My Ketos My Husband

My Ketos My Husband
Tak Percaya



Semua bersorak riuh karena pengumuman ini. Pertama kalinya IPS 5 termasuk dalam daftar pemenang lomba yang menggunakan otak.


Raina terdiam tak percaya, ia sangat gugup hingga bingung harus apa.


"G-gue juara 1? Gue beneran juara 1?" tanya Raina tak percaya.


"Iya Na! Lo juara 1, buruan maju Na!" Diva dan Naya menyemangati.


Dengan langkah pasti, Raina maju kedepan untuk menerima hadiah dan penghargaan dari Sekolah.


Ara menatap Raina penuh iri dan benci, Ara ingin menjambak dan memukuli Raina dengan penuh amarah saat ini karena geram. Ia masih tak bisa menerima kekalahannya atas lomba ini.


"Dasar cewek sialan! Bisa-bisanya lu rebut hal yang harusnya jadi punya gue!" gerutu Ara dalam hati.


Raina menerima piala serta piagam penghargaan dengan bangga. Ia sempat melirik Ara dan mengedipkan sebelah matanya untuk membuat Ara semakin kesal.


Ara hanya diam menatap Raina penuh amarah, pencitraannya didepan teman-temannya sudah rusak, ia tak mau membuatnya menjadi lebih buruk.


Raina menatap bangga melihat ke segala arah, omongan tentang buruknya dirinya tertutup sudah oleh piala dan piagam ditangannya. Ia puas bisa membuktikan kalau dia tidak seburuk bayangan orang.


"Selamat ya Raina, kamu berhasil menjadi ucapan juara 1 lomba ini. Terus berprestasi dan tingkatkan semangat belajarmu ya!" ujar guru yang memberikan piala pada Raina.


"Iya bu..."


Setelah pembagian piala selesai, ada sesi foto. Raina tampak tersenyum lebar di foto karena bahagia, sedangkan Ara hanya tersenyum dengan terpaksa.


1


2


3


Ckrek...


Begitu foto selesai diambil, semua kembali ke barisan. Ara tak kembali ke barisan, ia langsung membawa pialanya itu pergi tanpa mengikuti acara selanjutnya.


Dengan langkah kasar Ara berjalan menuju toilet, ia mendorong pintu toilet dengan kasar dan keras karena emosi.


"Arghhh... Sialan! Dasar cewek sialan! Cewek gak tau diri! Harusnya gue yang juara 1! Arghhh..."


Ara tak sengaja menyenggol pialanya yang ada diatas wastafel hingga jatuh dan patah menjadi 2 bagian.


"Oh tidak! Tidak!"


Ara langsung duduk jongkok melihat pialanya yang jatuh dan patah, tanpa sadar air matanya mengalir. Ia benar-benar stress dan frustasi sekarang, ia bingung harus bagaimana kedepannya.


***


Waktu Istirahat


Raina berjalan sambil bersenandung ria bersama teman-temannya. "Karena gue lagi seneng hari ini, gue yang traktir kalian semua ya!" celetuk Raina.


"Beneran nih?" tanya Dika antusias.


"Iya... Kalian pesen semau kalian, ntar gue yang bayar!" jawab Raina dengan percaya diri.


"Ok sip lah!"


Arkan, Dika, Faris, Diva dan Naya langsung bersemangat pergi ke kantin untuk memesan makanan. Sedangkan Raina baru ingat kalau uang cashnya menipis.


"Anjir gimana nih! Kalo gue ke ATM sekarang, ntar gue gak ada waktu istirahat lagi dong!" batin Raina yang bingung.


"Hayoloh mikir apa!" Surya datang dengan mengejutkan Raina tiba-tiba dari belakang.


"Astaghfirullahaladzim! Ish paan sih lo, ngaget-ngagetin orang aja tau nggak!" gerutu Raina yang kesal.


"Iya-iya sorry, lagian melamun ae. Mikir apa hayo? Mikirin gue ya?" tanya Surya penuh percaya diri.


"Yee... Sok ke-pd an lu, eh gini nih... Kan duit cash gue abis nih..."


"Trus?" Surya lebih dulu memotong ucapan Raina.


Raina tersenyum dengan semanis-manisnya, "Boleh bayarin anak-anak dulu nggak Mas? Kan Mas Surya baik orangnya..." bujuk Raina dengan manisnya.


"Lo nyadar nggak nih? Lo kayak istri yang lagi bujukin suaminya buat bayarin barang-barang yang dibeli anak-anaknya," ledek Surya.


