My Introvert Husband

My Introvert Husband
virda and felix



saat ini virda sedang menatap sebuah foto seseorang yang sangat dia rindukan. sudah hampir 2 bulan tapi kesedihan masih saja menghantui dirinya.


"laras gue kangen sama loe, kenapa loe tinggalin gue sendirian"


air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya jatuh juga, kenapa mengikhlaskan sangat sulit. kenapa kehilangan harus semenyakitkan ini.


"gue mau ke makam loe ras, udah lama gue nggak jengukin loe" monolog virda.


ia segera bangkit dan bersiap-siap, dipolesnya make up tipis di wajahnya setelah siap diraihnya tas jinjing dan kunci mobil yang ia taruh di atas meja rias.


"ma aku izin keluar sebentar" ucap virda ketika ia baru saja menuruni anak tangga dan melihat sang mama tengah asyik dengan sinetron favoritnya.


"mau kemana sayang?"


"virda kangen laras, virda mau ziarah ke makam laras"


"yaudah hati-hati ya sayang"


"iya ma, virda pergi dulu" pamit virda sembari mengecup kedua pipi sang mama.


*****


air mata virda kembali mengalir deras ketika ia baru saja sampai di makam laras.


"hai, sudah lama kita tidak berjumpa dan saling tukar sapa" virda meletakkan sebuket bunga mawar putih di atas makam laras.


"kenapa rasanya sesakit ini ras, gue pengen loe ada disamping gue lagi. gue pengen berantem lagi sama loe, gue kangen banget"


"ikhlasin" ucap seseorang dengan suara berat yang sekarang berdiri di belakang virda.


"felix" gumam virda begitu ia menengok kebelakang dan sudah mendapati felix disana dengan sebuket bunga mawar merah di tangannya.


"saya tau ini sulit. tapi saya juga tidak ingin adik saya di atas sana sedih" ucap felix sembari ikut berjongkok disamping virda.


"kamu sendiri gimana? apa kamu sudah mengikhlaskannya?"


"belum, tapi saya sedang usahakan itu. karena saya sadar adik saya akan sedih jika melihat saya terus-terusan larut dalam kesedihan"


"aku udah anggap dia kayak adik aku sendiri, dan kehilangan dia benar-benar menyakitkan lix"


"saya tau, terimakasih karena selama saya nggak ada kamu udah jagain adik kesayangan saya"


"aku nggak pernah jagain dia, bisa terus bareng sama dia adalah sebuah kebahagian tersendiri buat aku. aku jadi ngerti dimana rasanya punya saudara"


"terimakasih banyak"


"buat apa?"


"atas kasih sayang yang udah kamu kasih untuk adik saya"


"hemt"


"ayo pulang. mendung, sebentar lagi pasti akan turun hujan. biar saya antar kamu pulang"


"ehh nggak usah. aku bawa mobil sendiri kok"


"beneran?"


"iya beneran. kalau kamu mau pulang duluan aja"


"beneran gapapa kalau saya tinggal?"


"iya gapapa. aku masih kangen laras"


"kamu gadis yang baik virda, Tuhan yesus memberkatimu. saya pulang dulu" ucap felix sembari mengusap puncak kepala virda sebelum ai beranjak pergi.


"laras lihatlah dia mengusap kepalaku, ini untuk pertama kalinya ras. untuk pertama kalinya gue merasa sedekat ini sama felix. andai aja loe masih ada, loe pasti juga bakal ikut seneng" gumam virda sembari menatap punggung felix yang mulai menjauh.


virda dan laras



*****


"hlah baru loe aja kak yang datang?"


"ada arya juga, lagi ke kamar mandi anaknya. gisel mana?"


"masih dijalan sama kak alice sama anak-anak juga"


"sebenarnya ini ada acara apa sih kak? kenapa mas galih ngajak ketemu di tempat kayak gini, mana dia undang kita semua"


"gue juga nggak tau. loe sendirikan tau gimana gilanya galih"


"iya juga sih"


"akhirnya dateng juga loe rik, bini ama anak gue mana?" tanya arya yang baru saja kembali dari kamar mandi.


"masih dijalan"


"hlah si kupret belum datang juga?"


"belum"


"kebiasaan ngaret"


"sama kayak elo, nggak usah ngatain" sarkas Al.


"kena mental nggak tuh" ucap riko sembari terkekeh begitu melihat ekspresi lucu arya.


"gini banget sih loe men ama gue. gini-gini gue adik ipar loe"


"bodo amat"


"daddy" panggil starla sembari berlari dan langsung menghambur ke pelukan sang ayah.


"putri daddy nggak ketemu beberapa jam aja kok makin cantik sih"


"daddy gombal" ucap starla sembari mencebikkan bibirnya.


hampir setengah jam mereka semua menunggu galih dan aleta. akan tetapi yang di tunggu-tunggu tak kunjung datang juga, hingga membuat al dan yang lainnya geram, bahkan arya sedari tadi tak henti-hentinya mengabsen kebun binatang karena saking dongkolnya.


"5 menit lagi, kalau nggak datang juga pulang aja kita. sampai lumutan gue, nges....."


"hai udah lama nunggunya?" tanya galih yang baru saja datang bersama aleta, hingga membuat arya menggantung omongannya.


"ANJI*G DARI MANA AJA LOE BANGS*T?" ucap arya ngegas.


"heh mulutmu, disini ada anak-anak" ujar alice sembari menatap tajam suaminya.


"maaf sayang kelepasan" arya menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal sembari cengengesan.


"loe kenapa sih kumpulin kita disini? udah nyuruh kumpul pakai acara telat lagi"


"maaf pak boss, biasa bumil tadi rewel dulu"


"wait, loe bilang bumil mas!"


"iya"


"anjir anak siapa yang loe buntingin mas?" ucap riko sembari menatap nanar kearah galih.


"cuangkemmu rik, ya bini gue lah yang hamil. ya kali gue hamilin anak tetangga"


"kak aleta beneran hamil?" tanya gisel kembali memastikan bahwa yang ia dengar barusan tidaklah salah.


"iya. kalian semua sebentar lagi bakal dapat keponakan, jadi gue mau traktir loe semua" jawab galih dengan penuh antusias.


"aaa selamat kak" ucap gisel dan bella secara bersamaan dan langsung memeluk aleta.


"iya ta selamat ta" kini giliran alice yang ikut memeluk aleta.


"makasih semuanya"


"cuma satu doa gue buat loe ta"


"apa tuh Al?" tanya aleta sembari mengerutkan alisnya.


"semoga kandungan loe baik-baik aja hingga lahiran, dan semoga anak loe nggak nurun bapaknya"


"emang gue kenapa?" tanya galih sembari mengangkat sebelah alisnya.


"nggak waras" jawab al singkat padat, dan juga langsung menjatuhkan mental galih.


"sialan" ucap galih dengan wajah ditekuk hingga membuat tawa yang lainnya pecah.