
"Eh, kok lo jadi aneh sih?" tanya Surya.
"Hah? Aneh gimana?"
"Kok lo jadi manis banget, ini susu coklat yang manis apa emang lo yang manisnya bisa bikin diabetes?" gurau Surya.
"Ahahaha, aduh mas, saya terbang..." balas Raina.
"Eh jangan terbang neng, bahaya! Jatuh nanti sakit, tapi beda lagi kalo jatuh ke pelukan saya," Surya tak mau kalah.
"Aduh-aduh, si ganteng ini belajar nge-gombal dari mana sih hm?" Raina gemas sendiri mendengar gombalan Surya.
Surya terkekeh kecil, "Semesta yang mempertemukan saya ke kamu, dan kamu membuat bibir saya reflek langsung melontarkan kata-kata yang belum pernah saya ucapkan sebelumnya," jelas Surya dengan nada bakunya namun terdengar menggemaskan ditelinga Raina.
Raina mencubit kedua pipi Surya gemas, "Uluh-uluh, gemesin banget sih kamu. Ish, gemoi deh jadinya. Udah jangan gombal-gombalan lagi, gue bawa lo ke KUA lama-lama!" gemas Raina.
Surya mengerutkan keningnya bingung, "Buat apa ke KUA? Kita kan udah nikah neng, kita udah sah, manis..." Surya mencubit hidung Raina.
"Lah lupa ahahaha...."
Mereka berdua tertawa kecil di Roof top sambil sesekali bercanda bersama menikmati waktu istirahat tanpa diganggu oleh orang lain.
...***...
Waktu terus berlalu, semua selesai perlahan-lahan. Ara pindah kembali ke Australia bersama Maxime untuk melanjutkan pendidikan di sana, mama Ara juga sudah sah bercerai dengan ayah Ara.
Waktu terus berlalu, tak terasa sudah 1 tahun berlalu. Kini sudah tiba saat kelulusan semuanya dari tingkat pendidikan SMA. Saat ini adalah acara perpisahan untuk angkatan Raina dan Surya.
"Dan tiba saatnya untuk pengumuman peraih nilai terbaik tahun ini, di jurusan IPA, nilai tertinggi tahun ini diraih oleh.... Surya Pradipta dari 12 IPA 1."
Setelah pengumuman nama Surya, semua langsung bertepuk tangan, Surya berjalan dengan setelan jas formalnya kedepan untuk menerima piala dan piagam penghargaan secara langsung dari kepala sekolah.
Surya menjabat tangan kepala sekolah lalu menerima penghargaan itu dengan penuh rasa kebanggaan. Setelah mengambil beberapa sesi pemotretan, sekarang giliran pengumuman nilai tertinggi dari jurusan IPS.
"Untuk peraih nilai tertinggi dari jurusan IPS adalah... Raina Ashalina dari kelas 12 IPA 5."
Tepuk tangan riuh serta sorakan bangga mengiringi langkah Raina untuk naik keatas panggung. Dengan bangga Raina menerima penghargaan itu, para orang tua murid yang tau kalau anak-anak IPS 5 biasanya berisi murid-murid terbodoh hanya diam tanpa kata-kata.
Acara berlangsung lancar semua, Raina dan Surya berkumpul bersama teman-temannya untuk berfoto. Mereka berfoto bersama dan membagikan kenangan indah ini.
Kenan menghampiri mereka dengan buket bunga ditangannya, ia mengulurkan buket itu kedepan. "Dek nih, selamat buat jadi peraih nilai tertinggi ya! Lebih semangat lagi belajarnya, jangan sampe turun lagi ya!" ucap Kenan.
Raina langsung memeluk kakaknya tersayang itu, "Em, makasih banget bang. Udah selalu nemenin Nana dalam kondisi apapun. Abang juga ga pernah ninggalin Nana!" ucap Raina sambil memeluk Kenan.
Kenan mengusap punggung adiknya tulus, "Iya dek! Kan lo adek gue, jadi gue nggak bakalan ninggalin lo kok. Selama lo mau cerita, gue pasti dengerin semuanya!" ujar Kenan.
Diva berdecak, "Ck, udah jangan lama-lama... Ada yang panas itu loh! Nggak peka banget sih!" kata Diva sambil melirik ke arah Surya.
Kenan melihat kearah Surya, "Jan ngadi-ngadi ye lo! Durhaka lo sama kakak ipar!" ancam Kenan.
