
"Jadi kalian berdua sama-sama saling suka? Gitu?" tanya Surya to the point.
"Nggak!"
"Ya!"
Naya dan Arkan saling melempar pandangan, satu sisi Arkan menjawab iya dan Naya tidak. Teman-temannya pun saling mengambil keputusan masing-masing.
"Kalian udah pacaran kan..."
"Belum!!!"
"Tuh kompak... Udah jadian aja!"
"Nggak jadian! Kita temen..." ucap Naya yang masih menyangkalnya.
Surya menyela, "Terserah kalian mau ngaku apa enggak, gue lihat kedepannya gimana aja."
"Ah terserah kalian aja deh... Jaman sekarang kebenaran ada di tangan netizen," ujar Arkan tak perduli lagi dengan teman-temannya yang suka ambil kesimpulan sendiri.
"Cieee....."
Naya jadi malu-malu dan wajahnya memerah, sedangkan Arkan masa bodoh karena sudah tidak tau malu.
***
Pagi Hari
Naya sedang turun untuk mencari air minum di dapur, namun tak sengaja berpapasan dengan Arkan. Melihat hal itu, membuat Naya gugup. Ia pun berusaha berbalik dan ingin menghindari Arkan.
"Nay..."
Panggilan Arkan membuat langkah Naya terhenti, ia diam sejenak dan dengan gugup berbalik.
"I-iya Ar, kenapa?" tanya Naya dengan jantung yang berdebar-debar.
"Jangan banyak tanya, gak usah sewot dan lihat sendiri kita mau kemana, ok!"
"Ok..."
Arkan menarik tangan Naya dan pergi ke taman di mana Naya menembaknya, mengetahui hal itu membuat Naya semakin gugup dan perlahan kehilangan kepercayaan diri.
"K-kenapa kita ke sini?" tanya Naya untuk menutupi rasa gugupnya.
Arkan berhenti dan melepaskan tangan Naya, ia berbalik dan menatap mata Naya serius. "Nay gue mau ngomong, ini cuma sekali jadi tolong lo dengerin baik-baik!"
"Oh, ok!"
"Kemarin lo nembak gue di sini, dan gue bilang gue perlu waktu kan? Gue sadar kalo makin lama gue kasih jawaban, maka lama-kelamaan kita juga bakal saling menjauh... Jadi, gimana kalo kita saling jaga komitmen dulu?" tanya Arkan pada Naya.
Naya mengerutkan keningnya tak mengerti, "Maksudnya?"
"Kita nggak pacaran, cuma sebatas jaga komitmen. Andai kata kita emang cocok, boleh lah kita lanjut sampe pernikahan. Karena senakal-nakalnya gue, gue nggak berani yang namanya main-main sama suatu hubungan. Dan hubungan yang gue impikan dari dulu, cuma satu tapi bisa selamanya..."
Naya tercengang dengan apa yang dikatakan Arkan. Ia tak mengira Arkan bisa mengucapkan kata-kata seperti ini, walau sekilas Naya melihat kesedihan di mata Arkan.
"Jadi gimana? Lo mau?"
"Hah? Oh, iya... Nggak papa, di jalanin pelan-pelan aja. Biarin semua mengalir dengan sendirinya..." jawab Naya
Arkan tersenyum mendengar jawaban Naya, ia menggenggam kedua tangan Naya. "I'm proud of you (Aku bangga padamu), kita tetep bisa seperti pacar ataupun teman, kita juga bisa saling berdoa untuk dipertemukan di depan penghulu, keluarga kita menjadi saksi kata 'Sah' atas hubungan kita..."
"Iya..."
Mereka berdua tertawa lega, Naya merasa senang saat Arkan tidak menolaknya. Arkan pun merasa kalau Naya adalah tipe gadis yang sebenarnya ia cari-cari selama ini, perhatian, baik, lemah lembut, tidak berbicara kasar ataupun mudah terbawa emosi.
Bayang-bayang perceraian kedua orang tuanya masih saja mengikuti kemanapun perginya Arkan, hal itu membuat Arkan benar-benar harus selektif saat memilih pasangan. Arkan tidak ingin salah memilih seperti kedua orang tuanya, ia tidak ingin kelak anaknya merasakan apa itu broken home.
"Ehm... Lo mau jalan-jalan sama gue nggak?" tanya Arkan canggung.
"Boleh..."
Arkan dan Naya pun pergi berjalan-jalan bersama menikmati pemandangan indah dihadapannya.
"Yes... Mereka udah good! Pergi yuk Na, cari apa gitu..." ajak Diva
Yap, diam-diam Raina dan Diva menguping sejak tadi di balik semak-semak yang ada. seriusnya situasi membuat Naya dan Arkan tidak menyadarinya.