Raina memanyunkan bibirnya, "Ih bayarin dulu lah... Ya, ingat! Duit suami, duit istri juga. Tapi, duit istri ya punya istri doang!" kata Raina untuk membujuk Surya.


Raina tersenyum, "Yeeee... Kamu baik banget deh!" Raina memuji kebaikan Surya agar Surya senang.


Saat Raina berbalik, Surya menarik tangan Raina hingga Raina kembali menghadap ke dirinya lagi.


"Aduh, apa lagi sayang? Hm? Kenapa?" tanya Raina karena kesal.


"Ahahaha, lucu juga lo." Surya mendekat dan berbisik, "Gue seneng lo menang, tapi gue juga sedih sih lo menang. Harusnya lo kalah aja, biar keluarga kita makin harmonis sayang..." goda Surya.


Spontan Raina langsung memukul ringan bahu Surya, "Jangan aneh-aneh ya anda! Gue lulus SMA aja belum, KTP baru jadi juga kapan. Dahlah, mau makan gue. Lo nggak makan?" tanya Raina untuk mengalihkan perhatian.


"Out of topic tau nggak?"


"Yee biarin, udahlah gue laper. Kalo mau makan, ayo!" ajak Raina lalu pergi mencari tempat duduk.


Surya pun ikut duduk dan makan bersama yang lain, duduknya Surya disamping Raina membawa banyak komentar positif tentang Raina. Tak ada lagi yang berani mengatai bahwa Raina tak pantas untuk Surya.


***


Di Koridor


Raina berjalan santai setelah kembali dari kamar mandi, namun tiba-tiba ia berpapasan dengan Ara. Raina melangkah ke kanan untuk menghindari Ara, tapi Ara mengikuti langkah Raina, seolah-olah menghalangi Raina.


Raina berdecak kesal tak mau basa-basi lagi, "Ck, lo ngapain sih? Mau ngomong apa sama gue? Buruan!" kesal Raina.


"Jangan anggep hanya karena lo menang, berarti lo udah diatas gue ya! Gue tetep bakal buktiin kalo gue lebih baik daripada lo!" bentak Ara.


Raina memutar bola matanya jengah sambil berdecak, "Ck... Lu kenapa sih Ra? Kayaknya obsesi banget buat kalahin gue? Kalo udah kalah ya udah, nggak usah kayak gini lah. Lo tau nggak apa arti kata 'SPORTIF'? Kalo udah ya udah, jangan kayak bocah lah Ra! Gue kasihan tau nggak sama lo. Intinya, I winn, you lose. Game over!" ujar Raina.


Raina sedang malas meladeni kelakuan Ara yang makin lama semakin seperti anak kecil. Ara hanya diam dan bingung harus apa sekarang, dari setiap penjuru sekolah sudah terdengar kata-kata yang menjelek-jelekkan Ara.


"Gue nggak tahan lagi! Gue mau pindah sekolah! Gue mau pindah!" tegas Ara pada dirinya sendiri.


Ara berlari naik ke roof top dan menenangkan dirinya sendiri disana. Ara tak mengikuti pelajaran dan duduk disana tanpa perduli apapun, saat ini otaknya benar-benar tak bisa diajak berpikir.


***


Sore Hari


Rumah Ara


Ara sudah meyakinkan diri untuk pindah dari sekolah, ia pulang dan berniat mengutarakan keinginannya pada kedua orang tuanya.


Cklek...


Pintu terbuka, "Maaa!" panggil Ara dengan lantang. Tak ada jawaban sama sekali, Ara pun bertanya pada salah satu asisten rumah tangganya.


"Bi, mama dimana?" tanya Ara.


"Bibi nggak tau non, kayaknya ada di kamar deh non."


"Ok bi..."


Ara berlari naik kelantai 2 dan masuk kedalam kamar mamanya tanpa mengetuk.


Cklek...


Pintu terbuka, "Ma! Ara pengen ngomong sesuatu sama mama papa!" ucap Ara.


Ara terkejut melihat mamanya menangis kaku dilantai dengan keadaan yang kacau dan berantakan, terdapat banyak barang berjatuhan dan juga barang-barang yang pecah di lantai.


"Ma? Mama kenapa ma?" tanya Ara khawatir. Ara langsung mendatangi mamanya dan memeluk mamanya itu.


Mamanya pun membalas pelukan putri tunggalnya itu, "Papa Ra... Papa..." ucap Mama Ara disela tangisnya.


"Papa kenapa ma? Papa kenapa?"


"Hiks... Papa kamu khianatin kita semua! Hiks..." ucap mamanya yang tersengal-sengal karena masih menangis.


"Berkhianat? Maksud mama?"


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏


Follow Instagram aku ya!


@diagaa11