
"kita berdua balik dulu ya" ucap riko sembari menarik tangan gisel.
"kalian nggak ikut kita nongkrong dulu"
"lain kali aja, kita ada urusan"
"buset udah kayak pak presiden aja loe sob"
"ini memang urusan negara" jawab riko sembari berlalu pergi.
"kita mau kemana sih ko. padahal aku lagi pengen makan sushi di tempat biasanya"
"kerumahku"
"mau ngapain?"
"aku ada kejutan untukmu"
"kejutan apa?"
"kalau aku kasih tau kamu namanya bukan kejutan dong" ucap riko sembari memasangkan helm di kepala gisel.
"ah iya juga ya"
"udah ayo naik"
setelah gisel naik ke atas motornya riko segera melajukan motornya dengan kecepatan sedang.
"nah sudah sampai tuan putri"
"mana kejutannya?" tanya gisel sembari turun dari motor.
"kamu ini lucu sekali sih kalau lagi penasaran sama sesuatu" ucap riko sembari mencubit gemas pipi gisel.
"riko sakit"
"ah aku nyubitnya kekerasan ya"
"iya" jawab gisel sembari mencebikkan bibirnya.
"maafkan aku ya sayangku" ucap riko sembari membuka helm yang masih menempel di kepala gisel.
"tapi boong wekk" ucap gisel sembari menjulurkan lidahnya.
"jadi nggak sakit?"
"nggak, aku selalu tau kalau kamu nggak akan pernah tega menyakitiku" jawab gisel sembari tersenyum.
"ihh nakal ya kamu" ucap riko sembari menggelitik tubuh gisel.
"riko ampun ini sangat geli"
"tidak akan"
"aku mohon berhenti, sungguh ini sangat geli"
"kalau begitu rayu aku dulu"
"calon suamiku yang paling tampan tolong berhenti ya, calon istrimu ini bisa mati karna kau terus menggelik seperti ini"
"hey mulutmu. tidak akan ku izinkan kamu meninggalkanku" ucap riko sembari membawa gisel kedalam pelukannya.
"makannya jangan gelitikin aku lagi"
"iya sayangku"
sementara itu riko dan juga gisel tidak sadar kalau sedari tadi mama dan papa tengah memandangnya dari balkon kamar, mereka tersenyum senang karena putra semata wayang mereka sudah menemukan gadis yang benar-benar bisa membuat riko bahagia.
"yaudah ayo masuk"
"iya"
"asalamualaikum, aku pulang"
"mas riko, mbak gisel"
"sore bi rati"
"sore mbak gisel yang cantik, gimana kabarnya hari ini mbak?"
"alhamdulilah baik bik"
"alhamdulilah bibik seneng dengarnya"
"riko kamu sudah pulang nak?" tanya mama sembari menuruni tangga, dan di sampingnya ada papa juga.
gisel benar-benar terkejut melihat dua sosok asing yang berada di rumah riko. tidak terlalu asing sih, sebenarnya gisel sudah melihat foto kedua orang tua riko, tapi ini adalah pertama kalinya mereka bertemu.
*"papa, dan mamanya ternyata pulang. kenapa dia tidak memberitahuku"*gumam disel di dalam hati.
"iya ma"
"apa ini calon menantu mama?"
"iya ma. gimana cantik kan?"
"tentu saja cantik, pilihan anak mama pasti yang paling the best"
"sore om, tante" ucap gisel sembari mencium tangan orang tua riko secara bergantian.
"astaga selain cantik kamu juga sopan nak. oh iya jangan panggil tante dong, panggil mama ya"
"i... iya tan. ehh maksudnya ma"
"anak pintar" ucap mama sembari mengelus pipi gisel.
"ajaklah duduk calon menantumu, dia pasti lelah karena baru pulang kuliah" ucap papa sembari tersenyum.
"ah iya mama sampai lupa pa. ayo duduk sayang, bik rati tolong buatkan minum ya"
"baik nyonya" jawab bik rati sembari berlalu menuju dapur.
"nama kamu siapa nak?" tanya papa kepada gisel.
"gisel om"
"om? kamu memanggil istri saya mama, tapi kamu memanggil saya om. kamu sungguh tidak adil calon menantu, panggil papa dong"
"iya pa maaf" jawab gisel sembari tersenyum.
"astaga manis sekali anak ini, putraku benar-benar tidak salah pilih" ucap papa sembari tersenyum.
"tentu saja calon menantuku"
"gisel sekarang semester berapa?"
"sama seperti riko pa, kita satu jurusan dan satu kelas juga pa"
"oh jadi ceritanya cinlok" ucap mama dan papa bersamaan.
"ihh anak laki kok malu-malu" ledek papa.
"papa nyebelin" ucap riko sembari berlalu pergi.
"riko sayang kamu mau kemana nak?"
"kekamar ma, ganti baju"
"gisel tadi di ajak panas-panasan naik motor ya, maafin riko ya nak. anak itu emang susah kalau di suruh bawa mobil"
"gapapa kok ma, gisel malah seneng kalau naik motor. bisa lebih cepet nyampe tujuan, nggak harus kejebak macet"
"ahh mama rasa papa benar, kalau riko benar-benar tidak salah pilih pa" ucap mama sembari mengelus rambut gisel dengan penuh sayang.