"Na... Lihat produk lokal sini yuk! Gue pernah baca artikel kalo pemuda pemudi Sunda itu jos-jos semua!" usul Diva sambil menunjukkan jari jempolnya.
Raina berpikir sejenak sebelum menjawab, "Ya nanti ada yang siap-siap nge-eksekusi gue lah Div... Ada singa tidur yang jagain gue tuh..." ucap Raina untuk menyindir Surya.
"Lo nggak bisa, gue ada kan? Gue kan jomblo, nggak kasihan sama gue ya? Lo ada suami, Naya ada calon suami, lah gue? Gebetan aja kaga punya..."
"Hahahaha...." Raina tertawa renyah, "Ya udah ayo deh, sekalian jalan-jalan pagi ya kan? Pagi-pagi bisa cuci mata kan indah gitu, kuy!"
Raina lebih dulu berjalan-jalan meninggalkan Diva, Surya diam-diam mengikuti Raina kemanapun Raina pergi.
"Duh... Udaranya enak banget deh!" kata Diva bersemangat.
"Hmm... Seger aja gitu kan? Kalo di Jakarta kan udaranya bau asap knalpot sama asap pabrik..." jawab Raina yang juga menikmati udara segar puncak.
Surya masih mengikuti Raina diam-diam, "Nggak ada apa-apa deh... Mau beli minum bentaran ah, haus banget!" ucap Surya, Surya pun pergi sebentar untuk membeli minuman.
"Cantik... Cantik... Sini dong, kenalan yuk..." goda beberapa lelaki muda yang sedang duduk di atas motor.
Diva yang kesal hendak menghampiri mereka, namun Raina lebih dulu menahan tangan Diva dan memberikan kode agar ia tak pergi.
"Sumpah jijik gue Na!" lirih Diva.
Raina sedikit cuek dan menengok, "Udah biarin aja... Kayaknya bukan asli orang sini deh, lihat aja gayanya kayak berandal gitu! Cuekin aja deh..."
Diva menghela nafas dan pergi dengan cueknya, seperti permintaan Raina. Namun ada 2 orang lelaki yang mengikuti Raina lalu menghadangnya.
"Cantik... Cuek banget sih, kenalan dulu dong!"
"Dih apaansi, minggir! Kita mau lewat!" ketus Diva
"Muka kayak gitu aja belagu lo! Muka kayak cabe-cabean bangga!"
Diva benar-benar terbakar emosi, Raina menahan Diva dan memilih untuk menjawabnya dengan beberapa kata saja.
"Cowok mandang cewek berdasarkan fisik? Sorry ya, kalo gitu cewek mandang cowok berdasarkan isi dompet!" kata Raina dengan tegas dan menusuk.
Diva pun ikut menambahi, "Kalo pengen punya cewek cantik, itu harus ada duit! Lo pikir kita cantik cuma pake tepung? Cowo belagu plus banyak tingkah tapi masih banggain harta orang tua mending menepi!"
Awww.....
Salah satu pria yang menghadang mereka langsung menjambak rambut Diva karena kesal.
"Jaga mulut lo ya! Cewek muka pasaran aja banyak gaya! Palingan kita pukul juga nangis..."
"Hahahaha...."
Raina tak tinggal diam, ia menendang perut pria yang menjambak Diva hingga melepaskan jambakannya.
"Jangan mentang-mentang cowok trus bisa seenaknya sama cewek ya! Bisanya main fisik doang!" tegas Raina sambil membantu Diva yang masih kesakitan.
Pria yang baru saja ditendang oleh Raina tidak terima, ia melayangkannya tangannya tinggi dan bersiap menuju pipi Raina.
Plaakk....
Pria itu menampar Raina hingga Raina benar-benar kesakitan dan matanya berkaca-kaca.
"Cewek itu lemah! Gak usah sok-sokan mau nandingin cowok ya!"
Buaaggg....
Pukulan keras mendarat di pipi pria yang baru saja menampar Raina, kerasnya pukulan itu membuat pria tadi jatuh tersungkur.
"Jaga mulut lo! Cowok itu fair play, kalo berani sama-sama cowok! Jangan main tangan sama cewek doang, banci lo?" tegas Surya dengan tatapan membunuh.
Surya awalnya membeli minuman dan sedang mencari dimana Raina, saat menemukan Raina, ia malah melihat Raina yang ditampar. Tentu saja itu membuat amarah Surya memuncak seketika.
"Heh anj*ng! Jaga kelakuan lo sama cewek gue! Balik sana ke habitat lo, ya tipe-tipe hewan kayak lo ini yang hampir punah! Dan harusnya emang dimusnahkan!" tegas Surya dengan tajam dan menusuk.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