
"Na... Lo nggak papa? Ada masalah lain nggak? Ada yang sakit? Atau luka lagi? Lo nggak di apa-apain kan sama Amel? Trus kelanjutan masalahnya gimana? Lo beneran nggak papa kan?" tanya Surya beruntun
Raina sedikit menghempaskan tangan Surya yang sudah melihat-lihat seluruh tubuhnya.
"Ih apaan sih! Gue nggak papa kali! Kayak baru pulang perang aja," ujar Raina jengkel
"Loh... Kan emang baru pulang perang, melawan ketidakadilan!" jawab Surya
"Ah serah lo dah..."
"Tadi di dalem gimana?"
"Gimana apanya? Ya biasa aja lah!"
"Yakin? Mereka nggak ngapa-ngapain lo kan?" tanya Surya risau
"Nggak Surya Pradipta! Gue baik-baik aja dan nggak kenapa-napa!" jawab Raina yang semakin kesal
"Ya udah... Gue balik dulu ya, kan udah ada Surya. Ya di jaga adik gue, jangan sampe berantem lagi!" pesan Kenan menyela
"Siap bang!"
"Yaudah... Gue pergi dulu ya, daahh..."
Kenan baru saja pergi, Surya dan Raina berencana kembali ke kelas. Namun baru saja melangkahkan kakinya pergi, Raina kembali di panggil oleh Bu Arum.
Bu Arum membuka pintu, "Loh masih di sini? Nah kebetulan deh, ayo masuk lagi!" pinta Bu Arum
Raina menggumam, "Aduh... Kenapa lagi ini? Barusan kan udah selesai!"
"Jangan takut, ayo aku dampingi masuk!" ucap Surya menyemangati sambil memegang tangan Raina
Mereka berdua masuk kembali untuk menghadap Bu Arum. Entah apalagi sekarang.
Raina duduk di depan Bu Arum, "Jadi kenapa lagi bu? Bukannya udah selesai?"
"Ini Surya kenapa di sini? Perasaan... Saya cuma manggil Raina deh."
"Emangnya nggak boleh bu?"
"Boleh sih, tapi bukannya.... Oh, pasti kalian ada anunya yaa...." tanya Bu Arum sambil senyam-senyum
"Anu? Anu apa bu?" Raina bingung
"Ituloh... Masa nggak tau sih?"
"Apa sih bu? Nggak paham saya," jawab Surya jengkel
"Kalian pacaran kan? Hayo ngaku.... Eh, mana mungkin kalian pacaran? Kan kalian sering berantem, nggak-nggak, pasti saya salah..."
Surya semakin jengkel dengan kata-kata Bu Arum, "Emangnya kenapa kalo kami pacaran bu? Nggak boleh? Dia memang pacar saya!"
Raina sedikit menyenggol Surya dengan mata melotot, namun Surya mengabaikannya.
"Hah? Kalian pacaran? Maksudnya... Bener-bener pacaran?" kaget Bu Arum
"Biasa aja kali bu lihatnya... Kaya nggak pernah lihat orang pacaran aja," ejek Surya
Raina kembali menyenggol Surya, tapi Surya justru membalasnya dengan kedipan mata kanannya.
"Kalian nggak bercanda?" Bu Arum bertanya memastikan
"Allahuakbar... Kami serius bu...." Surya semakin jengkel karena Bu Arum yang tak kunjung percaya.
"Udah bu lupakan! Jadi tadi ibu manggil saya kenapa? Buat apa?" Raina menyela agar pembicaraan ini tidak semakin panjang.
Bu Arum memperbaiki posisi duduknya, "Ehem, jadi begini... Meski masalahnya sudah selesai, dan berakhir dengan baik, pihak sekolah tetap harus memberikan sanksi karena pelanggan kamu. Kamu berkelahi di sekolah dan masih berseragam."
"Terus hukumannya apa bu?" tanya Raina
"Bu... Jangan yang berat-berat ya," Surya membujuk Bu Arum.
"Ini ada surat peringatan untuk kamu, segera bersihkan musholla dan kamu rapikan lapangan olahraga ya. Kembalikan alat-alat olahraga di ruang peralatan, sekarang kerjakan!" tegas Bu Arum
"Hah? Sekarang?" Raina terkejut dengan hukumannya.
