My Ketos My Husband

My Ketos My Husband
Jimat Surya



Tak ada respon dari Raina, Surya pun menarik buku di depan wajah Raina. Ternyata Raina tertidur sejak tadi, tak ada 1 soal pun yang di kerjakan Raina.


Surya memijit pelipisnya, "Ni anak enaknya di apain ya..."


Surya mendapatkan sebuah ide, ia mendownload ringtone alarm sirine pemadam kebakaran lalu membunyikannya disamping Raina sambil berteriak.


"Tolong!!! Kebakaran!!! Tolong...."


Raina tergelagap dan terkejut, ia langsung berdiri melompat-lompat panik karena ketakutan dan terkejut.


"Kebakaran!!! Kebakaran!!! PS gue mana, ambil PS gue!!! PS woy, PS!" teriak Raina panik.


Surya hanya menatapnya datar, "Bisa-bisanya dia masih inget PS padahal udah kebakaran!" Surya memegangi keningnya.


"Mana... Mana apinya? Mana!?" ucap Raina yang panik karena kebakaran.


Surya menoel dahi Raina, "Heh! Sadar! Bangun woy, tidur mulu!"


Raina mengucek matanya dan mencoba benar-benar bangun, "Loh, nggak ada api? Nggak kebakaran?" tanya Raina yang bingung.


"Kebakaran palalu! Belajar sono belajar, tidur mulu! Gue suruh lo apa tadi, kok malah tidur!" kesal Surya.


"Ya maaf... Abis ni pelajaran kayak ada biusnya, gue langsung ngantuk waktu liat rumus-rumus nggak jelas ini."


Surya menahan emosinya, "Dari tadi gue ajarin lo panjang lebar, lo ngapain aja? Gue kan udah jelasin satu-satu!"


Raina hanya tersenyum cengengesan, "Hehe... Gue nggak paham lo bahas apa, jadi ya udah gue dengerin aja kayak biasanya."


Ingin sekali Surya menjewer Raina saat ini, ia menghela nafas panjang dan meredam emosinya, "Duduk sekarang atau gue buat lo nggak naik kelas tahun ini!"


Raina langsung duduk manis didepan Surya, "Jangan dong... Gue aja udah hampir bunuh diri gara-gara kelamaan sekolah. Kalo nambah sekolah 1 tahun lagi gak kuat gue."


Surya duduk disamping Raina sambil mengambil banyak buku, "Kita lembur malam ini! Kalo lo masih aja nggak bisa kerjain, gue nggak masalah buat melek sampe pagi. Toh besok gue kerjain 30 menit selesai..."


"Ok kita kerjain bener-bener ya biar cepet selesai! Jangan sampe pagi ya..." bujuk Raina sambil menunjukkan gaya imutnya.


Surya memutar bola matanya jengah, ia mulai mengajari Raina satu-persatu rumus-rumus dan banyak pelajaran lainnya agar Raina segera paham.


.


.


.


.


.


Jam menunjukkan pukul 01.00 malam, Raina sudah berhasil mengerjakan banyak soal, saat ini matanya sudah tidak bisa diajak kompromi.


"Ay... Gue ngantuk sumpah!" keluh Raina


Raina langsung tertidur diatas meja, Surya yang melihatnya hanya tersenyum. Ia berdiri dan membereskan buku-buku yang ada diatas meja. Setelah selesai, ia menggendong Raina ala bridal style menuju kamarnya.


Surya menaruhnya di kasur dengan lembut, "Selamat tidur! Besok harus kerja keras ok!" bisik Surya.


Mereka berdua tidur setelah belajar hingga lewat tengah malam. Surya berharap banyak agar Raina berubah.


***


Pagi Hari


Surya membangunkan Raina untuk sholat subuh, meski sulit bangun, akhirnya Raina bangun. Mereka berdua mendirikan sholat berjamaah, setelah itu Raina hendak tidur lagi karena merasa kurang tidur.


Raina hendak menjatuhkan dirinya keatas kasur, namun Surya menarik Tangannya. "Eh tunggu dulu! Jangan tidur lagi, ayo belajar!"


"Ay... Semalem udah belajar lama banget loh, masa mau belajar lagi sih! Gue kurang tidur nih, nanti kalo gue gak konsen kerjain soal gimana?!" keluh Raina.


"Ingatan manusia itu paling bagus saat pagi hari karena masih fresh, gak perlu belajar banyak. Cuma hafalin beberapa rumus penting aja yuk, anak IPS kan cuma Matematika, nggak ada Fisikanya!" Surya menyemangati Raina.


