
Raina memegangi kepalanya yang masih pusing, "Eh anj*r! Lo pada punya masalah apa ma gue hah? Maju sini lo pada woy! Nggak punya mata ya lo? Perlu gue buka matanya? Maju sini ayo baku hantam anjim!" ucap Raina begitu saja karena kesal
Tanpa sadar, diam-diam ada sepasang mata yang tengah menatap Raina tajam.
"Mau apa lo? Orang kayak lo kan emang pantes di pukul pake bola! Hahahaha...."
"Iya tuh bener, hahahaha...."
Raina kesal, ia berdiri dan mencincingkan baju di lengannya. Melangkahkan kakinya, bersiap untuk memukul mulut siapapun yang berani mencelanya.
"Dasar sekumpulan s*mpah!" geram Raina
Raina melangkahkan kakinya, namun langkah Surya lebih cepat mendahuluinya. Surya hanya berdiri dan berdehem di belakang Raina.
"Ehem..."
Raina berhenti melangkahkan kakinya karena mendengar suara yang ia dengar. Ia berpikir sejenak lalu pelan-pelan menengok ke belakang.
"Eh... Ada Surya, lagi apa? Kok nggak di kantor sih? Aku cuma lagi mau... Nah ini balikin bola!" jawab Raina gugup sambil mengambil bola di sebelahnya, "Ini bolanya... Lain kali hati-hati ya, untuk cuma kena gue. Kalo kena guru kan bahaya. Ini bolanya, gue mau pergi dulu soalnya ada yang belum selesai. Daah..."
Setelah mengembalikan bola tadi pada temannya, Raina langsung lari menuju musholla. Ia mengecek hasil pel-nya tadi, apakah sudah kering.
***
Di Musholla
"Dah kering... Huh, capek juga ya! Panas banget hari ini!" Raina mengelap keringatnya yang bercucuran karena cuaca panas.
Sebuah tangan dengan minuman dingin menyapa Raina. Raina mendongak untuk melihat siapa yang memberikannya minuman.
"Eh Aya... Kok di sini?" tanya Raina basa-basi agar tidak di marahi Surya
Surya duduk di samping Raina, "Nih minum... Panas kan? Lo pasti capek dan haus."
"Makasih..."
Raina mengambil minuman di tangan Surya lalu meminumnya. Sebenarnya hatinya masih deg-degan takut di marahi Surya. Eh, sejak kapan Raina penakut?
"Tadi kenapa?" tanya Surya memecah keheningan
"Hah? Apa?"
"Tadi lo kenapa mau berantem sama anak-anak?"
"Oh... Ya habis, mereka keterlaluan sih. Kepala aku di lempari bola basket, ni sampe sekarang masih pusing."
"Apa? Bola basket?"
"Iya..."
Surya bergegas untuk pergi menemui anak yang berani melempari Raina bola basket. Namun Raina mencegahnya.
"Eh mau kemana? Udah biarin aja, kalo di ladenin nggak ada habisnya..." Raina mencegah Surya agar tidak pergi
Namun Surya tetap membantah, "Tapi mereka keterlaluan Na! Gue itu anak basket, tau seberapa berat bola basket. Dan kena kepala? Kalo lo nanti kenapa-napa gimana? Mereka kelewatan!"
"Udah-udah biarin... Lo bilang nggak boleh pake kekerasan kan? Udah biarin, mending temenin gue di sini, kepala gue pusing!"
"Pusing? Mau ke UKS? Atau gue ijinin pulang? Atau ke rumah sakit? Ayo kita Rontgen, takutnya kalo ada keretakan di tengkorak kepala kamu!"
"Dih .. Mentang-mentang anak IPA aja khawatir sampe segitunya.. Udah nggak papa, lagian gue di lempari bola basket, bukan beton. Santai aja kali."