"Iya, nggak usah kaget. Sana bersihkan, Surya jangan coba-coba bantuin! Ini hukuman Raina dia bolos, telat dan bikin onar itu ibu masih diam. Tapi tidak untuk yang ini, harus di kerjakan dan selesaikan hari ini!"
"Justru kalau nggak mau panas, sekarang langsung mulai!"
"Ah iya deh bu, iya... Ibu itu guru, saya murid. Walaupun saya yang benar, saya tetep kalah. Apalagi saat saya salah," jawab Raina pasrah
"Ya sudah sana mulai!"
Raina keluar dengan lesu, Surya menariknya mendekat ke laboratorium Kimia. Tempatnya agak sepi, Surya memarahi Raina karena berkelahi.
"Lo ini gimana sih? Cewek kok bisa dapet SP? Ini SP ke berapa?" tanya Surya
Raina tidak memperhatikan, "Tenang aja... Ini masih yang pertama!"
"Justru masih yang pertama, gak usah di ulangi. Gue nggak mau lo di hukum, gak mau lo kenapa-napa dan nggak mau lo diledekin anak-anak! Meski gue Ketua OSIS, gue tetep nggak bisa ngapa-ngapain kalo emang lo salah. Jadi tolong rubah sikap lo ya! Jangan berantem lagi kayak gini!" pinta Surya
"Iya-iya... Udah ah, mau mulai. Keburu siang, nanti panas!" ujar Raina cuek
Surya menarik tangan Raina, membuat Raina terpentok di dinding. Badannya langsung di tahan oleh Surya, Surya mendekatkan badannya agar Raina tidak lari.
"Eh... Lo apa-apaan sih? Lepasin, gue mau pergi!" ucap Raina menutupi kondisi jantungnya yang tidak beraturan.
"Gue ngomong di dengerin! Gue ngomong gini juga buat kebaikan lo!"
"Iya-iya lepasin ih, gue mau pergi!"
"Janji dulu! Janji nggak bakal kayak gini lagi, belajar jadi cewek yang bener dan nggak bandel lagi!"
"Ah enggak-enggak! Lepasin!"
Surya geram, "Kalo lo nggak mau janji, gue cium sekarang di sekolah!"
"Cium aja kalo berani!" Raina menantang.
Surya mendekatkan wajahnya untuk mengancam Raina, Raina tidak bisa menahan lagi ancaman Surya.
"Iya-iya gue janji, gue janji! Lepasin..."
"Ok... Jangan lupa sama janji lo, ini bukan sekedar ancaman. Jadi temen gue lebih dari 10 tahun harusnya lo tau, kalo gue nggak pernah main-main! Berani langgar janji, gue minta hak gue sebagai suami dari lo!" Surya berbisik
Bisikan Surya membuat Raina geli, ia langsung mendorong tubuh Surya dan langsung lari secepat kilat.
Surya terkekeh, "Ternyata juga takut... Gue kira nggak kenal takut tu cewek."
***
Di Lapangan
Raina dengan gigih membersihkan musholla lalu membersihkan lapangan olahraga. Ia mengembalikan beberapa alat olahraga ke ruang alat. Namun ada kejadian di lapangan yang membuatnya kesal dan marah.
"Ya Allah... Kapan cobaanmu segera selesai..."
Ada beberapa anak yang masih berolahraga sedang melihat Raina bersih-bersih. Mereka berbisik menggunjingkan Raina.
"Eh ini Raina kan?"
"Iya tuh."
"Dasar cewek nggak tau malu!"
"Gue kerjain ah..."
"Iya-iya ide bagus!"
Salah satu gadis itu memegang bola basket, mereka langsung melempar bola itu dengan sengaja ke arah Raina.
Buuggg...
Pas sekali, lemparan itu mengenai kepala Raina. Sejenak Raina terdiam karena kepalanya pusing. Lalu ia berdiri dan melihat anak-anak yang tadi melemparinya bola.
Raina memegangi kepalanya yang masih pusing, "Eh anj*r! Lo pada punya masalah apa ma gue hah? Maju sini lo pada woy! Nggak punya mata ya lo? Perlu gue buka matanya? Maju sini ayo baku hantam anjim!" ucap Raina begitu saja karena kesal
Tanpa sadar, diam-diam ada sepasang mata yang tengah menatap Raina tajam.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