
Raina masih kesal karena tiketnya di tukarkan dengan hadiah yang tak dia inginkan, "Kenapa boneka sih? Kan robot banyak, mobil-mobilan juga banyak!"
"Nih buat kamu..." kata Surya sambil memberikan boneka itu pada Raina.
"Hah?"
"Udah di ambil aja!" kata Surya sambil menyelipkan boneka itu ke tangan Raina.
"Buat apa?"
Surya tersenyum dan mengelus boneka itu, "Ini boneka namanya Ice Bear. Sifatnya dingin dan nggak banyak bicara, tapi sayang banget sama keluarganya. Dia selalu bisa menerima keluarganya apa adanya, dan ketika kamu sedih, kamu bisa cerita ke dia... Dia bakal jadi pendengar setia kamu yang nggak bakal berkhianat ataupun banyak protes!"
Raina hanya mendengarkan penjelasan dari Surya, "Jadi... Ini jadi temenku yang nggak bakal mengkhianati aku gitu?"
"Yap! Dia bakal selalu temenin kamu dalam keadaan apapun, warnanya yang putih juga melambangkan hati yang tulus. Kalo kamu nangis apapun sebabnya, peluk dia... Dia pasti tenangin kamu!"
Raina hanya tertawa mendengarnya, "Hahahaha... Mana bisa sebuah boneka nenangin manusia?"
"Entah itu nyata atau enggak... Aku yakin kalo kamu peluk dia waktu sedih, rasanya pasti beda!"
"Iya deh iya..."
"Yuk ikut gue!"
"Kemana lagi sih?"
"Udah ikut aja!"
Surya menarik tangan Raina untuk pergi, Raina hanya pasrah saja. Surya berhenti di sebuah kedai yang ada di Food Court mall.
"Tadaaa...."
"Ini Food Court kan? Mau apa? Lo laper?" tanya Raina
Surya menyiapkan kursi Raina untuk duduk, "Lo duduk sini dan tunggu dulu ya!"
"Iya deh..."
Surya pergi ke salah satu kedai dan kembali dengan mangkuk besar di tangannya, "Nih makan... Habisin semua!"
Raina terkejut takjub, "Hahh? Kok bisa? Ini coklat? Es Krim? Buat gue?"
"Iya habisin aja! Lo suka coklat kan?"
Semangkuk besar es krim coklat vanila dengan taburan dan topping oreo sudah ada di depan mata. Raina yang hobi makan coklat pun kegirangan melihatnya. Surya memang sengaja memesan es krim khusus untuk Raina.
"Ini buat gue?" tanya Raina memastikan.
"Iya..."
"Yuk bantu makan!" ajak Raina.
"Udah lo aja yang makan! Habisin sampe puas ya..."
"Lo pikir gue gentong apa? Sebanyak ini habis? Udah ayo bantuin makan!"
Surya pun pasrah, ia meminta sendok tambahan dan memakan es krim dari tempat yang sama dengan Raina. Mereka berdua sibuk memakan es krim jumbonya dengan senang hati.
Surya tersenyum melihat Raina yang dengan lahap memakan es krimnya, " Kamu tau nggak? Senyawa kimia yang terkandung dalam coklat ternyata bisa membuat perasaan lebih bahagia. Asam amino yang dikandung coklat digunakan oleh otak untuk memproduksi serotonin. Serotonin adalah neurotransmitter alami yang mampu menghasilkan perasaan bahagia seseorang."
"Oh ya? Selama ini gue taunya coklat itu enak, trus tinggal makan. Udah gitu aja..." jawab Raina sambil memakan es krim kesukaannya.
"Tapi menurut gue itu nggak sepenuhnya bener. Memang menurut ilmiah coklat bisa membuat bahagia, tapi bagi gue, bahagianya seseorang itu tergantung seseorang itu sendiri. Apakah dia mau bahagia atau tetap terjebak dalam kesedihannya..."
Raina berhenti makan sejenak mendengar kata-kata Surya, "Gue pribadi sih lebih suka bahagia... Memang terkadang gue butuh waktu buat sedih dan meratapi semuanya, gue butuh waktu buat sendiri buat istirahat sejenak. Setelah cukup waktu, gue bakal kembali buat menghadapi kenyataan. Seberapa dalam gue bersedih, itu nggak akan merubah kenyataan kan?"
Surya senang mendengar jawaban Raina, "I'm proud of you... Dan ketika kamu nangis, jangan sedih ataupun merasa sendiri. Karena selalu ada gue di samping lo, lo boleh meluk gue, nangis di depan gue dan jadikan gue sandaran. Gue nggak bakal maksa lo buat jadi kuat kalo saat itu tiba..."
Raina tertegun dan kagum dengan jawaban Surya. Ia sadar, setiap teman-temannya pasti selalu menguatkannya di saat-saat sulit, itu memang indah. Tapi lebih indah saat ada orang yang siap menjadi sandaran kita saat kita lemah.
