat dan mendengarkan kata-kata Surya. Ia juga mendengarkan setiap ancaman dan bujukan Surya.


Setelah Surya pergi, ia masih diam berpikir. Saat Rahma hendak pergi, baru ia menarik tangan Rahma dan mengajaknya menjauh.


"A-Ara?" kaget Rahma saat melihat Ara ada di rumah sakit.


"Nggak usah kaget! Gue udah denger semuanya, gue peringatin lo ya! Kalo sampe lo bocorin semuanya, tamat riwayat lo!" ancam Ara.


"T-tapi masalah ini mulai diluar kendali Ra..."


"Gue lebih tau apa yang harus gue lakuin, dan lo gak berhak buat ngatur apa pilihan gue! Untuk saat ini lo cuma perlu diam!" tegas Ara.


Rahma menunduk takut, Ara kembali pulang dan menghubungi seseorang. Ia memutar otak bagaimana caranya agar Rahma tak buka mulut.


***


Besoknya


Tiba-tiba Ara datang ke kelas Rahma saat masih pagi hari, ia membawa Rahma sedikit menjauh dari teman-temannya.


"Ke-kenapa lagi Ra?" tanya Rahma gugup.


"Hari ini lo pindah! Lo gue pindah ke sekolah lain tanpa sepengetahuan siapapun, orang tua lo udah gue kasih tau. Biaya sekolah gue yang tanggung, lo tinggal pergi aja dan ganti nomor telepon lo! Tapi jangan bilang kalo lo cuma pindah sekolah aja!” pinta Ara.


"Apa?" Rahma begitu terkejut mendengar kata-kata Ara yang begitu mendadak, "Tapi kan gue nggak siap, dan lo juga nggak ngomong apa-apa masalah ini. Gak, gue nggak mau pindah sekolah!" tegas Rahma.


"Oh, lo mau keluarga lo jadi gembel gitu?" ancam Ara.


Rahma seolah-olah sedang terpojok sekarang, ia bingung harus apa lagi. Jika punya kesempatan, ia akan segera menelpon Surya dan meminta bantuannya.


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