
Raina menghentikan langkahnya dan merespon Maxime, "Iya ngomong apa? Ngomong aja gak papa..."
Maxime menghela nafasnya panjang agar tidak gugup, "Gue suka sama lo Na... Gue tau lo udah punya pacar, tapi tolong kasih kesempatan gue buat ngejar lo..."
"Hah?"
"Please Na, gue bener-bener suka sama lo. Tiap kali lo ketawa, gue ikut bahagia, tiap lo seneng, gue ikut seneng, dan tiap kali lo sedih, gue selalu pengen ngelindungin lo..." ujar Maxime meyakinkan Raina.
"Ya tapi kan gue udah ada Surya... Mana mungkin gue khianati dia."
"Gue nggak minta lo khianati dia, cukup kasih kesempatan buat gue ngejar lo Na!" pinta Maxime sambil memegangi kedua tangan Raina.
"Gila lo Max!"
Raina berbalik dan hendak pergi meninggalkan Maxime, namun tangan Maxime lebih dulu menarik tangan Raina hingga Raina berbalik lagi.
"Plis Na kasih gue kesempatan!" pinta Maxime.
"Lo itu ngantuk apa gimana? Kita temenan selama ini, gue sayang sama lo cuma sebagai temen, gak lebih. Rasa sayang gue ke lo itu sama kayak rasa sayang gue ke Arkan, Dika, Faris, Diva dan Naya. Gue nggak ada perasaan lebih ke lo!" jawab Raina dengan nada tegasnya.
"Ya terus gimana? Gue juga nggak bisa bendung perasaan gue sendiri."
"Lo sadar nggak? Dengan cara kayak gini, pelan-pelan lo rusak hubungan pertemanan kita. Dan gue nggak mau kehilangan temen kayak lo, kenapa lo harus kayak gini?" Raina tetap tetas agar tidak terkesan selalu memberi harapan pada Maxime.
"Ya lo selalu baik ke gue, perlakuan lo ke gue bikin gue suka sama lo Na!" jawab Maxime.
Raina menggeleng tak percaya, "Perlakuan gue ke lo itu sama kayak perlakuan gue ke anak lain. Kita semua sama, kita temen. Oke, dulu gue pernah ngagumin lo, tapi cuma sebatas perasaan kagum karena hati gue dari awal udah milih Surya."
"Ya lo kan bisa kasih waktu ke gue buat buktiin semuanya Na! Jangan langsung ambil keputusan gini!"
"Justru semakin lama gue ulur masalah ini, sama aja gue kasih harapan ke lo. Dan gue nggak mau terlihat jahat gara-gara masalah ini!"
Raina berbalik dan langsung pergi, Maxime marah lalu menendang kursi didekatnya. Ia marah pada keadaan.
"Kenapa harus Surya? Kenapa harus dia? Surya aja punya kesempatan, kenapa gue nggak?!" kesal Maxime.
Maxime mengatur nafasnya yang naik turun karena marah. Raina langsung mengambil tasnya dimeja dan pergi pulang.
"Na mau kemana? Na!!! Raina!!!"
Panggilan teman-temannya tak dihiraukan lagi oleh Raina. Ia hanya berjalan lurus sambil memesan taksi online lewat ponselnya.
Raina pulang menggunakan taksi online dan menahan emosinya. Rasa dihatinya benar-benar tidak jelas saat ini. Ia tidak marah, sedih, terkejut ataupun malu, seolah-olah Raina tak merasakan rasa apapun.
***
Di Rumah Keluarga Pradipta
Raina langsung berjalan menuju kamarnya, ia menghempaskan tubuhnya ke ranjang.
"Sorry Max, gue gini karena nggak pengen kasih lo harapan lebih...." gumam Raina.
Raina mengambil ponselnya untuk mengabari Surya kalau dirinya sudah pulang. Ia juga mengirimkan pesan pada Arkan untuk tukar tempat duduk.
To: Arkan
Ar... Besok tukar tempat duduk ya!!!
Gue duduk sama Naya
Begitu banyak balasan dari Arkan, Raina tak membacanya karena malas. Ia memilih membersihkan wajahnya dari make up lalu tidur.
***
Besoknya
Di Sekolah
Raina berjalan memasuki kelas, tatapan penuh harap ia dapatkan dari Maxime. Raina hanya menatap lurus ke depan melewati bangkunya dan duduk disamping Naya.
