
"Dia celakain Raina! Sekarang lebih baik ayah yang bertindak sebelum aku sendiri yang turun tangan!"
"Apa? Raina di celakai? Bagaimana bisa? Di mana kalian sekarang?"
"Kami sudah ada di rumah, Raina sedang demam karena di kunci di kamar mandi 1 jam dengan keadaan badan basah kuyup,"
"Apa! Ayah tutup dulu! Ayah akan urus!"
"Ya, aku minta tolong yah..."
"Serahkan saja semua pada ayah,"
Surya mematikan telfonnya, ini sama sekali seperti bukan Surya. Surya tidak pernah mengadu apapun pada ayahnya selama ini, saat mempunyai masalah, Surya lebih suka memendamnya lalu menyelesaikan semua sendiri.
"Amel... Jangan salahin gue kalo gue tega sama lo!" gumam Surya
Surya kembali ke kamarnya untuk mengecek suhu Raina, ia mengeceknya menggunakan termometer.
"Hmm.... Udah nggak terlalu panas lagi," ucap Surya
"Makasih udah mau jagain gue," ujar Raina
Surya melongo sejenak mendengar Raina berterima kasih.
"Apa? Bisa lo ulangi nggak?" tanya Surya
"Makasih udah mau jagain gue," jawab Raina dengan sedikit keras
"Bisa ngomong sekali lagi? Gue mau rekam," ujar Surya
"Ih alay banget sih lo," cibir Raina
"Langka tau nggak!" jawab Surya
"Idie..."
Surya pergi menuju meja belajarnya di ruang pribadinya. Surya memang mempunyai ruang pribadi sendiri, isinya meja belajar, komputer, dan ratusan bahkan ribuan buku-buku Surya.
Ia membawa bukunya ke kamarnya, ia duduk di samping Raina sambil membaca bukunya.
"Tadi kenapa nggak telfon?" tanya Surya yang masih fokus dengan bukunya
"Hp gue tadi mati gara-gara kena air, oh iya hp gue!" panik Raina
Raina langsung hendak duduk untuk mencari ponselnya, tapi badannya di tahan oleh Surya.
"Udah nggak usah banyak tingkah, tidur yang baik. Hp lo nanti urusan gue," ucap Surya
"Tapi ada foto papa di hp itu!" ucap Raina
"Gampang, nanti jadi urusan gue," jawab Surya
Blushy....
Raina tersipu malu saat melihat Surya tegas seperti sekarang.
Oh noo... Mikir apaan sih gue? Dia saingan Na! Dia saingan lo, inget! - Batin Raina
***
Malam Hari
Panas Raina kembali naik, ia sedikit menggigil karena demamnya, meski Surya sudah memasangnya kompres dan meminumkan Paracetamol, tetap saja tak berpengaruh. Akhirnya Surya memiliki ide.
Byuurr... Byuurr....
Surya masuk ke kamar mandi untuk mandi, malam-malam ia mandi dan keluar hanya dengan celana pendeknya. Tanpa memakai baju, ia langsung berbaring di samping Raina.
Surya memeluk Raina erat, entah kenapa Surya bisa teringat kalau saat kecil, Raina sering demam dan selalu di seperti inikan oleh almarhum papanya.
Raina yang awalnya menggigil, perlahan-lahan menjadi lebih tenang. Surya pun akhirnya ikut tertidur juga.
***
Karena badannya yang panas, Raina tidak bisa tidur nyenyak. Ia sedikit mengerjapkan matanya, ia melihat Surya yang sedang melakukan sholat malam.
Dia tampan, kaya dan taat agama. Dia benar-benar imam yang baik, di usianya yang masih muda, sudah ada tanggung jawab berat di pundaknya. Bisakah kami berbagi beban? Ia berbagi beban hidupnya, aku berbagi beban di hatiku - Batin Raina
Raina kembali terlelap saat masih memandangi Surya. Setelah sholat, Surya kembali mengecek keadaan Raina.
"Huh... Kapan demamnya turun?" gumam Surya
Surya tidur di sebelah Raina sambil mendekap erat tubuh Raina.
Adakah kesempatan untukku di hatimu? - Batin Surya
***
Pagi Hari
Raina membuka matanya saat mentari sudah naik, ia melihat jam di dinding. Jam menunjukkan pukul 08.00 pagi. Sudah di pastikan kalau dia tidak masuk sekolah.
"Sudah bangun?" tanya Surya
Raina terkejut mendengar suara yang ia kenal, ia menengok. Alangkah terkejutnya ia saat melihat Surya sedang duduk di sampingnya sambil membaca buku.
"Kenapa kaget?" tanya Surya
"Lo nggak masuk sekolah?" tanya Raina
"Nggak,"
"Kenapa?" tanya Raina
"Males jelasin," jawab Surya simple
Surya menutup bukunya, ia mengambil sebuah handuk dari lemarinya.
"Bii... Bi Iyem..." panggil Surya
"Iya Den, kenapa?" tanya Bi Iyem, asisten rumah tangga keluarga Pradipta.
"Tolong bantuin Nana bersihin badannya ya," pinta Surya
"Iya den," jawab Bi Iyem
"Gue nggak mau mandi, nanti aja," tolak Raina
"Jangan banyak tingkah, sana mandi! Ada air anget kalo lo nggak mau mandi air dingin," jawab Surya
"Ayo Non Nana, bibi anter," ucap Bi Iyem
"Aaaa.... Males mandi Ay, nanti aja ya... Badan gue masih panas nih," tolak Raina
"Jangan alasan, gue udah cek suhu tubuh lo! Mumpung suhunya udah turun, sana mandi. Masih perawan kok bau," ledek Surya
"Enak aja! Gue wangi ya!" bantah Raina
"Nggak mandi dari kemarin ngomong wangi?" tanya Surya
"Iya sih, dari kemarin gue belum mandi ya. Eh, apa-apaan sih lo!" kesal Raina
"Udah sana mandi!" perintah Surya
"Non Nana masih perawan?" tanya Bi Iyem
Krik... Krik....
Tiba-tiba suasana langsung sunyi mendadak setelah Bi Iyem melontarkan sebuah pertanyaan.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