My Ketos My Husband

My Ketos My Husband
Gemoi Parah



"Kenapa senyam-senyum? Ada yang lucu di hp? Lihat dong..." pinta Maxime sambil berusaha melihat ponsel Raina.


Raina terkejut karena tiba-tiba Maxime ingin mengecek hpnya, "Bukan apa-apa kok, cuma Diva kirimin vidio lucu. Nggak penting juga kok..."


"Oh ya udah deh..." Maxime menjawab santai dan tak lagi ingin mengecek Rania."Tidur aja kalo masih ngantuk, perjalanan masih jauh kok. Santai aja..."


"Iya gampang.... Nanti aja deh, belum terlalu ngantuk juga kok."


Raina kembali mengecek ponselnya untuk membalas pesan Surya. Ia gemas sendiri melihat Surya yang makin lama makin posesif dan bucin juga.


To: Oppa tersayang


Iya tenang aja! Gue bakal jaga jarak sama dia. Lo sendiri jaga jarak sama si Ara kalo ngga pengen gue perang sama dia!!!


Surya tertawa kecil membaca balasan pesan Raina, teman sebangku Surya terkejut melihat Surya yang tersenyum, karena tak seperti biasanya.


Teman sebangkunya menengok, "Lo sehat kan Ya? Tumben banget ketawa? Emangnya nggak sedih bakal kepisah sama pacar? Kalian kan beda tujuan nantinya..."


Surya menengok, "Tenang aja, dia aman kok. Punya banyak pengawal. Lagian gue percaya kok sama dia."


"Tapi lo sadar nggak sih? Kayaknya Ara suka sama lo tuh. Cara ngomong, deketin dan perilakunya beda kalo sama lo tau nggak?"


Surya mengangkat salah salah satu alisnya, "Masa? Mana mungkin, kita cuma sebatas kerja sama sebagai sesama anggota OSIS dan nggak lebih. Lagian gue bakal setia sama Raina sampai kapanpun..."


"Tapi lo nggak sayang Ya? Kalian kan cuma pacaran, sedangkan Ara lebih cantik dan lebih pinter. Ara cantik, baik, kaya dan pinter juga orangnya. Perfect kan?"


Surya tersenyum meyakinkan temannya, "Menurut gue cinta itu nggak bisa di paksakan. Sebenarnya kesetiaan itu mahal bro, nggak bisa di beli pake uang apalagi di isi ulang. Dan sebenernya, di mata gue itu Ara orangnya biasa aja."


Temannya hanya geleng-geleng kepala, "Emang cuma cogan sultan yang bisa nolak cewek kayak Ara."


"Nggak harus, lo bisa aja nolak Ara karena lo punya pilihan. Manusia itu punya pilihan, dan mereka sendiri yang akan menentukannya."


"Ya tapi gue cukup sadar diri buat dia, emang gue pantes?"


Surya menepuk pundak temennya, "Bro, jangan pandang fisik buat cinta. Jangan rendahin diri lo sendiri cuma buat orang lain."


.


.


.


.


.


Beberapa Jam Kemudian


Setelah menempuh waktu hampir 8 jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di Yogyakarta. Bus anak IPA langsung menuju Gembiraloka Zoo dan bus anak IPS menuju keraton Yogyakarta.


"Ah capeknya... Nggak kerasa udah nyampe aja, padahal tadi perasaan baru tidur," kata Raina sambil meregangkan badannya setelah turun dari bus.


Maxime membawa sling bag di dadanya dan kacamata hitam langsung menghampiri Raina, "Yuk pergi! Arkan sama yang lain mana?"


Raina mengendikan bahunya menandakan ia tak tau, "Tadi sih Diva sama Naya mau ke kamar kecil dulu. Kalo Arkan Dika sama Faris nggak tau kemana."


"Ya udah ayo jalan dulu aja deh, nanti mereka pasti nyusul."


"Ya udah..."


Tak lama yang lain ikut menyusul dan bergabung dengan Raina dan Maxime. Dika dan Faris yang baru saja sampai langsung menyela ditengah-tengah antara Raina dan Maxime.


"Kalem woy.. Jangan gontok-gontok gitu dong!" kesal Maxime yang sedikit terdorong.


Raina bingung dengan sikap Dika dan Faris, "Ni apa-apaan sih nyempil-nyempil aja! Padahal tempat masih luas noh!"


"Nggak papa, gue lagi pengen di tengah aja. Ya nggak Dik?" tanya Faris sambil mengalihkan pandangannya cuek.


