
Mata keduanya terpaku begitu saja, tak berani mengatakan sepatah katapun. Waktu seolah terhenti untuk keduanya, entah harus panik atau senang.
Perlahan namun pasti, Surya turun dari kasur dan menyelinap keluar. Raina masih bengong dan bingung, otaknya blank seketika.
"Apa itu tadi? First kiss kayak di film-film kah?" gumam Raina sambil menyentuh bibirnya.
Raina hanya berkedip tanpa berbicara, "Apaan tadi? Kita nggak sengaja kan? Gue harus apa? Gue harus apa? Nanti kalo ketemu harus ngapain?" teriak Raina dalam hati.
.
.
.
Surya turun ke bawah dan mengambil air minum untuk menenangkan hatinya yang sedang terobrak-abrik karena hal tadi.
"Astagfirullah! Kenapa gue setakut ini? Dia kan istri gue, ya boleh-boleh aja mau ngapa-ngapain! Kan udah sah, balik aja deh ke atas. Cowok apaan gue cuman kayak gini nggak berani!" ucap Surya memberanikan diri.
Surya berbalik dan menaiki satu persatu tangga yang ada, namun di tengah-tengah tangga muncul sedikit keraguan di hatinya.
"Tapi kalo gue ke sana lagi mau ngapain? Harus ngomong apa? Kan canggung banget, nggak mungkin gue tiba-tiba nyelonong dan langsung biasa aja!" pikir Surya dalam hatinya.
Surya akhirnya memilih duduk di tangga dan berpikir, "Harus nyapa? Tapi kayak gimana? Hay Na, sorry tadi nggak sengaja, lupain aja ya! Ya Allah, berdosa sekali diriku ini!" kesal Surya
"Sayang, maafin aku ya... Tadi itu karena kamu yang tiba-tiba nengok aja gitu..." kata Surya sambil menirukan gaya pacar imut. "Gue kan gak pernah bertingkah imut! Pasti aneh lah..."
"Itu biasa jika kita sudah menikah kitty, its okay baby girl..." ucap Surya dengan suara beratnya. "Dih amit-amit! Kayak om-om pedo gue!"
Kenan yang melihat Surya ngomong sendiri pun merasa aneh, ia menghampiri Surya. "Ya... Lo nggak papa? Lo masih sehat kan?"
"Hah? Nggak papa bang, Alhamdulillah masih sehat!"
"Nggak dingin duduk di lantai?"
Surya langsung berdiri saat sadar dirinya duduk di tangga yang dingin. "Eh iya! Makasih udah ngingetin..."
"Ngapain lo disini? Kayak mikir negara aja!"
"Nggak papa kok bang, cuma mikir buat persiapan Study Tour sekolah aja..."
"Oh ya udah kalo gitu gue masuk kamar dulu ya! Oh iya lupa! Kayaknya lo tidur sendiri malam ini, Nana lagi mau nonton film sampe pagi tuh bareng temen-temennya! Sabar ya bro..." ucap Kenan sambil menepuk-nepuk pundak Surya.
"Nggak papa bang, gue masuk kamar dulu ya bang..."
"Ok!"
Dalam hati Surya sudah berpesta ria, mendengar Raina tak ada di kamar, Surya langsung otw ke kamar. Tapi sesampainya di kamar, tidak sesuai ekspektasi. Di sana Surya semakin terbayang-bayang kejadian tadi.
"Ya Allah! Bisa gila gue lama-lama! Harus apa ya? Yang tenang, harus fokus dan butuh konsentrasi tinggi!” Surya berpikir apa yang harus ia lakukan, "Nah belajar aja!"
Surya langsung dengan semangat pergi ke supermarket terdekat dan membeli alat tulis seadanya. Kembali ke kamar dan searching beberapa contoh soal di internet.
***
Di Kamar Diva dan Naya
Mereka bertiga sedang duduk dengan beragam camilan didepannya. Menunggu film bioskop yang belum sempat mereka tonton, untungnya Diva bisa streaming lewat aplikasi streaming film dan disambungkan ke TV.
"Raina! Kunci pintunya!" perintah Diva
"Siap!"
"Naya, tutup tirai jendela!"
"Udah..."
Ctak...
Diva juga sudah mematikan saklar lampu lalu menggantikan dengan lampu yang lebih redup. Ia juga menyediakan sekotak tisu untuk berjaga-jaga.
"Anj*r... Kenapa harus gini sih? Padahal mau nonton film doang, kayak mau lihat film apaan aja..." cibir Raina.
