
***
Di Makam Mama Papa Raina
Raina masih berdiri memandangi kedua makam orang tuanya, kemudian ia berjongkok memegangi nisan mamanya.
"Mama..." panggil Raina lembut
Raina terduduk lemas, ia memeluk nisan mamanya lalu menangis sejadi-jadinya.
"Mama..... Kenapa mama tinggalin Nana? Hiks.... Mama kenapa pergi secepat ini? Kenapa nggak ngomong kalo mama sakit? Hiks...."
Raina menangis keras, hari semakin gelap, semakin enggan pula Raina meninggalkan tempat peristirahatan terakhir mama papanya.
"Mama kenapa pergi sih ma? Hiks... Setelah ini Nana harus gimana ma? Hiks... Nggak ada lagi alasan kenapa Raina harus hidup! Hiks..."
Surya semakin khawatir, hari semakin gelap, matahari perlahan terbenam, namun Raina belum juga kembali. Surya pun menyusul Raina ke pemakaman. Surya tertegun saat melihat Raina menangis.
"Raina.... Menangis?" kaget Surya
Ya... Mau bagaimanapun, dia tetap wanita. Sekuat apapun wanita, pasti ada saatnya mereka menangis saat sampai di titik terendahnya - Batin Surya
Surya berjalan mendekati Raina, memasangkan jaket yang ia bawa dari mobil ke punggung Raina. Raina terkejut, tapi belum sempat berbalik, Surya lebih dulu memeluknya dari belakang.
"Jangan nangis lagi... Masih ada aku di sini, jangan buat kedua orang tua mu tersiksa oleh tangisanmu. Mereka lebih suka tawamu daripada air matamu," ujar Surya
"Hiks.... Mama...."
Surya mengeratkan pelukannya, ia benar-benar ingin membawa Raina pergi dari segala penderitaan ini. Ia tidak bisa melihat Raina menangis lagi.
"Ayo pulang... Kita sholat, doakan kedua orang tuamu, semoga mereka diberikan tempat yang baik," ujar Surya
"Hiks...."
"Jangan tangisi mereka lagi, sekarang mereka lebih butuh doa dari anak yang shaleh," jelas Surya
Raina mulai tenang, kata-kata Surya mampu membuatnya lebih tenang. Surya benar-benar bijaksana, itu yang ada di pikiran Raina.
"Ayo pulang, kita doakan yang baik-baik untuk mereka," ajak Surya
"....."
Surya berdiri bersama Raina, ia menggandeng pundak Raina sambil berjalan.
"Ay..." panggil Raina
"Ya? Kenapa?" tanya Surya
"Ah... Aku...."
Raina tak sanggup meneruskan kata-katanya. Dadanya sesak, ia kesulitan bernapas, matanya buram, pandangannya kabur, hingga akhirnya ia kembali lagi kehilangan kesadaran.
"Na... Raina! Raina... Astagfirullah, kuatkan kami!" panik Surya
Surya langsung membawa Raina pulang ke rumah dan menelfon dokter pribadinya.
***
Di Rumah Keluarga Pradipta
Surya dengan cepat-cepat membopong Raina dan membaringkannya di salah satu kamar tamu yang kosong.
"Astagfirullah.... Ini Raina kenapa Ya?" tanya Bunda
"Nggak tau bun, tadi pingsan waktu di pemakaman," jawab Surya
"Astagfirullah! Cepat panggil dokter," panik Bunda
"Ya Allah Raina..." ujar Ayah
.
.
.
Tak butuh waktu lama, dokter keluarga Pradipta pun datang untuk memeriksa keadaan Raina.
"Gimana om?" tanya Surya
"Ia sepertinya mengalami tekanan berat pada psikis nya,"
"Sepertinya?"
"Iya... Kita bisa memastikannya saat ia sudah sadar, saya akan mengajukan beberapa pertanyaan dan jawabannya menentukan semuanya. Yang jelas, tolong kedepannya jangan ditekan lagi. Rasa kehilangan yang begitu dalam sangat mempengaruhi suasana hati dan mentalnya."
"Baik dok,"
"Tapi dia akan baik-baik aja kan om?"
"Insyaallah... Asal selalu ada dukungan dari keluarga, semua pasti mudah untuknya,"
"Makasih dok!"
.
.
.
"Gimana dok?"
"Beberapa orang akan baik-baik saja setelah melakukan konsultasi. Tapi sepertinya dia anak yang tertutup, sedikit sulit memintanya untuk bercerita dengan sukarela. Memaksanya pun akan berdampak buruk padanya."