Naya menengok dan bertanya, "Kok kamu disini? Bukannya kamu duduk di depan?" tanya Naya.
"Gue tukeran tempat duduk sama Arkan, kemaren udah bilang kok," jawab Raina.
"Oh ok, tapi kamu nggak kenapa-napa kan? Trus kemarin kok tiba-tiba pulang tanpa kasih kabar?" tanya Naya khawatir.
"Gue nggak papa, tiba-tiba nggak enak badan aja."
"Nggak kok..."
.
.
.
Berhari-hari Raina mendiamkan Maxime. Tentu Maxime selalu berusaha kembali akrab dengan Raina, tapi Raina masih kekeuh dan tidak mau merespon Maxime.
Maxime bingung harus apa lagi karena Raina yang berubah menjadi sangat dingin. "Raina lama-lama makin jauh sama gue..." pikir Maxime.
Ting...
Pesan masuk ke nomor Maxime, ia pun membaca pesan itu.
From: +62xxxxx
Gimana? Berhasil?
Maxime yang masih kesal karena penolakan Raina pun semakin marah karena pesan itu. Ia kembali membalas pesan itu.
To: +62xxxxx
Heh, asalkan lo tau ya! Gue ngelakuin ini semua karena inisiatif gue sendiri! Karena pilihan gue sendiri, bukan karena perintah lo!
Gue baru sadar kalo gue **** banget karena pernah mau diperintah sama orang kayak lo!
From: +62xxxxx
Rooftop, istirahat Ke-2
Maxime seolah-olah ingin membanting lalu membuang ponselnya karena kesal.
***
Istirahat Ke-2
Raina tak sengaja melihat Maxima yang celingukan seolah tak ingin diikuti oleh siapapun. Hal itu justru membuat Raina semakin penasaran.
"Maxime kenapa kayak gitu ya? Kelihatan was-was banget deh!" pikir Raina.
Raina mengikuti kemanapun Maxime pergi. Ia juga ikut naik ke roof top, tapi sedikit menjauh dari Maxime. Raina terkejut saat melihat ada Ada di sana.
"Kenapa tu cewek kampret ada di sini?"
Raina sedikit mendekat untuk mendengarkan pembicaraan mereka namun masih bersembunyi.
"Jadi gimana? Berhasil?" tanya Ara antusias.
"Lo siapa sih! Ngurus banget sama urusan orang!" jawab Maxime jutek.
Ara tertawa, "Hahahaha... Gak usah banyak gaya, lo ada di sini juga kan karena perintah gue. Jadi gimana, di terima nggak?"
"Heh, asal lo tau ya!!! Gue nembak Raina itu karena gue bener-bener suka sama dia, bukan karena perintah lo! Jadi jangan ke-pd an deh lo! Perasaan gue ke dia itu nyata!" jawab Maxime dengan tegas.
Raina yang mendengar pembicaraan mereka pun terdiam, tiba-tiba ia berpikir kalau kalau pertemuannya dengan Maxime selama ini hanya palsu.
"Mana ada perasaan tulus? Lo kan masih ngejar-ngejar Laura, sepupu gue. Makanya lo mau gue perintah asalkan gue bantu lo deketin Laura," jawab Ara.
Maxime memalingkan wajahnya sejenak, "Setelah gue datang ke sini, gue tau kalo perasaan gue ke Laura itu obsesi, bukan cinta. Dan perasaan cinta gue itu cuma buat Raina!"
"Bohong! Lebih baik kita jalanin rencana kita dari awal! Bentar lagi ada kompetisi di sekolah kan? Buat perasaan Raina berantakan, buat dia susah konsentrasi, dan buat dia kalah! Gue pengen dia jadi candaan 1 sekolah!" Ara membeberkan rencananya.
"Gak bakal!"
Prok... Prok... Prok...
Raina berdiri dan berjalan menghampiri mereka berdua. Ara tampak sedikit panik karena tiba-tiba melihat Raina.
"Wow, hebat ya! Nggak bisa jatuhin gue dari depan, akhirnya jatuhin gue dari belakang. Dan Maxime, gue nggak nyangka kalo cowok bisa akting sebaik ini. Padahal gue tulus anggep lo temen. Ini gue yang terlalu polos apa kalian yang terlalu munafik ya?" ejek Raina.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