"Ada baiknya saat lo ada masalah, lebih baik cerita ke Tuhan lewat sujud daripada cerita ke temen. Tapi juga ada saatnya kita perlu cerita ke orang terdekat agar hati tidak tertekan atau terbebani..." tutur Surya halus.
Raina hanya mengaduk-aduk es krimnya perlahan sambil mencerna kata-kata Surya. Ia merasa kalau kata-kata Surya memang ada benarnya.
"Yang terpenting, jangan lupakan Tuhan saat lo senang dan jangan cuma ingat Tuhan saat lo sedih. Kurang baik apa Tuhan sama lo? Bayangin aja, Tuhan baik sama lo kalo dia inget, kalo lupa, lo nggak di perhatikan. Kalo rezeki its okay, tapi kalo tiba-tiba Tuhan nggak kasih lo oksigen? Itu sepele, tapi bisa panjang urusannya kalo manusia nggak bisa hirup oksigen...." tutur Surya panjang lebar.
Raina tersenyum mendengar tuturan Surya, "Makasih udah diingetin... Lo emang suami yang baik deh..."
"Alhamdulillah... Tuhan kirim gue buat lo, jadi lo nggak gampang mati gitu..." gurau Surya.
"Heh! Lo pikir gue gampang mati apa? Lo pikir gue gampang depresi apa?" protes Raina tak terima.
"Nggak... Istriku kuat kok! Dia hebat karena bisa bertahan sampai sekarang..."
Raina tersenyum saat di puji oleh Surya, "Btw... Kenapa lo ada pikiran bawa gue ke psikolog?"
"Ayolah... Banyak orang yang mementingkan masa depan, harta dan tahta tapi melupakan Mental Health. Padahal tanpa Mental Health yang baik, semua itu bisa hancur seketika." jelas Surya pada Raina.
"Iya sih kalo di pikir-pikir, tapi ini pertama kalinya gue ke Psikolog, agak gugup rasanya..."
"Nggak papa! Negara kita itu sudah baik di bidang pendidikan, sudah baik di bidang perlindungan anak, tapi masih menyepelekan Mental Health. Semua terlalu fokus untuk membuat anaknya pintar di semua bidang...."
Raina hanya mengangguk setuju, "Iya sih... Padahal di luar negeri enggak loh. Bukannya mau menyamakan, hanya saja di luar negeri, anak lebih difokuskan untuk mengembangkan bakatnya, bukan semua bidang."
Surya membenarkan omongan Raina, "Benar sekali! Di luar negeri, ketika anak mendapatkan A di pelajaran seni, dan C di matematika, mereka akan fokus mengembangkan anaknya di bidang seni. Ikut kelas seni, ikut klub seni, menyediakan alat-alat seni. Sedangkan di negara kita? Anak dapat A di pelajaran seni, C di pelajaran matematika, maka si anak akan di les kan Matematika agar nilainya A. Bukannya di kembangkan bakat seninya."
"Iya... Rata-rata, tuntutan orang tua Indonesia itu meminta anaknya mendapat A di semua mata pelajaran. Padahal tidak semua anak memiliki bakal di seni, tidak semua anak punya bakat di bidang hitung-hitungan," tambah Raina.
"Gue kasihan sama anak-anak yang stress karena terlalu banyak belajar..."
"Iya... Kalo lo kan udah tiap hari baca buku, Alhamdulillah enggak baca buku mantra. Doakan saja anak-anak itu tidak cepat mati," jawab Raina to the point.
Surya memprotes opini Raina, "Jangan terlalu tudep dong... Setidaknya ngomong gini, 'Semoga anak-anak itu tidak depresi atau stress...'. Mati-mati pala lo peang..."
"Terang-terangan aja! Artinya kan sama. Stress, depresi, frustasi, ujung-ujungnya kalo udah mentok mati juga kan?"
"Ah iya serah lo... Eh es krimnya leleh woy!"
"Ya ampun iya!"
Mereka berdua kembali sibuk menghabiskan es krimnya. Setelah habis, mereka berdua pergi untuk pulang.
***
Di Perjalanan
Sebelum perjalanan pulang, Surya sempat menelfon seseorang. Raina tida curiga atau bertanya apa-apa, ia lebih fokus untuk bersantai setelah makan banyak es krim coklat.
"Puas makan coklat?" tanya Surya
"Puas banget!"
Surya menghentikan mobilnya di depan sebuah toko, ia turun dari mobil dan berpesan agar Raina menunggu sebentar.
"Itu anak mau ngapain lagi sih!" gumam Raina.
Tok... Tok... Tok....
Surya mengetuk jendela mobil, Raina pun menurunkan kaca mobilnya. "Apa? Udah selesai?"
"Surprise...!!!"
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏
Siapa yang pengen es krim juga? Jujur! Karena saya sendiri juga pengen 😂