"Heh, mau lo jelasin sampe IQ gue setinggi Albert Einstein pun gue gak paham karena gue anak IPS. Dan juga, nggak segitu juga kali Ay. Nggak usah lebay ah!"
"Kita nggak bisa sepelekan begitu aja, ini kepala loh! Di dalam kepala ada otak, tulang, pusat syaraf dan lainnya... Itu nggak sepele!"
"Eh, gue cuma kena bola, bukan kena besi baja! Please jangan GAD deh! Tau nggak GAD tu apa?"
Surya langsung menyela, "Tau lah, GAD atau Generalized Anxiety Disorder atau gangguan kecemasan yang berlebihan."
"Nah pinter juga pacar Nana..." Raina mengalihkan perhatian dengan berkata demikian sambil mengusap rambut Surya
Surya mematung, ia terkejut dengan perlakuan Raina yang berbeda. Raina menengok ke kanan dan kiri, situasi yang sangat sepi.
Cup...
Ciuman singkat mendarat di pipi Surya. Surya semakin salah tingkah setelah di cium Raina. Ini pertama kalinya Raina menciumnya lebih dulu.
"Sayang jangan marah lagi ya... Trus nanti Nana jangan di hukum ya, Nana tadi nggak sengaja marah. Nanti nggak berantem lagi deh!"
Raina membujuk Surya dengan rayuan mautnya. Ia membujuk Surya sambil memegang tangan Surya dan menunjukkan puppy eyes-nya.
Jujur saja, Raina sangat imut dan cantik saat seperti ini. Surya bingung harus apa, pertama kalinya Raina bertingkah manja padanya.
Raina melanjutkan rayuan mautnya, "Ayang jangan marah lagi ya... Kan ayang-nya Nana ganteng..."
Surya langsung berdiri dengan wajah muram, Raina terkejut karena itu. Raina khawatir kalau Surya semakin marah.
"Ehem, aku... Anu, nanti pulang aku tunggu di parkiran. Aku mau balik kelas dulu, ada urusan!" ucap Surya sedikit bingung
"Iya... Semangat kerjanya sayang!" ucap Raina manja
Surya tidak menghiraukan Raina, ia langsung berlari pergi meninggalkan Raina. Surya masuk ke toilet di dekat Musholla.
"Itu anak kenapa ya? Berarti bener cerita mama dulu, cowok kalo bener-bener sayang sama ceweknya bakal luluh kalo kasih perlakuan manja. Makasih mama, i love you!"
***
Di Toilet
Surya langsung membasuh wajahnya dengan air agar segera sadar dari kenyataan. Ia serasa melayang tinggi tanpa melihat dasar.
"Astagfirullah... Dasar penggoda kecil! Untung imanku kuat!"
Surya menatap dirinya di cermin, lalu ia mengingat kembali perlakuan Raina tadi.
"Sebenarnya imut banget kalo kayak gitu. Ya Allah... Hentikan ke uwu-an ini..."
Surya senyam-senyum sendiri di toilet, tak ragu ia memukul-mukul tembok toilet karena terlalu gemas dengan Raina.
***
Pulang Sekolah
Surya berkata kalau ia akan menunggu Raina di parkiran, kenyataan saat Raina hendak menghampirinya, ia malah pulang duluan. Ia menghindari Raina karena gemas dengan Raina.
"Itu anak kenapa lagi sih? Katanya nungguin, malah balik duluan. Anak IPA emang aneh-aneh kelakuannya, mau jatuh cinta aja ngitung detak jantung pake rumus Biologi, memakai rumus Fisika buat memperkirakan balasan cinta, make rumus kimia buat ngitung kandungan cinta, bahkan pake rumus matematika buat ngitung udah berapa lama nggak ketemu. Kalo anak IPS mah jatuh cinta langsung telfon pacar 'Halo sayang, dimana? Laper nggak? Tunggu 5 menit lagi aku datang, makan bareng kita'. Emang dia? Aku kelaperan aja dia nggak tau!"
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