"orang tua gisel kerja apa?"
"papa ngelola perusahaan, kalau mama bantuin mami di butik pa"
"mama bantuin mami?" tanya mama.
"gisel punya dua orang ibu?" kini giliran papa yang bertanya.
"ahh tidak pa. mami adalah sahabat mama, gisel biasa memanggilnya mami"
"oh seperti itu" ucap mama dan papa bersamaan.
"ngomongin apa sih, kelihatanya seru banget"
"sorry bung, rahasia perusahaan" ucap papa sembari terkekeh, sedangkan riko hanya mendengus kesal mendengar jawaban dari sang papa.
"nggak usah ngambek kayak bocah, katanya mau jadi suami. apa nggak malu sama calon istri" ucap papa sembari melirik gisel.
"siapa juga yang ngambek"
"oh iya sayang apa selama ini riko bandel?"
"tidak ma, riko anak yang baik. dia tidak pernah berbuat yang tidak-tidak"
"apa dia bisa menjagamu dengan baik?"
"iya ma. dia selalu melakukan apapun yang aku mau, dia selalu mencoba memberikanku yang terbaik ma"
"ah syukurlah" ucap mama lega. mama sangat bersyukur meskipun mama tidak bisa mengawasi tumbuh kembang riko, tapi riko bisa menjadi seorang pria yang bertanggung jawab. ini semua juga tak luput dari didikan mendiang kedua orang tuanya.
"mama ke dapur dulu ya"
"mama mau masak?
"iya sayang"
"gisel bantu ya ma"
"tidak perlu sayang, kamu disini saja sama papa dan juga riko"
"tapi ma-"
"nggak ada tapi-tapian ini perintah dari mama" ucap mama memotong omongan gisel.
"yasudah kalian lanjut ngobrol berdua ya. papa masih ada pekerjaan yang harus di selesaikan"
"iya pa" jawab gisel sembari tersenyum.
"cantik"
"apanya yang cantik?"
"kamu"
"gombal" ucap gisel sembari melempar bantal sofa kemuka riko.
*****
"sayang" panggil al ketika baru saja masuk rumah, ya al baru saja pulang dari kantor, dan kini jam menunjukkan pukul 17.30
"tuan sudah pulang?"
"istri saya dimana bik?"
"nyonya ada di dapur tuan"
"ngapain dia di dapur! sudah ku bilang nggak usah masak masih saja keras kepala. bibik juga kenapa tidak melarangnya"
"maaf tuan bibik sudah berusaha melarang nyonya tapi nyonya tetap bersikeras untuk memasakkan tuan makan malam"
"dasar kepala batu" ucap al sembari melangkah ke arah dapur, langkahnya berdentum-dentum. al paling benci kalau istrinya itu keras kepala dan melanggar apa yang telah ia larang.
"gisa"
"sayang kamu sudah pulang?" tanya gisa sembari tersenyum.
"sedang apa kamu disini?"
"aku memasakkan makan malam untukmu"
"aku kan sudah bilang sama kamu, kamu jangan masak. kenapa kau masih saja memasak, apa perkataan suamimu ini masih kurang jelas?" ucap al dengan membentak gisa.
"maafkan aku" ucap gisa sembari menunduk.
"lihatlah perutmu. perutmu sudah sebesar itu, aku tidak ingin aku kelelahan, aku tidak ingin kamu dan calon anak kita sampai kenapa-kenapa gisa. apa kamu tidak bisa memahami kondisiku? aku harus bekerja, aku tidak bisa berada disamping kamu selama 24 jam untuk terus jagain kamu, dan calon buah hati kita"
"maaf. aku hanya ingin memasak hari ini"
"buat apa gisa? buat apa?"
"sayang apa kamu lupa, hari ini adalah anniversary pernikahan kita yang pertama" ucap gisa sembari bercucuran air mata, hatinya benar-benar sakit ketika al membentak-bentaknya seperti itu. padahal gisa hanya ingin memasak untuk merayakan anniversary pernikahan mereka yang pertama, apa gisa salah jika melakukan semua itu.
tanpa banyak lagi bicara gisa segera pergi meniggalkan dapur, ia langsung masuk kedalam kamar dan menguncinya. gisa tak peduli walau pun suaminya terus saja memanggil-manggil namanya.
"gisa sayang buka pintunya. maafin aku yank, aku nggak bermaksud kasar sama kamu. aku hanya terlalu khawatir sama kamu"
berulang kali al mencoba membujuk gisa namun percuma, gisa tetap saja tidak mau membukakan pintu untuk dirinya.
"ahh sial kenapa aku harus semarah itu sama dia tadi, sekarang gue sendiri kan yang susah" gumam al sembari meremas rambutnya secara frustasi.
ceklek..
suara pintu baru saja dibuka dari dalam oleh gisa.
"sayang maafkan aku"
"tidur di sofa" ucap gisa sembari memberikan bantal dan juga selimut kepada al. setelah selesai itu, gisa segera menutup pintu kamarnya kembali
"sayang kamu belum makan, ayo makan dulu"
namun lagi-lagi percuma, istrinya tetap saja diam seribu bahasa.
"ahh sial, harusnya aku jangan main-main sama ibu hamil" ucap al dengan wajah melasnya.