"Iya!"


Anak-anak IPS melihat-lihat sejarah keraton, melihat museum dan melihat-lihat barang-barang peninggalan Sri Sultan Hamengkubuwono. Merea semua d arahkan oleh pemandu wisata yang dipesan khusus.


"Ini merupakan Gladhag Pangurakan, merupakan gerbang utama yang semacam benteng pertahanan untuk masuk ke Keraton."


Raina segera mengode Naya untuk melakukan sesuatu, "Buruan catet atau rekam atau apapun itu. Kita butuh itu buat kerjain tugas!"


"Siap Na!"


Pemandu wisata kembali menjelaskan tentang Keraton, "Ini adalah Bangsal Sri Manganti, tempat pertunjukan seni tari dan seni karawitan gamelan di Keraton Yogyakarta."



Pemandu tour kembali menjelaskan, "Bangunan utama adalah Bangsal Pagelaran yang dahulu dikenal dengan nama Tratag Rambat. Pada zamannya Pagelaran merupakan tempat para penggawa kesultanan menghadap Sultan pada upacara resmi. Sekarang sering digunakan untuk even-even pariwisata, religi, dan lain-lain disamping untuk upacara adat keraton. Sepasang Bangsal Pemandengan terletak di sisi jauh sebelah timur dan barat Pagelaran. Dahulu tempat ini digunakan oleh Sultan untuk menyaksikan latihan perang di Alun-alun Lor."



Pemandu tour masih terus menjelaskan satu persatu, sedangkan Arkan, Dika dan Faris mulai bosan karena sejak tadi hanya mendengarkan saja.


Arkan menghela nafas lelah, "Hah... Boleh beli es krim nggak ya? Gue haus nih."


"Ada yang jualan cilok apa kaga ya? Tiba-tiba pengen cilok woy..." keluh Faris.


"Gue malah pengen seblak. Tapi kan di Jogja yang banyak Gudeg. Di Jakarta makan seblak, masa di Jogja makan seblak juga? Btw boleh order GoFood nggak ya?" kata Dika bertanya-tanya.


Cekrek... Cekrek.... Cekrek....


Raina sibuk foto sana-sini untuk laporannya nanti, begitu juga dengan Maxime. Ia ikut memotret beberapa peninggalan.


"Nanti kita diskusiin ya foto mana yang bagus..." ajak Raina


"Ok."


Saat melihat kembali foto-foto di ponselnya, Maxime mendapati ada wajah Raina yang tak sengaja terfoto. Awalnya ingin ia hapus, namun setelah ia lihat kembali, Raina terlihat lucu di foto itu. Akhirnya Maxime tak jadi menghapusnya.


"Cute juga..." gumam Maxime saat melihat foto Raina. Ia pun memangkas foto itu hingga hanya terlihat wajah Raina saja.



Cahaya yang tidak terlalu terang membuat wajah Raina lebih Aesthetic. Maxime senyam-senyum sendiri melihat foto Raina.


Raina yang sibuk memotret dengan kamera ponselnya, tiba-tiba dapat notifikasi pesan dari Surya. Raina langsung sesegera mungkin membalasnya.


From: Oppa tersayang


Lagi apa yank? Gimana? Seneng nggak tournya?


Raina terkejut membaca pesan Surya yang masu karena bahasa ketikannya berbeda dari biasanya. Raina langsung meminta Diva memegangi ponselnya sebentar.


"Nih pegangin sebentar, trus ikut gue bentar!" Raina menarik tangan Diva agak menjauh lalu melepaskan kuncirannya. "Gimana? Gue udah ok?"


Diva merasa aneh melihatnya, "Iya udah kok."


Raina mengambil ponselnya dan berselfie menggunakan salah satu filter di ponselnya. Setelah itu ia mengirimkannya pada Surya.


To: Oppa tersayang


Seneng lah.. Asik banget di sini, lo gimana? Bisa kenalan sama buaya?



Surya yang mendapat kiriman foto seperti itu langsung terpana seketika. Apalagi Raina itu tipikal cewek yang sangat jarang foto.


Surya senyam-senyum melihat layar ponselnya, "Ni anak udah ngebucin aja... Jadi gemoi parah kan!" gemas Surya saat melihat foto Raina.


JANGAN LUPA LIKE KOMEN DAN VOTE 🙏


Koreksinya (Dengan bahasa yang sopan) kalau ada yang salah dengan penjelasan Keraton ya🙏