"Yaudah nggak papa! Lanjutin ae, gapapa kok. Demi Alex kaga ngapa!" balas Surya dengan datar.
Raina memanyunkan bibirnya, "Umm... Jangan gitu dong manis!" Raina berjalan kearah Surya. Raina menempelkan bibirnya ke telapak tangannya sendiri.
Setelah itu ia menempelkan telapak tangannya ke pipi Surya, Surya pun jadi salah tingkah dibuatnya. Raina mendekatkan wajahnya ke telinga Surya dan berbisik, "Gak boleh cemburu ya ganteng! Dia abang gue doang, lu hak paten gue. Gak boleh terang-terangan juga ya, kan lagi di tempat umum!"
Surya pun ikut berbisik, "Di tempat umum gak boleh, berarti di kamar nanti bisa dibicarakan baik-baik lah ya..."
Blushy...
Wajah Raina memerah malu, ia mencoba menutupi wajahnya itu. Tetapi sorakan teman-temannya membuatnya makin salah tingkah.
"Tolong jangan pamer ke-uwuan untuk mbak-mbak dan mas-mas sekalian!" celetuk Dika.
"Kami spesies yang uwu-phobia, tolong dihentikan saja!" sahut Arkan.
Faris tiba-tiba maju kedepan Diva, entah bunga dari mana, tiba-tiba Faris mengulurkan bunga itu kedepan Diva, "Div... Gue udah lama suka sama lo, butuh waktu lama buat gue ngeberaniin diri ngomong ini. Gue takut keduluan sama yang lain, jadi lo mau nggak jadi pacar gue?" Faris berjongkok dan mengatakan semua itu secara tiba-tiba.
Semuanya tercengang tak percaya, terutama Diva. Ia sampai bingung harus menjawab apa saat ini. Faris meneruskan kalimatnya, "Jadi gimana Div? G-gue nggak maksa lo kok, lo bebas milih apapun jawabannya. Gue terima semua!" Faris benar-benar gugup saat ini.
"I-iya, gue terima..."
Seketika mata Faris membelalak tak percaya kalau pernyataan cintanya diterima, ia langsung berdiri dan melompat-lompat kegirangan seperti anak kecil.
Sedangkan yang lain saling berpelukan tak menyangka, mereka ikut senang sekaligus gembira. Diva hanya diam karena masih bingung harus bagaimana, ia senang sekaligus salah tingkah karena ia ditembak didepan teman-temannya. Ini pertama kalinya Diva menerima pernyataan cinta seseorang.
Mereka semua bersenang, namun tak lama ada seorang gadis cantik datang dengan buket bunga ditangannya, "Happy graduation ya Dik, maaf gue telat. Soalnya agak macet!" ucap gadis cantik itu.
"Iya gapapa, santai aja kak! Lagian lo ngapain kesini segala sih, bukannya lo ada tugas kuliah?" tanya Dika.
"Nggak papa, nanti aku kerjain sore kan bisa." Tatapan gadis itu mengarah ke Kenan, "Kenan? Kok lo di sini?"
"Xena? Lo kenal sama Dika?" tanya Kenan balik.
Laxena menjawab, "Kan Dika ini adik sepupu gue. Lah ini, loh... Kok masih SMA? Pacar kamu temennya Dika?" tanya Laxena sambil menunjuk Raina.
"Gue adiknya bang Kenan, bukan pacarnya!" jawab Raina.
Surya mendekat dan berbisik, "Dia siapa?" tanya Surya.
"Xena, cewek yang pernah nolak bang Kenan dulu!" bisik Raina.
Laxena dan Kenan sambil melempar pandangan malu-malu, Xena merasa masih punya sedikit harapan untuk bersama Kenan, sedangkan Kenan bingung harus apa.
Raina geram sendiri melihat keduanya saling senyam-senyum tak jelas, "Udah kalo mau balikan, ya balikan aja. Jadian ya jadian aja, gak usah malu-malu! Kan sama-sama suka, eh gatau Kak Xena nya..." ceplos Raina tanpa basa-basi.
Kedua orang tua Surya pun juga datang untuk memberikan ucapan selamat kepada mereka berdua. "Selamat ya boy, bisa dapat nilai tertinggi."
"Iya makasih yah, bun..."
Mereka semua senang dan bangga atas pencapaian masing-masing. Mereka tertawa dan bercanda menikmati timing ini.
......TAMAT......