"Jadi apa solusinya dok?"
"Terus beri dia dukungan. Buat dia merasa kalau semua akan baik-baik saja. Setelah dia mau sedikit saja bercerita, maka kemungkinan besar bahwa beban di hatinya perlahan akan menghilang. Dan sampai saat itu, dukungan keluarga lah yang paling ia butuhkan."
"Baik, aku mau telfon Bang Kenan!" ujar Surya
"Iya! Hubungi dia," sela Bunda
"Mana bisa? Di rumahnya pasti banyak persiapan untuk orang ngaji. Nggak mungkin lah bisa kesana-kesini," jawab Ayah
"Terus gimana dengan Raina?" tanya Bunda
"Gimana kalo Surya bawa Raina ke rumahnya, nanti Surya tetep dampingi. Tapi kan, untuk saat ini keluarga terdekatnya cuma Bang Kenan," usul Surya
"Ya sudah begitu saja. Semoga Raina baik-baik saja," ujar Bunda
"Sekarang saja kamu ke sana, ayah bunda mau siapkan semua buat orang ngaji di rumah Raina," ujar Ayah
"Iya yah,"
Surya pun mengambil kunci mobilnya dan mengantarkan Raina yang masih belum sadar menuju rumahnya.
***
Rumah Keluarga Raina
Kenan begitu terkejut saat Surya turun dari mobil dengan membopong Raina.
"Astagfirullah, Raina kenapa Ya?" tanya Kenan
"Pingsan bang, tadi di makam," jawab Surya
"Astagfirullahaladzim, ayo bawa masuk ke dalam!" ucap Kenan
Mereka langsung membawa Raina masuk ke kamarnya. Menjaga Raina sampai Raina sadar.
"Maafin kakak, dek. Gue nggak bisa jagain kamu," ucap Kenan dengan penuh rasa bersalah
"Nggak kok bang, semua emang udah jadi rencana yang di atas. Jadi lapangkan hati buat terima semuanya," ujar Surya
"Iya Ya... Makasih lo selalu support Raina padahal kondisinya seperti ini," ucap Kenan
"Mau gimanapun kan dia tetep tanggung jawab aku bang," jawab Surya
"Nggak salah almarhumah mama milih kamu," ucap Kenan sambil menepuk pundak Surya
"Iya bang..."
.
.
.
.
Raina sadar, namun pandangannya kosong. Tidak ingin ditemani siapapun, tidak punya keinginan apapun, tidak merasa lapar ataupun haus. Hanya ada rasa sedih dan menyesal.
Surya sendiri pun tidak bisa membantah permintaan Raina, ia hanya harus sabar menghadapi keadaan Raina yang seperti ini.
"Na makan yuk... Aku bawain nasi goreng favorit kamu nih sama ada susu coklat. Yuk makan, apa pengen makan bareng? Aku suapin ya," ajak Surya dengan nampan di tangannya
Raina tak menjawab, hanya menggeleng, memunggungi Surya lalu kembali tidur. Surya hanya menghela nafas panjang untuk bersabar.
"Kuatkan kami Ya Allah!"
***
Hari Berikutnya
Raina masih murung, setelah pulang sekolah, Surya langsung mengunjungi Raina. Kenan dan Surya bergantian menjaga Raina.
"Bang... Raina gimana? Mau makan nggak? Dari kemarin itu dia nggak mau makan," keluh Surya
"Udah lumayan respon kok Ya. Dia mau makan," jawab Kenan
"Benarkah? Makan apa aja?" tanya Surya bersemangat
"Cuma makan apel 1 sama air putih segelas," jawab Kenan
Jujur, itu bukan jawaban yang Surya ingin dengar. Tapi setidaknya itu lebih baik dari kemarin. Ia pergi ke kamar untuk melihat keadaan Raina.
"Na... Gue pulang," ujar Surya
Raina masih saja berbaring di kasurnya. Siang malam dia hanya di ranjang untuk berbaring. Pikiran di otaknya membuncah, Raina benar-benar ingin berteriak tapi seperti tidak memiliki suara.
Ia seperti kehilangan arah, hidup tanpa tujuan, seolah penderitaan selalu menantinya di manapun tempatnya.
"Na... Bangun lah, makan... Masa dari kemarin cuma makan apel doang? Makan nasi lah Na... Atau lo pengen makan apa? Gue beliin, gue cariin walaupun itu susah. Tolong Na, lo ngomong dong Na... Ngomong, lo pengen apa... Lo kenapa? Gue siap jadi sandaran lo Na..."
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