
"al istrimu sangat cantik. tapi seingatku dulu kau tidak pernah dekat dengan wanita lain kecuali denganku, dan saudari kembarmu"
"apa kau ingat adik kelas kita dulu, yang sering bersama diriku dan alice?"
"ya tentu saja aku ingat, ada dua gadis kecil yang selalu dekat bersamamu dulu, mereka berdua sepupumu kan. salah satu dari gadis itu sangat cantik, menurutku dia anak paling cantik dulu disekolah kita. dia dimana ya sekarang, ahh pasti dia sangat cantik sekali ketika dewasa"
"yang mana yang kau bilang cantik?" tanya al sembari mengerutkan alisnya.
"gadis yang berambut panjang"
"benarkah?" tanya al memastikan.
"iya al. dimana dia sekarang?" tanya raina kepada al.
"ada didepanmu"
"maksudmu nona aleta?"
"bukan, dia istriku"
"apa gadis itu adalah istrimu?"
"iya"
"bukannya dia sepupumu"
"siapa yang bilang?"
"tidak ada sih, aku hanya menyimpulkan saja."
"gisa adalah anak dari sahabat mamiku. dan kami memang tumbuh bersama sedari kecil"
*"astaga gadis ini dari kecil hingga dewasa masih saja cantik, apa karna dia al selalu dingin kepada semua wanita. apa mungkin al menyukainya sedari kecil dulu, tidak-tidak itu tidak mungkin. al perhatian kepadanya karna memang al menganggapnya seperti adiknya sendiri"* gumam raina dalam hati.
"lalu kau sendiri bagaimana rain?"
"bagaimana apanya?"
"apa kau sudah menikah, atau memiliki seorang kekasih?"
"ah tidak aku belum menikah, dan aku juga belum memiliki seorang kekasih"
"kalau begitu nona raina sama galih saja, galih juga jomblo" ucap arya sembari menunjuk galih.
"ar kau ini apa-apaan sih"
"kenapa memangnya, aku kan hanya berusaha mencarikan temanku seorang kekasih"
"tutup mulutmu sekarang, atau akan kupatahkan lehermu" ucap galih sembari menatap tajam arya.
"galak sekali dirimu. apa kau sedang datang bulan"
"enak saja, aku ini seorang pria. mana mungkin datang bulan"
"sudah kenapa kalian jadi bertengkar, malu di lihat nona raina." ucap aleta.
"tidak apa-apa nona aleta. aku justru senang melihat tingkah mereka, anggap saja aku ini juga teman kalian"
"dengan senang hati" jawab arya dan galih sambil tersenyum.
*"kenapa aku merasa nona raina tidak menyukai diriku. atau jangan-jangan dia juga menyukai suamiku"* gumam gisa dalam hati.
"sayang aku pamit ya" pamit gisa kepada al.
"kenapa buru-buru sih yank. kamu mau kemana?''
"aku harus ke butik. kasihan mami sekarang mami pasti sedang sibuk-sibuknya, apa lagi event tinggal besok"
"apa perlu kuantar?"
"tidak perlu, kamu lanjutkan pekerjaanmu. aku bawa mobil sendiri saja"
"kalau begitu hati-hati ya" ucap al sembri mencium kening gisa.
"iya sayang"
"aku pamit dulu semuanya"
"hati-hati gisa'' jawab arya dan galih secara bersamaan, dan hanya dijawab oleh senyuman manis gisa.
*******
"gisa kau dari mana saja, kenapa lama sekali?" tanya alice begitu melihat gisa datang.
"ahh maafkan aku kak alice, tadi aku mampir ke kantor kakak al dulu untuk mengantarkan bekal makan siangnya"
"aiyaaa iyalah istri yang taat suami"
"itu bagus kak, harusnya kamu contoh kakak iparmu"
"mami apaan sih"
"iya nanti kalau kau sudah menikah contohlah kakak iparmu itu. dia tidak pernah membangkang kepada suaminya, tidak pernah kesal kepada suaminya. padahal kau tau sendiri bagaimana kelakuan abangmu itu"
"hemmtt yaaaa,,, yaaaa,,,, yaaaa teruslah bela kakak iparku yang paling cantik ini mami" ucap alice sembari mencubit gemas pipi gisa.
"auuu ini sakit sekali kakak alice"
"rasakan, siapa suruh kamu jadi orang imut sekali. dasar bayi tua" ucap alice sembari terkekeh dan mencium pipi gisa.
"mami senang melihat kalian berdua kompak seperti ini"
"tentu saja mi, aku dan kakak iparku ini akan selalu kompak"
"semoga saja" ucap mami sembari tersenyum.