Diva menengok dan berusaha meyakinkan kedua temannya, "Ini filmnya bagus banget tau nggak! Menguras air mata, jiwa, raga, nafsu dan tenaga! Pokoknya semuanya... Trailernya pokoknya gini nih..." ucap Diva sambil menunjukkan jari jempolnya.
"Yang bener aja deh, ini film yang mana sih. Yang jelas napa kalo kasih informasi!" kesal Raina.
"Ini filmnya 18+, karena film luar negeri. Di luar negeri, usia 18 itu usia standar dewasa. Kalo Indonesia kan 17 dapet KTP, berarti kita udah dewasa dan boleh nonton film ini..." jelas Diva dengan pd-nya.
Raina menatap Diva datar, "Lo dapet teori konspirasi ini dari mana? Anda jenius sekali sayang..."
"Ini filmnya boleh di tonton remaja kan?" tanya Naya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Boleh... Yang gak boleh itu 21+, kalo ini boleh kok!" ujar Diva seolah tanpa beban.
"Ya Allah, jika memang ini dosa... Biarkan Diva yang menanggung dosaku Ya Allah. Dia pelopor ini semua..." kata Raina sambil tangan menengadah dan menghadap ke atas.
"Dasar nggak ada akhlaq!" cibir Diva.
"Shhh... Filmnya udah mulai..."
Mereka bertiga serius menonton film yang sedang diputar. Dan ternyata itu adalah film yang biasa, hanya ada sedikit kontak fisik yang tak pantas di tonton anak kecil. Namun mereka begitu antusias karena kisah romantis yang begitu tragis.
"Eh ya ampun! Kasihan ceweknya, masa si cowok milih cewek lain sih!" ucap Naya yang terbawa suasana.
Diva ikut berkomentar, "Salah sendiri, udah tau suka tapi malah diem. Noh kan, sekarang cowoknya direbut cewek lain. Udah bunuh diri aja sana, lagian ini 2020 sayang. Nggak jamannya nunggu cowok yang ngomong duluan, cewek juga bisa ngomong suka duluan kali..."
"Tapi malu kan Div kalo cewek ngomong duluan, nanti kalo di tolak gimana?" tanya Naya karena merasa kalau film itu seperti posisinya saat ini.
"Beda kebiasaan negara sayang... Kalo di Indonesia ya kalah sama gengsi dong sayang... Kalo di luar negeri kan udah biasa cewek ngomong duluan, udah lumrah! Kalo gue mah... Kalo emang suka ya ngomong, kalo diem apa gunanya punya mulut?" tanya Raina yang masih fokus dengan filmnya.
"Gas terus mbak... Jangan kasi kendor!" ucap Diva memprovokasi.
Naya merasa seperti terinspirasi, ia takut kalau Arkan akan berpaling seperti sebelumnya.
"Apa aku ngomong aja ke Arkan kalo aku suka dia ya? Tapi kalo di tolak? Lagian gimana caranya ngomong? Aku kan nggak punya keberanian lebih kayak Raina dan Diva..." pikir Naya dalam hati.
Tiba-tiba muncul scene Kiss yang mendadak. Sang tokoh utama pria tiba-tiba mencium tokoh utama wanita yang tidak berani mengungkapkan cinta padanya.
"Wuaahh...." ucap Diva yang terpesona dengan scene ini.
Naya secepat menutupi matanya dengan jari yang terbuka. Sementara Raina menelan ludah melihatnya, keinginannya untuk melupakan kejadian tadi dengan nonton film gagal total. Kini ia malah teringat detik-detik Surya tak sengaja menciumnya.
Hingga tibalah scene saat keesokannya kedua tokoh bertemu kembali namun sang tokoh utama wanita bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa.
"Eh gila! Kemarin habis di cium loh... Kok malah biasa aja sih? Nggak gugup apa?" tanya Raina
Diva menjawab dengan mulutnya, tapi matanya masih terpaku ke layar TV. "Kenapa harus gugup? Kan semua udah terjadi, lagian di cium orang yang kita suka nggak salah kali. Itu juga salah satu trik biar hubungan kita sama doi nggak semakin menjauh. Bayangin aja, doi suka kita, tapi kita canggung sama dia, lama kelamaan doi kabur lah sayang..."
"Oh... Jadi harus biasa aja gitu setelah terjadi hal-hal kayak gitu?" tanya Raina dengan serius.
"Iya lah! Eh, btw kok lo serius banget sih? Emang kenapa tanya-tanya masalah hal gini?" tanya Diva dengan nada penuh selidik.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏
Mana yang kalian harepin?
A. Naya dapet pacar duluan
B. Diva dapet pacar duluan
C. Maxime dapet pacar duluan
Komen di bawah💖
Mampir ke karya baru saya:
My Beautiful Pshyco
😇