Raina kesal dan mengacak-acak rambutnya, "Hish! Dasar nyebelin!"


Dengan langkah kasarnya Raina mengambil buku dan mulai menghafalkan satu-persatu rumus yang ada di buku.


Semakin lama matahari semakin naik, mereka berdua mandi lali turun untuk sarapan. Setelah sarapan mereka berangkat bersama menggunakan mobil, di dalam mobil, Surya memberikan sesuatu pada Raina.


"Nih!" ujar Surya sambil memberikan sebuah botol kecil pada Raina.


"Apa nih?"


"Cie... Perhatian sama gue, ciee..."


"Udah minum aja! Jangan banyak omong napa sih..." jawab Surya malu-malu.


"Iya deh iya!"


***


Di Sekolah


Raina sedikit semangat, ia berjalan dengan santai dan mengambil uang di sakunya untuk mengecek berapa uang sakunya hari ini.


"Kalo banyak enak nih, karena ujian pasti pulang awal! Bisa makan-makan gue di Warung Nasi Padang?" gumam Raina bersemangat.


Namun saat merogoh sakunya, Raina merasa ada kertas di dalam sakunya. Ia pun mengeluarkannya.


"Apa nih? Perasaan gue nggak naruh kertas di saku deh..."


Raina membuka kertas yang terlipat itu, dan Raina senyam-senyum sendiri membaca tulisan di kertas itu.


Semangat sayang!!! Nilainya harus bagus, jangan sia-siain kita belajar semalam ok! Love you...❤️


Raina salah tingkah karena kertas itu, ia terus berjalan hingga sampai diruangannya. Entah kenapa tahun ini berbeda, Raina tidak seruangan dengan Arkan, Dika dan Faris, Maxime maupun Diva dan Naya. Karena nama mereka diawali abjad awal, mereka tidak seruangan.


Awalnya Raina panik karena biasa menggunakan prinsip satu untuk semua, tapi sekarang tidak lagi. Raina merasa lebih tenang karena sudah belajar.


***


Waktu Ujian


Guru pengawas terkejut melihat Raina yang rajin mengerjakan soal ujian, guru itu sampai mengucek-ngucek matanya tak percaya.


"Na... Kamu kerjain soal ini serius? Kamu nggak pake contekan kan? Kamu nggak nyontek temen kamu kan?"


"Ih ibu... Saya mah jujur bu kali ini, mau nyontek ya nyontek siapa? Biasanya kan sama Dika, Arkan, Faris. Tapi sekarang nggak seruangan!" jawab Raina polos. Raina menutupi mulutnya, "Duh keceplosan!"


"Noh, suka nyontek ternyata? Awas kamu kalo ketahuan nyontek!"


"Nggak deh bu, saya udah insaf!"


Seisi ruangan tertawa mendengar Raina mengucapkan kata insaf. Guru pengawas mencoba menenangkan, "Sudah-sudah! Jangan ribut!"


.


.


.


.


Jam tiap jam berlalu, Raina berhasil mengerjakan soalnya meski ada beberapa yang membuatnya kesulitan.


"Wih gila! Jimat si Surya mantep bener, gue bisa inget rumus-rumusnya gais! Parah-parah..."


Raina girang sendiri karena bisa mengingat banyak rumus hanya dalam 1 malam saja. Tapi tiba-tiba pandangannya menjadi fokus menuju Ara yang mengobrol dengan Surya.


"Ni anak kebal api neraka apa gimana? Seneng banget godain suami orang! Belum pernah digampar panci nih!" gerutu Raina.


Setelah Surya pergi, Raina pergi menghampiri Ara karena kesal. "Ara tunggu!"


Ara menengok, "Ya Na kenapa?"


"Bukannya apa-apa, tapi tolong bisa nggak lo jauhin Surya! Lo tau kan dia itu pacar gue, awalnya gue biasa aja. Tapi lama-lama tangan gue gatel pengen nampar lo yang terus-terusan deketin Surya!"


Ara mengerutkan keningnya, "Tapi gue sama dia kan nggak ada hubungan. Kita cuma sebatas profesionalitas anggota OSIS."


"Gue cewek dan gue tau mana kerja mana deketin. Gue belum buta ya!"


"Tunggu-tunggu! Kayaknya lo salah paham deh..."


"Udah-udah! Gue males memperpanjang, intinya gini... Lo jangan deketin Surya, sampe berani lo deketin cowok gue, bapak lo gue pelihara lama-lama! Gue juga profesional godain om-om, bukan cuma mas-mas!" Raina mengedipkan sebelah matanya.


Kata-kata Raina membuat Ara mundur selangkah.


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